Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: MEJA MAKAN PENUH DURJA
BAB 27: MEJA MAKAN PENUH DURJA
Pagi menyapa kediaman Vashishth dengan hawa yang tidak biasa. Jika biasanya rumah itu dipenuhi dengan ketenangan militer yang kaku, pagi ini ada aura ketegangan yang bisa dirasakan bahkan oleh para pelayan di dapur. Arlan telah pulih. Dia bukan lagi pria yang merengek meminta mainan, melainkan pria yang setiap langkahnya memancarkan otoritas dan keberanian yang pernah ia miliki di Simla.
Di ruang makan yang megah, meja panjang berbahan jati itu telah disiapkan. Suman duduk di kursi utama dengan dagu terangkat, mencoba mempertahankan martabatnya meski tangannya sedikit bergetar saat memegang cangkir teh. Di sampingnya duduk Rayhan, yang sejak tadi hanya menatap piringnya tanpa selera. Vanya duduk di seberang mereka, wajahnya pucat dengan kantung mata yang jelas menunjukkan bahwa dia habis menangis semalaman.
Tiba-tiba, suara langkah sepatu yang mantap terdengar di lorong marmer. Arlan masuk ke ruang makan. Dia tidak lagi mengenakan pakaian berantakan; dia meminjam salah satu kemeja milik Rayhan yang pas di tubuhnya yang tegap. Dia berjalan dengan tenang, lalu menarik kursi tepat di hadapan Suman.
"Selamat pagi, Nyonya Besar," ucap Arlan. Suaranya rendah, tenang, namun mengandung nada ancaman yang sangat halus. "Aroma sarapan pagi ini sangat nikmat. Jauh lebih nikmat daripada aroma susu yang diberikan pelayanmu kemarin malam."
Suman tersedak tehnya. Dia menatap Arlan dengan mata yang membelalak. "Kau... beraninya kau duduk di meja ini tanpa izin!"
Arlan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Izin? Aku pikir di rumah seorang Mayor yang menjunjung tinggi keadilan, tamu yang sudah 'sehat' berhak mendapatkan tempat di meja makan. Benar bukan, Mayor Rayhan?"
Rayhan mendongak, menatap Arlan. Ada rasa kagum sekaligus pedih melihat saudaranya telah kembali sepenuhnya. "Duduklah, Arlan. Makanlah sesukamu."
"Rayhan! Apa yang kau lakukan?" teriak Suman murka.
"Aku sedang menjamu saudaraku, Ibu," jawab Rayhan dengan nada datar yang menusuk.
Suasana di meja makan menjadi sangat dingin. Arlan mengambil sepotong roti, mengolesnya perlahan, namun matanya tidak pernah lepas dari wajah Suman. Vanya hanya bisa menunduk, dia tahu Arlan sedang memulai sebuah permainan berbahaya.
"Nyonya Suman," Arlan memulai kembali pembicaraan. "Tadi malam aku bermimpi. Aku bermimpi tentang seorang pria hebat berseragam jenderal. Dia berdiri di sebuah bukit di Simla bersama seorang wanita desa yang sederhana. Pria itu memberikan sebuah janji, namun janji itu hancur karena ada seorang wanita lain yang hatinya lebih keras daripada batu gunung. Kau tahu siapa wanita itu?"
Suman membanting sendoknya ke atas piring porselen hingga menimbulkan suara dentingan yang keras. "Hentikan bualanmu, Arlan! Kau hanya seorang pengungsi yang kami beri tumpangan karena kasihan!"
"Kasihan?" Arlan tertawa kecil, tawa yang membuat bulu kuduk Suman merdiri. "Kau memberikan tumpangan karena kau takut. Kau takut jika aku berada di luar sana, kebenaran akan berjalan lebih cepat darimu. Kau takut jika anak dari wanita yang kau hancurkan hidupnya ini, berdiri tegak di depan putramu yang kau bangga-banggakan."
Arlan kemudian menoleh ke arah Vanya. Tatapannya melunak sejenak, namun segera kembali mengeras. "Terkadang kita selalu menginginkan sesuatu yang kita tahu tidak akan pernah bisa kita dapatkan, Nyonya. Kau menginginkan rahasia ini terkubur selamanya, tapi takdir justru membawanya tepat ke meja makanmu. Sama seperti aku... yang menginginkan hidupku kembali seperti dulu, namun aku harus sadar bahwa beberapa hal telah rusak secara permanen."
Vanya tidak tahan lagi. Dia berdiri, air matanya tumpah. "Cukup, Arlan! Jangan lakukan ini di sini!"
"Kenapa, Vanya? Kau takut kebenaran ini menyakiti suamimu?" Arlan menatap Vanya dengan pedih. "Atau kau takut melihat pria yang kau cintai berubah menjadi monster karena dendam? Dengar, Vanya... aku tidak mencari dendam. Aku hanya mencari tempat di mana kebenaran tidak lagi dianggap sebagai kesalahan."
Rayhan berdiri, dia memegang bahu Vanya agar istrinya itu tenang, lalu dia menatap Arlan. "Arlan, aku tahu apa yang kau rasakan. Aku tahu ibuku telah melakukan kesalahan besar. Tapi kumohon, jangan bawa Vanya ke dalam konflik ini. Dia sudah cukup menderita."
Arlan berdiri dari kursinya. Dia berjalan mendekati Rayhan hingga dada mereka hampir bersentuhan. Dua pria dengan garis rahang yang sama, dua pria yang memiliki darah yang sama, kini saling berhadapan dalam posisi yang sangat menyakitkan.
"Kau melindunginya, Rayhan? Itu bagus. Karena dulu, akulah yang melindunginya," bisik Arlan. "Tapi kau harus tahu satu hal. Aku tidak akan mengambil apa yang sudah menjadi milikmu secara hukum. Aku tidak akan mengambil istrimu, dan aku tidak akan mengambil rumah ini. Tapi aku akan mengambil kembali harga diri ibuku yang telah diinjak-injak oleh ibumu selama puluhan tahun."
Arlan kemudian berbalik menghadap Suman. Dia membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Suman. "Nyonya, setiap kali kau menutup mata mulai malam ini, ingatlah wajah Ibuku, Sujati. Ingatlah bagaimana kau membuangnya. Karena sekarang, anaknya telah kembali. Dan aku tidak akan berhenti sampai kau sendiri yang memohon maaf di kakinya."
Suman gemetar hebat. Kemarahan dan ketakutan bercampur menjadi satu. Arlan melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan kepala tegak, meninggalkan suasana yang hancur berkeping-keping.
Rayhan mengejar Arlan hingga ke taman. Dia menarik lengan Arlan. "Arlan, tunggu! Apa rencanamu sebenarnya? Kau ingin menghancurkan ibuku?"
Arlan melepaskan cengkeraman Rayhan. "Dia sudah menghancurkan dirinya sendiri sejak dia memutuskan untuk menjadi jahat, Rayhan. Aku hanya akan menunjukkan cermin di depannya."
"Dia ibuku, Arlan!" teriak Rayhan.
"Dan dia adalah wanita yang mencoba membunuhku!" balas Arlan tak kalah keras. "Dia adalah wanita yang membiarkan Hendra menyiksaku! Beritahu aku, Rayhan... sebagai seorang tentara, sebagai seorang Mayor yang bersumpah pada kebenaran... jika musuhmu adalah ibumu sendiri, apa yang akan kau lakukan?"
Rayhan terdiam. Pertanyaan itu adalah lubang hitam yang siap menelannya. Dia mencintai Suman, namun dia juga membenci apa yang telah Suman lakukan.
"Kau tahu, Rayhan..." Arlan melunak, suaranya kembali sedih. "Kadang-kadang kita menginginkan seorang ibu yang sempurna, namun kita mendapatkan kenyataan yang pahit. Kita menginginkan cinta yang abadi, namun kita mendapatkan perpisahan. Kita berdua adalah korban dari ambisi orang tua kita. Bedanya, kau mendapatkan kemewahan dari kebohongan mereka, sementara aku mendapatkan luka dari kebenaran mereka."
Arlan menepuk bahu Rayhan. "Aku tidak membencimu, saudaraku. Tapi jangan halangi aku untuk menegakkan keadilan bagi ibuku. Itu adalah satu-satunya hal yang tersisa yang bisa kulakukan sebagai putranya."
Di dalam kamar, Vanya terduduk di lantai, memeluk lututnya. Dia mendengar semua perdebatan itu. Dia merasa seperti benda yang diperebutkan di tengah badai. Dia mencintai Arlan, namun dia juga mulai menghormati Rayhan sebagai pria yang sangat baik.
Dia teringat kata-kata Arlan semalam. Menginginkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan. "Aku menginginkan kalian berdua damai," bisik Vanya pada kesunyian. "Tapi aku tahu, kedamaian itu adalah hal yang tidak bisa kudapatkan di rumah ini."
Malam itu, Suman diam-diam menelepon seseorang. "Hendra... kau harus datang ke Delhi. Sekarang. Arlan sudah tahu semuanya. Jika kau tidak menghabisinya sekarang, dia akan menyeret kita berdua ke neraka."
Di ujung telepon, Hendra tersenyum licik. "Aku akan datang, Nyonya Suman. Dan kali ini, aku pastikan tidak akan ada Mayor Rayhan yang bisa menyelamatkannya."