NovelToon NovelToon
Warisan Pedang Naga

Warisan Pedang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.

Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15: Penyatuan Keluarga dan Tanda Bahaya yang Baru

Sinar matahari pagi menyinari Kota Yunlong yang sedang dalam proses pemulihan. Setelah serangan Sekte Ular Hitam yang hampir menghancurkan kota, penduduk mulai membersihkan puing-puing dan membangun kembali apa yang telah rusak. Feng berdiri di atas tembok kota yang diperkuat, memegang Pedang Naga yang kini tampak lebih tenang, seolah meresap kedamaian setelah badai besar.

“Kota ini akan kembali seperti sediakala,” ujar Ye Tianhong yang berdiri di sisinya. “Namun kita tidak bisa lengah. Hei Yu dan Sekte Ular Hitam belum benar-benar hilang.”

Feng mengangguk perlahan. Cahaya keemasan dari Pedang Naga yang dia pegang kini tampak lebih stabil, menyatu dengan energi alam sekitarnya. “Aku merasa ada sesuatu yang akan datang,” bisiknya. “Sesuatu yang lebih besar dari Sekte Ular Hitam sendiri.”

Beberapa hari kemudian, Feng berkumpul dengan para pemimpin keluarga di ruang rapat kompleks Ye. Meja besar kayu di tengah ruangan ditutupi peta dan dokumen penting. Suasana tegang namun penuh harapan.

“Kita telah memperkuat pertahanan Kota Yunlong dan mengumpulkan pasukan dari berbagai keluarga pemburu naga,” jelas Ye Tianhong. “Namun kabar baru datang dari utara—Sekte Ular Hitam telah bergabung dengan kelompok misterius yang tidak dikenal.”

Suara terkejut menyebar di ruangan. Zhang Wei mengerutkan keningnya. “Bagaikan mereka tidak cukup kuat dengan kekuatan mereka sendiri? Siapa yang bisa menjadi sekutu mereka?”

“Salah satu mata-mata kita melaporkan adanya gerakan besar di wilayah barat,” tambah Ye Chen sambil menunjukkan peta yang ditandai dengan warna merah tua. “Mereka tampaknya sedang mempersiapkan sesuatu yang sangat besar.”

Feng merasakan getaran yang berbeda dari Pedang Naga di tangannya. Kali ini bukan hanya tentang bahaya dari Sekte Ular Hitam—ada sesuatu yang lebih dalam, lebih mengerikan yang sedang berkembang.

“Kita perlu menyatukan semua kekuatan yang ada di Tanah Seribu Pegunungan,” ujar Feng dengan suara yang tegas. “Tidak hanya keluarga pemburu naga, tapi juga kerajaan dan semua orang yang ingin hidup dalam kedamaian.”

Di sore hari, Feng pergi ke bagian luar kota bersama Linglong dan Ye Chen. Mereka menemukan desa kecil yang baru saja diserang—rumah-rumah terbakar, tapi tidak ada satu korban pun yang ditemukan. Udara terasa berbeda, seperti ada energi gelap yang tersisa.

“Ini bukan kerjaan Sekte Ular Hitam yang aku kenal,” bisik Ye Chen sambil menyentuh tembok yang masih hangat. “Energinya berbeda—lebih dingin, lebih mengerikan.”

Linglong menyentuh tanah dengan hati-hati. “Ada rasa sakit yang sangat dalam di sini,” katanya dengan suara lembut. “Seperti seluruh desa ini telah ditiupkan nyawanya.”

Tiba-tiba, tanah mulai bergoyang dengan kuat. Dari balik reruntuhan, sosok tinggi muncul dengan wajah yang tidak bisa dikenali—wajahnya tertutup topeng logam berbentuk kepala naga hitam.

“Chen Feng,” suara yang mengerikan terdengar dari balik topeng. “Kau telah mengalahkan anak buahku, namun kekuatanmu tidak cukup untuk menghadapi apa yang akan datang.”

Sosok itu menyerang dengan pedang besar yang menyala energi hitam pekat. Feng segera membendung dengan Pedang Naga, menghasilkan percikan cahaya keemasan yang melawan kegelapan. Pertempuran ini berbeda—setiap gerakan membawa energi yang bisa menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya.

“Jangan biarkan dirimu terbawa emosi!” teriak Linglong sambil menghadang serangan dari belakang dengan tombaknya.

Namun Feng merasa sesuatu yang berbeda dari sosok ini—rasa sakit yang mendalam, bukan kemarahan. Dia menghindari serangan dengan tenang, tidak menyerang balik tapi hanya menghindari dengan lembut. Akhirnya, dia menangkap lengan sosok itu dengan lembut, tidak menyakiti tapi cukup untuk membuatnya berhenti.

“Aku tahu rasa sakit yang kamu rasakan,” ujar Feng dengan suara yang tenang. “Namun ada jalan lain selain kegelapan.”

Sosok itu terdiam sejenak, lalu melepas topengnya. Wajahnya tampak tua dengan banyak kerutan, tapi mata penuh dengan kesedihan. “Aku adalah Ye Feng—nenek moyangmu yang sama sekali tidak dikenal. Aku adalah saudara dari leluhurmu yang pernah memilih jalur kegelapan untuk membela yang dia cintai.”

Cerita panjang mulai terbuka—kisah tentang bagaimana leluhurnya yang sama sekali berbeda dari apa yang pernah diketahui Feng. Ye Feng adalah saudara kembar dari leluhur Chen yang pertama kali bersatu dengan Naga Tianwu. Dia jatuh cinta dengan putri dari klan naga hitam, namun hubungan mereka dilarang.

“Aku harus membuktikan bahwa cinta bisa mengalahkan segala sesuatu,” ujar sosok leluhurnya dengan suara yang penuh kesedihan. “Namun aku gagal, dan kekuatan itu menguasai diriku, membuatku melakukan kekejian yang tidak bisa kuhapuskan.”

Feng merasakan getaran yang kuat dari Pedang Naga di tangannya—seolah mengenali sosok di depannya. “Aku tidak akan membiarkan masa lalumu menguasaimu,” katanya dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan. “Kita bisa menemukan jalan keluar bersama.”

Sosok leluhurnya mengangguk perlahan, lalu mulai menghilang seperti debu yang terbawa angin. Sebelum benar-benar hilang, suara lembut terdengar: “Kamu telah menemukan jalan yang benar—jangan pernah menyerah padanya.”

Ketika sosok itu hilang, energi gelap yang mengitari desa mulai menghilang, digantikan oleh cahaya hangat dari matahari yang mulai terbenam. Udara kembali segar, dan rasa damai mulai menyelimuti desa yang hancur.

Keesokan harinya, Feng berkumpul dengan Ye Tianhong dan para pemimpin keluarga di kompleks Ye. Mereka membahas tentang apa yang telah terjadi dan ancaman yang akan datang.

“Sekte Ular Hitam tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan,” jelas Ye Tianhong. “Namun kita kini tahu bahwa ada lebih dari sekadar dendam di balik semua ini—ada rasa sakit yang mendalam yang perlu dirawat.”

Feng berdiri dengan tegas. “Kita tidak hanya perlu mengalahkan Sekte Ular Hitam—kita perlu membantu mereka menemukan jalan kembali ke kebaikan. Hanya dengan cara itu kita bisa benar-benar membawa perdamaian.”

Para pemimpin keluarga saling melihat, lalu mengangguk dengan persetujuan. Zhang Wei menghela napas dalam-dalam. “Kita telah melihat bahwa kekerasan hanya membawa kehancuran. Mungkin sudah waktunya kita menemukan cara untuk menyelesaikan konflik ini dengan damai.”

Di malam hari, Feng dan Linglong duduk di taman belakang kompleks, menyaksikan bulan yang mulai muncul di atas pegunungan. Udara sejuk dan damai menyelimuti mereka.

“Kau benar-benar telah berubah, Feng,” ujar Linglong dengan lembut. “Dari orang yang penuh dengan kemarahan menjadi seseorang yang membawa harapan.”

Feng menyentuh tangannya dengan lembut. “Kau dan semua orang di sekitarku telah mengajarkanku itu. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian.”

“Kita akan selalu bersama-sama,” jawab Linglong dengan senyum lembut. “Baik dalam suka maupun duka.”

Mereka duduk berdampingan, menikmati kedamaian malam itu, menyadari bahwa perjuangan yang akan datang bukan hanya tentang kekuatan atau kemenangan—melainkan tentang membawa perdamaian yang sesungguhnya bagi semua orang di Tanah Seribu Pegunungan.

1
andi
luar biasa
sambo
👌👌👌
lukman
krren
ciko
luar biasa
bara
mantap
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Untungnya Ye Fang masih selamat
adul
kerrn
adul
lanjut
zaka
kerrn
dfos
mantap
fajar
👍👍👍
fajar
✊️✊️✊️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!