Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan
Acara penyambutan mahasiswa yang baru berjalan lancar dan banyak juga yang mengagumi Dean di sana. Tak ada yang terpana dengan ketampanan Dean serta kecakapan Dean saat menyambut semua mahasiswa itu dengan baik. Tapi saat Dean turun dari panggung dan menghampiri Valen semua orang tak ada yang berani mengusik mereka.
Saat acara semua acara telah selesai Dean mengajak Valen pergi dari sana karena Valen memang tidak akan langsung masuk kuliah hari itu juga. Semua mata kembali memandang mereka di tambah wajah mereka yang datar dan sama sama dingin.
Berbeda dengan wanita yang baru saja mengusik Valen tadi nampak tak senang dengan apa yang di lihatnya kali ini.
Puk....
"Meilan, jangan mengganggu mereka, atau lo bakal kehilangan semuanya."
Meilan yang di tepuk bahunya oleh temannya itu mendengus kesal karena menurut Meilan temannya itu terlalu mengada ada karena dia merasa temannya itu tak mengenal sosok Dean sama dengan dirinya yang baru juga melihat Dean secara langsung.
"Ck, lo tahu apa soal dia? Dan lagi itu cewek kegatelan banget harus di ladenin sama Dean, di kira Dean babunya apa," ucap Meilan kesal.
Sang teman hanya menghela napas panjang, karena dia merasa jika Meilan terlalu tidak bisa menilai perlakuan seseorang yang memang meratukan pasangannya. Teman Meilan ingin memberitahu Meilan lagi tapi dia tak ingin ikut campur lagi.
Teman Meilan menatap Valen dan Dean kagum, dia mengenal mereka terutama Valen karena dia adalah kakak kelas Valen semasa jaman putih abu abu dulu jadi dia tahu sekali sepak terjang Valen dan Dean. Di tambah Kiki adalah anak dari salah satu karyawan orang tua Valen yaitu Altezza, untuk itulah Kiki ingin memberitahu Meilan tapi mengingat pesan keluarganya akhirnya Kiki memilih untuk diam.
"Gue udah ingetin lo, mereka bukan orang yang bisa lo singgung terutama yang cewek."
Setelah mengatakan itu Kiki meninggalkan Meilan yang semakin menatap tajam ke arah Valen. Dia mengepalkan kedua tangannya dan sudah banyak rencana yang ada di otaknya untuk memisahkan Valen dan Dean.
"Lo udah bikin malu gue tadi, jadi gue nggak salah kan kalau balas semua perbuatan lo?"
Meilan menatap Valen dengan wajah liciknya dan berniat mencelakai Valen.
Meilan pergi dari sana di iringi lirikan Valen yang memang sejak tadi tahu jika Meilan mengawasinya. Dean yang juga tahu pun menggenggam erat tangan Valen saat ini dan tersenyum lembut ke arahnya.
ini," "Biarin aja selama dia nggak senggol kamu saat
Valen mengangguk samar tapi kemudian dia kembali melihat ke arah Meilan dengan terang terangan yang akan menghampirinya dan Dean yang sedang berada di kantin. Karena Arlo akan menyusul mereka ke sana setelah urusan dengan Ale selesai.
"Ehm, maaf, gue boleh duduk di sini? Ada yang mau gue tanyain sama senior Dean,"
Valen menaikkan sebelah alisnya melihat Meilan yang bahkan belum di persilahkan sudah duduk di depan Dean tepat. Tapi berbeda dengan Dean yang tak ingin menggubris Meilan yang sudah memasang senyum cantiknya di depan Dean saat ini.
"Ehm senior, apa senior dengar apa yang gue omongin barusan?" tanya Meilan dengan berani.
Semua orang yang ada di kantin yang mengenal Dean menahan napasnya karena selama ini Dean tak pernah mengijinkan siapapun mengganggunya terlebih dahulu apalagi jika bukan masalah di kampus.
Kiki yang Meilan bertindak sejauh itu tercengang dan dia ingin menghampiri Meilan, tapi teman temannya tak mengijinkannya dan kembali menarik tangan Kiki agar Kiki duduk kembali.
Mereka menggeleng tanpa mengeluarkan suara pada Kiki.
Kiki juga mengikuti saran temannya yang lain dan hanya menyaksikan dari meja tempat duduknya bersama temannya yang lainnya.
Sementara dari kejauhan nampak Arlo yang sedang berjalan ke arah Valen dan Dean dengan santai dan tenang. Dari kejauhan itu juga Arlo sudah menebak alur ceritanya akan seperti apa. Jadi dengan melangkah tenang Arlo langsung duduk di sebelah Valen. Terlihat sekali saat ini Valen sedang di apit oleh dua cowok yang terlihat keren sekali. Meilan yang melihat Arlo di sana awalnya bingung tapi saat beralih ke arah Valen yang nampak menyodorkan minuman Dean pada Arlo membuat Meilen tersenyum tipis dan itu terlihat jelas di mata Valen.
"Maaf senior, itu kan minuman senior, tapi kenapa tunangan senior malah memberikannya pada laki laki lain? Bukannya itu terlihat nggak sopan dan tunangan senior ini seperti tidak menghargai keberadaan senior saat ini."
Arlo yang mendengar itu masih santai duduk di tempatnya dan juga minum apa yang di kasih Valen dengan santai. Dean juga tak menggubris apa yang di katakan oleh Meilan dan itu membuat Meilan semakin kesal dengan Valen. Meilan masih menahan dirinya agar tak membuat keributan di depan Dean dan dia menahannya sampai semua yang dia rencanakan untuk Valen siap di lakukan.
Drttt...
Ponsel Meilan bergetar dan nampak di sana orang yang membantunya mengirimkan pesan singkat jika semua yang dia mau sudah selesai. Meilan tersenyum samar membaca pesan itu dan kemudian dia sibuk bermain ponselnya seolah mengabaikan Valen dan dua orang yang ada di depannya.
Valen berdiri dari duduknya yang membuat Dean menahan tangannya.
"Mau kemana?" tanya Dean.
"Ke kamar mandi," sahut Valen singkat.
Tapi Dean melihat ada kode di sana yang di berikan Valen kepadanya, dan Dean tentu saja melihat kode itu begitu juga dengan Arlo yang sejak tadi mengawasi gerak gerik mereka berdua. Tak luput juga dari pandangan Arlo apa yang di lakukan Meilan saat ini.
Tapi mereka bertiga melakukannya dengan natural dan tak ada kecurigaan dari Meilan sama sekali.
Valen segera beranjak pergi dari sana di ikuti tatapan Meilan, dan sesaat kemudian Meilan juga pamit pergi dengan alasan akan ada kelas nantinya.
Meilan berhenti agak jauh dari tempat Valen berdiri yang akan masuk ke dalam kamar mandi wanita. Meilan tiba tiba juga mengirim pesan singkat secara bersamaan ke semua nomer yang ada di kontaknya tanpa pikir panjang dan juga tak lupa dia mengambil foto saat Valen yang di rangkul orang dari belakang dan menyeret Valen pergi ke area gudang.
Meilan merasa puas dengan apa yang di dapatkannya saat ini, dia bahkan sudah memastikan jika Valen di bawa masuk kek dalam gudang dan menguncinya dari luar.
Tapi di saat yang bersamaan ada seseorang yang membekapnya dari belakang. Dan memasukkan sebuah benda bulat seperti sebuah kelereng.
Meilan yang di paksa meminum pil itu ingin memberontak tapi anehnya dia tak bisa melakukannya dan hanya pasrah saat di bawa masuk ke dalam gudang itu. Meilan di letakkan di dalam gudang itu dan orang itu menyuruh beberapa orang untuk masuk ke dalam.
Orang yang sama yang Meilan perintahkan untuk memberi pelajaran pada Valen tapi malah berbalik menyerang Meilan dengan cara yang sama.
"Berani banget mau bikin lo di sentuh banyak orang. Otaknya licik banget!" celetuk Arlo pada Valen yang berdiri di sampingnya.
Dean yang sedang merangkul Valen menatap tajam orang orang yang sedang mengeliling Meilan yang sedang tergeletak di dalam gudang itu. Arlo sendiri bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi di dalam gudang sana dengan tiga orang laki laki dan satu orang perempuan. Tapi mengingat niat jahat Meilan pada Valen tentu saja Arlo nampak senang dengan apa yang akan menimpa Meilan saat ini.
"Kak Dean apa semuanya sudah beres? Foto foto tadi apa sudah di rubah dan sudah di sebar ulang?" tanya Arlo lagi.
"Hemm, semua sudah beres, kita tinggal lihat apa yang akan terjadi nanti." sahut Dean lagi.
Mereka bertiga pergi dari sana dan melihat pertunjukan itu dari arah yang tak terlihat banyak orang, bahkan CCTV yang menampilkan mereka pun juga sudah hilang hanya ada CCTV Meilan yang terlihat sedang berbicara dengan ketiga orang tadi.
Tak lama terdengar suara suara yang aneh dari dalam gudang itu yang membuat Arlo serta Dean dan Valen bergidik ngeri. Dan setelahnya banyak mahasiswa yang datang ke depan gudang bersama dengan pihak kampus. Mereka juga mendengar suara yang membuat mereka merasa jijik dengan apa yang ada di dalam itu.
Brak.....
Petugas keamanan yang ada di sana mendobrak pintu itu dengan keras dan nampak lah di dalam sana adegan yang tak pantas di lihat oleh semua orang.
Ada yang langsung memuntahkan semua isi perutnya dan ada juga yang langsung memalingkan wajahnya. Bahkan ada juga yang langsung mengambil kamera untuk merekam Meilan dan tiga orang lainnya yang ada di dalamnya.
Efek pil yang di minum Meilan pun berangusr hilang dan membuat Meilan terkejut. Dia berusaha menutupi semua badannya tapi dia terlambat sudah banyak orang yang merekamnya dan mengambil gambarnya.
Meilan nampak panik dengan keadaan yang menimpanya saat ini. Dia tak menyangka malah dia yang terjebak dengan semua rencananya sendiri. Dia di bawa dari gudang dalam keadaan linglung sedangkan tiga orang laki laki tadi sudah di gelandang lebih dahulu dari pada dia oleh beberapa petugas keamanan.
Meilan yang sedang di gelandang pun nampak menundukkan kepalanya dan sudah di soraki banyak orang yang mengenalinya. Kiki yang melihat itu tak menyangka jika Meilan akan melakukan hal itu.
Tapi saat Meilan melewati Valen yang sedang berdiri di sana dengan di rangkul Dean pun dia memberontak dan ingin menghajar Valen.
"Lo kan yang sudah ngejebak gue? Kenapa lo tega nglakuin ini semua sama gue?" teriak Meilan pada Valen.
Valen menaikkan sebelah alisnya bingung dengan apa yang di bilang oleh Meilan kepadanya. Bahkan semua orang yang ada di sana juga nampak heran pada Meilan yang menuduh Valen menjebaknya.
"Lo nuduh gue?" tunjuk Valen pada dirinya sendiri.
Semua orang menatap aneh Meilan dan akhirnya Kiki bisa mencerna semuanya saat semua di sambungkan dan sudah jelas jika memang Meilan melakukan ini di tujukan kepada Valen tapi kembali lagi Valen dan orang di sekelilingnya tak bisa di sentuh.
"Gue nggak kenal sama lo jadi buat apa gue jebak lo dengan hal yang memalukan begini? Dan lagi coba tanya kepada mereka kenapa mereka bisa mergoki lo yang sedang asik bermain bersama tiga laki laki itu?"
Semua orang membenarkan apa yang di katakan Valen pada Meilan.
"Kayaknya lo yang ngigau, lo yang ngirim pesan singkat sama kami semua dan lo nyalahin orang lain?"
"Wah, lo kayaknya perlu di periksa otak sama jiwa lo!"
Semua mahasiswa yang ada di sana mulai berteriak kesal ke arah Meilan dan membuat Kiki hanya bisa memejamkan matanya karena tak mampu menolong Meilan. Tapi Kiki sendiri sudah mengingatkan Meilan soal Valen dan Dean yang tak bisa di singgung dan lihat sekarang hasilnya seperti apa. Meilan menerima akibat dari perbuatannya sendiri.
Meilan tak terima dengan tuduhan semua orang padanya.
"Gue nggak salah, dia yang udah ngejebak gue. Gue yang fotoin perempuan itu masuk ke dalam gudang bareng cowok lain. Gue cuma mau nolong senior Dean dari cewek kayak dia!!!" tunjuk Meilan lagi.
"Foto apa yang lo maksud?" tanya Arlo yang ada di sebelah Valen.
"Tunggu gue bisa buktiin, di mana ponsel gue?"
Meilan mencari ponselnya dan petugas keamanan membuka ponsel Meilan dan melihat beberapa foto yang ada di sana.
"Lihat ini cewek itu selingkuh dia di rangkul cowok lain!!!"
Meilan terus bersikeras dengan apa yang ada di galeri ponselnya, Dan Arlo yang melihat itu terkekeh geli setengah mengejek.
"Mata lo buta, Valen di rangkul tunangannya sendiri di mana salahnya? Coba lo lihat lagi baju mereka sama dan nggak ada yang aneh." Bantah Arlo pada Meilan.
"Ya, tadi gue juga lihat Kak Dean yang rangkul tunangannya, bahkan gue juga ada di sana dan iri banget!"
Celetukan banyak cewek di sana bisa sebagai bantahan atas alibi Meilan tadi soal Valen.
Valen yang mendapatkan banyak pembelaan menyeringai ke arah Meilan. Dan di sana Meilan semakin jika apa yang menjadi rencananya berbalik ke arahnya.
Valen mendekat ke arah Meilan dan menatap Meilan dengan kasihan. Dia mendekatkan wajahnya ke samping telinga Meilan dan membisikan sesuatu di sana.
"Lo mau ngajak bermain orang yang salah, karena gue orang yang nggak akan ngbiarin orang lain nyelakain gue atau orang terdekat gue."
Setelah mengatakan itu, Valen menarik dirinya kembali dan kembali ke sisi Dean. Meilan menatap Valen tak percaya dan petugas keamanan itu kembali menyeret Meilan yang terus memberontak tak terima dengan apa yang di katakan oleh Valen tadi.
"Gue rasa di sana nanti dia juga akan mendapatkan sambutan yang nggak bakal dia lupakan seumur hidupnya!"
to be continued...