NovelToon NovelToon
Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad girl / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.

Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.

Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.

Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kompetensi dan Intimidasi Diam

Matahari sore Aeryon City memantul tajam pada bodi mobil supercar berwarna merah menyala yang terparkir tepat di depan lobi utama gedung Fakultas Hukum. Jasen berdiri di samping kendaraan mewah itu, tangannya bertumpu pada atap mobil yang rendah dengan gaya yang sangat teatrikal. Ia sengaja menunggu momen di mana kelas berakhir dan para mahasiswa mulai berhamburan keluar, ingin memastikan semua mata tertuju padanya—dan tentu saja, pada tujuannya: Seraphina Aeru.

Sera muncul di pintu lobi, mengenakan kacamata hitam berbingkai besar, diikuti oleh Dareen yang berjalan dalam diam di belakangnya. Jasen menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

"Sera! Lihat ini," Jasen menepuk bodi mobilnya dengan bangga. "Baru tiba dari Italia kemarin. Mesin V12, 800 tenaga kuda. Aku pikir, putri secantik kau tidak seharusnya terus-menerus naik sedan hitam membosankan milik kakakmu itu."

Sera melepas kacamatanya, menatap mobil itu dengan kerlingan mata yang sulit diartikan. "Mobil yang manis, Jasen."

"Bukan cuma manis, Sera. Ini adalah kebebasan," Jasen melirik Dareen dengan tatapan merendahkan, ujung bibirnya terangkat mengejek. "Ayo, ikut aku. Kita akan berkendara ke garis pantai, menikmati angin laut. Tapi, kurasa mobil ini hanya punya dua kursi."

Jasen tertawa kecil, menatap Dareen langsung ke matanya. "Biarkan pengawalmu ini mengikuti dengan mobil bututnya di belakang, Sera. Kita butuh privasi. Lagipula, mobil seperti ini bukan tempat untuk ... pelayan."

Sera bisa merasakan atmosfer di sekitarnya mendadak menjadi sangat dingin. Ia melirik Dareen dari sudut matanya. Namun, alih-alih meledak marah atau menyerang Jasen, Dareen justru melangkah maju dengan ketenangan yang mematikan. Wajahnya tetap datar, namun auranya berubah menjadi sosok Letnan Satu Unit Cerberus yang siap melakukan inspeksi lapangan.

"Tunggu sebentar, Nona," ujar Dareen tenang.

Tanpa menunggu izin dari Jasen, Dareen merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sepasang sarung tangan kulit hitam yang tipis namun elegan. Ia mengenakannya dengan gerakan perlahan, merapikan setiap sela jari dengan ketelitian yang membuat Jasen mengerutkan dahi.

"Apa yang kau lakukan, hah?" Jasen membentak saat melihat Dareen mulai mendekati mobilnya.

Dareen tidak menyahut. Ia mulai mengelilingi mobil itu. Ia berjongkok di dekat ban depan, memeriksa alur karetnya, lalu beralih ke bagian grill depan. Dengan gerakan yang sangat profesional, ia menyentuh bagian-bagian mesin yang sedikit terekspos, memeriksa celah panel bodi dengan ujung jarinya yang bersarung tangan.

"Berdasarkan protokol keamanan tingkat tinggi, saya tidak bisa membiarkan Nona Sera masuk ke dalam kendaraan asing tanpa pemeriksaan teknis menyeluruh," suara Dareen terdengar dingin dan mekanis.

Ia membuka pintu penumpang, tidak peduli dengan protes Jasen. Dareen membungkuk ke dalam, memeriksa bawah jok, meraba jahitan interior kulit, bahkan mengetuk-ngetuk dasbor untuk mencari sesuatu yang "mencurigakan". Gerakannya begitu detail dan penuh wibawa, seolah ia sedang memeriksa barang sitaan atau kendaraan yang diduga membawa peledak.

"Hei! Kau bisa merusak lapisan nano-coating mobil itu!" teriak Jasen, wajahnya mulai memerah karena malu. Para mahasiswa di sekitar mulai berbisik, melihat bagaimana mobil mewah itu diperlakukan seperti benda berbahaya di tangan Dareen.

Dareen akhirnya keluar dari kabin mobil. Ia berdiri tegak tepat di depan Jasen, membuat pria kaya itu harus sedikit mendongak karena perbedaan tinggi mereka. "Rem cakram belakang Anda mengeluarkan aroma panas yang tidak wajar untuk mobil baru. Ada juga celah mikro pada sistem penguncian pintu ini yang bisa dieksploitasi dari luar. Kendaraan ini ... tidak memenuhi standar keselamatan saya untuk Nona Sera."

"Kau hanya tidak mengerti teknologi, pelayan!" Jasen mencoba merebut kembali kendali suasana. "Ini mobil tercanggih di kelasnya! Kau hanya iri karena gajimu seumur hidup tidak akan cukup untuk membeli bannya saja!"

Dareen tidak bereaksi terhadap penghinaan itu. Ia justru memutar tubuhnya menghadap Sera. Inilah saat di mana strategi Dareen yang sebenarnya dimulai—sebuah serangan psikologis yang jauh lebih tajam daripada pukulan fisik.

Dareen melangkah mendekati Sera hingga jarak mereka hampir tidak ada. Jasen tertegun, hendak memprotes karena Dareen dianggap melanggar batas, namun ia terdiam melihat apa yang dilakukan Dareen.

Dengan gerakan yang sangat intim, pelan, dan penuh perasaan, Dareen mengangkat tangannya. Ia merapikan kerah baju Sera yang sedikit terlipat karena angin. Jemarinya yang masih terbungkus kulit hitam itu bergerak lembut, menelusuri garis leher Sera hingga menyentuh kulit lehernya dengan sentuhan yang membuat Sera merinding.

"Rambut Anda sedikit berantakan, Nona," bisik Dareen dengan suara bariton yang rendah, namun cukup jelas untuk didengar Jasen.

Jemari Dareen beralih ke wajah Sera, merapikan helai rambut yang menutupi mata gadis itu. Ia menyelipkan helai rambut tersebut ke belakang telinga Sera dengan gerakan yang sangat lembut, matanya menatap dalam ke arah mata Sera—sebuah tatapan penuh kerinduan dan kepemilikan yang sangat kontras dengan wajah datarnya tadi.

Sera terkesiap pelan, jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan kehangatan dari tangan Dareen meski terhalang sarung tangan. Ini bukan gerakan seorang pengawal. Ini adalah gerakan seorang kekasih yang sedang menandai wilayahnya.

Jasen mematung. Kata-kata sombongnya tertelan kembali di tenggorokan. Ia melihat bagaimana Sera memejamkan mata sejenak, menikmati sentuhan Dareen, seolah-olah dunia di sekitar mereka—termasuk Jasen dan mobil sport-nya—sama sekali tidak ada.

Tanpa perlu mengatakan "Dia milikku", Dareen baru saja menampar wajah Jasen dengan kenyataan pahit: ada ikatan emosional, keintiman, dan kepercayaan di antara Sera dan "pelayannya" yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh Jasen dengan jutaan dolar sekalipun.

"Sera ..." Jasen mencoba memanggil, suaranya terdengar lemah dan tidak yakin.

Dareen menurunkan tangannya dari wajah Sera, lalu kembali ke posisi siaga di belakang gadis itu. Ia menatap Jasen dengan pandangan datar yang seolah mengejek. "Kau punya mobilnya, tapi aku punya jiwanya," begitulah kiranya arti dari tatapan Dareen.

"Maaf, Jasen," Sera berkata sambil kembali memakai kacamata hitamnya, suaranya kembali menjadi angkuh namun ada nada puas di sana. "Aku rasa pengawal pribadiku benar. Aku tidak suka naik mobil yang remnya berbau panas. Terlalu berisiko bagi keselamatanku."

Sera berbalik dan melangkah menuju sedan hitam miliknya yang sudah diparkirkan Dareen tak jauh dari sana. "Ayo, Babe. Kita pulang sekarang. Aku butuh mandi dan beristirahat."

Dareen memberikan anggukan singkat pada Jasen—sebuah gerakan "hormat" yang terasa sangat merendahkan—sebelum ia membukakan pintu untuk Sera. Ia memastikan Sera masuk dengan aman, lalu ia sendiri masuk ke kursi pengemudi.

Di dalam mobil, begitu pintu tertutup rapat, Sera langsung tertawa lepas. "Tuhan, Dareen ... kau lihat wajahnya? Dia terlihat seperti baru saja dirampok di siang bolong!"

Dareen mulai menjalankan mesin mobil dengan tenang. "Dia terlalu sombong dengan benda yang tidak dia pahami cara kerjanya secara teknis."

"Bukan itu, Babe," Sera mencondongkan tubuhnya, mencium pipi Dareen dengan gemas. "Cara kau merapikan rambutku tadi ... kau benar-benar ingin membuatnya gila, kan?"

Dareen melirik Sera melalui spion tengah, sebuah senyum tipis yang sangat langka muncul di sudut bibirnya. "Dia menyentuh radius privasi Anda dengan cara yang tidak sopan. Saya hanya mengembalikan keseimbangan."

"Pencemburu," goda Sera.

"Hanya memastikan aset berharga saya tetap terjaga, Sera," balas Dareen, kali ini menggunakan nama kecilnya lagi.

Namun, saat mobil mereka melaju meninggalkan area kampus, keceriaan itu perlahan memudar. Dareen melihat melalui kaca spion bahwa Jasen masih berdiri di sana, menatap mobil mereka dengan rahang yang mengeras dan ponsel di tangannya. Ia tampak sedang melakukan panggilan penting.

"Ada apa, Babe?" tanya Sera menyadari perubahan ekspresi Dareen.

"Jasen bukan sekadar mahasiswa kaya yang manja, Sera," gumam Dareen serius. "Cara dia berdiri dan cara dia bereaksi setelah saya melakukan 'inspeksi' tadi ... dia tahu sesuatu tentang teknik militer. Dia bukan orang sembarangan."

Sera terdiam, tangannya tanpa sadar meraba foto unit Cerberus yang masih ia simpan di tasnya. "Maksudmu, dia mungkin dikirim oleh The Phoenix Group?"

"Kita harus lebih waspada mulai sekarang. Permainan ini baru saja menjadi lebih berbahaya," ujar Dareen sambil mempercepat laju kendaraannya, membawa Sera menjauh dari bahu jalan yang mulai terasa mengancam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!