aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume I — The Day the World Fell Chapter 9 — Fractures
Volume I — The Day the World Fell
Chapter 9 — Fractures
Retakan tidak selalu terdengar.
Sebagian muncul sebagai tatapan yang terlalu lama, percakapan yang berhenti mendadak, atau bisikan yang menghilang ketika seseorang melangkah terlalu dekat. Daniel mulai menyadarinya pada hari ketiga setelah ujian.
Ia berjalan melewati barak pelatihan dengan ransel di punggung, langkahnya tenang, napasnya teratur. Tubuhnya masih sakit—memar di lengan, nyeri di tulang rusuk—namun semua itu berada di bawah kendali. Ia tahu bagaimana bergerak tanpa memancing Segel Pertama mengambil alih.
Masalahnya, orang lain tidak tahu.
“Dia itu yang dari evakuasi, kan?”
“Yang kena hantam iblis tapi masih berdiri?”
“Katanya dokter bilang lukanya mustahil.”
Suara-suara itu tidak keras. Tidak juga tersembunyi. Cukup untuk didengar, cukup untuk menusuk.
Daniel tidak menoleh.
Ia duduk di bangku panjang barak, membuka perban lengannya, dan mulai membersihkan luka dengan kain basah. Tangannya stabil. Terlalu stabil.
Seorang pria duduk di seberangnya tanpa izin.
“Daniel,” katanya, nada suaranya datar. “Kita perlu bicara.”
Namanya Raven—salah satu peserta yang lulus dengan nilai tinggi di ujian fisik. Tubuhnya ramping, gerakannya cepat, dan matanya selalu menilai sudut ruangan seperti predator yang sabar.
“Tentang apa?” tanya Daniel tanpa mengangkat kepala.
“Cara kau bertarung,” jawab Raven. “Atau lebih tepatnya—cara kau tidak bertarung.”
Daniel mengikat kembali perbannya. “Aku hanya melakukan yang perlu.”
Raven tersenyum tipis. “Itu masalahnya.”
Sore hari, latihan kelompok dimulai.
Instruktur membagi mereka ke dalam tim kecil—empat orang per tim—dan memberikan skenario simulasi: menahan area sempit dari ancaman bergerak. Tidak ada drone kali ini. Tidak ada peluru tumpul. Hanya manekin berat yang bergerak dengan pola tak terduga, didorong oleh sistem mekanis.
Daniel satu tim dengan Raven dan dua lainnya.
“Posisi!” teriak instruktur.
Daniel mengambil titik tengah. Bukan karena ingin memimpin—melainkan karena itu posisi paling stabil. Ia menjaga jarak, membaca pergerakan, dan menutup celah kecil sebelum menjadi besar.
Manekin pertama menerjang.
Daniel menahan dengan dorongan pendek, mengalihkan momentum. Raven menyerang dari samping, menjatuhkan manekin itu.
“Bagus,” gumam salah satu rekan mereka.
Manekin kedua dan ketiga menyusul. Daniel bergerak efisien, tidak berlebihan. Setiap langkahnya seperti hasil perhitungan—hemat tenaga, minim risiko.
Dan itulah yang membuat Raven marah.
“Bergerak lebih cepat!” bentaknya. “Kau bisa menekan mereka!”
Daniel tidak menjawab. Ia hanya bertahan.
Satu celah terbuka. Raven maju terlalu jauh. Manekin keempat berputar dan menghantam sisi tubuh Raven. Ia terpental, mengumpat keras.
Daniel bergerak seketika.
Emergency Step—terkendali.
Reinforced Impact—pendek dan tepat.
Manekin itu terhenti.
Latihan dihentikan.
Raven bangkit dengan wajah merah padam. “Kenapa kau tidak maju dari awal?!”
Daniel menatapnya. “Karena itu tidak perlu.”
“Itu pengecut!” Raven meludah. “Hunter seharusnya menyerang!”
Instruktur menatap mereka tajam. “Cukup.”
Namun benihnya sudah ditanam.
Malam itu, ketegangan memuncak.
Di ruang makan darurat, Daniel merasakan suasana berubah saat ia masuk. Percakapan mereda. Beberapa orang memalingkan wajah. Yang lain menatap terang-terangan.
Raven berdiri.
“Kita akan mati di lapangan,” katanya keras, “kalau ada orang yang menahan kekuatan mereka.”
Beberapa anggukan setuju.
Daniel meletakkan nampannya. “Aku tidak menahan,” katanya tenang. “Aku mengontrol.”
“Omong kosong,” balas Raven. “Kau bertahan seolah kau tidak bisa mati.”
Hening jatuh.
Kalimat itu mengenai tepat di dada Daniel.
Ia berdiri perlahan. Segel Pertama berdenyut—bukan memaksa, bukan memanggil—hanya hadir, seperti saksi bisu.
“Aku pernah mati,” kata Daniel akhirnya. Suaranya rendah, namun jelas. “Dan aku tidak ingin mengulanginya.”
Tidak ada yang menjawab.
Raven menatapnya lama, lalu tertawa pendek—tanpa humor. “Kalau begitu, kau tidak cocok di sini.”
Daniel mengangguk kecil. “Mungkin.”
Malam semakin larut.
Daniel duduk sendirian di luar barak, menatap kota yang masih menyala oleh api jauh di horizon. Ia memijat pergelangan tangannya, merasakan denyut kehidupan yang stabil—terlalu stabil untuk seseorang yang seharusnya rapuh.
Retakan itu nyata.
Bukan hanya di antara Hunter—
tetapi di antara dirinya dan dunia yang menuntutnya menjadi sesuatu yang ia takuti.
Segel Pertama tidak berbicara.
Tidak mengarahkan.
Tidak menyelamatkan.
Dan untuk pertama kalinya, Daniel menyadari bahwa kontrol juga berarti kesendirian.
Besok, ia akan menerima penugasan lapangan pertamanya.
Dan setelah itu—
ia akan bertemu seseorang yang mengingat hari kematiannya.