NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Cintapertama / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 0: Prolog

Surabaya hari ini rasanya seperti simulasi neraka bocor. Matahari pukul dua belas siang menggantung angkuh tepat di atas kepala, memanggang aspal parkiran SMA Cakrawala Terpadu hingga uap panasnya tampak berfatamorgana. Di dalam gedung sekolah yang megah dengan fasad kaca modern ini, pendingin ruangan sentral bekerja keras melawan hawa panas kota Pahlawan, menciptakan dengung halus yang nyaris tak terdengar di antara riuh rendah suara siswa.

Namun, bagi Keyla Aluna, panas di luar sana tidak sebanding dengan degup jantungnya yang seolah sedang lari maraton di dalam rusuk. Gadis itu berdiri mematung di balik pilar koridor lantai dua, memeluk buku sketsa erat-erat di dada seakan itu adalah tameng pelindung dari asteroid yang akan menghantam bumi.

Di ujung lorong, *dia* ada di sana.

Bintang Rigel.

Namanya Bintang, dan semesta sepertinya tidak sedang bercanda saat memberinya nama itu. Dia bersinar. Secara harfiah dan kiasan. Cowok itu baru saja keluar dari lapangan basket indoor, rambut hitamnya yang sedikit basah oleh keringat disisir ke belakang dengan jari, menampilkan dahi yang menurut separuh populasi siswi SMA Cakrawala adalah pemandangan paling estetik setelah senja di Pantai Kenjeran. Seragam basketnya yang tanpa lengan memperlihatkan otot lengan yang terbentuk sempurna, hasil latihan rutin sebagai kapten tim.

Di sekelilingnya, gravitasi bekerja. Teman-teman satu timnya tertawa-tawa menepuk punggungnya, sementara beberapa siswi dari geng 'The Royals'—kasta tertinggi di rantai makanan sekolah ini—mencuri pandang sambil berbisik-bisik genit. Bintang tertawa menanggapi lelucon salah satu temannya, sebuah tawa renyah yang membuat mata sipitnya menyipit membentuk bulan sabit.

Keyla menahan napas. Rasanya oksigen di koridor ini mendadak habis disedot oleh karisma Bintang.

"Ayolah, Key. Jangan jadi *creep*," rutuknya pada diri sendiri dalam hati. Ia membetulkan letak kacamata bingkai bulatnya yang sedikit melorot karena hidungnya berkeringat. Keyla adalah definisi antitesis dari Bintang. Jika Bintang adalah matahari yang menjadi pusat tata surya, Keyla adalah Pluto. Kecil, jauh, dingin, dan seringkali diperdebatkan apakah ia benar-benar ada atau tidak.

Keyla mundur selangkah, menyembunyikan tubuh mungilnya lebih dalam ke bayangan pilar. Ini adalah rutinitasnya. Menjadi penonton. Menjadi pengagum jarak jauh yang mencatat setiap detail kecil: bagaimana cara Bintang mengikat tali sepatunya, bagaimana dia selalu membeli teh botol dingin di kantin Bu Sum, dan bagaimana dia kadang-kadang terlihat melamun dengan tatapan kosong di tengah keramaian—sebuah celah kecil dari kesepian yang hanya Keyla yang nampaknya menyadari.

Bel istirahat kedua berbunyi nyaring, memecah lamunan Keyla.

"Heh! Ngelamun ae, Kesambet setan koridor kapok kon!"

Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Keyla, membuatnya nyaris melempar buku sketsanya. Dinda Pertiwi, sahabatnya sejak SMP yang memiliki volume suara setara toa masjid, berdiri di sana dengan cengiran lebar. Rambut pendeknya yang dipotong *bob* berantakan, dan dasinya sudah longgar entah sejak kapan.

"Astaga, Dinda! Jantungku mau copot!" desis Keyla sambil mengelus dada.

"Lagian, ngapain sih ndelik-ndelik (sembunyi-sembunyi) di sini?" Dinda melongok ke arah pandang Keyla barusan, lalu mendengus panjang saat melihat punggung Bintang yang menjauh. "Halah... si *Prince Charming* lagi. Key, Key... sampe kapan kon mau jadi CCTV hidup?"

Keyla tersenyum kecut. "Sampe aku punya nyali, Din. Yang mana artinya... mungkin nggak bakal kejadian."

"Lambemu kaku temen!" Dinda memutar bola matanya, logat Suroboyoan-nya kental sekali. "Udah ah, ayo ke kantin. Cacing di perutku udah demo minta bakso Pak Man."

"Duluan aja, Din. Aku... mau ke perpustakaan sebentar. Ada buku yang harus aku balikin," bohong Keyla. Kebohongan putih yang sudah ia lakukan ratusan kali.

Dinda memicingkan mata curiga, tapi kemudian mengibaskan tangan. "Yowis, ojok suwe-suwe (jangan lama-lama). Ntar kehabisan gorengan lho."

Begitu punggung Dinda menghilang di belokan tangga, wajah Keyla berubah serius. Misi dimulai. Ia tidak menuju perpustakaan. Kakinya melangkah cepat namun senyap menuju kelas XI IPA 1, kelas unggulan tempat Bintang bernaung. Saat ini adalah *golden time*. Mayoritas siswa sedang menyerbu kantin atau nongkrong di gazebo taman. Koridor lantai dua relatif sepi, hanya ada beberapa siswa yang sibuk dengan ponsel mereka dan tidak peduli pada sekitarnya.

Keyla merogoh saku rok abu-abunya, menyentuh tekstur amplop kertas berwarna biru muda. Jantungnya kembali berpacu. Ini adalah surat ketujuh belas.

Ia sampai di depan pintu XI IPA 1. Kosong. AC kelas yang dingin langsung menyapa kulitnya. Aroma ruangan ini khas: campuran wangi pengharum ruangan lavender, spidol papan tulis, dan parfum mahal anak-anak orang kaya. Keyla menarik napas panjang, memastikan tidak ada yang melihat, lalu menyelinap masuk.

Meja Bintang ada di barisan ketiga dari jendela, tempat strategis untuk melamun melihat langit Surabaya. Keyla hapal di luar kepala. Ia berjalan cepat, menghindari tas-tas bermerek yang berserakan di lantai.

Tangannya gemetar saat ia menarik sedikit laci meja Bintang. Di sana, tertata rapi beberapa buku paket dan sebuah tempat pensil. Tanpa membuang waktu, Keyla menyelipkan amplop biru muda itu di bawah buku paket Fisika, memastikannya tidak terlihat langsung tapi mudah ditemukan jika Bintang meraba laci.

Surat itu pendek. Keyla menulisnya tadi malam di bawah penerangan lampu belajar, ditemani *playlist* Lofi Hip Hop dan hujan gerimis.

*Untuk Rigel,*

*Aku melihatmu di perpustakaan kemarin. Kamu memegang buku 'Cosmos' karya Carl Sagan, tapi matamu tidak membaca barisan kalimatnya. Kamu menatap keluar jendela, pada awan cumulus yang berarak lambat. Apa yang kamu cari di sana? Kebebasan? Atau sekadar jeda dari riuh dunia yang selalu menuntutmu menjadi sempurna?*

*Bintang di langit tidak bersinar untuk dilihat orang, Rigel. Mereka bersinar karena itulah esensi mereka. Kamu tidak perlu menjadi terang untuk semua orang. Cukup jadi dirimu sendiri, meski redup, itu sudah cukup indah.*

*- Cassiopeia*

Keyla menutup laci itu perlahan. *Klik*. Bunyi yang nyaris tak terdengar, tapi terasa begitu final.

"Woy! Siapa di situ?"

Suara berat dari arah pintu membuat darah Keyla membeku. Ia tersentak, berbalik dengan panik.

Seorang siswa laki-laki bertubuh gempal—salah satu teman sekelas Bintang—berdiri di ambang pintu sambil memegang bola bekel. Wajahnya tampak bingung. Keyla mengenalnya, namanya Aldi, si badut kelas yang tidak berbahaya tapi bermulut ember.

"Eh... e-enggak," gagap Keyla, otaknya berputar mencari alasan. "A-aku... aku cari Dinda. Kirain dia di sini."

Aldi mengerutkan kening. "Dinda IPA 2? Lah, ini kan IPA 1. Nyasar mbak'e?"

"I-iya, salah masuk. Maaf!" Keyla langsung menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di balik tirai rambut hitamnya yang lurus, lalu setengah berlari menerobos keluar pintu, melewati Aldi yang masih garuk-garuk kepala bingung.

"Aneh..." gumam Aldi, lalu masa bodoh dan melempar bola bekelnya ke lantai.

Keyla tidak berhenti berlari sampai ia mencapai toilet perempuan di ujung koridor. Ia masuk ke salah satu bilik, mengunci pintu, dan bersandar di sana sambil memegangi dadanya yang naik turun. Gila. Itu tadi hampir saja. Jika Aldi melihat apa yang ia lakukan, besok pagi satu sekolah—termasuk akun gosip @CakrawalaFess—pasti sudah heboh membahas 'cewek aneh yang mengutak-atik meja Pangeran Sekolah'.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin toilet. Gadis biasa dengan seragam yang sedikit kebesaran, kacamata bulat, dan rambut yang diikat kuda seadanya. Tidak ada yang spesial. Vanya Clarissa, ketua *cheerleader* yang cantik jelita itu, pasti akan tertawa terbahak-bahak jika tahu saingannya adalah seseorang seperti Keyla.

"Sadar diri, Key," bisiknya pada pantulan cermin. "Kamu cuma debu kosmik."

Tapi setidaknya, debu kosmik ini baru saja mengirimkan sinyal ke bintang paling terang.

***

Lima belas menit kemudian, Keyla sudah duduk manis di sudut kantin yang paling tidak strategis, tempat yang biasanya dihindari oleh anak-anak populer karena dekat dengan tempat pengembalian piring kotor. Tapi bagi Keyla, ini adalah *spot* VIP. Dari sini, dia bisa melihat meja tengah—meja keramat tempat 'The Royals' berkumpul—tanpa terlihat mencolok.

Bintang sudah ada di sana, sudah berganti seragam putih abu-abu yang rapi. Dia duduk diapit oleh Vanya yang sedang berceloteh manja sambil memilin rambut pirang *highlight*-nya. Bintang hanya mengangguk-angguk sopan, sesekali menyuapkan batagor ke mulutnya.

Tiba-tiba, Bintang merogoh saku celananya. Keningnya berkerut. Ia mengeluarkan sesuatu.

Amplop biru muda.

Keyla menahan napas, sedotan es teh manisnya menggantung di bibir. *Tunggu, kenapa dia membawanya ke kantin? Harusnya dia membukanya di kelas!* Keyla panik. Jika Vanya melihat surat itu...

Bintang tampak tertegun sejenak menatap amplop itu. Ia tidak langsung membukanya. Sebaliknya, ia menatap sekeliling kantin dengan tatapan tajam, seolah mencari seseorang di lautan ratusan siswa berseragam sama.

Pandangan Bintang menyapu area kantin. Dari stan soto, meja anak kelas sepuluh, hingga ke sudut tempat Keyla duduk.

Keyla refleks menunduk, pura-pura sibuk mengaduk mangkuk baksonya yang sudah dingin. Jantungnya berdegup gila-gilaan. *Apa dia tahu? Tidak mungkin. Tidak ada nama pengirim selain 'Cassiopeia'.*

Dari sudut matanya, Keyla mengintip lagi. Bintang sudah tidak melihat ke arahnya. Cowok itu tersenyum tipis—senyum yang sangat berbeda dari senyum sopannya pada Vanya tadi. Itu adalah senyum tulus, sedikit geli, dan... penasaran. Ia memasukkan kembali amplop biru itu ke saku kemejanya, tepat di dada kiri, seolah itu adalah barang berharga yang tidak boleh dilihat orang lain, terutama Vanya yang kini sibuk *selfie* di sebelahnya.

Ada perasaan hangat yang menjalar di dada Keyla, mengalahkan panasnya udara Surabaya siang itu. Perasaan divalidasi. Perasaan didengar.

"Heh, ngeliatin Bintang lagi yo?"

Dinda tiba-tiba muncul, membanting pantatnya di kursi plastik di depan Keyla sambil membawa sepiring gado-gado. "Mata sampeyan iku lho, Key. Kayak ada lasernya. Tembus pandang."

"Nggak kok," elak Keyla, wajahnya memerah. "Cuma... ngeliatin Vanya. Rambutnya bagus ya."

"Bagus apane? Kayak sapu ijuk dicat emas," cibir Dinda sarkas, lalu menyendok bumbu kacang dengan semangat. "Eh, tapi ya, Key. Aku denger gosip dari anak-anak basket. Katanya si Bintang akhir-akhir ini sering senyum-senyum sendiri kalau di kelas. Kalo kata anak-anak sih, lagi jatuh cinta."

*Deg.*

Keyla terdiam. "Jatuh cinta? Sama siapa? Vanya?"

"Embuh (tidak tahu)," jawab Dinda dengan mulut penuh kerupuk. "Tapi bukan Vanya. Soalnya kemarin pas Vanya nembak ngajak nonton, ditolak alus sama Bintang. Alasannya mau nemenin mamanya arisan. Klise pol!"

Keyla menunduk menatap kuah baksonya, menyembunyikan senyum kecil yang tak bisa ia tahan. Di tengah riuh rendah suara kantin, di antara denting sendok garpu dan teriakan ibu kantin, Keyla merasa dunianya yang sunyi tiba-tiba memiliki melodi.

Bintang Rigel mungkin adalah pusat tata surya yang dikelilingi banyak planet cantik. Tapi hari ini, Keyla tahu satu rahasia kecil: Bintang menyimpan surat dari debu kosmik di saku kirinya, dekat dengan jantungnya.

Dan untuk saat ini, bagi Keyla Aluna, itu sudah lebih dari cukup.

1
Mymy Zizan
bagussssssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!