NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Langit yang Sama

Genta benar-benar datang satu jam kemudian. Tanpa banyak bicara, ia membawa Aira kembali ke Panti Kasih Abadi. Suasana panti sore itu tenang, matahari senja membiaskan warna oranye kemerahan di dinding-dinding tua, menciptakan siluet yang damai namun melankolis.

Di masjid kecil yang terletak di bagian belakang panti, seorang lelaki tua dengan raut wajah teduh sedang duduk bersila di atas sajadah. Ia adalah Kiai Mansur. Beliau baru saja menyelesaikan zikirnya ketika Genta membimbing Aira masuk.

"Ini dia, Pak Kiai. Teman saya yang saya ceritakan tadi," bisik Genta sopan, lalu ia berpamitan untuk menunggu di luar, memberi ruang bagi Aira.

Aira duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk dalam. Ia merasa seperti debu di hadapan sosok yang memancarkan ketenangan sebesar itu.

"Nduk," suara Kiai Mansur sangat lembut, seolah air yang memadamkan api di dada Aira. "Genta bilang, kamu sedang merasa membawa kegelapan bagi orang lain?"

Aira tidak bisa lagi membendung air matanya. "Bukan hanya merasa, Abah. Saya... saya adalah 'Ain'. Orang-orang yang saya sayangi berakhir hancur. Orang tua saya, lalu sekarang... seseorang yang sangat berharga bagi saya. Dia buta, sarafnya meluruh. Semua itu terjadi sejak dia mengenal saya."

Kiai Mansur mengangguk perlahan. Beliau tidak langsung membantah, melainkan memutar butiran tasbihnya. "Ain itu memang ada, Nduk. Itu nyata dalam agama kita. Namun, apakah kamu tahu bahwa tidak ada sehelai daun pun yang jatuh ke bumi tanpa izin-Nya? Begitu juga dengan musibah yang menimpa temanmu."

Aira terisak. "Tapi kenapa harus saya yang menjadi perantaranya? Kenapa mata saya yang harus menyakitinya?"

"Nduk, duniamu terlalu sempit jika kamu hanya melihat musibah sebagai kutukan," lanjut Kiai Mansur. "Tuhan tidak menciptakan penyakit untuk menghukummu, dan Tuhan tidak memberikan ujian kepada temanmu untuk membalas dendam padanya. Saraf yang meluruh, mata yang buta... dalam pandangan manusia itu adalah tragedi. Tapi dalam pandangan langit, itu mungkin adalah cara Tuhan untuk mencuci bersih jiwanya agar ia kembali dalam keadaan suci."

Beliau menatap Aira dengan sorot mata yang tajam namun penuh kasih. "Kamu pikir kamu begitu kuat sampai bisa mengubah takdir yang sudah tertulis di Lauhul Mahfuz hanya dengan satu pandangan mata? Tidak, Nduk. Kamu bukan tuhan. Kamu hanyalah manusia. Jika dia sakit, itu adalah takdirnya. Jika kamu ada di sana saat itu terjadi, itu adalah bagian dari perjalanan spiritualmu untuk belajar ikhlas."

Aira tertegun. Selama ini, ia merasa sombong dalam kesedihannya—seolah-olah ia memiliki kendali atas hidup dan mati seseorang melalui "kutukannya".

"Musibah yang menimpa orang beriman itu seperti hujan bagi teratai," ujar Kiai Mansur lagi. "Kelihatannya menekan dan membebani, tapi sebenarnya ia sedang membersihkan kotoran yang menempel. Musibah bukan kutukan, tapi pembersihan jiwa. Dan kehadiranmu di sampingnya... mungkin itu adalah ujian baginya untuk mencintai Pencipta melampaui ciptaan-Nya."

Aira menunduk, meresapi setiap kata.

"Jangan lari dari dia," pesan Kiai Mansur. "Jika kamu pergi karena takut menyakitinya, kamu justru sedang menuduh Tuhan tidak mampu menjaganya. Kembalilah. Jadilah samudera yang tenang, tempat matahari itu beristirahat, bukan samudera yang merasa dirinya badai."

"Tapi Abah," suara Aira bergetar, "bagaimana jika saya tidak sanggup melihatnya menderita? Bagaimana jika setiap kali saya menatapnya, saya hanya teringat bahwa dialah yang membayar harga atas kehadiran saya di sisinya?"

Kiai Mansur tersenyum tipis, sorot matanya yang bijak menatap ke arah luar jendela masjid yang menampilkan langit malam bertabur bintang.

"Nduk, kamu tahu kenapa bintang hanya terlihat saat langit gelap?"

Aira menggeleng pelan.

"Karena kalau langit selalu terang, kita tidak akan pernah tahu ada keindahan yang jauh lebih besar di luar sana. Temanmu itu... siapa namanya?"

"Abyasa, Abah. Tapi saya memanggilnya Kara."

"Nak Kara sedang dibawa oleh Allah menuju kegelapan agar dia bisa melihat cahaya yang tidak bisa dilihat oleh mata lahiriah. Dan kamu, Nak Aira... kamu diminta untuk menemaninya bukan sebagai penyebab kegelapan itu, tapi sebagai saksi bahwa dalam gelap pun, kasih sayang Tuhan tidak pernah hilang."

Kiai Mansur mengambil sebuah buku kecil dari sampingnya, sebuah kitab tipis tentang doa-doa kesembuhan dan ketenangan hati. Ia menyerahkannya kepada Aira.

"Jangan gunakan matamu untuk meratapi apa yang hilang. Gunakan hatimu untuk mendoakan apa yang tersisa. Ain itu bisa luntur dengan rida. Jika kamu rida pada takdir-Nya, dan Nak Kara juga rida, maka tidak ada lagi ruang bagi kutukan. Yang ada hanyalah kasih sayang yang menyamar dalam bentuk ujian."

Aira menerima kitab itu dengan kedua tangannya yang masih bergetar. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut pada telapak tangannya sendiri. Ia tidak lagi merasa jari-jarinya adalah pembawa maut.

"Kembalilah padanya," lanjut Kiai Mansur. "Bukan sebagai orang yang merasa bersalah, tapi sebagai orang yang ingin menemani kekasih Allah dalam perjalanannya. Katakan padanya, bahwa matahari tidak pernah benar-benar padam, ia hanya sedang berganti tugas menyinari sisi dunia yang lain."

Di luar masjid, Genta menyandarkan tubuhnya di pilar. Begitu melihat Aira keluar, ia segera berdiri tegak. Ia tidak melihat lagi wajah Aira yang penuh ketakutan. Meski matanya sembab, ada binar kecil yang mulai muncul—seperti sisa-sisa cahaya fajar yang mencoba menembus kabut.

"Gimana, Ra?" tanya Genta hati-hati.

Aira menatap Genta, lalu tersenyum tipis—senyuman tulus pertama yang ia berikan sejak kecelakaan Kara. "Makasih, Gen. Lu bener. Gue selama ini cuma muter-muter di dalam pikiran buruk gue sendiri."

"Jadi... kita ke rumah sakit sekarang?"

Aira menarik napas panjang, menatap langit malam yang luas. "Besok subuh, Gen. Gue mau bersihin diri dulu. Gue mau nemuin Kara bukan sebagai pembawa sial, tapi sebagai Samudera yang mau menjaga Mataharinya sampai kapan pun."

Pandangan Aira menyapu ke sekitar panti. Melihat sisa-sisa ranting pohon yang belum dibersihkan dan banyak sekali sprei yang dijemur dihalaman.

"Malam ini gue masih mau nginap disini, Gen. Gue tiba-tiba ngerasa bersalah karena melarikan diri malam itu." ucap Aira. Kakinya berjalan mendekati ranting yang tergeletak dihalaman panti. Ia memungutnya, menatapnya dalam.

"Yaudah, gue ikut disini kalau begitu." ucap Genta berhasil membuat Aira menoleh dengan bingung. Genta langsung mengoreksi perkataannya. "Jadi relawan, nyokap gue sering kesini buat nyumbang entah itu tunai atau nontunai. Gue mau nyumbang tenaga aja." kata Genta.

"Boleh, biar gue bantu izinin ke keamanan disini."

Setelah mendapat izin dari pihak keamanan. Genta dan Aira diperbolehkan tidur di panti, tapi tentu saja di kamar yang berbeda.

Malam itu, di panti jompo, Aira tidak tidur. Ia menghabiskan malam dengan membaca setiap lembar kitab pemberian Kiai Mansur, membasuh jiwanya yang selama ini berkarat oleh rasa benci pada diri sendiri. Ia mulai menyadari bahwa mencintai Kara berarti harus berani menerima takdir Kara, sepahit apa pun itu.

***

Pagi itu, kabut di kaki bukit masih menyisakan sisa-sisa dingin dari badai kemarin lusa. Panti Kasih Abadi tampak sibuk; beberapa dahan pohon yang patah sedang dibersihkan oleh petugas, dan lantai koridor yang sempat terkena bocoran air sedang dipel hingga mengilap.

Aira melangkah masuk ke gerbang panti dengan perasaan yang jauh berbeda. Kali ini, ia tidak menunduk untuk bersembunyi. Di sampingnya, Genta berjalan dengan tangan di saku jaket, sesekali menyapa petugas panti yang ia kenal karena ibunya sering berkunjung ke sana.

Begitu sampai di ruang tengah, Aira langsung menemui Ibu Sarah.

"Ibu... maafkan saya," suara Aira tulus, kepalanya menunduk tanda hormat. "Kemarin saya melarikan diri saat semua orang sedang kesulitan karena badai. Saya benar-benar minta maaf karena tidak bertanggung jawab."

Ibu Sarah menghentikan kegiatannya mencatat log kesehatan, lalu menatap Aira cukup lama. Ia melihat perubahan pada raut wajah gadis itu—ada ketenangan yang lebih dalam, meski kesedihan belum sepenuhnya hilang.

"Ibu sempat khawatir kamu tidak akan kembali, Aira," ujar Ibu Sarah lembut. "Tapi Mbah Isah bilang, 'Samuderanya lagi cari jalan pulang'. Ternyata dia benar. Ya sudah, segera bantu yang lain. Masih banyak sprei yang harus diganti karena lembap."

Aira mengangguk mantap. Ia segera menyingsingkan lengan bajunya.

"Gue bantuin apaan nih?" tanya Genta, merasa canggung berdiri di tengah-tengah kesibukan para perawat lansia.

"Lu bisa bantu angkat kasur-kasur lipat ke halaman depan buat dijemur, Gen. Mumpung mataharinya mulai muncul," jawab Aira sambil mengambil tumpukan sprei kotor.

Genta mendengus namun tetap melakukannya. "Oke, demi persahabatan... dan demi biar lu nggak merasa sendirian di sini."

Sepanjang pagi itu, Aira bekerja dengan dedikasi yang lebih besar dari sebelumnya. Jika dulu ia bekerja untuk "menghukum" dirinya sendiri, kini ia bekerja untuk "membasuh" jiwanya. Ia menyuapi Mbah Isah dengan penuh kesabaran, mendengarkan cerita-cerita lama yang diulang berkali-kali tanpa merasa jenuh.

Saat sedang menjemur kain di halaman belakang, Genta menghampirinya.

"Ra," panggil Genta. "Gue liat lu beda banget hari ini. Omongan Kiai Mansur sakti juga ya?"

Aira tersenyum kecil sembari menjepit selembar sarung bantal di tali jemuran. "Beliau cuma buka jendela yang selama ini gue tutup rapat, Gen. Beliau bilang, ujian itu pembersihan. Gue selama ini ngerasa kotor karena 'Ain', padahal mungkin ini cara Tuhan buat bikin gue dan Kara jadi lebih kuat."

Aira berhenti sejenak, menatap langit yang mulai cerah. "Gue ngerasa bersalah banget udah ninggalin panti pas badai kemarin. Pas semua orang butuh bantuan, gue malah mikirin ketakutan gue sendiri. Padahal di sini, banyak yang kondisinya lebih parah dari gue tapi mereka tetap bertahan."

"Namanya juga manusia, Ra. Wajar kalau panik," hibur Genta. Ia membantu Aira memegang keranjang jemuran. "Tapi sekarang lu udah balik. Itu yang penting."

"Gen," panggil Aira lirih. "Makasih ya, udah mau jemput gue. Udah mau nemenin gue di sini."

"Santai kali. Gue juga mau laporan ke Kara nanti, biar dia tahu kalau 'Samuderanya' nggak cuma jago galau, tapi juga jago ngurusin panti jompo," canda Genta, mencoba mencairkan suasana.

Aira tertawa tipis. Namun, di balik tawa itu, hatinya tetap tertuju pada satu tempat: kamar rumah sakit tempat Kara berada. Ia sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya di panti ini, belajar bagaimana menjadi sosok yang kuat sebelum ia benar-benar kembali ke sisi Kara untuk menjadi matanya yang baru.

Ia menyadari bahwa merawat para lansia yang sedang "menanti" ini mengajarkannya tentang keikhlasan—sesuatu yang sangat ia butuhkan untuk menghadapi kondisi Kara yang kian memburuk.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!