"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 30
Dua hari telah berlalu sejak insiden pelabrakan itu, namun bagi Keyla, waktu seolah berhenti di detik saat Sofia meludahi harga dirinya. Kamar yang dulunya penuh dengan tawa dan poster idola kini terasa seperti sel isolasi. Di atas meja belajarnya, sebuah koper besar sudah terbuka, namun isinya bukan lagi buku-buku kuliah, melainkan pakaian dan dokumen-dokumen penting.
Keyla terdiam menatap paspornya. Sementara Baskoro duduk di sampingnya, memegang dua lembar tiket pesawat sekali jalan menuju Seoul.
"Kamu yakin dengan keputusan ini, Nak?" tanya Baskoro. "Korea itu jauh. Kakakmu Sarah memang ada di sana, tapi hidup di negeri orang tidak akan mudah."
Keyla mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari koper. "Keyla nggak punya pilihan, Pa. Setiap kali Keyla tutup mata, Keyla denger suara orang-orang di kampus. Setiap kali Keyla buka ponsel, wajah Tante Sofia muncul. Kalau Keyla tetep di sini, Keyla bakal gila. Dan Papa... Papa bakal terus dihina karena punya anak seperti aku."
"Arlan terus-menerus menelepon Papa. Dia bahkan menunggu di depan pagar semalaman. Dia benar-benar terlihat hancur, Key."
Mendengar nama itu, jantung Keyla terasa seperti diremas. "Justru karena itu Keyla harus pergi. Om Arlan itu ibarat matahari, Pa. Sedangkan aku cuma lilin kecil yang bakal mati kalau kena angin. Selama aku di samping dia, Tante Sofia nggak akan berhenti nyerang kita. Aku mau Om Arlan bebas, dan aku mau Papa tenang."
"Lalu kapan kamu akan berangkat?"
"Besok pagi, jam empat subuh. Sebelum Om Arlan atau anak buahnya datang menjaga rumah ini. Keyla juga udah kirim email pengunduran diri ke kampus. Semuanya udah selesai, Pa." jawab Keyla.
Malam itu menjadi malam terakhir Keyla di tanah air. Di tengah kesunyian, ia menyalakan ponselnya untuk terakhir kali. Layarnya seketika dibanjiri oleh ratusan notifikasi. Panggilan dari Arlan, pesan suara yang penuh keputusasaan, hingga pesan singkat yang memohon agar Keyla memberinya satu kesempatan lagi.
Keyla mendengarkan salah satu pesan suara terakhir Arlan.
"Key... tolong. Jangan hukum aku atas kesalahan Ibuku. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kita pindah ke apartemen baru, aku akan tuntut semua orang yang menyebarkan video itu. Tolong jangan seperti ini, Key..."*
Setengah memdengar isi pesan suara dari Arlan, dengan cepat Keyla membalasnya dengan mengirimkan pesan singkat untuk Arlan.
Keyla: Om, kita selesai. Jangan cari aku lagi. Tante Sofia benar, aku hanya anak kecil yang haus kemewahan. Dan sekarang, setelah namaku hancur, kemewahanmu tidak lagi sebanding dengan rasa maluku. Aku sudah menemukan orang lain yang lebih sepadan denganku, yang tidak punya ibu seperti ibumu. Terima kasih untuk semuanya, tapi tolong, anggap aku sudah mati.
Setelah mengirimkan pesan itu, Keyla langsung mematikan ponselnya, mencabut kartu SIM-nya, dan mematahkannya menjadi dua.
Ke esokan harinya, Pukul 03.30 pagi, sebuah taksi online sudah menunggu di depan rumah. Keyla keluar dengan jaket tebal dan topi yang menutupi wajahnya, dan Baskoro membantu memasukkan koper ke bagasi.
Sejenak, Keyla menatap rumahnya untuk terakhir kali, lalu pandangannya beralih ke ujung jalan—tempat biasanya mobil Arlan terparkir.
"Ayo, Nak. Kita harus sampai sebelum bandara ramai," ajak Baskoro.
Di dalam taksi, Keyla hanya menatap ke luar jendela. Jakarta yang mulai menyambut fajar tampak asing baginya. Saat mobil melewati jalan tol menuju Bandara Soekarno-Hatta, Keyla merasa separuh nyawanya tertinggal di kota ini.
Sesampainya di terminal keberangkatan internasional, Baskoro memeluk putrinya dengan erat. "Kabari Papa begitu sampai. Sarah akan menjemputmu di Incheon."
"Papa jaga diri ya. Keyla janji akan belajar baik-baik di sana," ucap Keyla sambil mencium tangan ayahnya.
Keyla melangkah masuk ke area imigrasi. Ia tidak menoleh lagi. Setiap langkah menjauh dari gerbang terasa seperti mencabut akar yang tertanam di hatinya. Saat ia duduk di ruang tunggu, ia melihat berita di televisi bandara sekilas—berita tentang CEO Dirgantara Group yang dikabarkan sedang mengalami konflik internal dengan dewan komisaris.
"Maafin aku, Om. Jadilah hebat tanpa aku. Aku akan mencoba bernapas di tempat yang tidak ada kamu di dalamnya."