NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak yang Mulai Terlihat

Raito terbangun dengan tubuh yang terasa seperti ditabrak truk. Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai penginapan baru mereka—kamar yang lebih luas di distrik tengah Yorknew, dengan dua tempat tidur layak dan kamar mandi air panas. Hadiah dari kemenangan di lantai 15 kemarin (total 800.000 jenny) sudah cukup untuk upgrade tempat tinggal selama sebulan, tapi Raito tidak merasa menang.

Dia duduk di tepi tempat tidur, memandang luka-luka di lengan dan rusuk yang sudah mulai mengering berkat perawatan dokter Nen di arena. Sakitnya masih ada, tapi yang lebih menyakitkan adalah pikiran: Blind Shadow menyerah bukan karena kalah fisik, tapi karena “sesuatu” di cahaya Raito. Apa itu? Harapan? Kehangatan? Atau hanya kelemahan yang dia proyeksikan ke lawan?

Mira sudah bangun, sedang menyeduh teh murah di kompor kecil portabel. Dia melirik Raito. “Kamu baik-baik saja?”

Raito mengangguk pelan. “Hanya capek. Tapi… kemarin aneh. Blind Shadow nggak kalah karena pukulan. Dia kalah karena… cahaya itu.”

Mira menuang teh ke dua cangkir. “Itu namanya ‘aura emosional’. Nen bukan cuma kekuatan fisik. Ada tipe Nen yang dipengaruhi emosi, niat, atau keyakinan. Cahaya-mu bukan cuma Transmutation—ada bagian Specialist atau Enhancement yang lahir dari tekadmu. Blind Shadow merasakannya. Mungkin dia trauma dengan cahaya, atau dia lihat sesuatu yang dia takutkan di dalam dirinya sendiri.”

Raito memegang cangkir hangat itu. “Jadi… aku bisa menang bukan karena lebih kuat, tapi karena aku nggak menyerah?”

Mira mengangguk. “Itu kekuatan terbesar di dunia ini. Banyak petarung kuat mati karena mereka menyerah dalam hati dulu. Kamu belum sampai di situ.”

Mereka sarapan roti dan sup instan. Setelah itu, Mira bilang hari ini istirahat dari arena. “Kita ke pasar gelap. Aku dapat info dari kontak lama: ada barang langka yang dijual malam ini. Artefak yang katanya bisa ‘membuka jalan ke tempat lain’. Mungkin itu kunci pulangmu.”

Raito langsung setuju. Mereka berpakaian sederhana—hoodie gelap, celana kargo, sepatu nyaman—untuk tidak mencolok. Pasar gelap Yorknew berada di bawah tanah, di terowongan kereta tua yang sudah tidak dipakai. Masuknya melalui pintu besi tersembunyi di belakang gudang rusak.

Di dalam, udara lembab dan bau besi karat bercampur asap rokok. Lampu neon merah dan biru berkedip, menerangi kios-kios kecil yang menjual segalanya: senjata terlarang, kartu Greed Island palsu, obat-obatan Nen, bahkan bagian tubuh Chimera Ant yang dikeringkan.

Mira berjalan dengan percaya diri, seperti pulang ke rumah. Raito mengikuti dari belakang, mata waspada. Mereka berhenti di kios besar di tengah: seorang pria gemuk berjubah merah, wajahnya ditutup topeng setengah. Di depannya ada kotak kaca kecil berisi batu bulat hitam dengan garis putih samar seperti retakan cahaya.

“Ini ‘Eclipse Stone’,” kata pria itu dengan suara serak. “Katanya dari Dark Continent. Bisa membuka portal kecil ke dimensi lain—tapi butuh Nen kuat dan pengorbanan. Harga: 5 juta jenny.”

Raito merasa dadanya berdegup kencang. “Pengorbanan apa?”

Pria itu tersenyum di balik topeng. “Darah. Atau jiwa. Atau sesuatu yang kamu sayang. Banyak yang coba, sedikit yang selamat.”

Mira menarik Raito mundur. “Terlalu berisiko. Kita nggak punya 5 juta. Dan kalau itu palsu, kita rugi besar.”

Mereka berjalan lagi, mencari kios lain. Tapi saat melewati gang sempit di belakang, suara langkah kaki terdengar dari belakang. Raito menoleh—tiga pria bertubuh besar, mengenakan jaket kulit dengan lambang ular hitam di lengan. Mafia kecil, mungkin bagian dari organisasi bawah tanah Yorknew.

“Hei, anak baru,” kata yang paling depan—pria botak dengan tato ular di leher. “Kamu yang naik cepat di arena ya? Cahaya kecil itu… menarik. Bos kami mau bicara.”

Mira langsung maju ke depan Raito. “Kami nggak tertarik.”

Pria botak tertawa. “Bukan tawaran. Ini undangan paksa.”

Dua pria lain maju, tangan sudah memegang tongkat besi. Mira tarik pisau dari pinggang. Raito langsung aktifkan Ten—auranya membungkus tubuh, siap bertarung.

Pertarungan pecah di gang sempit itu.

Pria botak menyerang Mira dengan tongkat. Mira menghindar lincah, balas dengan pisau ke lengan pria itu. Darah muncrat. Yang lain menyerang Raito—tinju besar mengarah ke kepala.

Raito menghindar, lalu balas dengan pukulan dibungkus aura Enhancement. Tinjunya mengenai dada pria itu—ada suara retak tulang. Pria itu terpental ke dinding.

Tapi yang ketiga lebih pintar. Dia mundur, lalu lempar pisau kecil ke arah Raito. Raito menangkis dengan lengan—pisau menggores kulit, tapi aura melindungi dari dalam. Darah menetes, tapi tidak dalam.

Mira sudah selesai dengan pria botak—dia jatuh pingsan dengan luka di bahu. Mira berbalik ke yang terakhir. “Pergi, atau aku bunuh.”

Pria itu mundur, tapi sebelum pergi, dia melempar kertas kecil ke arah Raito. “Bos kami bilang: kalau kamu mau hidup tenang di Yorknew, datang ke gudang nomor 47 besok malam. Sendirian. Atau kami cari kamu.”

Dia kabur ke kegelapan gang.

Mira ambil kertas itu. Di dalamnya hanya alamat dan gambar ular hitam—lambang organisasi kecil bernama “Shadow Serpent”. Mafia pemula yang suka rekrut petarung arena.

Raito memandang kertas itu. “Mereka tahu tentang cahaya-ku.”

Mira mengangguk tegang. “Berita naik cepat di arena. Kamu mulai menarik perhatian. Besok malam… kita putuskan.”

Mereka kembali ke penginapan dalam diam. Luka-luka kecil dibersihkan, tapi yang lebih dalam adalah ketakutan baru: kalau terus naik di arena, dia akan jadi target. Bukan cuma lawan di ring, tapi organisasi gelap yang ingin “menggunakan” atau “menghilangkan” cahayanya.

Malam itu, Raito duduk di jendela lagi. Cahaya kecil di telapak tangannya berpendar pelan. Dia ingat mimpi kilatan putih, ingat bisikan “menyeimbangkan kegelapan”. Apakah ini bagian dari itu? Apakah dia dibawa ke sini untuk jadi senjata, atau penyeimbang?

Mira duduk di sebelahnya. “Kita nggak harus pergi ke gudang itu. Kita bisa pindah kota. Atau turun level di arena.”

Raito menggeleng. “Kalau aku lari sekarang, cahaya ini nggak akan pernah berkembang. Dan aku nggak akan pernah tahu jawabannya.”

Mira diam sejenak. Lalu dia meletakkan tangan di bahu Raito. “Kalau gitu, kita pergi bersama besok malam. Bukan untuk bergabung, tapi untuk cari tahu siapa bos mereka. Dan kalau perlu… kita hancurkan.”

Raito memandang Mira. Untuk pertama kalinya, dia melihat bukan hanya mentor, tapi teman yang siap berdiri di sampingnya di kegelapan.

Cahaya di telapak tangannya berpendar lebih terang—seperti menyetujui.

Konflik baru saja memasuki babak baru: bukan lagi pertarungan di ring, tapi perang bayangan di bawah permukaan Yorknew.

Dan Raito tahu, cahaya kecilnya harus bersinar lebih terang—atau padam selamanya.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!