💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Setelah meneguk air yang disodorkan Aksa, Cia mendongak menatap cowok dihadapannya dengan wajah kesal. Bukan ucapan terima kasih yang terlontar, melainkan tatapan setajam belati.
"Kenapa lo buntutin gue, Aksa?" tanyanya dengan nada dingin yang menusuk tulang. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti ancaman terselubung.
Aksa, si ketua geng motor The Mavericks sekaligus kapten basket populer yang digilai hampir seluruh siswi di SMA Garuda, hanya menyunggingkan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Senyum yang dipastikan membuat para penggemarnya menjerit histeris, namun tidak mempan sedikitpun pada Cia.
"Gue cuma kebetulan lewat dan lihat lo di sini, jadi gue samperin."
"Alasan murahan," desis Cia, sama sekali tidak terkesan. Ia tidak bodoh. Ia tahu betul bagaimana Aksa selalu menarik perhatian padanya. "Gak usah buang waktu gue. Lo mau apa sebenarnya?"
Aksa menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap Cia lekat-lekat, berusaha membaca pikiran gadis itu. "Oke. Gue penasaran sama lo, Cia."
Cia mendengus sinis. "Gue? Apa menariknya gue sampai lo segitunya penasaran?"
"Lo beda," jawab Aksa dengan tatapan intens yang membuat Cia sedikit salah tingkah, meskipun ia berusaha menyembunyikannya. "Gue nggak pernah tertarik sama cewek manapun, sampai gue ketemu lo. Dan rasa penasaran itu makin gila setelah gue tahu lo itu Ratu. Dan gue semakin yakin jika cinta gue tak pernah salah! Meskipun lo menyamar jadi Ratu rasa itu tetap pada orang yang sama!"
Cia terdiam, berusaha menyembunyikan keterkejutannya di balik wajah datarnya. Ia tahu Aksa memang tidak sebodoh yang ia kira.
"Terus?" tantang Cia, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba konser dadakan di dalam sana. "Lo mau apa sekarang? Mau bongkar identitas gue ke semua orang?" Ia menyipitkan matanya, menatap Aksa dengan tatapan mengancam. "Atau mau jadi pahlawan kesiangan?"
Aksa menggeleng pelan, senyumnya menghilang. Raut wajahnya berubah serius. "Bukan itu yang gue mau. Gue cuma pengen tahu, siapa lo sebenarnya? Kenapa lo menyamar jadi Ratu?" Ia menghela napas sejenak, lalu melanjutkan pertanyaannya dengan nada yang lebih rendah. "Dan ...," Aksa berhenti sejenak, matanya menelisik Cia dengan hati-hati. "Kenapa Vano dan Varo selalu ada di sekitar lo?"
Pertanyaan itu bagai petir yang menyambar Cia. Jantungnya berdegup lebih kencang. Bagaimana Aksa bisa menyadari kedekatannya dengan kedua kembar itu? Apa yang sebenarnya ia lihat? Apa ia mencurigai sesuatu tentang hubungan mereka?
"Itu bukan urusan lo," jawab Cia dingin, berusaha menyembunyikan rasa paniknya di balik nada suara yang sedingin es.
"Sekarang itu jadi urusan gue karena, lo milik gue!" balas Aksa dengan nada tenang, namun tatapannya penuh dengan tekad yang membuat Cia merinding. Matanya memancarkan rasa posesif yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Cia mendecih pelan, berusaha menyembunyikan rasa kesalnya. "Lo bener-bener keras kepala!" desisnya tak terima. Ia tidak suka diperlakukan seperti ini. Ia bukan barang yang bisa seenaknya diklaim sebagai milik seseorang. "Gue bukan barang yang seenaknya bisa lo klem sebagai hak milik!"
"Mungkin," jawab Aksa sambil mengangkat bahunya acuh. Ia tidak peduli dengan kemarahan Cia. Ia hanya tahu bahwa ia menginginkan gadis itu, dan ia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.
"Tapi gue serius. Gue gak pernah main-main dengan ucapan gue. Dan gue gak akan biarin siapapun menghalangi jalan gue."
"Lo yakin?" tantang Cia, menyeringai sinis. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menantang Aksa untuk membuktikan ucapannya.
"Lo siap menghadapi konsekuensinya dan tak akan menyesal?"
"Konsekuensi apa?" balas Aksa dengan nada menantang, matanya tak gentar menatap Cia. Ia tidak takut dengan ancaman gadis itu. Ia siap menghadapi apapun, asalkan ia bisa mendapatkan Cia.
Suasana tegang itu tiba-tiba dipecah oleh dua suara bariton yang menginterupsi.
"Ada masalah di sini?"
Vano dan Varo muncul bagaikan malaikat pelindung, berdiri di belakang Aksa dengan ekspresi wajah dingin dan mengancam. Aura mereka begitu kuat, membuat seorang Aksa merasa sedikit terintimidasi.
Varo menyeringai sinis, menatap Aksa dengan tatapan penuh arti. "Lo gak perlu tahu tentang hubungan kami."
"Baiknya lo pergi dari sini sekarang," timpal Vano dengan nada dingin yang menusuk tulang. Ia melototkan matanya, memberi peringatan kepada Aksa untuk tidak macam-macam dengan adik mereka. "Lo bukan tipe Cia."
Aksa menelan ludah. Ia bisa merasakan aura permusuhan yang kuat dari kedua cowok kembar itu. Ia tahu mereka bukan orang sembarangan. Mereka punya pengaruh, dan mereka tidak segan-segan untuk menggunakannya untuk melindungi Cia.
"Kenapa?" tanya Aksa penasaran, berusaha mengorek informasi. Ia menajamkan pendengarannya, berusaha menangkap setiap petunjuk yang mungkin bisa membantunya memahami hubungan rumit antara Cia dan kedua kembar itu.
"Siapa kalian yang berani mengatur Cia, oh gue tahu, kalian takut tersaingi sama gue untuk mendapatkan Cia!" Aksa menyeringai sinis, berusaha memancing emosi Vano dan Varo.
Vano dan Varo terdiam sejenak, saling bertukar pandang. Lalu, Varo menyeringai sinis yang membuat Aksa waspada. Senyum itu tidak menunjukkan keramahan, melainkan ancaman terselubung.
"Bukan urusan lo," jawabnya dengan nada dingin. Ia mengibaskan tangannya, seolah mengusir Aksa seperti lalat yang mengganggu.
"Yang jelas, lo harus jauhi Cia," timpal Vano dengan nada dingin yang membuat Aksa menggertakkan giginya. Vano menatap Aksa dengan tatapan tajamnya. "Lo gak akan ngerti."
Aksa mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha meredam emosinya yang semakin memuncak. Ia tidak suka diremehkan seperti ini, apalagi oleh dua cowok yang tidak jelas hubungannya dengan Cia.
"Lo berdua siapa sih?" tanya Aksa dengan nada menantang. Ia bangkit dari duduknya, menatap Vano dan Varo dengan tatapan penuh amarah. "Kenapa lo berdua segitunya ngelindungin Cia? Apa lo yakin bisa merebut Cia dari gue?"
Vano dan Varo tertawa sinis mendengar pertanyaan Aksa. Tawa itu terdengar seperti ejekan di telinga Aksa.
"Ya yakinlah, kami lebih dulu mengenal Cia," jawab Varo. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Aksa, menatapnya dengan tatapan merendahkan. "Lo siapa? Berani menantang kami?"
"Itu tidak penting. Yang penting, lo dengerin baik-baik," timpal Vano dengan nada yang lebih serius. Ia melangkah maju, berdiri di samping Varo dan menatap Aksa dengan tatapan mengancam. "Jauhi Cia. Atau lo akan menyesal."
Aksa menatap Vano dan Varo dengan tatapan menantang. Ia tidak akan mundur. Ia tidak akan membiarkan siapapun menghalangi jalannya untuk mendapatkan Cia.
"Gue gak takut sama ancaman lo berdua," ujarnya dengan nada tegas yang membuat Vano dan Varo terdiam sejenak. "Gue suka sama Cia, dan gue gak akan biarin siapapun ngatur hidup gue."
Cia yang sedari tadi hanya diam menyaksikan pertengkaran itu, menghela napas panjang. Ia sudah muak dengan semua drama di hadapannya saat ini. Ia merasa seperti menjadi pusat dari sebuah pertunjukan sirkus yang sama sekali nggak lucu.
"Udah cukup!" teriak Cia, membuat ketiga pria itu terdiam dan menatapnya dengan tatapan terkejut. "Kalian bertiga membuat selera makan gue hilang!"
Lalu ia beralih pada dua saudara kembarnya "Ayo kita cabut! Dan lo Aksa, mending berhenti kepoin hidup gue!"
Cia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan mereka bertiga lebih dulu. Moodnya hilang seketika gara-gara mereka bertiga dan itu bukan pertanda baik jika ia tetap bertahan di sana.
Bersambung ....
yg disini kalang kabut yg disana tenang tenang saja😄
waah mereka emang berjodoh ya😄
suka banget ma story ny kk
beda level sama km
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,