Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Target pertama bersih di tangkap
Tibalah tim itu di tempat yang mereka tuju.
Ketika mereka tiba hari sudah malam dan tanpa aba-aba sama sekali hujan turun dengan sangat derasnya.
Hal itu membuat mereka kebingungan karena belum punya tempat yang akan mereka tinggali di tempat ini.
Alhasil, mereka hanya bisa duduk di dalam mobil box yang pengap itu untuk malam ini.
Suara hujan dan guntur terdengar begitu jelas oleh mereka.
Malam itu, karena semuanya merasa sangat kelelahan mereka tidak ada yang banyak bicara dan hanya diam.
Beberapa bahkan ada yang langsung tidur guna memulihkan tenaga untuk misi yang akan mereka jalani.
Di waktu yang bersamaan ketika semua orang istirahat.
Wawan tampak masih terjaga.
Ia duduk santai dengan pandangan lurus ke depan dengan pandangan kosong.
Tampaknya... Wawan sedang banyak pikiran pada saat ini.
'Haah... Bentar lagi aku harus beli token listrik, tapi gaji yang aku dapat mungkin tidak akan seberapa.
'Belum lagi, aku harus beli bayan makanan, services motor, bensin dan masih banyak lagi yang harus di bayar.'
'Apa gajiku bakal cukup, ya?...' Suasana hati Wawan terasa sangat tidak menyenangkan malam itu.
Kondisi ekonominya benar parah hingga membuatnya selalu pusing setiap hari.
'Haahh... Kalau kondisiku seperti ini terus aku tidak akan bisa merencanakan untuk punya keluarga.'
'Membiayai diri sendiri saja sudah sulit, apalagi membiayai keluarga kalau punya.' Untuk kesekian kalinya Wawan menghela nafas.
Perilaku Wawan pada saat itu di saksikan oleh Raisya dan itu membuat Raisya salah paham lagi.
Ia pikir, Wawan mungkin merasa tertekan dengan beban tanggung jawab dari misi kali ini, makanya sedari tadi Wawan menghela nafas.
Apalagi, posisi Wawan di sini adalah kapten yang mana semua tanggung jawab misi dan keselamatan para personil semuanya di emban oleh Wawan.
Malam yang dingin pun berlalu.
Pagi berikutnya cuaca terlihat sangat cerah dengan matahari yang bersinar terang di langit biru tanpa satupun awan terlihat.
Pagi ini adalah pukul 08.14 pagi.
Sebelum memulai misi, mereka terlebih dulu mengisi tenaga mereka semua cara makan makanan yang di beli oleh salah satu junior dari warteg terdekat.
Di dalam box mobil mereka makan sambil berdiskusi tentang rencana mereka.
Setelah selesai makan dan selesai merancang rencana, mereka pun akhirnya akan mulai bergerak.
Target mereka kali ini adalah seorang Pemuda songong yang mana sekarang ia berada di sebuah villa mewah.
Villa itu tampak begitu megah namun juga terlihat agak kosong.
Selain satu tukang kebun dan satu pembantu, tidak terlihat ada orang lain lagi di sekitar villa ini.
Bahkan di sini tidak terlihat ada security.
Melihat betapa sunyinya tempat ini, keraguan mulai muncul di benak Wawan hingga ia langsung bertanya pada Lukman.
"Apa benar ini tempatnya?!"
"Villa ini terlalu sepi untuk tempat tinggal seorang kriminal yang punya banyak uang!" Kata Wawan dengan keraguan yang memenuhi ekspresinya.
Sejenak Lukman juga berpikiran hal yang sama.
Tapi setelah di cek lagi di dalam catatan ternyata tidak ada kesalahan sama sekali.
"Alamatnya sudah benar, kok!" Karena tak percaya Wawan melihat dan memeriksa sendiri alamatnya.
Dan ternyata apa yang di katakan Lukman itu benar.
Mereka telah sampai di lokasi dan tidak ada kesalahan apapun.
Setelah itu, mereka kemudian mulia menjalankan rencana untuk menyusup ke dalam villa itu dengan cara menyamar jadi petugas service AC.
Rencana ini sudah di persiapkan secara matang sebelumnya, jadi sekarang mereka hanya tinggal menjalankannya saja.
Bel gerbang di tekan oleh Wawan dan di susul kemunculan seseorang.
"Iya, tunggu sebentar!" Yang datang adalah pembantu di tempat ini.
Si pembantu terlihat masih muda dan cukup cantik.
"Kalian siapa, ya!?" Pembantu itu bertanya pada Wawan dan Lukman.
Lukman langsung menjawab. "Kami dari perusahaan AC datang untuk melakukan service sesuai dengan permintaan!"
Berhubung tukang AC memang kerap datang ke sini untuk melakukan perawatan, jadi si pembantu tidak curiga sama sekali.
Ia menuntun keduanya masuk ke dalam rumah dan menunjukkan AC mana saja yang perlu di perbaiki.
Rumah ini sangat besar, jadi satu AC tidak akan cukup untuk mendinginkan seluruh villa.
Setelah semuanya di tunjukan, si pembantu kemudian izin untuk pergi ke dapur karena ia masih harus bekerja di sana.
Lukman dan Wawan pun di tinggal seorang diri di sana.
"Jadi sekarang apa!?" Tanya Wawan pada Lukman.
Wawan bukan petugas AC dan tidak tahu apa-apa soal memperbaiki atau melakukan perawatan AC.
Karena itu Wawan kebingungan dan langsung mengajukan pertanyaan pada Lukman tentang apa yang perlu ia lakukan.
"Kamu jalan-jalan dan cari saja target kita, aku sendiri akan diam di sini untuk mengawasi sekitar!" Wawan pun mengangguk dan mulai berjalan-jalan.
Ia berkeliling rumah sambil melihat-lihat sekitar yang mana, tingkah lakunya itu jelas sangat mencurigakan.
Tapi karena rumah ini kosong jadi tidak perlu khawatir.
Selang beberapa saat kemudian, Wawan menemukan target mereka yang sekarang sedang tidur dengan sangat pulasnya.
Targetnya itu tidur di sofa di dalam kamar yang terbuka lebar.
"Akhirnya, ketemu juga!" Wawan pun masuk ke dalam kamar.
Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti setelah ia menyadarinya kamar ini penuh dengan botol-botol kaca bekas minuman beralkohol.
Wawan sadar kalau targetnya ini sedang dalam pengaruh minuman keras.
Itu akan mempermudah Wawan untuk membawa targetnya itu keluar dari rumah ini.
Tapi...
Masalah pun muncul ketika Wawan di haruskan membawa orang itu keluar dari rumah tanpa di ketahui siapapun.
Memang, rumah ini tidak memiliki banyak penghuni, tapi itu bukan berati tidak ada siapapun.
Kalau Wawan sedang apes atau lengah ia akan ketahuan oleh pembantu atau tukang kebun rumah ini.
"Hm... Sekarang, bagaimana caranya aku membawa orang ini keluar dari rumahnya ini!?..." Sejenak Wawan terdiam.
Ia sedang memikirkan cara untuk membawa targetnya.
Setelah berpikir selama beberapa saat, Wawan pun kepikiran untuk...
Memasukkan targetnya ke dalam kantor plastik besar yang sangat tebal.
Plastik itu Wawan temukan di dalam rumah.
Entah apa kegunaan tapi itu tidak penting.
Segera Wawan melancarkan aksinya dan setelah si target di masukan ke dalam plastik dalam keadaan terikat.
Wawan segera menyeretnya keluar.
Jelas itu terlihat sangat mencolok sekali dan akan langsung di sadari oleh orang kalau saja di sana ada orang yang melihat.
Beruntungnya, Wawan tidak bertemu siapapun sepanjang jalan hingga Wawan keluar dari villa.
Masalah yang tidak terduga tiba-tiba muncul dimana tukang kebun di sini muncul tanpa di sadari oleh Wawan.
"Lagi ngapain, mas!?" Tanya tukang kebun itu.
Wawan tentu terkejut karena ia sama sekali tidak sadar dengan kedatangan tukang kebun itu.
"Ah... Saya cuma kau membawa AC yang perlu di perbaiki di pabrik, dan jumlahnya ada banyak makannya agak berat!" Karena ekspresinya yang selalu datar, Wawan sama sekali tidak terlihat mencurigakan.
"Oh... Mau saya bantu!?"
"Tidak usah, biar saya saja. Kalau nanti kita berdua menggotong ini dan terjadi kerusakan saya bisa kena masalah!"
"Begitu...!" Tukang kebun pun diam dan membiarkan Wawan melakukan pekerjaan.
Sebenarnya tukang kebun itu kerasa ada yang aneh di sini, tapi karena ia sama sekali tidak tahu menahu soal AC jadinya ia tidak menemukan sumber kecurigaannya itu.