NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Tangisan Anisa

Langit malam di atas ndalem terasa sunyi.

Angin pelan menyentuh tirai jendela kamar Anisa, lampu temaram membuat bayangan dinding tampak panjang dan sepi.

Gus Hafiz berdiri di serambi ndalem, melangkah mendekat ke Umi Laila.

Napasnya pelan tapi berat.

Umi Laila menoleh,

"Enten nopo Gus...? "

Umi Laila menatapnya lama, seorang ibu tak pernah buta membaca mata anaknya.

"Hafiz ingin bicara sama Dek Anisa, hanya sebentar." Ujarnya meminta izin.

Umi Laila diam beberapa detik.

"Di kamar?" pertanyaan itu jatuh menggantung.

"Jika diizinkan...Umi," Ada permohonan dari jawaban Gus Hafiz.

"Kamu tahu aturannya Gus...Umi ndak perlu jelaskan."

"Nggih, Umi. Hafiz paham..."

Umi Laila berdiri, mengizinkan Gus Hafiz untuk berbicara dengan Anisa.

Pria berjambang tipis itu, mengetuk pelan pintu kamar Anisa, pintu itu sedikit terbuka. Terlihat Anisa duduk bersila di atas sajadah.

"Gus..." Anisa kaget saat Gus Hafiz menutup pintu kamar.

Beberapa detik hanya sunyi, Gus Hafiz menatap Anisa lurus.

"Apa perlu izin juga, untuk sekedar duduk di kamar istri sendiri?" Suara Gus Hafiz pelan teratur.

Anisa tersenyum tipis, ada getir di sudut bibirnya.

"Istri...?" Ia mengulang pelan.

"Bahkan aku lupa, aku punya status itu."

Gus Hafiz duduk di kursi kayu, dekat meja belajar, jarak diantara mereka terasa seperti jurang.

"Mas tahu, kamu ndak pernah menginginkan ini,"

Anisa menatapnya cepat. Ada luka yang langsung menyala dalam sorot matanya.

"Kalau tahu, kenapa tetap dipertahankan?"

Gus Hafiz tak langsung menjawab. Ia menatap Anisa, bukan sebagai istri yang menolak takdir, bukan pula menatap Anisa sebagai beban aib. Tapi sebagai wanita yang butuh dukungan.

"Aku mempertahankan pernikahan ini, bukan karena Romo, atau pondok pesantren ini, bukan juga karena gelaku sebagai Gus."

Anisa mengernyit.

"Lalu, apa alasannya, ndak usah berbelit, Gus."

Gus Hafiz membuang napasnya kasar.

Lalu menariknya lebih dalam.

Karena Kamu

Ingin Gus Hafiz mengatakan itu, tapi tak keluar dari mulutnya.

"Karena aku tahu, kamu bukan perempuan buruk. Kamu hanya butuh bimbingan."

Anisa tertawa kecil.

Dan itu terdengar getir.

"Kata-kata Gus, terdengar seperti sedang membela istri sungguhan. Aku ini perempuan yang belum bisa menerima takdinya sendiri, Gus."

Gus Hafiz diam sesaat, lalu kembali membuka bibirnya.

"Justru itu, Aku sedak tidak mencari wanita yang sempurna, Aku sedang mempertahankan perempuan yang se

dang berjuang melawan dirinya sendiri."

Kamar Anisa, hening tak bersuara, yang terdengar hanya hembusan napas yang tertahan di dadanya masing-masing.

Angin menyentuh jendela.

Anisa menunduk, ada sesuatu yang bergerak di dalamnya, tetapi egonya lebih keras.

"Apa yang kamu pertahankan dari perempuan sepertiku, Gus? masih banyak di luar sana yang lebih pantas menyandang gelar Ning yang berdiri di samping Panjenengan,"

Gus Hafiz berdiri mendekat beberapa langkah. Tidak menyentuh, hanya cukup dekat untuk membuat jarak mereka terasa nyata.

"Aku tak sedang mempertahankan siapapun, aku hanya sedang menjalankan takdirku."

Anisa terdiam, kalimat Gus Hafiz terlalu sulit untuk Anisa pahami.

"Seperti kamu, yang diam-diam bangun lebih awal, hanya untuk memastikan kebutuhanku.

Kamu bilang, kamu ndak menerima pernikahan ini, tapi kamu tetap menjalankan tanggung jawabmu sebagai istri."

Anisa menggigit bibirnya.

Matanya mulai memanas.Pelan kepalanya menggeleng.

"Itu sebuah keterpaksaan... dan itu aku lakukan bukan karena cinta."

"Aku, tahu..."

Jawaban itu cepat tegas, keluar dari bibir Gus Hafiz.

"Dan aku tak pernah menuntut cinta darimu."

Wajah Anisa seketika terangkat. Ada getar di matanya.

"Lalu...?"

Anisa menatap Gus Hafiz dengan mata mulai mengabur.

Gus Hafiz tersenyum samar,

“Aku hanya ingin kamu tahu… aku di sini bukan untuk menahanmu dengan status. Aku di sini untuk berdiri di sampingmu. Sampai kamu selesai berdamai dengan takdirmu, Anisa.”

Sunyi menjadi berat.

Anisa merasa dadanya seperti diremas. Ia ingin marah. Ingin membantah. Ingin berkata bahwa semua ini salah.

Tapi kalimat Gus Hafiz menembus terlalu dalam.

“Aku tidak sedang mempertahankan istri seorang Gus,” lanjutnya pelan.

“Aku sedang mempertahankan Anisa Fadillah, gadis kecil yang keras kepala.”

Bisik Gus Hafiz tepat di wajah Anisa.

Air mata Anisa jatuh tanpa izin.

Namun di sudut hatinya yang paling dalam… suara kecil masih berbisik,

Aku tidak mau pernikahan ini.

Aku tidak memilih ini.

Aku tidak siap mencintainya.

Pergolakan itu membuat napasnya tersengal.

Namun Anisa tetap menatap mata Gus Hafiz dengan berani.

“Kalau suatu hari… aku tetap tidak bisa mencintai Gus?” suara Anisa bergetar.

Gus Hafiz tersenyum tipis. Lelah. Tapi tenang.

“Cinta bukan kewajiban yang harus kamu bayar lunas hari ini.”

Ia mundur satu langkah.

“Aku hanya meminta satu hal.”

Anisa menatapnya.

“Jangan berhenti mencoba menerima dirimu takdirmu.”

Kalimat itu… seperti menampar halus.

Karena yang paling ia tolak selama ini bukan Gus Hafiz.Tapi takdirnya sendiri.

Gus Hafiz berjalan menuju pintu. Tangannya berhenti di gagang.

“Dan satu lagi…”

Anisa menoleh.

“Berhenti menganggapmu tidak pantas. Karena aku memilihmu dengan sadar.”

Pintu tertutup pelan.

Anisa terduduk. Tangannya mencengkeram sajadah. Air matanya jatuh lebih deras.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!