Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi di Bawah Amis Mesiu
Hujan deras di Dermaga Barat tidak mampu meredam suara mesin SUV hitam yang meraung, melompati gundukan aspal pelabuhan sebelum berhenti dengan decitan ban yang memekakkan telinga. Devan melompat keluar bahkan sebelum mobil berhenti sempurna. Di depannya, gudang bernomor 7 berdiri angkuh, dikelilingi oleh kontainer besi yang berkarat.
Namun, Devan tidak sendiri. Sebuah sedan sport perak berhenti tepat di sampingnya. Alaska Jasper keluar dengan wajah yang mengeras, memegang senjata api dengan tangan yang gemetar namun mantap.
"Aku bilang jangan mengikutiku, Alaska!" bentak Devan. Hujan membasahi rambutnya, membuatnya tampak seperti singa yang terluka.
"Dan membiarkan Ara diselamatkan oleh dokter yang bahkan tidak tahu cara memegang pistol?" Alaska mencemooh, melangkah maju hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Kau mungkin bisa membedah mayat, Devan. Tapi di dalam sana, kau hanya akan jadi mayat tambahan kalau bergerak sendirian."
"Dia istriku! Ini urusan keluarga Wren!"
"Dia calon mantan istrimu, bajingan!" Alaska mencengkeram kerah jaket Devan. "Dia mencintaimu selama lima tahun dan kau membalasnya dengan pengabaian. Sekarang, saat dia dalam bahaya karena dosa keluargamu, kau ingin menjadi pahlawan? Aku tidak akan membiarkan Ara mati karena kebodohanmu untuk kedua kalinya!"
Devan menepis tangan Alaska dengan kasar. Matanya yang biasanya dingin kini berkilat penuh kebencian—pada Alaska, pada kakeknya, dan terutama pada dirinya sendiri. "Simpan khotbahmu. Kita masuk. Sekarang."
Mereka bergerak di antara bayang-bayang kontainer. Suasana dermaga terasa mencekam dengan aroma solar dan air laut yang asin. Di pintu belakang gudang, dua penjaga berjas hitam tampak berjaga.
"Ada dua orang di pintu. Kau punya rencana, Dokter?" bisik Alaska sinis sambil memeriksa peluru di senjatanya.
Devan merogoh tas forensiknya, mengeluarkan dua botol kecil berisi cairan bening. "Aku tidak butuh peluru untuk membuat mereka tidur."
"Zat apa itu? Sianida?"
"Bukan. Etil klorida konsentrasi tinggi. Cukup untuk melumpuhkan sistem saraf mereka dalam hitungan detik tanpa suara." Devan merayap maju dengan kelincahan yang tak terduga.
Dalam satu gerakan cepat, Devan menyergap salah satu penjaga dari belakang, menekan kain yang sudah dibasahi cairan tersebut ke hidung lawan. Sementara itu, Alaska yang tidak mau kalah, menghantamkan gagang pistolnya ke tengkuk penjaga kedua sebelum pria itu sempat berteriak.
Keduanya saling pandang sejenak di tengah kegelapan.
"Lumayan untuk ukuran pria yang biasanya hanya memegang pinset," gumam Alaska.
"Diam dan masuklah," balas Devan datar.
Di dalam gudang, cahaya lampu gantung bergoyang, menciptakan bayangan yang menari-nari. Di tengah ruangan, Ara duduk terikat di sebuah kursi besi. Wajahnya pucat, ada bekas lebam di sudut bibirnya yang membuat darah Devan mendidih hingga ke ubun-ubun.
Di depan Ara, seorang pria tua duduk di kursi rotan sambil menyesap teh—Kakek Wren.
"Kau lihat, Arabella? Suami tercintamu akhirnya datang," suara Kakek Wren bergema, dingin dan berwibawa. "Dan dia membawa... ah, si pengusaha muda. Betapa romantisnya."
"Lepaskan dia, Kakek!" teriak Devan, melangkah keluar dari kegelapan. Alaska mengikuti di belakangnya, senjatanya terarah tepat ke arah Kakek Wren.
"Devan... jangan..." suara Ara parau, matanya menatap Devan dengan tatapan yang sulit diartikan—ada ketakutan, namun juga kerinduan yang sangat dalam yang ia coba tekan.
"Diamlah, Sayang," potong Kakek Wren. "Cucuku, kau membawa berkas yang ditemukan istrimu? Berkas yang bisa menghancurkan warisan yang aku bangun dengan darah dan keringat?"
"Warisan yang dibangun di atas nyawa orang tuaku?" Devan melangkah maju, tangannya merogoh saku, mengeluarkan map cokelat yang sudah agak basah. "Ini yang kau mau? Ambil ini dan lepaskan Ara!"
"Jangan berikan, Devan!" teriak Alaska. "Dia akan membunuh kalian berdua setelah mendapatkan itu!"
"Kau tidak tahu apa-apa tentang keluarga ini, Jasper!" Kakek Wren berdiri, memberi tanda pada anak buahnya yang muncul dari balik kontainer di dalam gudang. Lima moncong senjata kini terarah pada Devan dan Alaska.
"Pilih, Devan," ujar Kakek Wren tenang. "Berikan berkas itu dan aku biarkan Ara hidup—meskipun dia harus menghilang selamanya dari negeri ini. Atau, kita semua mati di sini malam ini."
Devan menatap Ara. Ia melihat air mata mengalir di pipi istrinya. Di sisi lain, ia merasakan kehadiran Alaska di sampingnya, siap menembak kapan saja.
"Ara," suara Devan melunak, hanya untuk istrinya. "Maafkan aku untuk lima tahun ini. Aku ahli dalam melihat kematian, tapi aku buta melihatmu yang sedang berjuang sendirian."
"Mas..." bisik Ara, suaranya pecah.
Tiba-tiba, Alaska berteriak, "Sekarang, Devan!"
Alaska melepaskan tembakan ke arah lampu gantung, membuat ruangan menjadi gelap gulita dalam sekejap. Suara rentetan tembakan memenuhi gudang.
"Bawa Ara pergi!" raung Devan sambil menerjang ke arah kursi Ara di tengah kekacauan.
Namun, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah pintu keluar. Seseorang telah memasang jebakan. Asap tebal mulai memenuhi ruangan.
Di tengah kegelapan dan asap, Ara merasakan dua tangan meraihnya. Satu tangan yang dingin namun sangat ia kenali aromanya—aroma rumah sakit dan sabun maskulin milik Devan. Satu lagi tangan yang hangat dan protektif milik Alaska.
"Ikut aku, Ara!" teriak Alaska.
"Ara, pegang tanganku!" Devan memohon, suaranya terdengar sangat putus asa.
Dalam detik yang menentukan itu, di tengah desing peluru dan kepulan asap, Ara harus memilih tangan siapa yang akan ia genggam untuk keluar dari neraka ini.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/