NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FOTOCOPY

Waktu berjalan seperti tak ingin tau keadaan sekitar, kini tak terasa satu bulan berlalu semenjak kejadian itu. Deya kembali melanjutkan hari-harinya seperti sebelum mengenal Rico, sedangkan laki-laki itu setiap hari meminta untuk di dengar meski hanya sebentar, ia ingin sekali Deya mendengar penjelasannya. Agar kesalah pahaman ini tak berlangsung lama.

Seperti yang terlihat hari ini, pagi-pagi dia sudah mengirim pesan pada Deya. Berharap gadis berlesung pipit itu membaca pesan dari nya. Namun sayangnya pesan itu hanya menjadi bagian dari berpuluh-puluh tumpukan pesannya.

Rico sudah bertekad, jika Deya tak membalas pesannya kali ini, maka dia akan memutuskan untuk menemui nya di kantor.

“Demi kamu De, akan ku lakukan semuanya.” Lirihnya dan mulai bersiap-siap.

Sedangkan Deya yang kini tengah mengecek ponselnya, lagi-lagi memutar bola mata jengah dengan salah satu notif. Notif itu tiada lain, tiada bukan dari Rico.

“Terserah bagaimana mau mu sudah. Aku malas berurusan denganmu. Selama kamu tidak menampakkan wajah mu didepan ku, aku tak masalah. Mau sebanyak apapun kau mengirimi ku pesan.” Gerutunya dan memasukkan kembali ponsel di kantong baju kerja.

***

Seperti yang telah direncanakan pagi tadi, hari ini Rico benar-benar mengunjungi Deya ke kantornya. Laki-laki itu bertekad untuk bertemu dengan Deya dan meluruskan kejadian yang membuat perempuan itu tak ingin lagi berhubungan dengannya.

Sore itu, Rico menunggu Deya di cafe depan kantornya, laki-laki itu memilih untuk mengecek beberapa notif ponselnya. Namun, fokusnya tak pernah lepas dari pintu kaca bangunan seberang jalan.

Menit berganti jam, rupanya Deya baru meninggalkan kantor beberapa saat sebelum adzan Magrib berkumandang. Seperti pulang kerja pada hari-hari sebelumnya, Deya memilih untuk memangkas kata rapi dari dirinya, jilbabnya sudah tak beraturan lagi, sepatunya diganti dengan sandal jepit yang terlihat sangat nyaman, wajah sudah seperti di olesi minyak goreng. Sungguh benar-benar jauh dari kata rapi.

Melihat Deya yang akan melajukan motornya untuk membelah jalanan, dengan cepat Rico mengambil langkah. Laki-laki itu berlari menyebrangi jalan, berharap Deya masih ada di tempatnya saat lihat olehnya beberapa menit yang lalu.

Rupanya waktu itu dewi Fortuna berpihak, Deya tak melihat bahwa Rico saat ini sedang memangkas jarak dengannya. Gadis itu tengah sibuk bertukar suara dengan seseorang yang berada di seberang ponselnya. Sayup-sayup terdengar suara Deya.

“Iyaa, ini aku kesana Dir. Baru keluar kantor.”

Rico tak menggubris pembicaraan itu, yang diharapkannya sekarang adalah bisa berbincang dengan Deya meski hanya sebentar.

“Deee.” Sapa Rico sesaat setelah dia berada tepat di depan Deya.

Deya tersentak bukan main, kaget karena laki-laki itu masih menemuinya dan seperti tak tahu malu. Namun, di saat yang bersamaan pula, Deya hampir saja tak mengenali Rico. Sungguh laki-laki itu terlihat tampan dibawah gurat senja, sesekali wajahnya tersorot lampu kendaraan yang berlalu Lalang.

Tak ada jawaban dari Deya, hanya pandangan yang menyiratkan kebencian. Seketika ia melajukan motornya. Namun, sebelum itu terjadi Rico lebh dulu berada tepat di depan motornya.

“Aku mohon De. Dengerin aku dulu.” Iba Rico.

“Tentang ?” Deya bertanya seolah tak mengerti.

“Dee, ayolah. Aku mohon De.” Wajah Rico saat itu sungguh memelas.

“Minggir.” Deya malah memintanya untuk menyingkir dari hadapanya.

Laki-laki itu bergeming, dan menatap dalam mata gadis yang menyimpan kekecewaan dan dendam yang dalam padanya.

“Kamu minggir atau aku tabrak.” Peringat gadis yang berada di atas motor itu.

Rico tak ingin berdebat dan memilih untuk beralih dari hadapan Deya, segera motor itu melaju dan bergabung dengan kendaraan lainnya.

Rico hanya bisa menatap sendu punggung Deya yang semakin mengecil. Laki-laki itu berjongkok di bahu jalan dengan kepala ditenggelamkan antara dua lengannya. Ia mulai kehabisan akal untuk bisa berbicara dengan Deya.

“Abang.” Suara yang tak asing tertangkap oleh telinganya.

“Abang, abang ngapain disini ?” Suara itu semakin jelas terdengar bahkan kini Rico merasa lengannya tersentuh oleh kulit lembut.

Rico mendongak dan kedua mata adik kakak itu bertemu. “Kamu kok disini ?” Tanya Rico lemah.

“Justru Ana yang seharusnya bertanya gitu ke abang.” Diana melihat ke sekitar berharap ia menemukan petunjuk namun tak di dapatinya.

“Ayo pulang.” Ajak sang adik dan menarik paksa lengan Rico.

Namun laki-laki itu masih enggan beranjak dari tempatnya. “Abang ayooo, nanti di cari ibu.Aku juga mau ke tempat fot--”

Greep,,

Rico memeluk sang adik yang belum sempat menyelesaikan ucapannya dan menenggelamkan wajahnya dipundak yang kecil itu. “Abang capek dek.” Ucapnya dan menjelaskan apa yang baru saja terjadi padanya.

Helaan nafas terdengar dari Diana “jangan galau-galau. Mending ikut Ana ke tempat foto copy an kali aja mbak yang punya tempat itu ada sekarang disana.” Ide Diana dengan antusiasnya.

Rico hanya menggeleng pelan “nggak perlu. Ayo abang antar pulang.”

“Kalau mau ngantar Ana, kita ke foto copy an dulu.”

“Ya sudah. Abang ambil motor dulu.”

Diana hanya menangguk dan menunggu sang kakak.

Siapa sangka setelah mereka pergi dari depan kantor Deya, seseorang juga ikut keluar dari parkiran kantor itu. Ia melihat kejadian antara kakak dan adik itu, sejurus kemudian ia tersenyum jahat.

***

Malam itu tempat foto copy an Deya begitu ramai, ia dan Dira sampai kewalahan melayani orang yang datang dengan berbagai permintaan. Peluh terlihat jelas dari pelipis Deya, perempuan itu sama sekali belum beristirahat sejak pulang dari kantor. Ia memutuskan untuk langsung menuju toko foto copy an nya, karena Dira memerlukan bantuan.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, keramaian yang tadi terlihat mulai menunjukkan sepi.

“Mbak De, istirahat dulu, makan dulu mbak.” Saran Dira dan langsung saja disetujui oleh Deya.

Ia berjalan menuju ruang dalam tokonya dan mulai membuka makanan yang sempat di belinya tadi. Entah karena lapar atau memang makanan itu benar enak Deya terlihat sangat lahap.

Sementara di luar, Diana dan Rico baru saja tiba. Diana sungguh antusias memasuki bangunan foto copy itu. Rico memilih untuk menunggu di atas motor.

“Abang, kayaknya ada.” Teriak Diana dari dalam bangunan foto copy itu.

Rico hanya tersenyum kecil, sembari memandang motor yang ia rasa tak asing.

Fokus Rico pada motor itu, sehingga tak menyadari bahwa suara yang begitu ia kenal sedang bergema dalam ruang foto copy.

“Dir, kamu istirahat gih dulu. Biar aku yang jaga.” Ucap Deya sambil memeriksa ponselnya.

Ekor mata Rico menangkap sosok yang begitu ingin dilihatnya lagi.

“Dee.” Panggilnya dengan suara cukup keras.

Deya merasa ada yang memanggil namanya, sontak mengangkat wajah dan menangkap sosok Rico yang kini berjalan ke arahnya.

Pikir Deya sudah tak ada kesempatan lagi untuk mengelak, dia juga memikirkan pandangan orang-orang yang ada di dalam tokonya. Dengan tenang ia menunggu Rico menuju ke arahnya, meski wajahnya kini berubah masam.

“De, aku mohon kasih aku kesempatan buat jelasinnya.”

“Abang kenal mbak ini.” Seloroh Diana yang bingung pada apa yang terjadi saat ini. Sementara Rico memilih untuk menutupi wajah adiknya dengan salah satu telapak tangan agar tak mengganggu nya.

“Tunggu di depan.”

Segurat senyum tersungging di wajah Rico, laki-laki itu mengangguk dan berjalan ke tempat yang Deya ucapkan. Ia terlihat sabar menunggu Deya yang sibuk dengan kerjaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!