di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Cambuk Gagak dan Tarian Abu
Bab ini menyajikan bentrokan antara Ye Yuan dan kekuatan dari kekaisaran asing. Dengan kondisi fisik yang belum pulih sepenuhnya dan perbedaan level kultivasi yang jauh, Ye Yuan harus mengandalkan kelicikan dan lingkungan sekitar, bukan sekadar kekuatan kasar.
Alun-alun Kota Api Kuno.
"Keluarlah, tikus kecil. Aku tidak suka bermain petak umpet."
Suara wanita berambut merah itu terdengar manis namun mematikan. Di tangannya, cambuk panjang berwarna merah menyala menggeliat seperti ular hidup, memercikkan bunga api ke lantai batu yang tertutup abu.
Wanita itu adalah Zhu Hong, Murid Inti dari Sekte Gagak Api, salah satu kekuatan terbesar di Kekaisaran tetangga. Kultivasinya berada di Pembentukan Fondasi Tingkat Tujuh. Bagi Ye Yuan yang baru di Tingkat Empat, perbedaan tiga tingkat kecil ini adalah jurang yang sangat dalam.
Di balik tembok reruntuhan yang setengah hancur, Ye Yuan mengatur napasnya. Rusuknya yang retak berdenyut nyeri. Qi-nya tinggal separuh.
"Lima orang," hitung Ye Yuan cepat. "Satu Tingkat Tujuh, dua Tingkat Enam, dua Tingkat Lima. Jika aku dikepung, aku mati."
Dia tidak bisa melawan Zhu Hong secara langsung dalam kondisi ini. Dia harus memecah formasi mereka.
"Baiklah. Kau ingin aku keluar?"
Ye Yuan menendang pilar batu di sebelahnya hingga runtuh.
BRUK!
Suara itu memancing perhatian kelima musuh.
"Di sana!" teriak salah satu anak buah Zhu Hong.
Zhu Hong menyeringai. "Bakar tempat itu!"
Dia mengibaskan cambuknya.
CETAR!
Gelombang api berbentuk burung gagak melesat dari ujung cambuk, menghantam tembok tempat persembunyian Ye Yuan.
BOOM!
Tembok batu tebal itu meledak hancur, batu-batu meleleh menjadi magma cair. Panasnya luar biasa.
Namun, tidak ada Ye Yuan di sana.
Hanya ada kepulan debu abu vulkanik yang tebal membumbung ke udara, menghalangi pandangan.
"Dimana dia?" tanya seorang murid laki-laki Tingkat Lima yang berdiri paling belakang.
Tiba-tiba, dari dalam lantai abu di bawah kakinya, sebuah tangan perunggu mencuat keluar dan mencengkeram pergelangan kakinya.
Ye Yuan tidak bersembunyi di balik tembok. Dia mengubur dirinya di dalam tumpukan abu vulkanik!
"Turun sini!"
Ye Yuan menarik kaki murid itu dengan kekuatan monster.
"Huaaa!" Murid itu terperosok ke dalam abu.
Sebelum dia sempat berteriak minta tolong, sebilah pedang hitam menembus dadanya dari bawah tanah.
JLEB!
Darah segar menyembur, mewarnai abu hitam menjadi lumpur merah.
"Satu," suara dingin Ye Yuan terdengar dari dalam tanah.
"Bajingan licik!" Zhu Hong murka. "Serang tanah di bawah kalian!"
Keempat sisa musuh melompat mundur dan membombardir area itu dengan bola api.
BUM! BUM! BUM!
Tanah berlubang-lubang, abu beterbangan liar.
Di tengah kekacauan visual itu, sosok Ye Yuan melesat keluar dari balik tirai debu. Dia tidak lari menjauh, tapi justru menerjang ke arah murid Tingkat Lima yang satunya lagi.
"Lindungi aku!" teriak murid itu panik, melihat mata ungu Ye Yuan yang bersinar haus darah.
Seorang murid Tingkat Enam melangkah maju, menghunus pedang besar berapi. "Mati kau!"
Dia menebas leher Ye Yuan.
Ye Yuan tidak melambat. Dia mengaktifkan Langkah Hantu Asura secara maksimal. Tubuhnya bergeser aneh ke samping, meninggalkan bayangan sisa yang terpotong oleh pedang musuh.
Tubuh aslinya sudah melewati si penjaga, dan kini berada tepat di depan targetnya yang lemah.
"Kau terlalu lambat."
Ye Yuan memutar tubuhnya, menggunakan momentum lari untuk mengayunkan Pedang Asura seberat 500 kilogram itu secara horizontal.
BUAGH!
Dia memukul dengan sisi datar pedangnya, bukan mata pedangnya.
Suaranya seperti memukul karung basah dengan palu godam. Tulang rusuk murid Tingkat Lima itu hancur total. Tubuhnya terlipat ganda dan terlempar menabrak pilar batu sepuluh meter jauhnya. Mati seketika.
"Dua."
Ye Yuan mendarat, menyeret pedangnya di lantai batu, menciptakan percikan api biru.
Zhu Hong menatap dua mayat anak buahnya dengan wajah merah padam. Dalam sekejap mata, dia kehilangan dua orang. Pemuda di depannya ini memang hanya Tingkat Empat, tapi pengalaman tempur dan kekejamannya setara dengan iblis tua.
"Kau..." Zhu Hong menggertakkan gigi. "Kau benar-benar mencari mati. Teknik Cambuk Gagak Api: Sangkar Neraka!"
Zhu Hong memutar cambuknya di atas kepala. Cambuk itu memanjang secara magis, membelah diri menjadi puluhan bayangan api yang melingkar, mengurung Ye Yuan dari segala arah.
Suhu udara naik drastis. Ye Yuan merasa oksigen di sekitarnya terbakar habis.
"Tingkat Tujuh memang beda," batin Ye Yuan, merasakan tekanan berat di pundaknya.
Jika dia terkena satu sabetan saja, kulit perunggunya mungkin akan meleleh.
Ye Yuan menegakkan pedangnya di depan dada.
"Beku."
Dia menyalurkan seluruh sisa Qi Api Bintang Dingin ke dalam pedangnya.
WUUUNG!
Pusaran angin es biru meledak dari tubuh Ye Yuan, bertabrakan dengan dinding api Zhu Hong.
CESS!
Uap panas memenuhi arena. Pandangan kembali kabur.
"Mati kau di dalam sana!" Zhu Hong mempererat jeratan cambuknya.
Namun, telinganya mendengar suara aneh.
Cit... Cit... Cit...
Suara lengkingan frekuensi tinggi. Ribuan suara.
Ledakan pertempuran mereka, bau darah segar, dan gejolak api yang besar telah membangunkan penghuni asli reruntuhan ini.
Dari lubang-lubang gelap di langit-langit bangunan raksasa di sekitar alun-alun, ribuan pasang mata merah menyala.
Kelelawar Api Penghisap Sumsum.
Binatang buas yang hidup berkelompok, seukuran elang, dengan taring yang bisa menembus batu.
"Apa itu?" Salah satu anak buah Zhu Hong mendongak.
Langit-langit reruntuhan seolah runtuh. Awan hitam kemerahan turun menukik ke arah mereka.
"Kelelawar Api! Sialan! Jumlahnya ribuan!" teriak Zhu Hong. Dia terpaksa menarik kembali serangan cambuknya untuk melindungi diri dari serbuan kelelawar itu.
CETAR!
Zhu Hong memecut seekor kelelawar hingga hancur, tapi sepuluh lainnya datang menggigit bahu dan kakinya.
"Aaargh!"
Di tengah kekacauan itu, Ye Yuan melihat celah.
Dia tidak diserang seganas kelompok Zhu Hong. Kenapa? Karena pedangnya memancarkan aura Api Bintang Dingin. Kelelawar-kelelawar api ini membenci hawa dingin yang ekstrem. Mereka secara naluriah menghindari Ye Yuan.
"Kesempatan!"
Ye Yuan tidak menyerang Zhu Hong. Dia tahu dia tidak akan bisa membunuhnya dengan cepat.
Dia berbalik dan berlari menuju pintu gerbang istana raksasa di ujung alun-alun—istana yang tadi dijaga oleh Jenderal Tanpa Kepala.
"Dia lari! Kejar dia!" teriak Zhu Hong sambil membakar puluhan kelelawar.
"Tapi Kakak Senior, kelelawar ini..."
"Persetan! Jika dia masuk ke Istana Inti, semua harta akan diambilnya!"
Zhu Hong nekat. Dia mengeluarkan sebuah jimat pelindung api, menciptakan kubah energi di sekitar dirinya dan dua anak buahnya yang tersisa, lalu menerobos kerumunan kelelawar mengejar Ye Yuan.
Ye Yuan sampai di depan pintu gerbang istana. Pintu itu terbuat dari batu hitam setinggi dua puluh meter, tertutup rapat.
Tidak ada pegangan pintu. Hanya ada lubang berbentuk pedang di tengahnya.
"Lagi-lagi kunci," Ye Yuan mendengus.
Dia menusukkan pedang patahnya ke dalam lubang itu.
KLIK.
Mekanisme kuno berputar.
DUM... DUM... DUM...
Pintu gerbang itu perlahan terbuka ke dalam, mengeluarkan suara gemuruh yang lebih keras dari guntur.
Ye Yuan mencabut pedangnya dan melesat masuk melalui celah yang baru terbuka sedikit.
Zhu Hong tiba sepuluh detik kemudian.
"Berhenti!"
Dia melemparkan cambuknya, mencoba menjerat kaki Ye Yuan sebelum pintu tertutup kembali. Ujung cambuk api itu melesat masuk ke celah pintu.
Ye Yuan berbalik. Dia melihat ujung cambuk itu.
Alih-alih menghindar, dia menginjak ujung cambuk itu dengan kaki kanannya yang diperkuat Qi.
BAM!
Dia menahan cambuk itu.
Lalu, dia menatap mata Zhu Hong melalui celah pintu yang semakin menutup. Ye Yuan menyeringai, lalu mengacungkan jempolnya ke bawah.
"Sampai jumpa di neraka, Nona Merah."
Ye Yuan memotong ujung cambuk itu dengan pedangnya.
Sreeet!
Cambuk pusaka Zhu Hong putus.
Pintu gerbang batu itu tertutup rapat dengan dentuman keras, memisahkan Ye Yuan dari kejaran Zhu Hong dan ribuan kelelawar api di luar.
Di dalam, Ye Yuan jatuh terduduk, napasnya memburu.
"Aman... untuk sementara."
Dia melihat sekeliling.
Dia berada di sebuah aula yang sangat luas. Dindingnya dihiasi lukisan mural yang menceritakan perang besar antara ras raksasa dan makhluk bersayap dari langit.
Namun, yang membuat Ye Yuan terpaku adalah apa yang ada di tengah aula.
Sebuah kolam lava. Dan di tengah kolam itu, terdapat sebuah landasan tempa (anvil) raksasa.
Di atas landasan itu, melayang sebuah potongan logam yang memancarkan cahaya keemasan redup.
Itu adalah Ujung Pedang.
Potongan ujung dari pedang yang patah.
Pedang Asura di tangan Ye Yuan bergetar begitu keras hingga hampir terlepas dari genggamannya. Ia menangis. Ia berteriak.
Bagian diriku... yang hilang...
Ye Yuan menelan ludah. "Jadi ini yang kau cari."
Namun, di antara Ye Yuan dan landasan tempa itu, tidak ada jembatan. Hanya ada danau lava yang gelembungnya meletup-letup, melepaskan gas beracun.
Dan di dalam lava itu, bayangan hitam panjang berenang perlahan, mengelilingi landasan tempa seperti naga penjaga.
"Ujian terakhir," kata Ye Yuan, berdiri perlahan sambil memegang rusuknya yang sakit.
"Ayo kita ambil kembali apa yang menjadi milikmu."
[Bersambung ke Bab 25]
Poin Ringkas Bab 24:
Taktik Gerilya: Ye Yuan menggunakan taktik licik (bersembunyi di abu, serangan mendadak) untuk membunuh dua anak buah musuh.
Kelemahan Level: Ye Yuan menyadari dia tidak bisa menang head-on melawan Zhu Hong (Lv 7) yang memiliki senjata area.
Faktor Lingkungan: Pertarungan memancing Kelelawar Api. Ye Yuan selamat karena elemen es pedangnya, sementara musuh kewalahan.
Escape: Ye Yuan berhasil masuk ke Istana Inti dan mengunci musuh di luar.
Wahyu: Menemukan Pecahan Ujung Pedang yang hilang di dalam istana.