Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Mata Kedalaman yang Terjaga
Lembah Kematian Abadi bukanlah sekadar nama.
Tempat ini adalah sebuah retakan purba di ujung Timur dunia, di mana waktu seolah-olah membeku dan udara terasa begitu berat hingga sanggup meremukkan tulang pendekar biasa.
Di sini, tidak ada kicauan burung atau aliran air; hanya ada kesunyian yang mencekam dan kabut abadi yang beraroma belerang serta energi kuno yang telah tertidur selama ribuan tahun.
Tian Shan melangkah masuk ke jantung lembah tersebut tanpa rasa takut.
Ia tidak lagi mengenakan caping barunya; rambut panjangnya tergerai bebas, menari-nari ditiup angin kencang yang membawa sisa-sisa es dari puncak pegunungan.
Matanya yang kelabu menatap lurus ke arah sebuah gua raksasa yang tertutup oleh segel transparan yang berdenyut pelan.
Di sanalah, menurut catatan Grandmaster Yun, Lentera Pencari Asal disembunyikan di bawah perlindungan entitas yang paling ditakuti dalam sejarah: Naga Kuno Berumur 10.000 Tahun.
Tian Shan berhenti tepat sepuluh langkah di depan gerbang gua.
Ia bisa merasakan detak jantung yang sangat lambat namun masif, sebuah getaran yang membuat tanah di bawah kakinya berguncang pelan.
Sang naga tidak sedang tidur; ia sedang berada dalam keadaan mati suri, menunggu seseorang yang cukup kuat untuk mengusik kedamaiannya.
"Sepuluh ribu tahun adalah waktu yang sangat lama untuk bermimpi." suara Tian Shan bergema di dinding lembah, dingin dan mutlak.
Ia melepaskan tekanan Qi-nya. Bukan secara perlahan, melainkan dalam satu ledakan murni yang membelah kabut abadi di sekitarnya.
Energi berwarna ungu gelap terpancar dari tubuhnya, menghantam segel gua hingga hancur berkeping-keping seperti kaca.
Tekanan ini adalah panggilan resmi dari seorang Pendekar Langit Tahap Puncak kepada penguasa purba.
Tiba-tiba, dari dalam kegelapan gua, sepasang mata raksasa berwarna emas menyala.
Itu bukan sekadar mata; itu adalah dua bola api yang menyimpan memori tentang bagaimana dunia ini diciptakan dan dihancurkan berkali-kali.
ROARRRR!!!
Hembusan nafas panas tersebut membuat sekitarnya berdebu.
Melihat sang naga mulai bergerak, Tian Shan tidak lagi mengandalkan pedang fisik yang biasa ia bawa.
Ia telah melampaui kebutuhan akan logam biasa. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara, menjentikkan jarinya ke ruang kosong di depannya.
SREEEET!
Udara di depannya robek, menampakkan sebuah celah hitam yang memancarkan aura kehampaan yang tak berujung.
Inilah teknik tingkat tinggi yang ia kuasai—Penyimpanan Dimensi.
Dari dalam celah tersebut, ia menarik keluar sebuah pedang yang tidak terbuat dari baja, melainkan dari kristal hitam transparan yang dialiri oleh petir ungu murni.
Pedang itu bergetar hebat di tangannya, mengeluarkan suara dengungan yang menyaingi raungan angin.
Inilah Pedang Pemecah Langit, senjata yang hanya akan muncul saat sang naga benar-benar menunjukkan taringnya.
Naga itu merangkak keluar dari gua. Ukurannya begitu masif hingga menutupi sebagian besar langit di atas lembah.
Sisiknya yang sekeras intan memantulkan cahaya redup dari energi Tian Shan. Sang Naga mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menatap rendah ke arah manusia kecil yang berdiri tegak di bawahnya.
Mereka tidak langsung menyerang.
Di ranah kekuatan seperti ini, pertarungan fisik hanyalah langkah terakhir. Saat ini, mereka sedang bertarung dalam ranah mental.
Mata kelabu Tian Shan bertemu dengan mata emas sang naga.
Sebuah tekanan yang tak terlihat menghancurkan batu-batu besar di sekitar mereka hingga menjadi debu.
Bagi naga itu, Tian Shan adalah anomali—sebuah titik kecil di semesta yang memiliki keberanian untuk menatap balik sang penguasa waktu tanpa berkedip.
Bagi Tian Shan, naga itu adalah cermin dari kekuatannya sendiri: purba, kesepian, dan tak terjangkau.
"Kau menjaga jawaban yang kucari," bisik Tian Shan, meskipun suaranya terdengar seperti guntur di telinga sang naga. "Aku tidak ingin menghancurkanmu, tapi aku tidak akan pergi dengan tangan kosong."
Naga itu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan sebuah hembusan napas yang membawa bara api, sebuah tantangan bisu bahwa untuk mendapatkan Lentera Pencari Asal, Tian Shan harus membuktikan bahwa ia layak untuk memegang kebenaran yang menyakitkan.
Keduanya tetap membeku dalam posisi saling tatap, di mana sedetik terasa seperti seribu tahun.
Inilah awal dari badai yang akan meruntuhkan Lembah Kematian Abadi selamanya.