NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Dunia Masa Depan / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Undercover Chef

Pagi itu, SMA Cheong-A tidak seperti biasanya. Aroma minyak wijen dan kaldu sapi yang gurih menguar dari arah kantin, menembus lorong-lorong kelas yang biasanya hanya berbau debu dan pembersih lantai murahan. Para siswa mulai berbisik, bertanya-tanya mengapa koki kantin yang biasanya galak kini digantikan oleh seorang pria muda dengan topi koki putih yang menutupi sebagian keningnya, namun tak mampu menyembunyikan tatapan matanya yang setajam elang.

Jeon Jungkook berdiri di balik konter panjang, tangannya bergerak mekanis memotong daun bawang. Di balik seragam putih koki kantin yang longgar, otot-otot lengannya menegang. Ia tidak berada di sini untuk mencari keuntungan. Ia berada di sini karena semalam ia melihat mata Shine berubah menjadi merah darah—sebuah peringatan bahwa kejahatan di sekolah ini sudah mencapai batas yang bisa ditanggung oleh jiwa adiknya.

Di sudut kantin, RM berdiri bersandar di pilar, mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya tampak seperti wali murid dari keluarga konglomerat. Matanya terus mengawasi Jungkook, bertindak sebagai jangkar agar "reaktor nuklir" bernama Jungkook itu tidak meledak di tempat yang salah.

"Tetap tenang, Jungkook," bisik RM melalui earpiece yang tersembunyi. "Kita di sini untuk observasi dan mengumpulkan bukti, bukan untuk menciptakan adegan film aksi."

Jungkook tidak menjawab. Matanya tertuju pada pintu masuk kantin.

Hana masuk dengan kepala tertunduk. Bahunya merosot, dan ia berusaha sebisa mungkin untuk tampak "tidak terlihat". Namun, predator selalu tahu di mana mangsanya berada. Tepat di belakang Hana, tiga siswi—yang pimpinannya bernama Min-hee—melangkah dengan angkuh.

"Hei, Hana-ya! Kau tidak memesankan meja untuk kami?" Min-hee berteriak, suaranya melengking menyebalkan.

Hana gemetar. Ia berjalan menuju barisan antrean. Saat sampai di depan Jungkook, ia mendongak sebentar. Jungkook bisa melihat bekas tamparan yang semalam dilihat Shine dalam penglihatannya kini sudah membiru di pipi gadis itu. Hati Jungkook berdesir. Rasa marah yang semalam menular dari Shine kini kembali mendidih.

"Satu porsi nasi dan sup," bisik Hana lirih.

Jungkook memberikan porsi yang jauh lebih besar dari biasanya. Ia meletakkan sepotong daging ekstra di atas nasi Hana. "Makan yang banyak. Kau butuh tenaga," ucap Jungkook dengan nada rendah yang menenangkan.

Hana tertegun. Ia menatap koki asing itu, merasa ada sesuatu yang aneh namun hangat dari suara tersebut. Namun sebelum ia sempat berterima kasih, sebuah tangan kasar mendorong bahunya.

"Minggir, bodoh! Kau menghalangi jalan," Min-hee menyela antrean. Ia menatap piring Hana dengan jijik. "Wah, lihat ini. Koki baru ini sepertinya naksir padamu, ya? Kenapa porsimu lebih banyak?"

Min-hee kemudian sengaja menyenggol nampan Hana.

Prang!

Piring porselen itu jatuh ke lantai. Nasi dan sup panas tumpah mengenai sepatu kain Hana yang sudah usang. Seluruh kantin mendadak sunyi. Hana membeku, air matanya mulai menggenang.

"Ups. Tanganku licin," Min-hee tertawa kecil, diikuti oleh kedua temannya. "Bersihkan itu sekarang, Hana. Atau aku akan memastikan kau memakan sisa makanan di tempat sampah nanti sore."

Di balik konter, tangan Jungkook mencengkeram pisau dapur begitu kuat hingga urat-urat di tangannya menonjol keluar. Pemandangan ini jauh lebih menjijikkan daripada yang ia bayangkan. Ia melihat Hana mulai berlutut di lantai, mencoba memunguti potongan daging dengan tangannya yang gemetar.

"Hentikan," suara Jungkook terdengar. Dingin, dalam, dan penuh ancaman.

Min-hee menoleh, ia menatap koki kantin itu dengan pandangan meremehkan. "Apa kau bilang? Kau hanya tukang masak di sini, jangan ikut campur urusan murid."

Jungkook tidak tahan lagi. Ia melompati konter kantin dengan satu gerakan atletis yang membuat semua siswa berteriak kaget. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di depan Min-hee. Tubuhnya yang tinggi besar membayangi siswi tersebut, membuat nyali Min-hee menciut dalam sekejap.

Jungkook mencengkeram kerah seragam Min-hee, mengangkatnya sedikit hingga gadis itu berjinjit. Matanya berkilat gelap, persis seperti mata merah Shine semalam—sebuah refleksi dari kemarahan yang sama.

"Kau pikir kau siapa?" desis Jungkook tepat di depan wajah Min-hee. "Kau merasa hebat karena menyiksa seseorang yang diam saja? Ingin tahu rasanya dipermalukan di depan umum?"

Tangan Jungkook yang bebas terangkat, terkepal kuat. Ia sangat ingin memberikan pelajaran fisik, bukan karena ia suka kekerasan, tapi karena ia merasakan setiap rintihan Hana di dalam jiwanya, terhubung melalui Shine.

"Jungkook! BERHENTI!" RM menerjang maju, menangkap lengan Jungkook sebelum kepalan tangan itu mendarat.

"Lepaskan aku, Hyung! Anak ini harus tahu rasa!" Jungkook memberontak, tenaganya luar biasa kuat hingga RM harus menggunakan seluruh berat tubuhnya untuk menahan pria itu.

"Bukan begini caranya! Kau akan merusak segalanya! Kau koki, bukan preman!" bentak RM. Ia menatap tajam ke arah Jungkook, mencoba menyadarkan pria itu dari trans kemarahannya. "Pikirkan Shine! Jika kau ditangkap karena memukul anak sekolah, siapa yang akan menjaganya saat dia pingsan nanti malam?"

Nama 'Shine' bekerja seperti siraman air es pada api yang sedang berkobar. Napas Jungkook yang memburu perlahan mulai melambat. Ia menatap Min-hee yang kini sudah menangis ketakutan, lalu menatap Hana yang memandangnya dengan tatapan ngeri sekaligus takjub.

Jungkook melepaskan kerah seragam Min-hee dengan kasar hingga gadis itu terduduk di lantai.

"Pergi. Sebelum aku berubah pikiran," ucap Jungkook dingin.

Min-hee dan teman-temannya segera lari tunggang langgang keluar dari kantin. Jungkook kemudian berlutut di depan Hana. Ia tidak peduli pada noda sup di lantai. Ia melepaskan topi kokinya, lalu menyeka air mata di pipi Hana dengan ibu jarinya—sebuah gerakan lembut yang biasa ia lakukan pada Shine.

"Jangan menangis lagi," bisik Jungkook. "Mulai besok, tidak akan ada yang berani menyentuhmu. Aku janji."

RM menarik napas lega, meski ia tahu misi "penyamaran" ini sudah gagal total karena keributan tersebut. Ia segera menghubungi tim pembersihan keluarga Kim untuk menghapus rekaman CCTV dan memastikan identitas Jungkook tetap terjaga.

Saat mereka berjalan keluar dari sekolah menuju mobil hitam yang sudah menunggu, Jungkook masih tampak gelisah.

"Kau hampir saja melakukan kesalahan besar, Kook," ucap RM sambil menyetir.

"Aku merasakannya, Hyung," sahut Jungkook sambil menatap tangannya yang masih bergetar. "Saat melihat Hana diperlakukan begitu, rasanya seperti aku melihat Shine yang disiksa. Aku tidak bisa tinggal diam."

"Itu karena resonansi kalian," suara Suga terdengar dari speaker telepon mobil. Ternyata Suga mendengarkan semuanya lewat earpiece. "Kalian mulai berbagi emosi. Apa yang kau rasakan adalah refleksi dari rasa sakit Shine. Dan apa yang kau lakukan tadi... Shine merasakannya di rumah."

Jungkook tersentak. "Maksudmu?"

"Shine baru saja bangun dari tidurnya dan dia tersenyum, Jungkook," lanjut Suga dengan nada heran. "Dia bilang, dia merasa 'pahlawannya' baru saja memberikan pelajaran pada naga jahat. Tapi detak jantungnya sangat tinggi. Segera pulang, dia membutuhkanmu untuk menenangkan sisa adrenalinnya."

Jungkook memejamkan mata. Ia baru menyadari betapa berbahayanya ikatan mereka. Ia adalah pedang bagi Shine, tapi ia juga bisa menjadi beban jika ia tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.

Begitu sampai di paviliun, Shine sudah menunggu di teras. Ia tidak tampak pucat. Sebaliknya, matanya bersinar terang. Begitu melihat Jungkook turun dari mobil, Shine langsung berlari dan menghambur ke pelukan pria itu.

"Terima kasih, Jungkook-ah," bisik Shine di dada Jungkook.

Jungkook mendekapnya erat, mencium puncak kepala Shine dengan penuh perasaan. "Maaf, aku tidak bisa menahan diri tadi. Aku hampir mengacau."

"Tidak," Shine mendongak, menatap mata Jungkook dengan penuh keyakinan. "Kau melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Aku merasakannya... keberanianmu masuk ke dalam diriku. Rasanya... sangat hangat."

Di balkon bangunan utama, Jin berdiri memperhatikan mereka. Ia memegang laporan dari RM tentang kejadian di sekolah. Ia ingin marah karena Jungkook bertindak gegabah, namun melihat Shine yang tampak begitu "hidup" dan bahagia, ia hanya bisa mendesah panjang.

"Sepertinya koki itu benar-benar menjaga jiwanya," gumam Jin pada dirinya sendiri.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!