Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.
Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.
Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Pertandingan Klan Dimulai
Ketika fajar menerobos belenggu awan dan menumpahkan cahaya keemasan ke atas bumi, seluruh kediaman Keluarga Lin seketika berubah menjadi lautan hiruk-pikuk. Sinar mentari pagi menyentuh atap-atap bangunan, menyusuri dinding halaman, dan akhirnya memantul di lantai batu aula latihan, seakan menjadi genderang pembuka bagi hari yang telah lama dinanti.
Hari itu bukan hari biasa.
Hari itu adalah hari Pertandingan Klan.
Sejak dini hari, para pelayan telah sibuk mondar-mandir. Para tetua berpakaian rapi dengan jubah terbaik mereka. Para generasi muda berdiri dengan wajah tegang namun mata membara. Di udara yang sejuk pasca-musim panas, justru terasa panas yang lain—panas ambisi, panas kehormatan, panas harga diri.
Ketika Lin Xiao membawa Lin Zhantian dan Qing Tan menuju Aula Uji Pertandingan, tempat itu telah lebih dulu dipenuhi manusia. Dari kejauhan, lautan kepala tampak beriak seperti ombak, suara percakapan bersahut-sahutan, tawa dan bisikan bercampur menjadi satu.
Meskipun Keluarga Lin di Kota Qingyang belum dapat disebut sebagai kekuatan tertinggi, pengaruh mereka tetap memiliki bobot tersendiri. Karena itulah, tak sedikit tamu terhormat dari berbagai kalangan datang untuk menyaksikan acara ini.
Sebagian datang untuk menjalin relasi.
Sebagian datang untuk mengamati.
Bagi keluarga-keluarga besar, generasi muda adalah darah segar yang menentukan hidup mati masa depan. Jika tunas-tunas itu lemah dan tumpul, maka kehancuran hanyalah soal waktu.
Lin Zhantian menghela napas perlahan.
Ini bukan pertama kalinya ia melihat keramaian seperti ini, tetapi hari ini berbeda. Hari ini, ia bukan lagi penonton.
Hari ini, ia adalah bagian dari panggung.
Lin Xiao menepuk bahunya dengan tenang, memberi isyarat agar ia tidak tegang. Wajah pria itu tampak tenang, namun di balik ketenangannya tersembunyi kebanggaan yang sulit disembunyikan.
Mereka bertiga berjalan langsung menuju deretan kursi tamu terhormat.
Di sana, sejumlah tokoh penting telah duduk sambil berbincang santai. Di bagian tengah, seorang pria paruh baya bertubuh kurus dengan wajah tajam tampak tersenyum lebar, bercakap-cakap dengan beberapa tamu berpengaruh.
Tatapannya tiba-tiba tertumbuk pada Lin Xiao.
Seketika, alisnya sedikit berkerut—nyaris tak terlihat, namun cukup jelas bagi mata yang peka.
Pria itu adalah Lin Mang.
Saudara seayah beda ibu Lin Xiao. Sejak kecil hubungan mereka tak pernah akur. Dalam beberapa tahun terakhir, ketika Lin Xiao terpuruk dalam keputusasaan, Lin Mang justru bangkit. Dua tahun lalu ia berhasil menembus Alam Tianyuan, menjadi salah satu dari tiga ahli Tianyuan dalam Keluarga Lin. Kini ia memegang kendali keuangan keluarga, pengaruhnya kian besar.
Di sisi kirinya berdiri dua pemuda.
Lin Hong dan Lin Shan.
Melihat kedatangan Lin Xiao yang langsung menuju kursi tamu terhormat—sesuatu yang jarang ia lakukan selama bertahun-tahun—wajah Lin Mang menjadi sedikit suram.
“Tiga Adik,” ucapnya tiba-tiba dengan nada santai namun menyimpan sindiran, sambil memutar cangkir teh di tangannya. “Kali ini kau rela meninggalkan tempat persembunyianmu?”
Langkah Lin Xiao terhenti.
Ia menoleh, menatap pria itu dengan senyum tipis.
“Apa ada masalah?” jawabnya ringan.
Senyum itu membuat Lin Mang terdiam sejenak.
Tak ada lagi bayang-bayang kehampaan yang dulu menghuni wajah Lin Xiao. Tatapannya kini dalam dan tenang, seperti danau yang menyembunyikan arus kuat di dasarnya.
Perubahan itu membuat hati Lin Mang terasa tidak nyaman.
“Tidak ada masalah,” katanya datar. “Hanya saja hari ini adalah peristiwa penting keluarga. Karena kau sudah keluar, kuharap jangan mempermalukan nama Keluarga Lin.”
Sindiran halus itu meluncur tanpa tedeng aling-aling.
Namun Lin Xiao hanya tersenyum samar, tak tergoyahkan sedikit pun. Tanpa membalas, ia melangkah melewati Lin Mang dan duduk di kursi yang disediakan.
Ekspresi Lin Mang mengeras. Ia mendengus pelan.
Di sampingnya, seorang tamu tertawa kecil.
“Saudara Lin Mang, apakah itu Lin Xiao yang dulu disebut-sebut sebagai harapan terbesar menembus Alam Yuandan?”
“Rumor belaka,” jawab Lin Mang ringan. “Tidak perlu dianggap serius.”
“Tetap saja,” tamu itu tersenyum penuh arti, “sekarang justru Saudara Lin Mang yang paling berpeluang menembus Alam Yuandan. Di masa depan, kita harus lebih sering bekerja sama.”
Nada menjilat tersirat jelas.
Lin Mang tahu itu sekadar basa-basi, namun tetap saja sudut bibirnya terangkat bangga.
Di belakangnya, Lin Hong berbisik pelan, “Ayah, tunggu saja. Saat Lin Zhantian kalah telak nanti, wajah mereka pasti tidak akan enak dilihat.”
Lin Mang mengangguk puas.
---
Di sisi lain, Qing Tan berbisik kesal, “Orang itu menyebalkan sekali.”
Lin Xiao hanya tersenyum tipis.
“Orang yang baru berkuasa memang mudah lupa diri.”
Tatapannya tiba-tiba beralih ke pintu masuk aula.
Suasana mendadak riuh.
Sekelompok besar orang melangkah masuk dengan tertib. Di barisan depan, seorang lelaki tua berambut putih berjalan mantap. Ia mengenakan jubah indah, tubuhnya tegap, sorot matanya tajam penuh wibawa.
Dialah Lin Zhentian.
Kepala Keluarga Lin.
Ayah Lin Xiao.
Kakek Lin Zhantian.
Begitu sosok itu muncul, seluruh aula berdiri serempak. Nama Lin Zhentian di Kota Qingyang bukan sekadar nama biasa. Dengan tangan kosong, ia membangun fondasi keluarga hingga menjadi seperti sekarang.
Tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti pada sosok yang berdiri tidak jauh darinya.
Lin Xiao.
Langkahnya terhenti.
Ia menatap putranya dengan ekspresi rumit.
“Jadi akhirnya kau mau menemuiku?” suaranya datar namun dalam.
Tangan Lin Xiao mengepal dalam lengan bajunya.
“Maafkan aku, Ayah,” ucapnya pelan.
Dulu, Lin Xiao adalah kebanggaan terbesar Lin Zhentian. Harapan keluarga. Namun kekalahan pahit dan luka batin telah meruntuhkan semangatnya. Yang paling melukai hati sang ayah bukanlah kegagalan itu—melainkan keputusasaan yang mengikutinya.
Keduanya sama-sama keras kepala.
Bertahun-tahun berlalu tanpa ada yang lebih dulu melangkah.
“Paman…” sapa Lin Zhantian dan Qing Tan bersamaan.
Wajah Lin Zhentian akhirnya melembut. Ia mengusap kepala keduanya dengan senyum hangat.
“Kalian tumbuh tinggi sekali.”
Namun ketika menatap Lin Xiao lagi, suaranya kembali berat.
“Baguslah kau keluar sebelum aku masuk peti mati.”
Di balik kata-kata itu, Lin Zhantian dapat merasakan tangan kakeknya sedikit bergetar.
Ia tidak pernah benar-benar tidak peduli.
“Baiklah,” suara lain terdengar. Seorang pria paruh baya berdiri di samping Lin Zhentian. “Hari ini banyak tamu. Jangan membuat suasana canggung.”
Pria itu adalah Lin Ken—kakak tertua Lin Xiao.
Ia menepuk bahu Lin Zhantian.
“Keponakanku, jangan mempermalukan ayahmu hari ini.”
“Ya, Paman Besar,” jawab Lin Zhantian mantap.
Di belakang Lin Ken, Lin Xia tersenyum sambil mengepalkan tinju kecilnya ke arah Lin Zhantian, memberi semangat.
Lin Zhantian membalas dengan anggukan ringan.
Setelah semua duduk kembali, suasana perlahan menjadi hening.
Semua mata tertuju pada kursi utama.
Di sana, Lin Zhentian berdiri perlahan.
Suara bising menghilang seperti ditelan angin.
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Pertandingan Klan Keluarga Lin…
Resmi dimulai.