Masih di atas gunung, Aya membuang bekas pembalutnya sembarangan ke semak-semak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TuanZx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30; Bunga Edelweis
Sementara itu, Iman dan Irwan mengisi air. Ucu masak dan rebahan diatas terpal sebelah tumpukan carrier.
Dari cadas menuju puncak, hanya memakan waktu kurang lebih satu jam. Karena puncak M udah keliatan jelas dari cadas.
Gak lama kemudian Iman dan Irwan kembali dari mengisi air.
Iman nanya, "Cu, Ari sama Aya mana?"
"Udah ke atas, mereka gak mau nurut. Padahal udah gua larang berkali-kali, udah gua tahan-tahan. Tapi lu tau lah keras kepalanya si Ari."
Sambil duduk bertiga dan berbincang-bincang mengenai Ari dan Aya. Mereka berencana buat liat telaga warna yang ada di deket Tugu 12.
Mereka sepakat kalo dalam waktu satu jam, Ari dan Aya gak balik ke bawah, mereka bakal nyusul ke atas.
Sementara itu, Ari dan Aya udah hampir sampe puncak.
Mereka teriak sekuat-kuatnya, cuma untuk ngasih tau kalo mereka itu udah hampir sampe puncak.
"Wooooi! Liat kami wooooi!"
Kalo dipikir-pikir sebenernya lambaian tangan dan teriakan Ari dan Aya itu sedikit berlebihan.
Ketara sekali kalo dalam situasi seperti itu mereka kayak orang awam yang baru mendaki gunung.
Tapi gak papa, setidaknya mereka keliatan bahagia disitu.
Mimpi di awal untuk melihat matahari terbit pun kandas.
Hari udah terang benderang. Yang tersisa hanyalah hamparan pemandangan hijau, dan pemandangan indah dari ketinggian.
Meski begitu, mimpi Ari dan Aya untuk nyampe puncak akhirnya tercapai.
Udara dingin, angin yang kenceng, dan sesekali ke cium bau belerang. Yang merupakan ciri khas puncak gunung M.
Merekapun mengitari daerah sekitar puncak itu, dan keduanya menemukan sebuah batu bertuliskan Tugu Abel.
Sekilas info; jadi dulu pernah ada pendaki berkebangsaan Eropa yang bernama Abel Tasman. Ia sedang melakukan ekspedisi saat tragedi gunung M tahun 1990an terjadi.
Saat terjadi letusan, Abel sedang berusaha untuk menyelamatkan pendaki wanita.
Tapi malang, ia malah terkena lontaran batu dari letusan gunung M. Batu tersebut bersarang tepat di kepalanya.
Akibatnya, ia pun meningal seketika.
Untuk mengenang jasanya, di buatkan lah Tugu yang bertuliskan Tugu Abel.
Tugu Abel juga berfungsi sebagai petunjuk untuk turun ke cadas. Sehingga para pendaki memiliki acuan kalo mereka tersesat di puncak.
Kembali lagi ke Ari dan Aya yang sedang kegirangan dipuncak. Disana Ari kembali bertingkah kekanak-kanakan.
Ia berlari sekencang-kencangnya ke Tugu Abel lalu memeluk dan mencium Tugu itu.
Alhasil, Aya keheranan liat tingkah si Ari ini.
Beberapa pendaki lain yang berada di puncak pun ngerasa geli liat kelakuannya si Ari.
Tapi Ari gak peduli.
Puas bertingkah konyol, Ari pun duduk di dekat Tugu Abel.
Mereka berdua pun bercerita, bergurau, sambil ketawa terbahak-bahak sambil sesekali meminum suplemen kesehatan yang mereka bawa.
"Mantep ya Ya, jiwa kerasa tenang dan damai disini." kata Ari.
"Iya, Ri. Tapi belum lengkap kalo kita belum ke puncak Merpati. Kita kesan yuk Ri?" kata Aya.
Setelah cukup beristirahat, mereka pun bergegas ke puncak Merpati.
Medan yang mereka lalui, berupa hamparan bebatuan kecil, seperti sebuah lapangan.
"Ri, aman gak batuan ini kita injak? Gua takut nih. Bisa-bisa tanahnya lunak kayak lumpur hisap. Mati kita dihisapnya Ri." kata Aya.
"Lu tenang aja Ya, aman itu kalo diinjak. Jalan aja gapapa." kata Ari.
Puncak Merpati merupakan puncak tertinggi di gunung M, selain puncak Merpati, ada juga puncak yang disebut puncak Garuda.
Mereka berdua pun tiba di sudut tepi lapangan.
Mereka duduk sebentar, ngeliat pemandangan yang indah membentang.
Tujuan utamanya adalah puncak Merpati. Tapi karena ada banyak hal yang bikin mereka takjub, akhirnya mereka harus berhenti beberapa kali untuk sekedar liat-liat sejenak.
Bukannya bergegas menuju puncak Merpati, mereka justru duduk-duduk diujung tebing sambil meminum sisa air yang mereka bawa.
Ari kembali menyalakan rokok, sambil berandai-andai.
"Ri kalo seandainya kita jatuh dari atas sini siapa yang akan nyelametin kita ya?” kata Aya.
"Ya, gak ada Ya, kita kan cuma berdua disini. Udah jangan mikir yang aneh-aneh. Nikmatin aja apa yang keliatan sekarang."
Gak kerasa, niat yang awalnya mau singgah sebentar, kembali jadi wacana.
Karena ketika mereka berdiri dan mengarahkan pandangan ke berbagai sudut, mereka menikmati hamparan yang sangat indah. Warna-warni dan menyejukkan hati.
Merekapun lupa kepada tujuan utama mereka.
Spontan Aya lari untuk menikmati pesona tersebut dari dekat.
Ari pun segera menyusul Aya. Hingga akhirnya, mereka berdua sampai di hamparan bunga yang sangat luas, indah, dan menawan hati.
Hal itu bikin mereka ingin memetik bunga-bunga tersebut sebanyak mungkin.
"Kita petik yang banyak Ri, nanti kita bisa bagiin ke Ucu, Irwan sama Iman. Sisanya kita bagiin ke temen-temen kantor."
Merekapun semakin semangat buat metik bunga Edelweis hingga carrier mereka penuh.
jangan2 yang tadi cerita itu bukan orang asli nih..
ih serem...
pas kena sorot mobil Ari di tengok udah ga ada orangnya...
malah orangnya baru keluar dari mobilnya Ari...
gimana tuh bang kalo bener begitu kejadiaanya...
masa cuma dari tali pocong bisa kaya...
kalo mau kaya ya usaha, kerja, dagang jangan yang aneh2 dech