NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 33: Ikatan takdir [3]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Pagi datang tanpa memberi ruang bagi Rakes untuk benar-benar beristirahat. Cahaya matahari menembus sela tirai asrama, jatuh tepat di lantai, seolah sengaja mengingatkan bahwa waktu terus berjalan meski kepala masih penuh. Rakes bangun lebih dulu dari yang lain. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong beberapa detik, lalu berdiri seperti biasa, tenang, rapi, seakan tidak ada apa-apa yang bergeser di dalam dirinya.

Di luar kamar, Kale sudah lebih dulu bangun, sibuk menuang sereal ke mangkuk dengan ekspresi setengah mengantuk. Begitu melihat Rakes, ia berhenti sebentar, memperhatikan lebih lama dari biasanya.

“Ada apa sih muka lo?” celetuk Kale, sendoknya berhenti di udara. “Kayak abis debat sama dosen hukum tapi menang tipis.”

Rakes hanya mengangkat bahu dan berjalan ke arah dispenser. “Kurang tidur.”

“Kurang tidur lo beda,” Kale menyipitkan mata. “Ini mah versi serius. Biasanya lo kurang tidur masih bisa nyinyir.”

Dari kamar lain, Hamu keluar sambil menguap lebar, rambutnya acak-acakan, membawa laptop yang entah kenapa selalu ikut bahkan ke dapur. “Kalau Rakes udah diem gitu, berarti ada masalah,” katanya santai. “Atau dunia mau runtuh. Salah satu.”

Saka muncul terakhir, dengan jaket setengah terpakai dan ekspresi datar. Ia melirik Rakes sekilas, lalu memalingkan pandangan. Tidak bertanya, tapi jelas mencatat.

Zack belum keluar kamar.

Keheningan kecil itu terasa janggal. Biasanya Zack yang paling ribut pagi-pagi, entah mengeluh soal jadwal praktikum atau soal kopi yang rasanya aneh. Kali ini, pintu kamarnya masih tertutup.

Kale melirik jam. “Zack belum bangun?”

Rakes menoleh ke pintu kamar itu. Ada jeda sepersekian detik sebelum ia menjawab. “Biarin. Dia butuh waktu.”

Tidak ada yang membantah. Semua tahu malam kemarin bukan malam biasa.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar Zack terbuka. Ia keluar dengan wajah pucat, lingkar mata samar, tapi langkahnya lebih stabil dibanding malam sebelumnya. Ia berhenti sejenak ketika melihat mereka semua sudah berkumpul.

“Pagi,” ucapnya pelan.

“Pagi,” jawab Kale cepat, terlalu cepat, seolah ingin menutupi kekhawatirannya. “Lo hidup. Itu kabar bagus.”

Zack tersenyum tipis. “Sayangnya iya.”

Hamu mendengus. “Kalau setan, gue udah uninstall hidup gue.”

Suasana sedikit mencair. Tidak sepenuhnya ringan, tapi cukup untuk bernapas.

Rakes memperhatikan Zack diam-diam. Ia bisa melihat perubahan kecil itu, cara Zack berdiri, cara matanya sesekali kehilangan fokus seolah sedang melihat sesuatu yang tidak ada di ruangan. Ingatan yang mulai kembali tidak datang dengan lembut; ia datang seperti potongan kaca, sedikit demi sedikit, tapi cukup tajam untuk melukai.

“Kita tetap ke rumah keluarga lo hari ini?” tanya Saka tiba-tiba, suaranya tenang tapi tegas.

Zack mengangguk. “Iya. Seperti rencana.”

“Good,” kata Kale sambil berdiri. “Gue udah siap mental. Kalau ada rahasia keluarga lagi, gue mau tahu dari awal biar nggak kaget terus.”

Hamu menyeringai. “Santai. Paling juga ada lorong rahasia atau buku tua yang tiba-tiba berdarah.”

“Lo kebanyakan nonton,” sahut Kale.

Rakes akhirnya berbicara, suaranya rendah namun jelas. “Kita ke sana bukan buat cari sensasi. Denger, lihat, dan pulang. Jangan gegabah.”

Kale menatapnya, lalu tersenyum miring. “Tenang, Pak Ketua. Kita masih anak kuliah, bukan pahlawan legenda.”

Rakes tidak membalas, tapi sudut bibirnya bergerak tipis, hampir senyum, hampir tidak.

Di balik candaan ringan itu, masing-masing dari mereka tahu: langkah ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ada sesuatu yang menunggu, bukan hanya di rumah keluarga Zack, tetapi di balik sejarah yang perlahan membuka diri, memaksa mereka untuk ikut terlibat.

......................

Perjalanan menuju rumah keluarga Zack berlangsung tanpa kejadian aneh, yang justru membuat semuanya terasa sedikit canggung. Tidak ada suara kaca pecah, tidak ada hawa dingin mendadak, bahkan tidak ada firasat dramatis yang biasanya muncul tanpa diundang. Mobil melaju stabil, jalanan pagi cukup lengang, dan kota tampak menjalani rutinitasnya tanpa peduli bahwa lima mahasiswa di dalam kendaraan itu membawa beban sejarah yang tidak tercatat di buku mana pun.

Kale memecah keheningan dengan nada malas. “Gue masih heran kenapa hidup kita belakangan ini rasanya kayak skripsi kelompok tapi topiknya nggak ada di silabus.”

Hamu menyahut sambil menatap layar ponsel. “Bedanya, ini nggak bisa ditunda semester depan.”

“Dan nggak bisa nyontek,” tambah Saka singkat.

Zack hanya tersenyum tipis. Ia terlihat lebih tenang dibanding pagi sebelumnya, meski sorot matanya masih menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya tersusun. Rumah keluarganya sudah tidak asing bagi mereka. Mereka pernah ke sana, duduk di ruang tamu yang sama, melewati lorong yang sama, dan meneguk minuman yang sama. Namun hari ini, rasanya berbeda. Bukan baru, tetapi lebih berat.

Begitu tiba, semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada sambutan berlebihan, tidak ada suasana muram yang disengaja. Rumah itu berdiri tenang, seolah menyimpan rahasia dengan cara yang sudah sangat terbiasa. Mereka masuk, duduk, dan berbincang seperlunya. Zack sesekali terdiam, lalu kembali berbicara seolah baru saja menutup pintu di kepalanya sendiri.

Rakes memperhatikan lebih banyak daripada berbicara. Ia mencatat detail kecil, cara Zack menarik napas sebelum menjawab, cara Saka mengamati ruangan, cara Kale berusaha tetap santai meski matanya bergerak ke mana-mana. Semua itu ia simpan, seperti kebiasaan lamanya.

Ketika urusan mereka di rumah itu selesai, Rakes memilih keluar lebih dulu. Alasannya sederhana: udara di dalam terasa terlalu padat. Ia berjalan beberapa langkah menjauh, berdiri di halaman, lalu tanpa sengaja berhadapan dengan seseorang yang jelas tidak asing, meski tidak pernah benar-benar dikenalnya secara pribadi.

Pria itu berdiri dengan postur santai, pakaian rapi tanpa kesan berlebihan, dan tatapan yang terlalu percaya diri untuk ukuran pertemuan tidak disengaja. Senyumnya tipis, nyaris merendahkan.

“Rakes Kartaswiraga,” ucapnya, seolah nama itu miliknya. “Aku kira kau akan terlihat lebih… berpengaruh.”

Rakes menatapnya datar. “Dan Anda?”

Pria itu terkekeh pelan. “Damian James Remington.”

Nama itu jatuh di udara dengan cara yang tidak menyenangkan. Bukan karena keras, tetapi karena penuh muatan. Rakes tidak menunjukkan reaksi apa pun, namun rahangnya mengeras tipis.

“Keturunan Remington?” tanya Rakes, suaranya tetap terkendali.

Damian mengangguk ringan. “Sayangnya, iya. Atau mungkin untungnya. Tergantung sudut pandang.”

Nada bicara itu, cara ia berdiri, dan pilihan katanya membuat Rakes segera memahami satu hal: ini bukan pertemuan netral. Ada niat untuk merendahkan, atau setidaknya menguji.

“Lucu,” lanjut Damian, “bagaimana nama besar bisa memudar. Kartaswiraga sekarang hanya mahasiswa hukum. Tidak ada yang istimewa.”

Rakes menatapnya lurus. “Nama besar tidak selalu perlu berisik untuk tetap ada.”

Damian tersenyum lebih lebar. “Kalimat yang bagus. Sayang, sejarah tidak selalu berpihak pada yang diam.”

Rakes tidak membalas. Ia tahu kapan harus bicara, dan kapan harus menyimpan kata-kata. Tanpa menunggu respons lebih lanjut, ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Damian dengan senyum yang tidak lagi sepenuhnya puas.

Langkahnya tidak langsung kembali ke dalam rumah. Ia menjauh beberapa meter, lalu mengeluarkan ponsel. Jarum jam menunjukkan waktu yang masih masuk akal untuk menelepon ke Berlin. Setelah beberapa detik, panggilan tersambung.

“Selamat pagi, Ibu.”

Suara di seberang terdengar tenang, hangat, namun menyimpan ketegasan yang sudah sangat dikenalnya. “Pagi, Rakes. Kau terdengar lelah.”

“Ada seseorang yang menyebut nama Remington,” ucap Rakes langsung ke inti, tanpa basa-basi. “Siapa mereka sebenarnya?”

Hening sejenak. Bukan karena terkejut, melainkan seolah sang ibu sedang memilih kata yang tepat.

“Jadi kau akhirnya mendengarnya,” jawabnya pelan. “Keluarga Remington sudah lama terlibat dalam urusan yang seharusnya tidak mereka sentuh. Kakek Damian, Hans Remington, bukan sekadar nama dalam catatan lama.”

Rakes menarik napas dalam. “Ibu sudah mengetahui ini sejak lama?”

“Lebih lama dari yang kau kira,” jawabnya. “Dan lebih lama dari yang seharusnya kau bawa sendiri.”

Rakes menunduk sedikit. “Saya tidak menyebutkan apa pun. Saya hanya ingin tahu.”

“Itu sudah cukup,” kata ibunya lembut namun tegas. “Berhati-hatilah. Tidak semua yang datang membawa nama lama datang dengan niat baik.”

Panggilan berakhir dengan pesan singkat yang tidak perlu dijelaskan ulang. Rakes menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menyimpannya kembali.

Ketika ia kembali ke yang lain, Kale langsung melirik dengan senyum penasaran. “Wah, lama juga. Ketemu fans?”

“Kurang lebih,” jawab Rakes datar.

Hamu menyeringai. “Fans yang pengen ribut?”

“Yang merasa sejarah miliknya,” balas Rakes.

Saka mendengus pelan. “Biasanya tipe begitu yang paling ribut.”

Zack menatap Rakes sejenak, lalu mengangguk kecil. Tidak bertanya, tidak memaksa. Mereka semua mulai memahami bahwa ada hal-hal yang akan terungkap dengan sendirinya, cepat atau lambat.

Dan untuk saat ini, mereka hanya bisa berjalan maju, dengan langkah mahasiswa biasa, candaan yang sesekali konyol, dan beban masa lalu yang pelan-pelan menuntut untuk diakui.

Perjalanan pulang berlangsung lebih ribut dibanding saat berangkat, seolah semua orang sepakat bahwa terlalu banyak diam justru membuat pikiran ke mana-mana. Kale kembali menjadi sumber suara utama, entah itu mengomentari jalan yang macet, playlist yang diputar Hamu, atau fakta bahwa hari itu seharusnya cuma diisi kuliah dan tugas, bukan urusan nama keluarga berusia ratusan tahun.

“Gue masih ngerasa aneh,” kata Kale sambil menyandarkan kepala. “Kita ini mahasiswa. Status resmi kita tuh masih ribut soal deadline, bukan silsilah.”

“Deadline juga bisa bikin orang stress turunan,” jawab Hamu santai. “Cuma bedanya nggak ada manuskrip kuno.”

Zack tertawa kecil, kali ini lebih tulus. “Kalau ada, mungkin isinya jadwal praktikum gue.”

Saka melirik ke belakang. “Itu lebih menakutkan.”

Rakes mendengarkan tanpa ikut banyak bicara. Pikirannya masih tertahan pada satu nama, satu sikap, satu senyum yang terlalu yakin. Damian James Remington bukan tipe orang yang muncul tanpa tujuan. Dan keterlibatan keluarga itu dalam sejarah lama bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.

Sesampainya di asrama, mereka berpisah sebentar. Zack masuk lebih dulu ke kamarnya, alasan klasik mahasiswa kedokteran, capek, perlu rebahan, tapi ujung-ujungnya buka catatan. Hamu dan Saka ke arah ruang bersama, sementara Kale mengikuti Rakes sampai ke koridor.

“Rak,” ujar Kale, nadanya lebih pelan dari biasanya. “Orang tadi itu… bukan cuma lewat, kan?”

Rakes berhenti berjalan. Ia menoleh, menimbang sebentar. “Bukan.”

Kale mengangguk pelan. “Ya udah. Kalau lo butuh temen buat ngomel, gue ada. Walau kontribusi gue paling cuma komentar nggak penting.”

Sudut bibir Rakes terangkat tipis. “Itu sudah lebih dari cukup.”

Malam turun perlahan. Asrama kembali ke ritmenya, suara pintu dibuka tutup, langkah kaki di lorong, dan tawa samar dari kamar lain. Di kamar Rakes, lampu meja menyala. Ia membuka laptop, menatap layar kosong cukup lama sebelum akhirnya menutupnya lagi. Tidak ada hal akademis yang bisa ia kerjakan malam itu.

Ponselnya bergetar. Pesan singkat dari ibunya.

“Jangan hadapi mereka sendirian.”

Rakes menghembuskan napas pelan. Ia tahu maksud kalimat itu bukan sekadar tentang keluarga Remington, melainkan tentang pilihan lama keluarga Kartaswiraga: diam, menahan, dan menyimpan semuanya sendiri.

Di kamar sebelah, Zack terbangun dari setengah tidurnya. Dadanya terasa berat, bukan sesak seperti sebelumnya, tapi cukup untuk membuatnya duduk. Ia menatap tangannya sendiri, jari-jarinya gemetar halus, lalu berhenti. Potongan ingatan kembali muncul, tidak jelas, seperti bayangan yang lewat terlalu cepat untuk ditangkap. Nama-nama lama berkelindan dengan wajah-wajah yang tidak ia kenal, tapi terasa akrab.

Ia berdiri, keluar kamar, dan berhenti di depan pintu Rakes. Tidak mengetuk. Hanya berdiri, lalu akhirnya berbalik dan kembali ke kamarnya sendiri.

Di ruang bersama, Hamu dan Saka masih terjaga. Hamu sibuk dengan laptopnya, sementara Saka menggambar sketsa kasar di buku, garis-garis tajam, tidak rapi, tapi penuh maksud.

“Lo ngerasa nggak,” kata Hamu tanpa menoleh, “kalau ini semua kayak udah jalan sebelum kita nyadar?”

Saka menutup bukunya. “Iya. Dan kita telat sadar.”

Hamu menyeringai. “Klasik.”

Di malam yang tampak biasa itu, tidak ada keputusan besar yang diambil. Tidak ada rencana heroik disusun. Hanya kesadaran perlahan bahwa pertemuan hari ini, baik di rumah Zack maupun di halaman, bukan akhir dari apa pun.

Itu justru permulaan dari sesuatu yang akan memaksa mereka semua untuk terlibat, suka atau tidak.

......................

Pagi datang tanpa upacara apa pun. Tidak ada mimpi aneh yang dibicarakan, tidak ada tanda-tanda ganjil yang bisa dijadikan alasan untuk panik. Alarm berbunyi, lampu kamar dinyalakan, dan kehidupan mahasiswa kembali mengambil alih seolah semalam hanyalah jeda yang terlalu panjang.

Rakes bangun lebih awal dari yang lain. Ia duduk di tepi ranjang cukup lama, menatap lantai, membiarkan pikirannya menata ulang urutan kejadian. Wajah Damian kembali muncul tanpa diminta, cara bicaranya yang tenang tapi menusuk, sorot mata yang seperti sudah tahu terlalu banyak, dan keyakinan bahwa Rakes akan bereaksi. Itulah yang paling mengganggu. Orang itu tidak datang untuk mencari jawaban. Ia datang untuk memastikan Rakes masih memikul beban yang sama.

Di ruang bersama, Saka sudah lebih dulu beraktivitas. Meja penuh potongan kertas, kain kecil, dan pensil warna. Tangannya bergerak cepat, seolah ada sesuatu di kepalanya yang harus segera dituangkan sebelum menguap. Ia berhenti saat Rakes lewat, menatap sekilas, lalu kembali menggambar tanpa komentar. Tidak ada pertanyaan, tidak ada dorongan. Hanya kehadiran yang diam-diam memberi ruang.

Hamu keluar kamar sambil menguap, rambut berantakan, membawa cangkir kopi instan yang aromanya terlalu kuat. “Pagi ini rasanya panjang,” katanya ringan, meski matanya tajam mengamati Rakes. “Padahal jam baru lewat tujuh.”

“Karena otak kita belum sepakat mau mikir apa,” jawab Rakes datar.

“Masuk akal,” Hamu mengangguk. “Laptop gue juga begitu.”

Kale muncul menyusul, rapi seperti biasa, tas sudah di pundak. “Zack belum keluar?”

Seolah dipanggil, pintu kamar Zack terbuka. Ia terlihat lebih segar dari semalam, meski ada sesuatu di wajahnya yang sulit dijelaskan, bukan lelah, bukan cemas, tapi seperti seseorang yang sedang menunggu dirinya sendiri menyusul. Ia tersenyum kecil saat melihat mereka berkumpul.

“Kenapa mukanya serius semua?” tanyanya. “Kita kuliah, bukan sidang dunia.”

“Bilang gitu karena lo anak kedokteran,” Kale menimpali. “Sidang dunia versi gue tuh presentasi proposal.”

“Versi gue error compile,” tambah Hamu.

Saka mengangkat bahu. “Versi gue dosen yang bilang ‘eksplor lagi’ tanpa penjelasan.”

Percakapan itu ringan, hampir normal. Tapi Rakes menangkap sesuatu yang halus. Cara Zack berdiri sedikit lebih kaku. Cara ia menarik napas lebih dalam sebelum bicara. Tidak mencolok, tapi cukup bagi seseorang yang sudah terbiasa mengamati.

Mereka berangkat terpisah sesuai fakultas masing-masing, ritme lama yang sudah terbentuk sejak lama. Tidak ada yang terasa seperti kunjungan pertama, tidak ada kekaguman berlebihan, tidak ada rasa asing. Kampus hanyalah kampus, bangunan, lorong, dan jadwal yang terus bergerak tanpa peduli sejarah siapa pun.

Namun di sela-sela rutinitas itu, Rakes kembali menerima pesan singkat dari nomor luar negeri. Ibunya tidak banyak menulis, hanya satu kalimat pendek yang terasa berat karena konteksnya.

“Nama itu tidak muncul tanpa alasan.”

Rakes menatap layar beberapa detik sebelum menyimpannya. Ia tahu. Justru itulah yang membuat langkahnya terasa lebih berat hari itu. Bukan karena ketakutan, melainkan karena kesadaran bahwa apa pun yang bergerak sekarang tidak akan berhenti hanya dengan diabaikan.

Sore hari, mereka kembali ke asrama hampir bersamaan. Zack terlihat lebih pendiam dari biasanya, meski tetap ikut tertawa saat Kale melontarkan komentar tidak penting tentang dosen bisnis yang terlalu suka analogi perang. Namun sesekali, tangannya berhenti bergerak, jari-jarinya menegang sejenak sebelum kembali normal.

Rakes memperhatikan dari jauh. Tidak mendekat. Tidak bertanya. Ia tahu, ada hal-hal yang tidak bisa dipaksa muncul. Jika ingatan itu memang akan naik ke permukaan, ia akan melakukannya dengan caranya sendiri.

Malam kembali turun, dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, tidak ada pembahasan tentang masa lalu, tentang nama keluarga, atau tentang kematian yang tertunda.

Mereka makan, bercanda, dan mengeluh soal tugas seperti biasa.

Namun di balik semua itu, masing-masing menyadari satu hal yang sama, meski tidak diucapkan, ada sesuatu yang sedang bergerak.

Tidak cepat.

Tidak mencolok.

Tapi cukup konsisten untuk membuat mereka semua, sadar atau tidak, melangkah ke arah yang sama.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
Astari ques
🤣🤣🤣
Astari ques
iyalah rakes sangatlah mental baja💪
Astari ques
si rakes di luar angkasa emang🤭🤣🤣
Astari ques
alur ceritanya bagus dan penokohannya keren keren🤗🤗
Astari ques: Siap kak😄😄
total 2 replies
Astari ques
seru banget ceritanya😍
Astari ques
Wow cerita bagus banget mana ganteng2 lagi karakternya😍
Karamellatee Clandestories
lanjutt baca ajaa
Rectoverso
menarique.... /Applaud/
Junet-ssi
Zack punya penyakit mental kah?
Aarmaaa28
hi
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
bagus sih buat cerita nya NIAT banget malah, tapi kurang promosi aja
Karamellatee Clandestories: terimakasihhhn
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!