NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:292.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Di sebuah rumah sederhana namun hangat di tengah Pondok Pesantren Al Falah yang oleh para santri biasa disebut ndalem lampu ruang tamu masih menyala temaram.

Aroma teh hangat dan kayu tua bercampur dengan kesunyian malam yang kian larut.

“Umi, Mas ke mana? Kok nggak ada di rumah?” tanya seorang gadis berwajah teduh dengan khimar krem yang menjuntai anggun.

Namanya Fatimah. Ia menghampiri ibunya yang sedang melipat mukena di kursi kayu.

“Tadi Masmu pamit mau ke rumah Kyai Abdul,” jawab Anisa lembut, tanpa mengangkat wajah. “Tapi Umi juga heran, sudah malam begini belum pulang.”

Fatimah mengerutkan kening. “Mas ke sana ngapain, Umi? Jangan-jangan… Mas Hanan mau nerima ta’aruf itu?”

Anisa terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. “Umi nggak tahu, Nduk. Masmu itu susah ditebak. Doanya panjang, tapi lisannya pendek.”

Fatimah tersenyum tipis, lalu duduk di bangku panjang di depan ibunya. “Kalau Abi ke mana? Tumben jam segini belum pulang.”

“Abi masih ada tamu di masjid. Dari ba’da isya tadi. InsyaAllah sebentar lagi pulang.”

Percakapan mereka terhenti ketika suara mobil berhenti tepat di depan rumah. Suaranya pelan, seolah sengaja tak ingin menarik perhatian.

Fatimah bangkit. “Umi… ada tamu jam segini?”

Anisa ikut berdiri. “Umi juga nggak tahu, Sayang.”

“Ayo, kita lihat.”

Pintu kayu dibuka perlahan. Angin malam langsung menyusup, membawa aroma tanah basah. Dan saat itulah, mata Fatimah dan Anisa membelalak bersamaan.

“Assalamualaikum!” ucap Hanan, suaranya sedikit tertahan oleh napas yang masih belum sepenuhnya tenang.

“Waalaikumsalam,” jawab Anisa dan Fatimah hampir bersamaan.

Fatimah yang berdiri paling dekat dengan pintu langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya tertuju pada sosok perempuan yang digendong kakaknya, terbungkus sarung cokelat milik Hanan.

“Mas… itu siapa?” tanya Fatim dengan dahi berkerut.

Hanan melangkah masuk, berhenti tepat di tengah ruangan. “Mas nggak tahu, Fatim. Tadi ketemu di pinggir jalan. Dia dirampok… terus pingsan.”

“Astaghfirullah…” Anisa refleks menutup mulutnya. “Ya Allah, kasihan sekali. Ayo, Mas, letakkan di sofa dulu.”

Hanan terdiam sejenak. Pandangannya beralih pada wajah Kayla yang masih pucat, napasnya belum teratur. Ia ragu.

“Maaf, Umi,” ucapnya hati-hati. “Bisa… di kamar Fatimah saja?”

Fatimah menoleh cepat. “Kenapa, Mas?”

Hanan menghela napas pendek. “Pinjam kamar kamu sebentar ya, Dek. Kalian sama-sama perempuan.”

Fatimah menatap wajah kakaknya yang terlihat sungguh-sungguh. Tak banyak bertanya lagi, ia mengangguk.

“Ah ya sudah. Ayo, Mas.”

Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, Hanan membawa Kayla menuju kamar Fatimah. Ia menurunkannya di atas kasur, mengatur posisi tubuh perempuan itu agar nyaman.

Setelah memastikan Kayla benar-benar terbaring dengan aman, Hanan segera menjauh.

“Tapi…” Fatimah menahan langkah kakaknya. “Kenapa pakai sarung Mas Hanan?”

Hanan tidak langsung menjawab. Ia menunduk, lalu berkata pelan, “Umi, Fatim… tolong ya. Hanan tunggu di luar.”

Tanpa menunggu respons, Hanan melangkah keluar kamar dan menutup pintu dengan hati-hati. Ia berdiri di luar, menarik napas panjang, seolah baru sekarang merasakan betapa berat kejadian malam ini.

Di dalam kamar, Anisa dan Fatimah saling pandang.

“Kenapa ya?” gumam Fatimah bingung.

Anisa mendekat ke kasur, tangannya perlahan membuka sarung yang membungkus tubuh Kayla. Saat kain itu tersingkap, keduanya terdiam bersamaan.

“MasyaAllah…” desah Anisa lirih.

“Astaghfirullah…” Fatimah refleks memalingkan wajah, lalu menatap lagi dengan mata membulat.

Perempuan itu ternyata mengenakan hotpants pendek dan tanktop putih yang ditutup kardigan tipis. Kulitnya terlihat pucat, kontras dengan rambut panjangnya yang tergerai, berwarna ombre ungu terang yang mencolok di antara nuansa kamar pesantren yang sederhana.

Fatimah mengangkat alis, lalu terkekeh kecil.

“Pantes aja Mas Hanan rela ngasih sarungnya buat ngebungkus dia. Ternyata… sangat menggoda ya, Mi.”

“Hush,” Anisa menegur sambil tersenyum kecil dan menggelengkan kepala. “Mulut kamu itu, loh.”

Namun Anisa paham. Kini semuanya terasa masuk akal.

Jika perempuan itu dibaringkan di sofa ruang tamu, tak lama lagi Abi pasti pulang dari masjid. Dan penampilan Kayla yang sama sekali tidak menutup aurat tentu akan menjadi pemandangan yang tak pantas dilihat oleh laki-laki ajnabi, apalagi di lingkungan pesantren.

Anisa merapikan posisi kardigan Kayla agar lebih tertutup, lalu menarik selimut tipis dan menyelimutinya hingga dada.

“Kasihan…” ucapnya pelan. “Pasti dia ketakutan sekali.”

Fatimah mengangguk, menatap wajah Kayla yang kini terlihat lebih tenang meski masih pucat.

“Mas Hanan bener ya, Mi. Diam-diam… perhatiannya besar.”

Anisa tersenyum samar. Di benaknya terlintas banyak hal, tentang takdir, tentang pertemuan yang tak direncanakan, dan tentang bagaimana Allah sering mempertemukan manusia dengan cara yang tak terduga.

Sementara itu, di luar kamar, Hanan masih berdiri dengan kepala tertunduk. Tangannya terlipat di depan dada, bibirnya komat-kamit melafalkan istighfar.

Ia tak tahu siapa perempuan itu. Tak tahu dari mana datangnya. Namun malam ini, satu hal pasti ada kisah yang baru saja dimulai, tanpa ia sadari.

**

“Eugghhhh…”

Suara lirih itu membuat Fatimah yang sejak tadi duduk di kursi belajar langsung bangkit. Ia mendekat ke arah kasur, melihat perempuan yang tadi terbaring tak sadarkan diri kini mulai bergerak.

“Mbak… sudah bangun?” tanya Fatimah pelan, takut suaranya terlalu keras.

Kelopak mata Kayla terbuka perlahan. Pandangannya masih kabur, kepalanya terasa berat seperti dipukul. Ia mencoba bangun dan duduk, namun tubuhnya sedikit oleng.

“Hati-hati, Mbak,” Fatimah refleks menahan bahunya.

“Makasih…” suara Kayla terdengar lemah.

“Sama-sama, Mbak. Gimana? Masih pusing?”

Kayla menggeleng pelan, meski nyatanya kepalanya masih terasa berdenyut. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Ruangan itu sederhana, rapi, dengan rak kitab di sudut dan sajadah tergantung di balik pintu.

“Nama Mbak siapa?” tanya Fatimah lembut.

“Kayla,” jawabnya lirih. “Nama aku Kayla.” Ia terdiam sebentar, lalu menatap Fatimah bingung. “Kamu siapa? Dan… aku di mana?”

“Aku Fatim, Mbak. Kamu di rumah kami.”

Kayla mengangguk kecil. “Makasih…”

Fatimah tersenyum tipis. “Mbak, ini udah malam banget. Mbak tidur di sini aja. Besok pagi baru pulang.”

“Tapi—” Kayla menghentikan ucapannya, lalu refleks menoleh ke kanan kiri. “HP-ku?”

“Oh, ini,” Fatimah mengambil tas kecil yang sejak tadi diletakkan di meja. Ia menyerahkan tas itu pada Kayla. “Isinya uang sama ponsel Mbak. Aman kok.”

Kayla membuka tas itu, napasnya terasa sedikit lega ketika melihat ponselnya masih ada. Namun begitu layar menyala, ia mengerutkan kening.

“Eemm… maaf,” ucapnya ragu. “Di sini ada WiFi nggak?”

Fatimah menggeleng. “Nggak ada. Tapi aku bisa kasih hotspot. Sebentar ya.”

Fatimah segera mengeluarkan ponselnya dan menyalakan tethering data. Tak lama setelah Kayla tersambung, layar ponselnya langsung dipenuhi notifikasi. Pesan dan panggilan tak terjawab masuk bertubi-tubi.

Dada Kayla terasa sesak. Ia menghela napas panjang, lalu menekan nama yang paling ia ingat saat ini.

“Halo, Om…”

“Ya Allah, Kay!” suara Arman terdengar panik dari seberang sana. “Kamu ke mana aja sih? Dari tadi Om telepon nggak bisa. Chat nggak dibalas. Kamu ke mana?!”

Air mata Kayla langsung menggenang. “Om… tadi Kayla dirampok…Hiks… hiks…”

____

...Update selow ya sayang 🙈 karena ini gak akan panjang bab nya. Jadi sehari se bab 🤭🙈🤣 nanti kalau malem jumat, mommy spesial 2 bab 🤣...

1
Rahmi Miraie
hati"dijalan fatim kmu berhak buat bahagia,kalau dgn menjauh dr arfin itu membuatmu bahagia lakukanlah
hmmm arash kecil"udah bisa bikin aunty mikir ya,,bia siapa ya🤭
Ita rahmawati
arfiiiiiinnnn 🙄
kata² mu dulu seblm mengkhitbah fatim yg bilang ingin berproses bersama lah BLA BLA BLA kyk singkong rebus enak diawal Doang akhirnya bikin seret 😏
Syti Sarah
udh biarkn saja arfin.biarkn dulu dia merasa khilngan kamu fatim
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
Y dh ia Fatim,,mending pulang ke pondok aja,,,buat nenangin diri,,
biarkan aja si Arfin,,,tinggal aja😁😁😁
Eva Karmita
pergilah Fatim kamu memang butuh waktu ketenangan sendiri tidak perlu memikirkan si Arfin biarkan saja dia berada di dunianya dan kamu perlu memikirkan kewarasan drimu... semoga selamat sampai tujuan Fatim Arash
dyah EkaPratiwi
😭😭😭 peluk fatim, fiks arfin jahat
Nar Sih
semoga kepulangan mu ke pondok bisa megobati luka yg di toreh lan arfin untuk mu ya fatim ,dan semoga kmu sama arash selamat smpai tujuan
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Arash udah tahu kasih bunga sama cewek🥰🥰🥰
Dra. S
jadi ceritanya nih, fatimah dan arash berdua naik mobil ke surabaya.?? yang benar aja dong mom? 🤔
tapi semoga aja mereka baik-baik aja yah mom, jangan aneh-aneh 😏
diah nursanti: rasain km arfin ditinggal fatim pulkam,nanti pasti ada alasan lagi gak bisa nyusul
total 2 replies
🍎billaacha90🍎
sabar ya Fatimah, biarkan Arfin perang batin dengan hatinya, semoga kesabaran mu dibalas dengan kebahagiaan yang luar biasa nantinya... aku yakin ini kak Author tidak akan membiarkan Fatimah menderita batin terus😭😭
🍎billaacha90🍎
selamat ya Arfin kamu sudah ingkar janji
🍎billaacha90🍎
sungguh teganya😭😭
Rosy
keluarkan semuanya mom..aku sudah siapin timun biar nggak darting sama kelakuan Arfin yg di luar prediksi BMKG 🤣🤣🤣
Rosy
jangan sampai terulang lagi Fatim..sebagai seorang istri harusnya kamu tidak perlu menuntut kepada suami karena itu kewajiban seorang suami memberikan nafkah..bukan cuma nafkah lahir tapi juga nafkah batin..kamu sudah pernah mencoba dan itu sudah cukup..jangan merendahkan diri kamu lagi di depan Arfin..cukup kamu melakukan tugas seperti biasa dan kali ini jangan menggunakan hati
Rosy
kamu bukannya nggak punya kekuatan Fin..tapi kamunya yg nggak ada niat..jadi laki2 gak usah plin plan..kalau kamu pilih Zivana ceraikan Fatimah,begitupun sebaliknya..nggak usah pake alasan Fatimah terlalu suci dan kamu penuh dosa..tidak ada manusia yg sempurna..semakin kamu plin plan,kamu semakin terlihat bringsik dari papa kamu yg menelantarkan Kayla dulu
Rosy
astaghfirullah..sudah setahun loh..kok belum pernah di sentuh sih..si arfin niat nikah cari istri atau cuma nyari babu untuk jagain Arash dong heh..semprul tenan kamu Fin 😤
Nurul Fajriyah
pokok ny fatim hrus kasi pelajaran sma arfin pokok nya
Ainal Fitri
💔💔💔💔💔💔
😭😭😭😭😭😭
sabar bnyak nyak ya fatim kamu dbutuhkan hnya untuk Arashi maka jd lah sperti yg inginkan oleh arfin. biarkan ia larut dengan dunia nya maka kamu pun sibukan diri dengan niat mu. biarkan takdir yg menyelesaikan semua nya 😓😓😓
Yanti Gunawan
Klo mau d buat cerai please buat fatim tetap perawan thor...
Yanti Gunawan: yuhuuui🤣 biar gk rugi" amat thor🤣🤣
total 2 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!