Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.
Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.
Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5
Makam Dewa Kuno - Aula Harta Bawah.
Kabut hitam yang keluar dari Pilar Kristal itu memadat, membentuk wujud seorang pria tua bungkuk dengan jubah compang-camping zaman dahulu. Matanya hijau menyala, tanpa pupil, menatap kelompok Shen Yu dengan tatapan merendahkan.
Ini adalah Roh Penjaga (Guardian Spirit), sisa jiwa dari pelayan Dewa pemilik makam ini.
Shen Yu tidak banyak bicara. Dia menjentikkan jarinya. Sebilah Pedang Qi Ungu melesat dari ujung jarinya, berniat memenggal leher hantu itu.
WUSH!
Pedang Qi itu menembus tubuh hantu tersebut tanpa melukainya sedikit pun, lalu menghantam dinding di belakangnya.
"Sia-sia," kekeh hantu itu, suaranya seperti gesekan dua batu nisan. "Di dalam Aula ini, aku dilindungi oleh Hukum Makam. Serangan fisik, serangan jiwa, serangan elemen... semuanya tidak berguna. Aku adalah 'Aturan' di sini."
Hantu itu melayang mendekati Shen Yu, wajahnya hanya berjarak satu jengkal.
"Kalian menginginkan Tulang Lengan Naga Perang ini? Kalian harus mengikuti permainanku. Jawab teka-teki masa lalu ini. Jika benar, segel terbuka. Jika salah... jiwa kalian akan kujadikan lampu minyak."
Shen Yu menatap hantu itu datar. "Katakan."
Hantu itu menyeringai lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam.
"Sepuluh ribu tahun lalu, Tuan Makam ini Dewa Tombak Langit gugur dalam Perang Besar. Dia tidak mati oleh tangan sesama Dewa, bukan pula oleh bencana alam."
"Pertanyaannya: Apa satu-satunya hal yang ditakuti Langit, namun tidak bisa dimusnahkan oleh Langit? Ia tidak memiliki jantung, namun berdetak. Ia tidak memiliki wujud, namun melahap segala wujud."
Hening.
Ye Qing dan Su Ling mengerutkan kening. Itu teka-teki yang sangat sulit.
Namun, mata Shen Yu sedikit menyipit. Jantung Iblis di dalam dadanya berdesir pelan mendengar pertanyaan itu.
"Dewa Tombak Langit..." Shen Yu berbicara perlahan. "Dia mati karena mencoba menyegel Pecahan Ketiadaan (Void Fragment), bukan?"
Hantu itu terlonjak kaget. "Kau... Kau tahu sejarah yang dihapus itu?"
Shen Yu melangkah maju, memaksa hantu itu mundur.
"Yang ditakuti Langit adalah Ketiadaan (The Void). Karena Langit adalah 'Keberadaan', dan Ketiadaan adalah antitesisnya. Ia tidak bisa dimusnahkan karena kau tidak bisa membunuh sesuatu yang 'tidak ada'."
Hantu itu gemetar. "Benar... Jawabannya benar! Tuanku mati karena terinfeksi oleh Qi Ketiadaan saat perang melawan Raja Iblis Asura!"
"Bagus," hantu itu tersenyum licik. "Kau cerdas. Tapi... aku berubah pikiran. Jawabanmu terlalu cepat. Aku ingin satu teka-teki la—"
Belum sempat hantu itu menyelesaikan kalimatnya, tangan Shen Yu sudah bergerak.
"Aku sudah menjawab," kata Shen Yu dingin. "Kesepakatan selesai."
"Kau tidak bisa menyentuhku! Hukum Makam melindungiku!" teriak hantu itu sombong.
Shen Yu tersenyum. Senyum yang mengerikan.
"Kau bertanya tentang sesuatu yang melahap segala wujud, bukan?"
Shen Yu meletakkan telapak tangannya di dada sendiri.
"Jawabannya... Adalah Aku."
DUG.
Jantung Iblis di dada Shen Yu berdetak satu kali.
Aura ungu-hitam meledak keluar. Bukan Qi biasa. Itu adalah Qi Ketiadaan.
Seketika itu juga, rune-rune emas di dinding ruangan yang membentuk "Hukum Makam" retak dan memudar. Di hadapan Ketiadaan, hukum dan aturan menjadi tidak berguna. Aturan makam dibatalkan secara paksa di radius sepuluh tombak.
Hantu itu tiba-tiba merasa tubuh spiritualnya menjadi berat dan nyata. Perlindungannya hilang.
"Ti-Tidak mungkin... Kau..." Hantu itu menatap Shen Yu dengan ketakutan murni. "Kau... Pewaris Bencana itu?!"
"Mo Yuan," panggil Shen Yu. "Makan malam."
Cincin di jari Shen Yu bersinar hitam.
ROAAAARRRR!
Kepala naga raksasa bersisik hitam legam, dengan mata merah menyala dan tanduk bengkok, muncul dari dalam cincin. Ini adalah Mo Yuan, Naga Iblis Shen Yu yang kini telah tumbuh setara Nascent Soul Puncak.
Mo Yuan membuka rahangnya yang penuh gigi setajam pedang, dan dalam satu gerakan cepat...
NYAM.
Dia menelan hantu tua itu bulat-bulat.
"TIDAK! JANGAN MAKAN AKU! AKU ROH ABADIII... Aaaargh..."
Suara teriakan hantu itu teredam di dalam tenggorokan Mo Yuan, lalu hilang selamanya saat naga itu menelannya masuk ke perut.
BURP.
Mo Yuan bersendawa, mengeluarkan asap hitam. Dia mengecilkan kepalanya dan menggosokkan pipinya ke tangan Shen Yu, manja seperti kucing.
"Anak pintar," Shen Yu mengelus sisik dingin Mo Yuan, lalu masuk kembali ke cincin.
Tanpa penjaga, Pilar Kristal itu kehilangan cahayanya. Segelnya pecah.
Shen Yu menoleh pada Long Tu yang terpaku melihat kekejaman tuannya.
"Long Tu. Ambil tulang itu."
Long Tu mengangguk, menelan ludah. Dia melangkah maju, menghancurkan kaca kristal dengan tangannya, dan mencengkeram Tulang Lengan Naga Perang itu.
"Sakit sedikit," peringat Shen Yu.
"Aku... tahan," geram Long Tu.
ZIIING!
Saat kulit Long Tu menyentuh tulang itu, energi emas purba meledak, merayap naik ke lengan Long Tu seperti api cair.
"GRAAAAAAAGHHH!!"
Long Tu meraung kesakitan. Tulang lengannya sendiri hancur lebur di dalam daging, lalu dibangun ulang oleh energi tulang leluhur itu. Sisik abu-abunya rontok, digantikan oleh sisik baru berwarna Hitam Keemasan.
Otot-ototnya membesar. Tanduk di kepalanya tumbuh bercabang, membuatnya terlihat lebih agung dan buas.
Aura kultivasinya melonjak liar. Nascent Soul Awal... Nascent Soul Menengah.
Satu jam kemudian, raungan Long Tu berhenti.
Dia berlutut, napasnya memburu. Lengan kanannya kini tampak sedikit lebih besar, tertutup sisik emas hitam yang memancarkan tekanan tirani.
"Selamat," kata Shen Yu. "Kau sekarang memiliki Lengan Naga Perang. Satu pukulanmu bisa meratakan gunung kecil."
Long Tu bangkit, mengepalkan tangan barunya. Udara di genggamannya meletup. Dia membungkuk dalam pada Shen Yu.
"Terima kasih... Tuan."
"Jangan berterima kasih dulu," potong Su Ling.
Gadis bermata iblis itu menunjuk ke langit-langit gua. Debu mulai berjatuhan.
DUM... DUM... DUM...
Suara ledakan dan benturan senjata terdengar dari lantai atas.
"Tiga Sekte Besar sudah masuk lewat pintu depan," kata Su Ling. "Dan sepertinya mereka sedang bertarung memperebutkan jalan masuk ke Aula Tengah."
Shen Yu merapikan jubahnya.
"Bagus. Mereka membuka jalan dan memicu jebakan untuk kita."
"Ayo naik. Saatnya mengambil bagian terbesar dari kue ini."
Mereka meninggalkan ruang harta bawah yang telah kosong, menaiki tangga spiral rahasia menuju jantung konflik di Makam Dewa.
10 bab sehari kek pelit bener