Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
saatnya menggatal
Elena berjalan dengan anggun menuju ruang kerja Ayahnya. Dia merasa kesal, karena setiap hari selalu ada banyak gadis bangsawan datang untuk menemui Ayahnya.
Saat melewati sebuah air mancur di taman, Elena buru-buru menjalan mendekat. Dia meminta Merida untuk pergi mengintip ruang kerja lebih dulu, Elena harus menemukan senjata ampuh untuk mengusir mereka.
"Bumi, buat harimau putih ini menjadi hidup dan patuh padaku." Batin Elena.
Grrrwwwww
Grawwwwwww
"Hohoho bagus, Macan kau memiliki pekerjaan." Ucap Elena mengelus kepala harimau, tanpa takut.
Elena bejalan bersama harimau, pada pengawal langsung waspada tapi Elena menegaskan jika Macan ini temannya. Elena pergi menemui Merida, Merida sudah gemetaran nyaris ngompol.
"Tenanglah, ini namanya Macan. Dia teman kita, setelah ini bantu aku memberinya makan ya." Ucap Elena tersenyum psikopat.
"N-nona." Cicit Merida ketakutan.
"Dia tidak memakan orang yang setia padaku." Ujar Elena.
"Nah macan, cepat dobrak pintu besar itu dan lindungi Ayahku. Lindungi Ayahku dari wanita gatal, jangan sampai wanita itu merayu Ayahku." Ucap Elena.
Grwaarrrrrwww
drap
drap
BRAAKKKKM
Kyaaaaaaaaaaaaaa
Suara keributan terjadi, Macan putih itu mendobrak pintu dan masuk mengikuti perintah Elena. Wanita yang berada di dalam berteriak ketakutan, sedangkan Duke menarik pedangnya terkejut.
"Ayah~~ perkenalkan dia temanku, namanya Macan~." Ucap Elena riang, mengedipkan satu matanya.
Duke mengerti kode Elena dan langsung tersenyum tidak habis pikir, siapa sangka putrinya akan membawa hewan buas untuk menjaga Ayahnya dari godaan kucing garong.
"Ohh apa dia makanan yang Ayah siapkan untuk macan?." Elena menoleh pada gadis bangsawan yang sudah gemetaran.
"T-tidak... aku... aku calon pengantin Duke." Ucapnya takut.
"Apa?!! ternyata benar kau makanan Macan? yasudah MAKAN DIA!!." Teriak Elena kejam.
Akkkhhhhhhhhh
Gadis bangsawan itu langsung berlari tunggang langgang, dia ketakutan dan tidak akan berani masuk lagi ke mansion Duke. Rumor langsung menyebar, dan Kakek datang untuk menghukum Elena yang sudah membuat onar.
"JANGAN MENGGANGGUKU URUSANKU, ATAU AKU BUNUH BINATANG MENJIJIKAN ITU." Bentak Kakek.
"Dasar penipu." Sarkas Elena.
"Apa katamu!!!." Kakek naik pitam.
"Berhenti mengekang Ayahku. Kau pasti sengaja menyuruh Ayah menikah supaya bisa menjeratnya kan? biarkan Ayahku hidup dengan tenang." Ucap Elena.
PLAAKKKKKKK
"AYAAHHH!!!."
Satu tamparan keras mendarat di pipi Elena, bibir Elena pecah dan pipinya bengkak. Elena merasakan sakit luar biasa, tapi dia tersenyum miris. Yakin sudah jika Kakeknya memang sebenci itu padanya.
Duke yang melihat itu merasa geram, dia hendak membela Elena tapi Elena mengangkat tangannya. Elena harus bisa melawan sendiri agar tidak di sepelekan.
"Pftttt Hahahhahahahaaa, pria tua bau tanah yang menyebalkan." Tatapan Elena berubah tajam menakutkan.
"Kau.... harusnya mati saja dengan tenang." Ucap Kakek penuh emosi.
"Sayang sekali aku hidup dengan sangat baik. Pasti karena pesuruh Kakek itu berkhianat ya? bukannya membawaku ke gereja, justru ke pasti asuhan pelosok." Ucap Elena tertawa mengejek.
"Bicara apa kau jalang." Marah Kakek, panik.
"Bekas luka di punggung atasku ini. Aku dapatkan sejak aku hilang, menurut Kakek siapa yang melakukan nya?." Ucap Elena dengan polos.
"Mana ku tau." Sungut Kakek.
"Pfttt Ahahahahhaah, mana mungkin Kakek melupakan itu kan? Bukannya Kakek sendiri yang melakukannya?." Ucap Elena, dia hanya menebak saja.
"BOCAH GILA!!! APA KAU BERPIKIR GABRIEL AKAN PERCAYA DENGAN OMONG KOSONG JALANG SEPERTIMU!!!!!. UNTUK APA AKU MELAKUKAN ITU PADA ANAK TIDAK BERGUNA SEPERTIMU." Bentak Kakek, marah besar.
"Tentu saja alasannya hanya Kakek yang tau. Tunggu sampai Kaisar tau semuanya, sampai kebusukan Kakek terkuak. Sampai saat dimana Kakek hancur memohon, saat itu lah aku yang akan tertawa paling keras." Ucap Elena tersenyum psikopat.
"Hentikan, kau bahkan sampai berani melukai Elena. Cukup sampai di sini saja ikatan darah kita, pergil lah. Mulai detik ini aku tidak lagi memiliki Ayah, aku yatim piatu dan keluargaku satu-satunya adalah Elena." Ucap Duke tegas.
"Anak durhaka!! kau pikir tanpaku kau bisa menjadi Duke?!!." Bentak Kakek emosi.
"Menyesal tidak ada guna, Ducy sudah menjadi milikku secara SAH. Tenang saja, bukan hanya memutus ikatan darah denganmu tapi aku juga akan memutus ikatan darah dengan anak para selir mu itu." Ucap Duke.
"BAJINGAN!!!." Kakek hendak menghajar Duke.
BUGHHHHH
dubraakkkkk
"Sudah lama... sudah sangat lama aku menahan semua ini brengsek. Ikatan anak dan Ayah yang menjijikan, kau selalu saja seenaknya. Berharap anak harammu itu bisa mendapatkan harta dariku? jangan harap, dalam mimpi pun tidak akan aku berikan." Ucap Duke, memukul wajah Kakek hingga tersungkur.
"Pengawal!! kembalikan pria tua itu ke rumahnya, tutup semu akses masuk bagi nya dan mulai detik ini Ducy tidak menerima kedatangan nya lagi." Ucap Duke tegas.
"Aku akan membalasmu, Gabriel." Lirih Kakek, menatap penuh amarah pada Duke.
Duke hanya diam mematung, dia telah melompat dari batasan yang selama ini mengurungnya. Entah kenapa hatinya jadi lega, dia harus berani bertaruh agar putrinya hidup bahagia dan dia tidak akan menyesal lagi.
"A-ayah." Elena bahkan sampai syok.
"Tidak apa-apa Elena. Setelah ini Ayah tidak akan diam lagi, Ayah akan melindungi mu sekuat tenaga bahkan dari orang dalam sekalipun." Ucap Duke.
"Kalau begitu sudah saatnya Ayah membersihkan rumah." Ucap Elena memberi kode.
"Ya, Ayah akan segera memberishkan semua serangga yang menempel di tembok rumah kita." Duke tersenyum hangat.
Elena tersenyum, dia memeluk Ayahnya bersyukur. Dunia sekejam ini, untuk saja ada Ayah yang begitu berani dan hebat di sisinya. Elena berani melangkah maju, karena selama ada Ayah maka hidupnya akan baik-baik saja.
"Aku bersyukur lahir menjadi putrimu, Ayah." Bisik Elena, sangat bersyukur.
"Ayah juga sangat berterimakasih karena kau lahir di dunia ini, Elena." Duke mengelus rambut Elena sayang.
Elena kembali ke kamarnya saat Duke telah kembali mode tirani membersihkan semua mata-mata. Mengganti semua pasukan, karena selama ini Duke sudah menyimpan kekuatan rahasia miliknya sendiri.
Elena juga tidak tinggal diam, dia harus segera melanjutkan rencana. Restu dari Ayahnya sudah di dapat, maka tinggal Elena sedikit menggatal agar Theor berada di genggaman tangannya.
"Theor, aku dalam masalah besar. Jika kau memiliki waktu datanglah ke kamarku, aku benar-benar ketakutan." Elena bicara sambil menggenggam liontin.
Mengirimkan telepati pada Theor, dia ingin Theor datang dan kali ini Elena akan menggodanya. Sudah selesai permainan tarik ulur, kali ini Elena akan menjerat Theor dalan genggaman nya.
Tidak berselang lama liontin Elena mengeluarkan cahaya merah dan bergetar. Elena menyentuh liontin itu dan suara Theor terdengar di kepalanya, Elena langsung berdebar dengan wajah memerah.
"Aku akan datang dalam 20 menit, Elena." Suara Theor yang menggoda.
Elena langsung buru-buru mandi dan memakai gaun tidur tipis, dia tidak memakai riasan wajah agar bekas tamparan sang Kakek dan luka di sudut bibirnya terlihat.
Elena menyemprotkan parfum ke matanya agar perih, sangat perih sampai iritasi dan memerah sekali. Tapi berkat itu Elena menangis sungguhan, entah karena terlalu pintar atau gila.
kami tunggu karya selanjutnya💪💪💪💪
terbaik thor 😍
tetap semangat, semoga cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala.
utamakan kesehatan 🥰
biar bisa berkarya lagi😍