NovelToon NovelToon
Sandi Hati Sang Alpha

Sandi Hati Sang Alpha

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Special chapter 4

Tahun 2041. Di kaki pegunungan Alpen, Zurich, sebuah bangunan berdiri menantang kemajuan zaman. Jika dunia luar kini didominasi oleh kota-kota neon yang terhubung secara saraf dengan "Global Mind", rumah keluarga Vandana adalah anomali yang membisu. Bangunan itu adalah sebuah Sangkar Faraday raksasa yang menyamar sebagai arsitektur modern minimalis. Dinding-dindingnya tidak hanya terdiri dari beton dan kaca, tetapi juga dilapisi jaring tembal dan tembaga mikroskopis yang dijalin sedemikian rupa untuk memantulkan setiap gelombang elektromagnetik kembali ke asalnya.

Di dalam rumah itu, keheningan adalah komoditas yang paling mahal. Tidak ada Wi-Fi, tidak ada asisten rumah tangga berbasis AI, bahkan tidak ada satu pun sensor otomatis. Semua pintu dibuka secara manual, dan lampu-lampu dihidupkan dengan sakelar fisik yang mengeluarkan bunyi klik yang nyata—suara yang hampir punah di dunia luar.

Altair Vandana, kini berusia lima belas tahun, duduk di sudut perpustakaan yang dinding-dindingnya dipenuhi oleh ribuan buku kertas tua yang aromanya mirip debu dan kenangan. Ia mengenakan kaus hitam sederhana, namun auranya begitu berat. Wajahnya adalah perpaduan sempurna: ketajaman mata dan garis rahang Bhanu yang mengintimidasi, namun dengan kelembutan bibir dan cara bicara Selena yang anggun.

Ia sedang menatap sebuah buku astronomi, tetapi matanya tidak bergerak mengikuti tulisan. Ia sedang menatap "kekosongan" di udara.

"Ibu, frekuensinya berubah lagi," ucap Altair tanpa menoleh.

Selena, yang kini tampil matang dengan guratan kedewasaan yang justru menambah wibawanya, masuk membawa nampan berisi teh hangat. Ia meletakkan nampan itu dengan sangat hati-hati, seolah takut getaran sekecil apa pun akan mengganggu ketenangan anaknya. "Apa yang kau dengar, Altair?"

"Satelit pemantau militer di orbit rendah. Mereka baru saja melakukan handover data ke stasiun bumi di Jerman. Enkripsinya diganti dari AES-512 ke protokol kuantum baru. Suaranya..." Altair memejamkan mata, dahi mengkerut karena menahan pening. "...suaranya seperti ribuan lebah logam yang berdengung tepat di dalam tengkorakku. Sangkar ini tidak lagi cukup kuat untuk menahan mereka."

Selena mengusap bahu putranya. Ia tahu, meskipun rumah ini telah diisolasi secara ekstrem, sensitivitas Altair telah berkembang melampaui kemampuan pelindung fisik mana pun. Altair bukan lagi sekadar antena; ia adalah pusat gravitasi data yang sedang ditarik oleh dunia yang haus akan kontrol.

Tak lama kemudian, pintu besar ruang depan terbuka. Bhanu masuk dengan langkah yang masih sekuat dua dekade lalu. Jasnya bersalju, namun matanya yang tajam langsung tertuju pada Altair. Di usianya yang hampir menyentuh kepala lima, Bhanu telah menjadi legenda hidup—seorang penguasa bisnis yang menjalankan imperiumnya tanpa satu pun perangkat digital pribadi.

"Eleanor mulai bergerak secara terbuka," ucap Bhanu tanpa basa-basi. Ia melemparkan sebuah amplop cokelat fisik ke atas meja—satu-satunya cara komunikasi yang aman. "Raka mengirim pesan melalui jalur kurir manusia. Dia menemukan bahwa 'The Nephilim' telah membangun pemancar raksasa di Singapura yang frekuensinya secara spesifik dikalibrasi untuk meniru tanda biometrikmu, Altair. Mereka sedang mencoba 'memancing' sistem sarafmu agar melakukan sinkronisasi paksa dari jarak jauh."

Bhanu duduk di hadapan putranya, menatap mata emas Altair yang kini berpendar tipis—tanda bahwa emosi remaja itu mulai mengganggu kontrol energinya. "Kau adalah rahasia terbesar di planet ini, Nak. Jika dunia tahu kau bisa meretas setiap enkripsi kuantum hanya dengan berpikir, mereka tidak akan berhenti sampai mereka membedah otakmu."

Malam itu, badai salju di luar rumah semakin menggila. Namun, di tengah gemuruh angin, sebuah benda siluman tanpa lampu jatuh tepat di halaman depan rumah mereka. Benda itu bukan rudal, bukan pula bahan peledak. Itu adalah sebuah drone transmisi khusus yang terbuat dari bahan non-logam.

Saat Bhanu dan Altair keluar dengan senjata di tangan, drone itu memproyeksikan sebuah hologram di tengah badai salju. Sesosok wanita tua muncul. Wajahnya telah dimodifikasi secara drastis dengan implan perak di sepanjang pelipis, namun matanya tetap memancarkan kegilaan yang sama. Dr. Eleanor Alka.

"Halo, Altair. Halo, Bhanu. Sudah cukup lama kalian bersembunyi di dalam gua tembaga itu," suara Eleanor terdengar stabil, diproses oleh synthesizer yang membuatnya terdengar seperti dewi mesin. "Altair, kau adalah mahakaryaku yang terbuang. Dunia luar sedang sekarat karena ketidakpastian, dan kau adalah algoritmanya. Datanglah ke 'The Ark' di Singapura secara sukarela, atau aku akan memicu protokol 'Mother-Kill' yang tertanam di dalam sel Selena. Aku yang memberinya hidup, dan aku bisa menariknya kembali kapan saja."

Hologram itu padam, menyisakan keheningan yang mencekam di tengah salju. Altair mengepalkan tangannya. Di sekelilingnya, kepingan salju yang jatuh mendadak berhenti di udara, tertahan oleh medan statis yang keluar dari tubuhnya.

"Ayah, Ibu," Altair menatap orang tuanya dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna emas menyala. "Cukup sudah kita bersembunyi. Jika dia ingin bertemu dengan sang Alpha, aku akan memberinya lebih dari yang bisa dia bayangkan."

Bhanu menatap Selena. Mereka tahu, masa isolasi telah berakhir. Sang dewa remaja tidak lagi ingin dikurung, dan kali ini, tidak ada sangkar di dunia ini yang bisa menahan langkahnya.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Yulianti
bagus bgt kita diajak untuk berimajinasi,ttp aja ketulusan hati mengalahkan segalanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!