Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Butuh Teman Selevel
Pagi berikutnya, sebuah kurir datang membawa kotak besar yang cukup berat ke kediaman Laurent. Di dalamnya terdapat air purifier kelas medis dengan teknologi filtrasi paling mutakhir—tipe yang biasanya hanya ditemukan di ruang isolasi rumah sakit. Bersama alat itu, terselip sebuah catatan medis resmi yang ditulis tangan oleh Arslan:
"Udara yang bersih adalah obat terbaik untuk infeksi saluran pernapasan Farel. Tolong pastikan tidak ada residu asap rokok di sekitarnya, karena paru-paru kecilnya belum sekuat kita. - Arslan"
Abel membaca catatan itu sambil melirik ke arah Reno yang baru saja turun ke ruang tengah. Bau tembakau samar masih tercium dari ujung jemari kakaknya. Abel segera memasang alat itu di dekat boks bayi Farel, lalu berbalik menatap Reno dengan tatapan yang sangat tajam.
"Masih mau mengelak kalau tadi malam Kakak merokok di balkon?" tanya Abel dingin sambil menunjuk air purifier pemberian Arslan.
Reno mengusap tengkuknya, tampak salah tingkah. "Kakak cuma bosan, Bel. Nggak bisa tidur. Cuma satu batang, itu pun di luar," bela Reno dengan alasan yang terdengar lemah di telinganya sendiri.
"Nggak masuk akal, Kak!" sahut Abel dengan nada yang naik satu oktav. "Bosan bukan alasan untuk merusak kesehatan Farel. Kakak tahu tidak? Residu asap rokok itu menempel di baju, di kulit, dan di rambut Kakak. Saat Kakak menggendong Farel, dia menghirup racun itu langsung."
Abel melangkah mendekat, menatap kakaknya seperti seorang ibu yang sedang menasihati anak yang membangkang. "Farel itu punya infeksi saluran pernapasan. Dia berjuang buat napas saja sudah susah, Kak. Apa Kakak mau lihat dia masuk ruang ICU lagi hanya karena Kakak nggak bisa menahan diri buat satu batang rokok?"
Kalimat terakhir Abel menghantam perasaan Reno dengan sangat telak. Bayangan Farel yang sesak napas di rumah sakit kembali berputar di kepalanya. Reno terdiam seribu bahasa, ia merasa kerdil di depan adiknya. Kata-kata Abel bukan sekadar omelan, tapi sebuah peringatan keras tentang tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
Reno melirik ke arah air purifier mewah pemberian Arslan itu. Ada rasa gengsi yang membuncah karena rivalnya lebih memperhatikan detail kesehatan putranya daripada dirinya sendiri, namun ia juga tidak bisa membantah kebenaran medis tersebut.
"Oke, oke... Kakak minta maaf," gumam Reno rendah. Ia menatap Abel dengan tulus. "Kakak akan berhenti. Mulai hari ini, Kakak nggak akan sentuh rokok lagi demi Farel."
Abel menghela napas lega, meski matanya masih berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa perhatian Arslan—lewat alat dan catatannya—justru menjadi senjata ampuh untuk menyadarkan Reno.
...****************...
Sesuai dengan perintah tegas Reno yang tidak ingin merasa berutang budi sedikit pun pada pria dari masa lalu mereka, Abel akhirnya melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Di dalam tasnya, tersimpan amplop berisi uang pengganti air purifier mewah yang dikirimkan Arslan. Reno bahkan sempat berpesan, "Bayar sampai ke sen terakhir, jangan biarkan dia merasa punya celah untuk masuk ke keluarga kita."
Namun, rencana Abel untuk sekadar datang dan pergi tidak berjalan mulus. Siang itu, Arslan sedang menangani pasien darurat yang harus segera naik ke meja operasi.
Abel duduk di kursi tunggu tepat di depan pintu ruang kerja Arslan. Ia memperhatikan kesibukan rumah sakit—para perawat yang berlalu-lalang, aroma disinfektan yang tajam, dan sesekali suara pengumuman melalui speaker. Satu jam berlalu, namun Abel tetap di sana, menunjukkan kesabaran yang bahkan membuat dirinya sendiri heran. Ada bagian dari dirinya yang justru merasa tenang berada di wilayah Arslan.
Hampir sembilan puluh menit berlalu ketika pintu otomatis di ujung koridor terbuka. Sosok pria dengan jubah putih yang sedikit kusut muncul. Arslan berjalan sambil melepaskan masker bedahnya, memperlihatkan wajah yang tampak lelah namun tetap terlihat tegas.
Saat matanya menangkap sosok wanita yang duduk manis di depan ruangannya, langkah Arslan mendadak terhenti sejenak. Matanya berbinar, seolah rasa lelah setelah operasi panjang itu menguap begitu saja digantikan oleh energi baru.
Senyum Arslan merekah lebar—sebuah senyum tulus yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di rumah sakit ini. Ia mempercepat langkah kakinya, hampir berlari kecil mendekati Abel.
"Abel? Loㅡ maksudnya kamu sudah lama menunggu?" tanya Arslan dengan nada suara yang penuh dengan kebahagiaan yang tak tertutup-tutupi. Ia berdiri di depan Abel, masih dengan aroma sisa ruang operasi, namun tatapannya seolah baru saja menemukan harta karun yang hilang.
Abel berdiri, mencoba menjaga wajahnya agar tetap datar meski detak jantungnya mulai tak beraturan melihat binar di mata Arslan. "Satu setengah jam, Dokter Arslan. Kamu sangat sibuk rupanya."
Arslan terkekeh, ia mengusap rambutnya yang sedikit berantakan. "Maafkan aku. Ada operasi darurat tadi. Kalau aku tahu kamu datang, aku mungkin akan minta asistenku untuk membawakanmu minum dan camilan. Kamu... menungguku?"
Ada penekanan pada kata "menungguku" yang membuat Abel merasa canggung. Ia segera merogoh tasnya dan mengeluarkan amplop cokelat tebal, lalu menyodorkannya di depan dada Arslan.
"Ini dari Kak Reno. Dia bilang, keluarga Laurent tidak terbiasa menerima barang cuma-cuma dari orang asing. Ini uang pengganti untuk air purifier itu."
Senyum Arslan perlahan memudar, namun tidak hilang sepenuhnya. Ia menatap amplop itu, lalu kembali menatap mata Abel dengan lembut. "Orang asing, ya? Jadi setelah semua ini, aku masih dianggap orang asing oleh kakakmu?"
"Dan olehku," tambah Abel cepat, meski suaranya sedikit bergetar.
Arslan tidak mengambil amplop itu. Ia justru melangkah satu langkah lebih dekat, hingga Abel bisa mencium aroma maskulin bercampur sabun dari tubuh Arslan. "Simpan saja uangnya, Bel. Atau gunakan untuk keperluan Farel. Aku memberikannya untuk kesehatan bayi itu, bukan untuk dibayar."
"Arslan, tolong jangan persulit aku. Kak Reno akan marah kalau aku membawa uang ini kembali."
Arslan terdiam sejenak, lalu ia menyandarkan tubuhnya di pintu ruangannya sambil melipat tangan di dada. "Baiklah, aku akan terima uang ini. Tapi dengan satu syarat."
Abel menyipitkan mata. "Syarat apa?"
"Temani aku makan siang di kantin bawah. Aku belum makan sejak pagi, dan aku tidak mau makan sendirian." Arslan menatap Abel dengan pandangan memohon yang sulit ditolak. "Hanya makan siang, Bel. Sebagai bayaran karena sudah membuatmu menunggu satu jam lebih."
Awalnya Abel menolak, namun akhirnya mengalah. Desakan perutnya sendiri yang juga mulai lapar, ditambah tatapan memohon Arslan yang tampak sangat lelah setelah operasi, meluluhkan pertahanannya. Mereka berjalan berdampingan menuju kantin rumah sakit.
Arslan berjalan dengan langkah ringan, seolah beban pekerjaannya baru saja diangkat. Sesekali, ia sengaja berjalan sangat dekat hingga lengan mereka bersentuhan, atau jarinya tak sengaja menyapu punggung tangan Abel. Sentuhan-sentuhan kecil itu mengirimkan aliran listrik yang membuat napas Arslan memburu. Jika ia mengikuti ego dan pikiran impulsifnya, ia ingin sekali detik ini juga merengkuh pinggang Abel, membawanya ke dalam pelukan erat, dan menguncinya di sana agar tidak bisa lari lagi. Namun, Arslan menahan diri; ia tahu Abel adalah mawar yang penuh duri, salah langkah sedikit saja, ia akan semakin jauh terusir.
"Kamu tunggu di sini, biar aku yang pesan," ujar Abel datar saat mereka sampai di kantin yang cukup ramai.
"Aku ikut," tawar Arslan cepat.
"Duduk, Arslan. Kamu baru selesai operasi, wajahmu pucat," titah Abel dengan nada yang mengingatkan Arslan pada masa SMA mereka. Arslan akhirnya menurut dan berjalan ke toilet untuk membasuh tangan serta merapikan rambutnya yang berantakan.
Abel melangkah ke konter makanan. Tanpa sadar, tangannya bergerak memesan menu yang sangat ia hafal di luar kepala: nasi putih dengan ayam lada hitam dan jus jeruk tanpa gula serta sop tanpa brokoli—makanan kesukaan Arslan. Hatinya mencelos menyadari bahwa meski lima tahun telah berlalu, memori tentang pria itu masih tersimpan rapi di laci otaknya.
Setelah makanan siap, Abel membawa nampan itu kembali ke meja mereka. Namun, pemandangan di depannya membuat langkah Abel terhenti seketika.
Arslan baru saja kembali dari toilet, namun ia belum sempat duduk karena Gea sudah lebih dulu menduduki kursi tepat di samping tempat duduk Arslan. Gea tampak begitu percaya diri, ia meletakkan tas mahalnya di atas meja dan langsung menggandeng lengan Arslan saat pria itu hendak menarik kursi.
"Arslan! Kebetulan sekali, aku baru saja mau mencarimu untuk makan siang bareng. Operasimu sukses, kan?" tanya Gea dengan suara yang sengaja dikeraskan, seolah ingin menegaskan kepemilikannya di depan seluruh pengunjung kantin.
Arslan membeku, wajahnya yang tadi cerah mendadak berubah tegang. Ia segera menarik lengannya dari genggaman Gea, matanya melirik panik ke arah Abel yang berdiri terpaku beberapa langkah dari meja dengan nampan di tangan.
"Gea, aku sedang..."
"Oh, ada pasien VIP kemarin ya?" potong Gea sambil menoleh ke arah Abel dengan senyum yang sangat tipis dan merendahkan. "Hai, bu Abel. Mau bergabung dengan kami? Kebetulan Arslan sedang butuh teman bicara yang selevel setelah operasi besar tadi."
Darah Abel terasa mendidih. Sindiran Gea tentang "pasien VIP" dan kata "selevel" adalah pemicu yang salah untuk diledakkan di depan wanita sesabar Abel. Bukannya mundur, Abel justru mengulas senyum paling manis namun mematikan yang pernah ia miliki. Ia melangkah maju, meletakkan nampan makanan itu tepat di depan Arslan dengan dentuman halus.
"Ini makananmu, Arslan. Ayam lada hitam, tanpa tomat, sop tanpa brokoli dan jus jeruk tanpa gula. Persis seperti yang biasa kamu minta," ucap Abel dengan suara tenang namun penuh penekanan, sengaja menunjukkan betapa ia jauh lebih mengenal Arslan daripada Gea.
Abel kemudian menatap Gea dengan pandangan menilai dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Maaf, Dokter Gea. Sepertinya Dokter Arslan sudah punya janji pribadi untuk membayar 'utang waktu' padaku. Jadi, kalau Dokter butuh teman yang selevel, mungkin meja di pojok sana lebih cocok untuk Anda."