NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Mukjizat Kecil

#

Tanggal empat belas. Satu hari lagi sebelum debt collector datang. Zidan pulang sore dengan badan yang lebih remuk dari biasanya. Uang di kantongnya cuma seratus sepuluh ribu. Total uang yang terkumpul sekarang delapan ratus tiga puluh ribu.

Masih kurang empat juta seratus tujuh puluh ribu.

Mustahil.

Dia masuk ke kontrakan dengan langkah gontai. Naura lagi nyusuin Faris di kasur. Begitu lihat wajah suaminya yang pucat, dia langsung tau. Belum cukup.

"Mas, istirahat dulu. Nanti malem masih harus kerja kan?"

"Iya." Zidan duduk di pinggir kasur sambil megang kepala. "Naura, besok mereka datang. Dan kita nggak punya uang yang mereka minta."

Naura diem sebentar sambil terus nyusuin Faris. "Aku tau Mas. Tapi aku udah pasrah. Apapun yang terjadi besok, kita terima aja. Yang penting kita tetep bareng."

Zidan ngangguk pelan. Tapi hatinya tetep berat.

Tiba tiba ada yang ketuk pintu.

TOK TOK TOK.

Zidan dan Naura langsung kaget. Jantung berdebar. Jangan jangan debt collector datang lebih cepat.

Zidan berdiri pelan terus jalan ke pintu. Buka sedikit sambil ngintip.

Di depan pintu ada seorang ibu ibu gemuk pake kerudung pink terang. Wajahnya ramah. Senyum lebar.

"Permisi, ini rumahnya Mbak Naura yang jualan gorengan kan?"

Zidan napas lega. Bukan debt collector. "Iya Bu. Ada apa ya?"

"Saya mau pesan gorengan banyak. Bisa?"

"Eh, tunggu sebentar Bu. Saya panggilin istri saya dulu."

Zidan panggil Naura. Naura taruh Faris di boks dulu terus keluar sambil rapiin kerudungnya.

"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?"

Ibu itu senyum lebar. "Begini Mbak. Saya mau ngadain pengajian di rumah minggu depan. Acaranya besar. Undangannya sekitar dua ratus orang. Saya mau pesan gorengan buat tamu tamu. Kira kira Mbak sanggup nggak bikin gorengan sebanyak itu?"

Naura melotot. Dua ratus orang? Itu butuh gorengan ribuan biji!

"Berapa banyak Bu yang dibutuhin?"

"Saya mau pesan pisang goreng seribu biji, tahu isi seribu biji, terus risoles lima ratus biji. Kira kira bisa?"

Naura hitung cepet di kepala. Pisang goreng seribu kali seribu lima ratus rupiah. Tahu isi seribu kali seribu lima ratus rupiah. Risoles lima ratus kali dua ribu rupiah. Total tiga juta lima ratus ribu kotor.

Modal pisang, tahu, tepung, minyak, isi risoles, kira kira satu juta lima ratus ribu.

Untungnya dua juta!

DUA JUTA!

Jantung Naura langsung berdebar kenceng. Ini... ini mukjizat.

"Bisa Bu! Sangat bisa! Kapan Ibu butuhnya?"

"Acaranya hari Minggu depan. Jadi kamu ada waktu tiga hari buat bikin. Bisa kan?"

"Bisa Bu! Pasti bisa!"

"Bagus. Ini uang mukanya dua juta dulu ya. Sisanya dibayar waktu ambil barang." Ibu itu keluarin amplop tebal dari tasnya.

Naura terima amplop itu dengan tangan gemetar. Dia buka. Di dalamnya ada uang dua juta rupiah. Bener. Dua juta.

"Terima kasih Bu! Terima kasih banyak! Saya janji akan bikin yang terbaik!"

"Iya Mbak. Saya percaya. Gorengan kamu enak soalnya. Temen temen saya sering bilang. Makanya saya pesan ke kamu."

Setelah ngasih alamatnya dan detail pesanan, ibu itu pergi dengan senyum.

Begitu pintu tertutup, Naura langsung melompat kecil sambil peluk amplop itu erat. Air matanya langsung jatuh. Tapi ini bukan air mata sedih. Ini air mata bahagia.

"Mas! Mas lihat! Dua juta! Dua juta Mas! Allah kasih kita rezeki!"

Zidan yang dari tadi bengong langsung sadar. Dia lihat amplop di tangan istrinya. Lihat uang di dalamnya.

Kakinya lemes.

Dia jatuh duduk di lantai sambil megang dadanya. Napasnya sesak. Tapi bukan karena sedih. Karena lega. Sangat lega.

"Ya Allah... Ya Allah... terima kasih. Terima kasih ya Allah. Engkau nggak pernah tidur. Engkau nggak pernah lupa sama hamba hambaMu yang susah."

Dia nangis sambil sujud di lantai.

Naura ikut duduk di sampingnya sambil nangis juga. "Ini mukjizat Mas. Mukjizat kecil dari Allah. Allah denger doa kita. Allah tau kita lagi susah."

Mereka berpelukan sambil nangis bahagia. Faris di boks ikutan nangis kecil. Mungkin ngerasain kebahagiaan orang tuanya.

Sore itu juga, Zidan langsung pergi ke rumah Pak Burhan buat bayar cicilan. Dia ketuk pintu berkali kali. Pak Burhan buka dengan wajah terkejut.

"Zidan? Kamu mau bayar?"

"Iya Pak. Ini uangnya. Dua juta. Bunga bulan ini." Zidan sodorkan amplop.

Pak Burhan terima sambil itung. Bener. Dua juta pas.

"Wah, kamu dapet rezeki dari mana? Kemarin kemarin nggak bisa bayar. Sekarang tiba tiba bisa."

"Istri saya dapet pesanan besar Pak. Alhamdulillah."

Pak Burhan ngangguk sambil masukin uang itu ke kantong. "Oke. Tapi inget ya, ini cuma bunga. Pokoknya masih sepuluh juta. Belum berkurang sedikitpun."

"Saya tau Pak. Tapi saya akan cicil pelan pelan."

"Terserah kamu. Yang penting bayar tepat waktu. Kalau nggak, debt collector akan dateng lagi."

Zidan keluar dari rumah Pak Burhan dengan hati lega. Setidaknya untuk bulan ini aman. Nggak akan ada debt collector yang dateng ngancam.

Dia pulang ke kontrakan dengan senyum tipis. Naura udah siapin makan malam. Nasi putih sama telur dadar. Sederhana tapi hari ini rasanya istimewa.

"Mas, besok kita harus mulai bikin gorengan. Tiga hari harus selesai. Artinya kita harus bikin minimal delapan ratus biji per hari. Mas bisa bantuin?"

"Bisa. Aku akan minta izin nggak kerja parkir malem malem dulu. Aku bantuin kamu di rumah."

"Tapi uangnya Mas?"

"Nggak apa apa. Pesanan ini lebih penting. Lagian untungnya dua juta. Lebih besar dari gaji parkir seminggu."

Besoknya pagi, mereka berdua udah mulai kerja. Zidan yang biasanya berangkat jam tiga pagi, hari ini stay di rumah. Dia bantuin Naura motong pisang. Potong tahu. Bikin adonan.

Naura yang nggoreng. Zidan yang bungkus. Kerja sama yang kompak.

Faris tidur di boks sambil sesekali nangis minta nyusu. Naura berhenti sebentar buat nyusuin, terus lanjut kerja lagi.

Seharian mereka berhasil bikin delapan ratus lima puluh biji gorengan. Pisang goreng empat ratus. Tahu isi empat ratus. Risoles lima puluh.

Tangan Naura penuh luka bakar dari minyak panas. Jari Zidan lecet lecet karena motong pisang terus menerus. Tapi mereka nggak ngeluh. Malah senyum senyum.

"Mas, capek nggak?"

"Capek. Tapi seneng. Kita kerja bareng kayak gini rasanya beda."

"Iya. Aku juga seneng. Biasanya aku kerja sendirian. Sekarang ada Mas yang bantuin."

Malamnya mereka tidur dengan badan remuk tapi hati seneng. Besoknya bangun pagi lagi dan lanjut kerja.

Hari kedua, mereka bikin sembilan ratus biji. Hari ketiga, mereka selesaiin sisanya. Total dua ribu lima ratus biji gorengan rampung dalam tiga hari.

Hari Minggu pagi, ibu yang pesan dateng sama suaminya bawa mobil pickup buat ngangkut gorengan.

"Wah bagus sekali Mbak! Rapi rapi bungkusannya! Pasti enak ini!"

"Terima kasih Bu. Semoga tamu tamu Ibu suka."

"Pasti suka. Ini sisanya ya. Satu juta lima ratus ribu." Ibu itu kasih amplop lagi.

Naura terima sambil senyum lebar. "Terima kasih Bu. Kalau ada acara lagi, jangan lupa pesan ke saya ya."

"Pasti Mbak. Nanti saya rekomendasiin ke temen temen yang lain."

Setelah mereka pergi, Naura dan Zidan duduk di teras sambil liat amplop di tangan.

"Mas, total kita dapat tiga juta lima ratus ribu kotor. Dikurangi modal satu juta lima ratus ribu. Untungnya bersih dua juta. DUA JUTA MAS!"

Zidan peluk istrinya sambil senyum lebar. "Alhamdulillah. Ini rezeki dari Allah. Rezeki yang dateng tepat waktu."

"Uang dua juta tadi buat bayar cicilan Pak Burhan udah ilang. Sekarang kita punya dua juta lagi. Kita bisa nabung Mas. Kita bisa simpen buat bulan depan."

"Iya. Tapi sebagian kita pake buat beli bahan baku lagi. Biar kamu bisa jualan kayak biasa. Sisanya kita tabung."

Mereka bagi uang itu. Lima ratus ribu buat modal jualan gorengan harian. Satu juta lima ratus ribu ditabung buat cicilan bulan depan.

Malam itu mereka sholat tahajud berdua sambil Faris tidur pulas.

"Ya Allah, terima kasih. Terima kasih udah kasih kami rezeki di saat kami paling butuh. Terima kasih udah dengerin doa kami. Terima kasih udah nggak ninggalin kami. Ya Allah, kami mohon, terus berikan kami rezeki yang berkah. Terus kuatkan kami. Aamiin ya Rabbal alamin."

Mereka sujud lama sambil nangis bahagia.

Besoknya pagi, kehidupan kembali normal. Zidan kerja tiga tempat lagi. Naura jualan gorengan lagi. Faris tumbuh sehat di boks kayunya.

Tapi ada yang beda sekarang.

Ada harapan.

Harapan bahwa Allah nggak akan pernah ninggalin hambanya yang berdoa dan berusaha.

Harapan bahwa rezeki akan datang dari arah yang nggak terduga.

Harapan bahwa mereka akan bisa lewatin semua ini.

Pelan.

Tapi pasti.

Satu langkah demi satu langkah.

Dan mereka yakin.

Yakin banget.

Bahwa suatu hari nanti, mereka akan sukses.

Akan keluar dari jeratan hutang ini.

Akan hidup lebih baik.

Bersama.

Sebagai keluarga yang utuh.

Tapi mereka nggak tau.

Kesuksesan yang mereka impikan akan datang.

Tapi dengan cara yang akan menghancurkan segalanya.

Dengan harga yang terlalu mahal untuk dibayar.

Tapi untuk hari ini, mereka bahagia.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

1
checangel_
Jangan heran, Zidan. Hidup di perkampungan memang seperti itu, jadi harus sabar seluas samudera 🤝
checangel_
Andai saja saat itu mereka terdaftar dalam KIS 🤧
checangel_
lebih tepatnya melawan ego diri sendiri dari setiap orang yang datang dan juga pergi🤧
checangel_
Lagi dan lagi-lagi ku mendengar janji 🤣, sudahi janji-janji itu bisa nggak🤧, biasanya yang berbau janji, hanya bergeming di perbatasan antara luka dan bahagia
Ema Susanti
cerita ini real bget, terjadi di kehidupanku. sampe aku di ceraikan karena wanita lain yang berstatus janda dan berkedok pula teman kerja.
aa ge _ Andri Author Geje: iya kak.. ini juga kayak gini cerita nya semua karna harta orang bisa lupa
total 1 replies
ceuceu
Bayar bunga doang 2 juta tapi hutang tetep blm kebayar,itulah makanya jgn pinjem rentenir selain dosa besar tap nyekek.
ceuceu
Naura suami pulang kerja jgn ngadu yg bikin hati suami sakit,ademin suami klo pulang kerja,nanti ceritanya klw udah santai.
ceuceu
Naura knp ga jagain ibunya dirumah sakit?
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
ceuceu
kok malam abis penyatuan subuh langsung wudhu?
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja
aa ge _ Andri Author Geje: makasih dah ingetin revisi
total 2 replies
checangel_
Bentar, nggak ada KIS kah?
aa ge _ Andri Author Geje: bisa di bilang kan belum semua nya dapat
total 2 replies
checangel_
No, jangan lebih dari apa pun! Ingat, karena yang lebih hanya milik Allah 😇
checangel_
Gimana tuh nangis dalam diam? 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: pura pura kelilipan lahhh🤣
total 3 replies
checangel_
الله اكبر
checangel_
Begitulah perasaan wanita, jika sudah terluka, walaupun hanya sebatas omongan tetangga/Facepalm/, tapi .... kembali lagi pada pribadi yang kuat dan tentunya cuek aja🤭
checangel_
Komitmenmu harus abadi ya, Mas Zidan 🤝
aa ge _ Andri Author Geje: semoga aja...tapi ya namanya manusia

Indosat (ingat doa saat gelap)
lupa akan prosesnya
total 1 replies
checangel_
Anggap saja kehadiran mereka seperti angin lewat yang tak pernah ada (abaikan jangan diambil pusing perkataan mereka yang tak penting)/Facepalm/
checangel_
Wah, pernikahan islami yang indah 😇, berbeda dengan realita zaman sekarang ...... tahulah seperti apa keadaan latar panggungnya /Facepalm/
checangel_
Biasalah, anggap saja riuh mereka seperti iklan drama lewat (cuek aja, dengarkan lalu hempaskan)/Hey//Facepalm/
checangel_
Yang bener Mas Zidan?/Chuckle/
aa ge _ Andri Author Geje: begitu lah relalita kehidupan nya
total 1 replies
checangel_
Kata hati memang selalu tepat sih, tapi tak semua 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: benar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!