cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 27
Harry baru ikut menyalakan setelahnya.
Beberapa detik mereka diam. Hanya suara kendaraan samar dari parkiran.
“Kamu makin sering kelihatan mikir,” ucap Aura sambil mengembuskan asap.
“Kamu juga,” balas Harry.
Aura tersenyum kecil. “Aku dari dulu emang banyak mikir.”
Harry menoleh. “Tentang Alden?”
Aura tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan bersama asap rokok.
“Iya. Tentang dia. Tentang kamu. Tentang aku sendiri.”
Harry terdiam.
“Alden datang lagi kemarin,” lanjut Aura pelan. “Dia nggak marah. Dia nggak larang aku dekat sama siapa pun.”
“Tapi dia tetap pacar kamu,” jawab Harry datar.
“Iya.”
Hening.
Aura menatap ujung rokoknya yang mulai memendek. “Kamu nggak pernah nanya perasaan aku.”
Harry tersenyum tipis. “Karena kamu pasti jawab yang aman.”
Aura menoleh tajam. “Gimana kalau kali ini nggak?”
Harry tidak langsung membalas. Ia hanya menatap wajah Aura yang setengah tertutup bayangan sore.
“Aku nyaman sama kamu,” ucap Aura akhirnya. “Nyaman banget.”
Jantung Harry berdetak lebih cepat, tapi ia berusaha tetap biasa saja. “Nyaman beda sama—”
“Aku tahu bedanya,” potong Aura pelan.
Asap rokoknya kembali keluar perlahan.
“Aku sayang Alden,” lanjutnya jujur. “Tapi akhir-akhir ini aku juga mulai ngerasa sesuatu yang nggak bisa aku sebut cuma nyaman ke kamu.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Harry mematikan rokoknya lebih cepat dari biasanya. “Ra…”
“Aku nggak bangga sama perasaan ini,” tambah Aura cepat. “Makanya aku bingung.”
Hening panjang.
Angin sore berembus, membawa sisa asap menjauh dari mereka.
“Aku nggak mau jadi alasan kamu goyah,” kata Harry pelan.
“Kamu bukan alasan,” jawab Aura. “Perasaan nggak pernah minta izin.”
Harry menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, bukan sebagai teman satu kelas. Bukan sebagai orang yang tahu batas.
Tapi sebagai laki-laki yang benar-benar menginginkan perempuan di depannya.
Di tempat lain, Alden sedang mengemudi pulang. Ia sempat melihat unggahan story Aura foto langit sore dari taman kampus. Ia tahu tempat itu.
Ia tahu kemungkinan besar Harry ada di sana.
Tapi Alden tidak menelpon. Tidak bertanya.
Ia hanya bergumam pelan di dalam mobilnya, “Selama kamu masih pilih aku, aku tetap di sini.”
Sementara di taman, rokok Aura sudah habis. Ia menjatuhkan puntungnya, menginjaknya pelan.
“Kadang aku berharap kamu jahat aja,” ucap Aura tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Biar aku punya alasan buat berhenti dekat sama kamu.”
Harry tersenyum tipis, pahit. “Sayangnya aku nggak bisa.”
Dan di bangku taman itu, dengan asap yang sama dan jarak yang semakin tipis, keduanya mulai sadar
Garis yang dulu begitu jelas…
Perlahan mulai mengabur.
Langit mulai gelap ketika mereka masih duduk di taman. Lampu parkiran menyala satu per satu. Suasana jadi lebih sepi, hanya suara motor sesekali lewat.
Aura menyandarkan punggungnya ke bangku, menatap langit yang mulai kehilangan warna. Tangannya kosong sekarang, tapi aroma rokok masih tertinggal di ujung jarinya.
“Aku capek,” ucapnya pelan.
“Capek karena?” tanya Harry.
“Karena harus pura-pura semuanya biasa.”
Harry tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah Aura yang terlihat lebih jujur dari biasanya.
“Kamu nggak perlu pura-pura ke aku,” katanya akhirnya.
Aura tertawa kecil, tapi tidak benar-benar lucu. “Justru itu masalahnya.”
Hening lagi.
Harry berdiri sebentar, berjalan dua langkah ke depan, lalu kembali. Gelisah yang jarang ia tunjukkan sekarang terlihat jelas.
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣