NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

​Keesokan harinya, suasana pagi di kediaman Giovano terasa sedikit lebih tegang dari biasanya. Kevin bersikeras menemani Ashley ke rumah sakit untuk menemui dokter pribadi keluarga mereka, Irene.

​Ashley sebenarnya enggan. Baginya, rasa mual dan pening yang ia rasakan belakangan ini hanyalah efek samping dari tumpukan pekerjaan di kantor.

Namun, menghadapi kekeras kepalaan Kevin adalah pertempuran yang kali ini mustahil ia menangkan. Akhirnya, setelah janji temu dibuat melalui sambungan telepon semalam, Ashley menyerah dan ikut masuk ke dalam mobil.

​Di dalam ruang praktik yang beraroma antiseptik khas rumah sakit kelas atas, Ashley duduk bersisian dengan Kevin. Di depan mereka, Irene -wanita dengan kacamata bingkai tipis yang selalu tampak tenang- menatap lekat layar komputernya. Jari-jarinya menari di atas keyboard sebelum akhirnya terhenti saat hasil tes laboratorium muncul.

​"Ada lonjakan drastis kadar hormon hCG di tubuhmu, Ash," ucap Irene tanpa basa-basi, langsung ke inti masalah. "Selamat, kau hamil."

​Hening sejenak. Kata "hamil" seolah memantul di dinding ruangan. Kevin menaikkan alisnya tinggi-tinggi, gurat keterkejutan yang nyata melintas di wajahnya. Sementara Ashley hanya terdiam, jemarinya saling bertaut di pangkuan. Selama ini ia mati-matian meyakinkan diri bahwa kelelahan fisik ini hanyalah stres biasa.

​"Berbaringlah di sini. Kita perlu melihat perkembangannya," suara Irene membuyarkan lamunan Ashley.

​Ashley beranjak menuju meja pemeriksaan dengan langkah sedikit ragu. Ia bisa merasakan tatapan Kevin yang tidak lepas darinya. Irene menaikkan sedikit kemeja yang dikenakan Ashley, lalu mengoleskan gel transparan yang dingin ke perut ratanya.

​Dengan telaten, Irene menggerakkan transduser USG, mencari tanda kehidupan kecil di dalam sana. Suara statis dari mesin tersebut mengisi keheningan, hingga akhirnya sebuah gambar hitam putih yang samar muncul di layar.

​"Ah, ini dia. Gestational sac-nya sudah terlihat," Irene menyentuh layar monitor, memperlihatkan titik kecil itu kepada Ashley dan Kevin.

​"Ini... benar-benar nyata? Kau benar-benar hamil, Ash?" Suara Kevin terdengar sedikit serak. Ia meraih tangan Ashley, mencium punggung tangannya berkali-kali. Ada kilat aneh di matanya-campuran antara kebahagiaan murni dan rasa lega yang luar biasa.

​Dalam hati, Kevin bersorak. Selamat tinggal jamu pahit. Selamat tinggal diet sayuran hijau yang membosankan itu.

​"Usianya sekitar tiga minggu," jelas Irene sambil menyeka sisa gel dari perut Ashley. "Apa kau sering merasa mual di pagi hari? Morning sickness?"

​Ashley menggeleng pelan. "Tidak juga. Aku tidak merasa mual secara berlebihan. Hanya saja... penciumanku terasa berkali-kali lipat lebih tajam. Bau parfum tertentu atau aroma makanan di kantin kantor bisa membuat kepalaku berputar."

​Irene mengangguk paham, ia mulai menjelaskan secara medis. "Itu sangat normal, Ash. Secara medis, lonjakan hormon hCG yang diproduksi oleh plasenta memang sering memicu mual, tapi pada beberapa wanita, peningkatan hormon estrogen yang drastis jauh lebih berpengaruh pada sistem penciuman. Kondisi ini disebut hyperosmia. Otakmu menjadi sangat sensitif terhadap aroma karena tubuhmu secara instingtif mencoba melindungimu dari makanan yang dianggap 'berbahaya' bagi janin. Jadi, sensitivitas bau itu sebenarnya sinyal perlindungan tubuhmu."

​Setelah mendapatkan daftar suplemen asam folat dan saran mengenai asupan nutrisi seimbang, keduanya meninggalkan kantor Irene.

​Kevin menggenggam tangan Ashley erat sepanjang koridor rumah sakit. Senyuman lebar kini seolah terpahat permanen di wajah tampannya.

​"Kau terlihat sangat senang," komentar Ashley saat mereka memasuki lift pribadi.

​"Tentu saja!" seru Kevin jujur. "Pertama, aku tidak perlu lagi meminum jamu itu setiap pagi. Kedua, aku akan meminta koki menyiapkan steik besar malam ini. Tidak ada lagi porsi sayuran yang mendominasi piringku."

​Ashley menatapnya datar. "Jadi, kau senang karena bisa berhenti makan sayur?"

​Kevin terkekeh, lalu merangkul bahu Ashley. "Tentu saja bukan cuma itu. Aku senang karena ada anak kita di sana. Dan jujur saja, kau harus mengakui ini, Ash... kau sudah selangkah lebih dekat untuk mengamankan posisi pewaris. Bukankah itu yang kau inginkan?"

​Ashley menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di pintu lift yang mengilap. "Entahlah, rasanya masih ada yang kosong. Aku juga... sedikit khawatir."

​"Khawatir kenapa?" Kevin mengerutkan kening.

​Ashley menatap Kevin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku tidak mengira akan hamil secepat ini, Kevin. Aku memang menginginkannya untuk rencana besar ku, tapi rasanya segalanya bergerak terlalu cepat. Aku merasa... belum siap secara mental."

​Kevin terdiam sejenak, lalu mengecup kening Ashley dengan lembut-sebuah gestur yang jarang ia lakukan tanpa maksud tertentu. "Hm, tak apa. Kita punya waktu beberapa bulan untuk bersiap. Semuanya akan baik-baik saja selama kau mengikuti instruksi dokter."

​Setibanya di mansion, suasana langsung berubah sibuk. Kabar kehamilan itu beredar secepat kilat setelah Kevin menginstruksikan kepala koki untuk merombak seluruh menu.

​"Mulai hari ini, pastikan semua bahan makanan organik dan segar. Jangan ada aroma yang terlalu menyengat di dapur utama karena itu akan mengganggu Ashley," perintah Kevin tegas di tengah dapur.

​Para pelayan berlarian, sementara Ashley hanya bisa duduk di ruang makan, memperhatikan kesibukan itu dengan perasaan campur aduk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!