"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Setelah selesai makan, Dexter pun segera membayar. Baru setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan.
"Pak, uang dari pemuda tadi lebih," kata istri pemilik warung makan.
"Lho Bu, kenapa tidak kasih kembaliannya?"
"Dia menolak Pak, katanya rezeki jangan ditolak."
"Alhamdulillah Bu, sungguh berhati baik pemuda itu. Tapi jangan sering-sering begitu ya, Bu."
Istrinya pun mengangguk. Kemudian dia mengatakan, jika pemuda itu sepertinya orang kaya.
Selama mereka berjualan, belum pernah ada yang menolak kembalian. Bahkan seribu perak pun mereka tuntut.
Tapi pada akhirnya bapak itu mengucapkan Alhamdulillah. Mau dikembalikan pun orangnya sudah pergi.
Akhirnya Kiandra dan Dexter pun tiba di rumah mereka. Dexter melihat ada mobil terparkir di depan rumah mereka.
"Sepertinya ada mama di sini," kata Dexter.
"Iya, mungkin mama khawatir kepada kita," ucap Kiandra.
Keduanya keluar dari mobil, saat masuk ke dalam rumah, ternyata benar, ada Arsy dan Zio sedang berkunjung. Mereka tahu jika hari ini Dexter dan Kiandra pulang.
"Ma, Pa." Kiandra langsung menyalami dan mencium tangan kedua mertuanya itu secara bergantian. Baru setelah itu giliran Dexter.
"Kalian baru sampai, pasti capek," kata Arsy.
"Nggak juga kok Ma, tapi aku ingin mandi terlebih dahulu, rasanya kurang nyaman kalau tidak mandi," kata Kiandra.
Arsy pun mempersilakan Kiandra untuk mandi. Lagipula mereka akan lama di sini. Jadi tidak perlu terburu-buru dan bisa ngobrol nanti-nanti.
"Oh iya Pa. Apa papa kenal dengan wanita yang bernama Regina?" tanya Dexter.
"Regina?" tanya Zio balik. Dexter mengangguk sebagai jawaban.
Dexter pun menceritakan tentang kedatangan Regina ke desa itu. Juga tentang ibu angkatnya Kiandra.
Zio mencoba mengingat-ingat, tapi dia juga lupa karena sudah terlalu lama. Namun nama Regina terasa familiar baginya.
"Kamu tidak cari tahu sayang?" tanya Arsy.
"Sudah Ma, dia mantan ratu dunia bawah," jawab Dexter.
"Oh iya, aku ingat," kata Zio. "Tapi tidak terlalu penting untuk diingat," sambungnya.
Zio menceritakan sedikit tentang Regina. Zio mengatakan jika klan mereka tidak memiliki permusuhan apapun. Yang Zio tahu, Regina si ratu dunia bawah hanya membunuh mereka yang berbuat jahat.
Seperti perampok, pem***osaan, dan juga kejahatan lainnya. Zio juga mengatakan, klan mereka pernah satu kali bertransaksi senjata api.
Tapi setelah itu mereka tidak lagi saling berhubungan satu sama lain. Mereka menjaga klan masing-masing tanpa saling bermusuhan.
Namun sekarang, berkat pernikahan Dexter dan Kiandra, klan mereka kemungkinan besar akan bersatu.
"Aku ke kamar dulu, Ma, Pa," kata Dexter berpamitan.
Arsy dan Zio hanya mengangguk. Mereka tahu Dexter dan Kiandra baru saja melakukan perjalanan jauh.
Beberapa menit kemudian, Kiandra sudah selesai mandi dan berganti pakaian lengkap. Dia kembali menemui mertuanya yang masih di ruang tamu.
"Mama dan papa menginap di sini?" tanya Kiandra.
"Tidak. Lain kali saja mama dan papa menginap di sini," jawab Arsy. "Oh iya, mama ingin ajak kamu jalan-jalan ke mall," kata Arsy.
"Pergilah sayang," kata Dexter yang berjalan menuruni tangga.
Kiandra pun mengangguk, lalu kembali ke kamar untuk berganti pakaian yang lebih layak. Dan memoles wajahnya dengan make-up.
Setelah selesai, Kiandra pun sudah terlihat cantik dengan riasan tipis dan terlalu mencolok.
Kiandra pun berpamitan kepada suaminya. Dexter pun mengizinkannya dan meminta Kiandra untuk belanja sepuasnya.
Ponsel Dexter berdering, Dexter segera mengangkatnya. Karena yang menelepon adalah penjaga gerbang.
"Tuan, ada orang ingin bertemu Tuan."
"Siapa?"
Penjaga mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video. Penjaga gerbang pun memperlihatkan orang yang mencari Dexter.
"Suruh dia masuk."
Kemudian Dexter menutup teleponnya secara sepihak. Dexter meminta Kiandra untuk menunggu sebentar. Karena yang datang adalah Basuki beserta keluarganya.
"Untuk apa dia kemari?" tanya Kiandra.
Kiandra sejak dulu memang tidak menyukai Basuki. Apalagi kematian mamanya karena ulah Basuki. Ditambah lagi, dia diasingkan ke desa oleh Basuki karena membela Wilona dan Maura.
Bel pintu berbunyi. Pelayan bergegas membuka pintu dan mempersilakan tamunya masuk.
Dexter, Kiandra, Arsy, dan Zio duduk santai di ruang tamu. Mereka tetap menyambut kedatangan Basuki dengan ramah.
"Silakan duduk," kata Zio.
"Terima kasih Tuan," ucap Basuki.
Maura dan Wilona tidak berkata apa-apa. Mata Wilona melirik-lirik ke Dexter. Tentu saja membuat Arsy merasa tidak senang.
"Ada perlu apa kemari?" tanya Dexter dengan nada dingin.
"Tuan, tolong kembalikan perusahaan kami. Saham perusahaan kami semakin hari semakin turun. Kalau begini terus, kami bisa bangkrut," kata Basuki.
"Bagaimana sayang?" tanya Dexter pada Kiandra.
"Terserah mu sajalah, Hubby," jawab Kiandra.
Kiandra tahu, jika suaminya tidak mungkin akan memulihkan perusahaan milik Basuki. Karena Dexter sudah memberitahu rencananya kepada Kiandra.
"Benar Tuan. Atau, Tuan bisa menikahi putri saya," kata Maura menyela.
"Dalam keluarga kami, tidak ada istilah poligami," kata Arsy.
Wilona yang tadinya merasa senang, kini tertunduk setelah mendengar kata-kata Arsy. Memang benar yang dikatakan oleh Arsy. Di keluarga tidak ada yang melakukan poligami.
"Begini saja. Bagaimana jika aku mengakuisisi perusahaan milik mu?" tanya Dexter.
Basuki cukup kaget mendengarnya. Kalau Dexter mengakuisisi perusahaannya, otomatis dia tidak lagi memiliki perusahaan.
"Kamu bisa menjalankan bisnis baru dengan modal yang ada," kata Dexter.
"Tapi Tuan, perusahaan itu peninggalan istri pertama saya," kata Basuki.
"Dan kamu rebut dengan paksa, bukan?" tanya Arsy.
Basuki kembali kaget. Karena Arsy langsung bicara ke intinya. Dia berpikir, semua rahasianya sudah ditutup dengan rapat. Sehingga tidak ada orang lain yang tahu.
"Jangan kira kami tidak tahu. Daripada tidak dapat apa-apa, sebaiknya jual saja perusahaan mu," kata Arsy lagi.
"Pa, kalau begitu kita akan jatuh miskin dong," kata Wilona.
"Diam kamu," kata Basuki.
Dexter meminta Basuki untuk berpikir terlebih dahulu. Dexter hanya memberikan dua pilihan, sama ada dijual, atau dibiarkan begitu saja dan bangkrut tanpa dapat apa-apa.
"Silakan Tuan," kata pelayan sambil meletakan minuman untuk tamunya.
Tidak ada ucapan terima kasih atau apapun dari Basuki dan Maura. Mungkin karena mereka lagi pusing memikirkan perusahaannya yang diambang kebangkrutan.
"Aku tidak memaksa, semuanya ada di tanganmu. Aku hanya memberikan dua pilihan saja," kata Dexter.
Basuki terdiam. Dia merasa dilema saat ini. Antara dijual, atau dibiarkan dan tidak mendapatkan apa-apa.
"Baiklah, saya bersedia menjualnya," kata Basuki akhirnya.
"Pa ...."
"Diam lah." Potong Basuki. Maura pun terdiam dan tidak jadi bersuara.
Dexter tersenyum tipis. Basuki sudah masuk perangkap nya. Dexter mengatakan, jika semua urusannya sudah selesai, baru uangnya akan ditransfer.
Dugaannya benar, jika Basuki akan datang dengan sendirinya untuk meminta bantuannya. Dan inilah saatnya Dexter bertindak.
Basuki akhirnya pamit pulang tanpa menyentuh kue dan minuman yang dihidangkan oleh pelayan. Bahkan, pemilik rumah pun tidak mengantar mereka hingga depan pintu.