NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Bocah

Transmigrasi Menjadi Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.

Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.

​Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.

​"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.

"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Om?"

Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

"Ma, bisa kita bicara? Ini soal... fenomena otak yang tidak masuk akal.

Luca berdiri di ambang pintu ruang kerja ibunya, menyandarkan bahu di sana. Ava, yang sedang memeriksa beberapa dokumen yayasan sosialnya, menoleh.

Ia melepaskan kacamata bacanya dan tersenyum lembut melihat putra tunggalnya yang tampak begitu gelisah, meski wajahnya berusaha tetap datar.

"Masuklah, Luc. Jika ini soal bagaimana Queen meretas sistem pengaman ayahmu hanya dalam lima menit, Mama rasa kita punya banyak hal untuk dibahas," sahut Ava sambil menunjuk kursi di hadapannya.

Luca melangkah masuk dan duduk dengan helaan napas berat.

"Itu dia masalahnya. Dia bukan sekedar anak kecil yang pandai matematika, Ma. Dia seperti tahu celah yang bahkan tidak diajarkan di sekolah mana pun. Bagaimana mungkin bocah lima tahun punya pola pikir taktis seperti seorang veteran?"

Ava menyandarkan punggung, menatap putranya dengan tatapan bijak.

"Dunia ini luas, Luca. Ada beberapa anak yang dilahirkan dengan anomali kecerdasan yang luar biasa. Kau ingat kakekmu, Alexander?"

"Kakek Alex? Si jenius yang sekarang memegang kendali teknologi di London?"

"Ya. Saat usianya menginjak sembilan tahun, dia sudah bisa membongkar mesin mobil dan merakitnya kembali tanpa ada satu sekrup pun yang tertinggal. Dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya, bahkan melampaui orang dewasa. Besar kemungkinan Queen memiliki jenis otak yang sama," jelas Ava tenang.

Luca mengerutkan kening, tidak langsung puas dengan jawaban itu. "Aku tahu keluarga Frederick punya genetik cerdas, tapi Queen, dia bukan Frederick. Dan ada satu hal lagi yang membuatku tidak tenang."

"Apa itu?"

"Dia sama sekali tidak takut saat melihat darah," bisik Luca, suaranya sedikit merendah.

"Semalam, saat lenganku terluka, dia tidak menangis. Dia tidak lari mencari bantuan. Dia justru mengambil pinset dan mengeluarkan peluru itu seolah-olah dia sedang memetik bunga di taman. Matanya dingin, Ma. Sangat fokus. Anak kecil mana yang tidak trauma melihat daging yang berlubang?" lanjut Luca.

Ava terdiam sejenak, sorot matanya berubah sedikit sedih. "Mungkin dia sudah terbiasa, Luc. Jangan lupa siapa pamannya. Sean Harley bukan orang yang akan membacakan dongeng sebelum tidur. Jika dia dibesarkan di lingkungan yang penuh kekerasan, darah adalah hal pertama yang dia lihat setiap hari. Pengalaman pahit bisa membunuh rasa takut dalam diri seorang anak."

Ava bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Luca, dan meletakkan tangannya di bahu putranya.

"Jangan ragukan dia. Percayalah pada Queen. Saat Mama melihatnya, Mama teringat kau dan Lily dulu. Kalian berdua sejak kecil sudah harus dewasa sebelum waktunya karena Papa selalu jauh, sibuk dengan dunia gelapnya. Jadi Mama mohon, jaga Queen baik-baik. Dia hanya butuh tempat untuk merasa aman."

Luca menatap tangan ibunya, lalu mengangguk pelan. "Iya, Ma. Luca janji akan menjaganya. Luca tidak akan membiarkan Sean menyentuhnya lagi."

Ava tersenyum bangga, lalu tiba-tiba ia memeluk putranya dengan sangat erat, membuat Luca sedikit tercekik karena kasih sayang yang mendadak itu.

"Bayiku sudah besar, sudah pandai melindungi orang lain."

"Ma, sesak. Dan ingat aku bukan bayi lagi!" gumam Luca, meski ia tidak berusaha melepaskan pelukan itu.

Ava melepaskan pelukannya sedikit, lalu berbisik tepat di telinga Luca dengan nada menggoda yang sangat kentara.

"Siapa tahu di masa depan nanti, kau dan dia berjodoh. Bukankah itu romantis? Pemuda dingin yang menyelamatkan putri jenius?"

"MAMA!" Luca merengek, wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Ia segera menjauhkan diri dari ibunya. "Dia masih bocah! Dia bahkan belum bisa mandi sendiri tanpa bantuan! Sementara aku bahkan belum memikirkan soal hal konyol seperti itu!"

Ava tertawa kecil, melihat reaksi putranya yang jarang sekali terlihat ekspresif. "Cinta tidak mengenal usia saat waktu yang tepat tiba, Sayang."

"Tolong, hentikan." Luca memijat pelipisnya. "Aku punya hal lain yang lebih penting. Aku butuh pengakuan dari papa. Aku ingin dia melihat bahwa aku bisa menangani Harley tanpa campur tangannya."

"Kau tidak perlu pengakuan dari siapa pun hanya untuk mendapatkan tahta papamu, Luca. Kau adalah ahli waris karena kemampuanmu, bukan karena persetujuannya." Ava kembali serius.

"Tapi aku ingin berusaha sendiri tanpa bantuan darinya, Ma. Aku ingin dia tahu bahwa putranya bukan lagi bocah sakit-sakitan yang butuh dilindungi di balik tembok mansion," tegas Luca dengan mata yang berkilat penuh ambisi.

Ava menghela napas panjang, mengusap pipi Luca dengan penuh kasih. Padahal, Ava tak pernah mendidik Luca menjadi seperti ini. Tapi sekarang Luca menjadi remaja penuh tekad.

"Ya, ya, baiklah. Keras kepalamu itu memang murni turunan Edgar. Tapi ingat, jangan sampai ambisimu membuatmu mengabaikan hal-hal kecil yang ada di depan matamu. Seperti gadis kecil di kamar sebelah yang sedang menunggumu membawakannya ayam goreng."

"Dia tidak menungguku, dia menunggu ayamnya," dengus Luca.

"Sama saja," goda Ava lagi.

Luca pun pamit keluar dari ruang kerja ibunya dengan perasaan yang sedikit lebih tenang, meski rahasia tentang siapa Queen sebenarnya masih menggantung di benaknya.

Ia tidak tahu bahwa jauh di lubuk hatinya, sebuah benih perlindungan telah tumbuh, bukan karena tugas, melainkan karena rasa yang mulai melampaui logika.

"Tidak tidak! Dia itu hanya seorang bocah! Apa iya aku menyukai seorang bocah yang bahkan miliknya saja belum terbentuk sempurna?" gumamnya.

"Milik siapa yang belum terbentuk sempurna, Luca?" sahut Queen yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan di lipat di depan dada.

1
tinie
ditunggu kabar baiknya
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
Senja: Siappppp🤭
total 1 replies
partini
luca dah bangun dari semedi udah dapat Ilham 🤣🤣🤣
Tiara Bella
wow Luca KY anak remaja lg LG jatuh cinta ya.....makasih Thor up nya triple.....
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Maria Hedwig Roning
thnks thor ceritanya sangat menarik...
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ: Lanjut thor, seru and semangat ya💪
total 2 replies
Murni Dewita
double up donk thor
Senja: Heheh, udah triple up hari ini kak🤭 besok ya up seperti biasa 3bab
total 1 replies
partini
good
partini
luca lagi semedi kah Thor
Senja: Hooohh
total 1 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Senja: Siappp
total 1 replies
Ita Xiaomi
Aku jg mau kue gosongnya 😁
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣.
Evi Marena
wkwkwkwwkk
ternyata Sean juga manusia biasa😌
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Kinara Widya
atau jangan2 Edgar dulu yg mencelakai orang tua queen....bakal ribet ni klo benar Edgar...
Ita Xiaomi: Berharap bukan Edgar. Kasihan nanti Sean, Queen ama Luca.
total 1 replies
Tiara Bella
wow Sean sangat mengharukan ...
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
tinie
mulut naga katanya🥺😁😄
Ita Xiaomi
Sama aja kalian berdua tuh kan sama-sama baru belajar tentang kehangatan 😁.
Ita Xiaomi
Sabar Luca. Ini Sean lg belajar menjd hangat😁. Ndak boleh panas.
Ita Xiaomi
Msh mencerna😁
Senja: Wkwkw😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!