NovelToon NovelToon
SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

SIAN TARUTUNG TU MEDAN : LUKA DIBALIK JABU

Status: tamat
Genre:Keluarga / Tamat
Popularitas:498
Nilai: 5
Nama Author: Raymond Siahaan

"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."

Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.

Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 DIBAWAH RESTU YANG SAMA

Langit malam itu terasa lebih jernih dari biasanya. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan sore tadi. Aku duduk sendirian di teras, memandangi motor bekasku yang terparkir setia di bawah lampu rumah. Catnya memang tidak lagi mengilap sempurna, tetapi ia tetap berdiri tegak—seperti diriku yang perlahan belajar kokoh setelah badai.

Hari-hari bersama Maria berjalan dengan sederhana. Tidak ada gejolak yang menguras emosi, tidak ada pertanyaan besar yang membuatku terjaga semalaman. Yang ada hanya percakapan panjang tentang masa depan, tentang nilai hidup, tentang keluarga yang ingin kami bangun.

Suatu sore, Maria mengajakku menghadiri kebaktian keluarga besarnya. Aku sempat gugup, meski ini bukan pertama kalinya aku bertemu mereka. Namun ada rasa berbeda ketika pertemuan itu terasa lebih serius.

Di ruang tamu rumah orang tuanya, kami duduk melingkar. Ayahnya berbicara dengan suara tenang namun tegas.

“Kami tidak ingin tergesa-gesa,” katanya. “Tapi jika kalian serius, kami ingin tahu sejauh mana kesiapanmu.”

Aku menatap Maria sejenak, lalu kembali pada ayahnya.

“Saya tidak datang untuk main-main, tulang. Saya mungkin belum sempurna, tapi saya ingin belajar dan bertumbuh bersama Maria.”

Hening sejenak. Ibunya tersenyum kecil.

“Yang kami lihat, kamu membawa ketenangan,” katanya lembut. “Dan itu lebih penting daripada janji besar.”

Kalimat itu terasa seperti angin sejuk di dada.

Sepulang dari sana, aku mengantar Maria pulang dengan motor bekasku. Di lampu merah, ia memelukku sedikit lebih erat dari biasanya.

“Aku senang kamu tidak berubah menjadi orang yang pahit karena masa lalu,” katanya pelan.

Aku tersenyum. “Kalau bukan karena masa lalu, mungkin aku tidak akan jadi seperti ini.”

Beberapa minggu kemudian, aku mengajak mama berbicara serius.

“Ma, aku sudah bicara dengan keluarga Maria. Kami ingin melangkah lebih jauh.”

Mama menatapku lama, seperti sedang membaca seluruh isi hatiku.

“Kali ini mama tidak melihat keraguan di matamu,” katanya. “Kalau kamu yakin, mama akan berdiri di belakangmu.”

Aku tidak sadar kapan air mataku jatuh. Restu itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus kuperjuangkan. Ia datang dengan tenang, seperti embun pagi.

Hari lamaran akhirnya tiba. Tidak mewah, tidak ramai. Hanya keluarga inti dan beberapa kerabat dekat. Aku mengenakan kemeja sederhana, tangan sedikit gemetar saat menyematkan cincin di jari Maria.

Saat ia mengangguk dan tersenyum, aku tahu perjalanan panjang itu tidak sia-sia.

Di sudut ruangan, mama tersenyum bangga. Kakakku mengacungkan jempol kecil padaku. Dan di dalam hati, aku berbisik pelan, terima kasih pada masa lalu yang pernah membuatku hancur—karena tanpanya, aku mungkin tidak akan sampai di titik ini.

Malam setelah acara lamaran, aku duduk lagi di teras. Motor bekasku masih di sana. Aku menepuk joknya pelan.

“Sepertinya kita akan segera punya teman baru,” gumamku sambil tertawa kecil.

Namun aku tahu, meski suatu hari nanti aku menggantinya dengan motor baru, kenangan yang melekat padanya tidak akan pernah terganti.

Beberapa bulan setelahnya, aku dan Maria mulai mempersiapkan pernikahan sederhana seperti yang kami impikan. Tidak ada tuntutan berlebihan. Hanya doa, keluarga, dan niat yang tulus.

Suatu malam sebelum hari pernikahan, aku teringat kembali pada perjalanan panjang ini—dari pesan pertama yang penuh harap, perpisahan yang dewasa, hingga restu yang kini berdiri di sisiku.

Aku tidak lagi melihat masa lalu sebagai kegagalan. Ia adalah guru yang mengantarkanku pada pilihan yang lebih matang.

Dan ketika hari itu akhirnya tiba—ketika aku mengucapkan janji di hadapan keluarga dan Tuhan—aku tahu satu hal dengan pasti:

Perjalanan memang panjang.

Tetapi setiap langkahnya membentukku menjadi lelaki yang siap mencintai bukan hanya dengan perasaan, melainkan dengan tanggung jawab.

Kini, aku tidak lagi mencari restu di ujung perjalanan.

Karena restu itu telah berjalan bersamaku sejak aku belajar merelakan.

Beberapa minggu menjelang hari pernikahan, rumah kami berubah menjadi lebih hidup dari biasanya. Mama sibuk dengan daftar undangan dan menu sederhana yang ingin ia sajikan. Kakakku bolak-balik membantu memilih kain ulos yang akan kami gunakan. Aku sendiri lebih banyak mengurus hal-hal teknis—gedung kecil di dekat gereja, kursi-kursi tamu, dan memastikan semuanya berjalan tanpa kekacauan.

Namun di tengah kesibukan itu, ada momen-momen sunyi yang selalu kucari.

Seperti sore ini.

Aku duduk di teras, menatap langit yang mulai berubah jingga. Motor bekasku masih setia di tempatnya. Entah mengapa, setiap kali memandanginya, aku seperti melihat versi diriku di masa lalu—penuh keraguan, penuh tanya, tetapi terus berjalan.

Maria datang membawa dua cangkir teh.

“Kamu melamun lagi?” tanyanya sambil duduk di sampingku.

“Aku hanya berpikir,” jawabku pelan.

“Takut?”

Aku tersenyum kecil. “Bukan takut. Lebih ke… ingin memastikan aku siap.”

Maria menatapku lama, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. “Tidak ada yang benar-benar siap seratus persen. Kita hanya memilih untuk melangkah dan belajar sepanjang jalan.”

Kalimatnya sederhana, tapi menenangkan. Seperti dirinya.

Hari pernikahan akhirnya tiba.

Tidak ada dekorasi megah, hanya bunga-bunga putih sederhana dan kain adat yang menghiasi ruangan. Keluarga hadir dengan wajah hangat. Tidak banyak tamu, hanya mereka yang benar-benar dekat.

Saat aku berdiri di depan altar, jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Maria berjalan mendekat dengan gaun sederhana yang membuatnya tampak anggun tanpa berlebihan. Matanya menatapku dengan keyakinan yang tidak goyah.

Ketika janji itu terucap, aku merasakan sesuatu yang berbeda dari semua perasaan yang pernah kurasakan sebelumnya. Ini bukan gejolak. Bukan api yang menyala-nyala. Ini seperti tanah yang kokoh di bawah kakiku—stabil dan pasti.

Di antara hadirin, mama meneteskan air mata. Bukan air mata khawatir seperti dulu. Kali ini air mata lega.

Setelah acara selesai, kami duduk bersama keluarga untuk makan siang sederhana. Tawa terdengar lebih lepas. Tidak ada bayangan masa lalu yang mengganggu. Hanya rasa syukur.

Malamnya, ketika semua tamu telah pulang, aku dan Maria kembali ke rumah kecil yang akan kami tempati. Rumah itu belum sempurna. Cat di beberapa sudut masih perlu diperbaiki. Perabotan pun belum lengkap. Namun bagi kami, ia sudah terasa cukup.

“Kita mulai dari sini,” kata Maria sambil melihat sekeliling ruang tamu.

“Iya,” jawabku. “Dari sini.”

Hari-hari pertama sebagai suami istri tidak selalu romantis seperti dalam cerita-cerita. Ada cucian yang menumpuk, ada perbedaan kebiasaan kecil yang kadang membuat kami saling mengernyit.

Aku terbiasa bangun lebih pagi dan langsung membereskan tempat tidur. Maria kadang masih ingin lima menit tambahan di bawah selimut. Ia perfeksionis soal dapur, sementara aku lebih santai.

Suatu pagi, kami sempat berselisih hanya karena masalah sepele—aku lupa membeli bahan yang ia minta.

“Aku sudah bilang tadi malam,” katanya, sedikit kesal.

“Aku benar-benar lupa, Maaf,” jawabku, mencoba menahan nada defensif.

Kami terdiam beberapa menit. Ruangan terasa canggung.

Lalu Maria menarik napas panjang. “Kita tidak boleh membiarkan hal kecil jadi besar.”

Aku mengangguk. “Aku juga tidak mau.”

Kami belajar meminta maaf tanpa gengsi. Belajar mendengarkan tanpa langsung membela diri. Di situlah aku sadar, cinta yang tenang tetap membutuhkan usaha.

Beberapa bulan berlalu. Ritme hidup kami mulai terbentuk. Pagi hari kami berangkat kerja bersama—kadang masih menggunakan motor bekasku karena mobil baru belum menjadi prioritas. Sore hari, kami memasak bersama atau sekadar berjalan kaki di sekitar kompleks.

Suatu malam, Maria berkata pelan saat kami duduk di ruang tamu.

“Aku ingin melanjutkan kuliah lagi.”

Aku menoleh. “Ambil S2?”

Ia mengangguk. “Aku ingin berkembang. Tapi aku takut membebanimu.”

Aku tersenyum. “Kita ini tim. Kalau kamu bertumbuh, aku juga bertumbuh.”

Keputusan itu tidak mudah. Kami harus mengatur ulang keuangan. Beberapa rencana membeli barang baru terpaksa ditunda. Tapi anehnya, tidak ada rasa keberatan di hatiku. Justru ada kebanggaan karena kami berjalan sebagai satu kesatuan.

Di tengah perjalanan itu, suatu pagi Maria menunjukkan hasil tes dengan tangan gemetar.

“Aku hamil.”

Dunia terasa berhenti sesaat.

Aku memandangnya, lalu memandang benda kecil di tangannya. Campuran takut dan bahagia memenuhi dadaku.

“Kita akan jadi orang tua,” gumamku.

Air mata Maria jatuh perlahan. Aku memeluknya erat, merasakan tanggung jawab yang kini bertambah besar.

Malam itu aku duduk lagi di teras, sendirian. Bukan karena ada masalah, tapi karena aku ingin mencerna semuanya.

Perjalanan ini benar-benar panjang.

Dari cinta yang harus kulepaskan, hingga cinta yang kini tumbuh menjadi keluarga kecil. Dari lelaki yang ragu memilih, menjadi lelaki yang kini harus menjadi ayah.

Motor bekasku masih terparkir di sana. Catnya semakin pudar, tapi mesinnya tetap setia menyala setiap kali kucoba.

Aku tersenyum.

Hidup tidak pernah memberiku jalan yang benar-benar mulus. Tapi setiap belokan selalu membawaku pada pelajaran baru.

Beberapa bulan kemudian, tangisan kecil memenuhi ruang bersalin. Aku berdiri di samping Maria, menggenggam tangannya ketika anak pertama kami lahir.

Seorang bayi perempuan.

Saat perawat meletakkannya di pelukanku, hatiku seperti terisi penuh oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia begitu kecil, begitu rapuh, namun sekaligus begitu kuat mengubah seluruh hidupku dalam sekejap.

Mama datang dan memelukku.

“Kamu sekarang sudah benar-benar dewasa,” katanya dengan suara bergetar.

Aku tersenyum, menatap bayi kecil di lenganku.

Di momen itu, aku menyadari satu hal lagi: perjalanan tidak pernah benar-benar selesai. Setiap akhir hanyalah awal dari bab berikutnya.

Aku pernah berpikir restu adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan keras. Kini aku mengerti, restu juga bisa tumbuh bersama proses, bersama kedewasaan, bersama keberanian untuk belajar dari masa lalu.

Maria tersenyum lemah dari tempat tidur.

“Kita berhasil sejauh ini,” katanya pelan.

Aku mendekat dan mencium keningnya. “Dan kita akan terus berjalan.”

Di luar jendela rumah sakit, matahari mulai terbit. Cahaya pagi menyinari dunia yang terasa baru.

Perjalanan masih panjang.

Namun kali ini, aku tidak lagi berjalan sendirian.

Aku berjalan sebagai suami.

Sebagai ayah.

Sebagai lelaki yang pernah jatuh, pernah merelakan, dan akhirnya belajar mencintai dengan cara yang lebih utuh.

1
Aisyah Suyuti
nenarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!