NovelToon NovelToon
Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Herlina

Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dominasi Cinta

Pagi di Jakarta setelah badai besar berlalu selalu terasa berbeda. Bagi Sasha Wijaya, udara di dalam penthouse mewahnya terasa lebih ringan, meski ia tahu bahwa di luar sana, dunia bisnis sedang bergejolak akibat berita jatuhnya Dimas Satya secara memalukan. Sasha berdiri di dapur bersih, menyesap kopi hitamnya tanpa gula. Ia mengenakan kemeja putih milik Gio yang kebesaran di tubuhnya, memperlihatkan jenjang kakinya yang indah. Di meja makan, tabletnya terus berkedip menampilkan notifikasi berita: “Skandal Gala Wijaya: Dimas Satya Resmi Ditahan Atas Berbagai Dakwaan Berat.”

Sasha menghela napas panjang. Ia menang, namun kemenangan ini meninggalkan rasa lelah yang amat sangat di sekujur tubuhnya. Langkah kaki yang berat namun teratur terdengar mendekat. Tanpa menoleh pun, Sasha tahu itu adalah Gio. Pria itu baru saja selesai melakukan rutinitas latihan paginya. Keringat membasahi kaos hitam yang melekat ketat di tubuh kekarnya, dan aroma maskulin yang khas langsung memenuhi ruangan.

Gio tidak mengatakan apa-apa. Ia langsung berdiri di belakang Sasha, melingkarkan lengannya yang kuat di pinggang wanita itu, dan menyandarkan dagunya di bahu Sasha. Sebuah pelukan posesif yang kini menjadi candu bagi Sasha.

"Kau kurang tidur," bisik Gio, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.

"Memikirkan langkah selanjutnya, Gio. Dewan direksi akan meminta penjelasan hari ini. Mereka tidak suka skandal, meskipun kita adalah korbannya," jawab Sasha sambil menyandarkan kepalanya pada dada Gio.

Gio membalikkan tubuh Sasha agar menghadapnya. Matanya yang tajam menatap langsung ke dalam manik mata Sasha. "Biarkan mereka bicara. Aku sudah menyiapkan berkas yang akan membuat mereka bungkam. Pengkhianatan Dimas bukan hanya masalah pribadi, tapi sabotase terhadap perusahaan. Mereka tidak punya pilihan selain mendukungmu sepenuhnya."

Sasha tersenyum tipis. "Apa yang akan aku lakukan tanpamu?"

"Kau akan tetap menjadi ratu, Sha. Hanya saja, kau mungkin akan sedikit lebih kesepian," canda Gio sebelum mengecup kening Sasha dengan lembut.

Pukul sepuluh pagi, ruang rapat utama Wijaya Group terasa seperti medan perang yang membeku. Sepuluh orang pria tua berjas mahal duduk dengan wajah kaku. Di kepala meja, Sasha duduk dengan setelan power suit berwarna biru navy, memancarkan otoritas yang tak tergoyahkan. Di belakangnya, berdiri Gio—diam, waspada, dan mematikan.

"Sasha, skandal semalam sangat merugikan citra perusahaan. Saham kita fluktuatif," ujar salah satu direktur senior, Pak Broto, dengan nada menghakimi.

Sasha meletakkan cangkir tehnya dengan denting pelan yang entah bagaimana terdengar seperti guntur di ruangan sunyi itu.

"Fluktuatif karena seorang pengkhianat mencoba menodai nama Wijaya, atau karena kalian takut kehilangan posisi nyaman kalian?" tanya Sasha dingin.

"Maksudmu apa?"

Sasha memberi isyarat pada Gio. Dengan cekatan, Gio membagikan map hitam kepada setiap orang di sana.

"Di dalam sana," Sasha melanjutkan, "adalah bukti aliran dana dari Dimas Satya kepada beberapa dari kalian selama enam bulan terakhir. Percobaan suap untuk menggulingkan saya. Jadi, sebelum kalian mempertanyakan kepemimpinan saya, tanyakan pada diri kalian sendiri: apakah kalian ingin mengikuti Dimas ke balik jeruji besi, atau kalian ingin tetap duduk di kursi itu dan bekerja untukku?"

Ruangan itu mendadak senyap. Wajah Pak Broto memucat. Mereka tidak menyangka Sasha memiliki data sedalam itu. Mereka lupa bahwa Gio bukan sekadar pengawal; dia adalah ahli intelijen yang telah membersihkan setiap jejak kotor di sekitar Sasha.

"Aku tidak butuh kesetiaan yang dibeli," ucap Sasha sambil berdiri. "Aku butuh hasil. Rapat selesai."

Sasha melangkah keluar dengan kepala tegak, diikuti oleh Gio yang memberikan tatapan peringatan terakhir kepada para direktur sebelum menutup pintu. Sore harinya, mereka memutuskan untuk menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kantor. Gio membawa Sasha ke sebuah rumah kaca di pinggiran kota yang selama ini menjadi tempat persembunyian rahasianya. Tempat itu asri, penuh dengan tanaman eksotis dan bunga-bunga yang dirawat dengan tangan Gio sendiri.

"Kau yang merawat semua ini?" tanya Sasha takjub, menyentuh kelopak bunga anggrek hitam yang langka.

"Menanam sesuatu memberikan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh senjata," jawab Gio sambil memberikan segelas air mineral pada Sasha.

Sasha menatap Gio dengan intens. Pria ini adalah teka-teki yang semakin ia pecahkan, semakin ia mencintai. Di satu sisi, ia adalah mesin tempur yang tak segan mematahkan tulang lawan demi dirinya. Di sisi lain, ia adalah pria yang mampu merawat kehidupan dengan lembut.

"Gio, setelah semua ini... apakah kau pernah berpikir untuk berhenti? Menjadi pria biasa?" tanya Sasha pelan.

Gio terdiam cukup lama. Ia berjalan mendekati Sasha, mengambil tangan wanita itu dan mencium telapak tangannya.

"Duniaku sudah berhenti sejak aku bertemu denganmu, Sasha. Hidupku adalah menjagamu. Jika aku berhenti, aku tidak tahu lagi siapa diriku."

Sasha merasakan haru yang luar biasa. Ia menarik kerah baju Gio, menuntut sebuah ciuman yang dalam dan penuh perasaan. Namun, ketenangan itu terusik ketika ponsel Gio bergetar. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Gio menjauh sedikit untuk mengangkatnya. Wajahnya yang semula lembut kembali mengeras menjadi batu.

"Siapa?" tanya Sasha setelah Gio menutup telepon.

"Pengacara keluarga Satya. Mereka mencoba melakukan pergerakan terakhir untuk membebaskan Dimas dengan jaminan medis," jawab Gio pendek.

Sasha mendengus sinis. "Mereka tidak akan menyerah."

"Memang," Gio mengantongi ponselnya. "Tapi mereka lupa satu hal. Aku tidak hanya bermain dengan hukum. Aku bermain dengan rasa takut."

Malam kembali merayap, membawa hawa dingin yang menusuk. Mereka kembali ke penthouse. Sasha duduk di balkon, memandangi kemacetan Jakarta yang nampak seperti aliran lava emas dari ketinggian lantai 50. Gio keluar membawa selimut tebal, menyampirkannya ke bahu Sasha lalu memeluknya dari belakang. Keintiman mereka kini terasa lebih alami, tanpa perlu banyak kata-kata.

"Sha," panggil Gio rendah.

"Hm?"

"Jika suatu saat aku harus melakukan sesuatu yang sangat gelap untuk melindungimu... sesuatu yang mungkin akan membuatmu takut padaku... apakah kau akan tetap di sini?"

Sasha memutar tubuhnya, menangkup wajah Gio dengan kedua tangannya. Ia menatap mata hitam yang selalu menyembunyikan badai itu dengan penuh keberanian.

"Aku sudah melihat kegelapanmu semalam, Gio. Dan aku tidak lari. Aku justru merasa paling aman di sana."

Gio tersenyum, sebuah senyum yang tulus namun menyimpan janji yang mematikan. Ia menarik Sasha lebih dekat, membiarkan napas mereka menyatu di tengah dinginnya malam.

"Dimas tidak akan pernah keluar dari sana, Sasha. Aku sudah memastikannya."

Sasha menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Apa yang kau lakukan?"

Gio hanya mengusap bibir Sasha dengan ibu jarinya, memberikan tatapan yang begitu posesif hingga membuat Sasha bergidik nikmat.

"Beberapa rahasia lebih baik tetap menjadi rahasia, agar kau tetap bisa tidur nyenyak, Ratu."

Sasha tertawa kecil, melingkarkan lengannya di leher Gio, menariknya untuk sebuah dekapan yang erat.

"Kau adalah iblis yang dikirim untuk menjagaku, bukan?"

Gio berbisik tepat di telinga Sasha, suaranya membuat bulu kuduk Sasha meremang.

"Aku bisa menjadi apa pun yang kau butuhkan, Sha. Pelindungmu, pengawalmu, atau mimpi buruk bagi musuhmu. Asalkan kau ingat satu hal."

Sasha mendongak. "Apa itu?"

"Kau boleh memerintah dunia ini sesukamu, tapi di dalam kamar ini, dan di dalam pelukan ini, hanya aku yang berhak mengendalikanmu."

Sasha tersenyum menantang, matanya berkilat gairah. "Coba saja kalau kau bisa, Gio."

Gio tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menggendong Sasha masuk ke dalam kamar, menutup pintu balkon dengan tendangan kakinya, dan membiarkan malam kembali menjadi saksi atas dominasi dan cinta mereka yang tak terpisahkan.

1
someone47
lnjut kk... Kasihan jg si sasha
Ariany Sudjana
ah gio ga punya power, istrinya dibiarkan sendiri, tanpa pengawalan, malah Dimas yang seorang penjahat, unggul di depan, karena pengawalan juga lemah, gimana sih
Lina Herlina: sabar ya kak, kan Gio sedang terluka... terima kasih komentarnya kak🙏😘 mksh ya kak dah mampir dan salam kenal kk🙏😘😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!