NovelToon NovelToon
Anomali Detik Ke-601

Anomali Detik Ke-601

Status: tamat
Genre:Action / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Di zona luar

Zona Luar adalah tempat di mana waktu pergi untuk mati. Langitnya tidak pernah berganti pagi atau malam, hanya menyisakan warna jingga permanen yang menyerupai karat. Di sini, gravitasi terasa lebih berat, dan setiap embusan angin membawa suara bisikan dari jutaan memori yang telah dihapus oleh Dewan Realitas.

Kala berdiri di puncak sebuah reruntuhan menara pemancar, menatap ke arah cakrawala. Di kejauhan, ia bisa melihat Citadel, markas besar Dewan yang melayang di atas awan digital, berkilauan seperti permata yang dingin dan tak tersentuh.

"Tempat ini adalah tumpukan sampah sejarah," ujar pria bermata mekanik itu, yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Darma, mantan komandan Pemulih yang berkhianat. "Semua orang yang kamu lihat di kamp ini adalah mereka yang 'terlalu nyata' untuk dihapus, tapi 'terlalu berbahaya' untuk dibiarkan hidup."

Kala menoleh ke arah kamp di bawah. Ribuan orang tinggal di tenda-tenda yang terbuat dari sisa-sisa kabel dan logam. Mereka tidak memiliki jam, tidak memiliki jadwal. Mereka hanya hidup dalam satu momen panjang yang tanpa akhir.

"Kenapa kalian menungguku?" tanya Kala.

Darma mengisap sebatang rokok elektrik yang mengeluarkan asap biru. "Bukan kamu yang kami tunggu, sebenarnya. Tapi anak itu." ia menunjuk ke arah tenda medis di mana Arumi sedang menemani Naya.

Kala mengernyitkan kening, tangannya mengepal. "Naya bukan senjata kalian."

"Naya bukan senjata kami, Kala. Dia adalah Singularitas," balas Darma serius. "Dewan Realitas tidak hanya mencoba mengambil energinya. Mereka mencoba menggunakan Naya sebagai 'Jarum Jam Utama' yang baru. Jika mereka berhasil, mereka bisa menghapus seluruh sejarah manusia dan menulis ulang semuanya sesuai keinginan mereka. Tidak ada lagi kehendak bebas. Hanya naskah yang mereka buat."

Kala turun ke tenda medis. Ia melihat Naya sedang duduk di atas tempat tidur darurat. Anak itu tampak berbeda. Cahaya di bahunya tidak lagi berpendar liar, melainkan meresap masuk ke bawah kulitnya, membuat pembuluh darah di lengan kecilnya bercahaya keemasan.

Naya sedang memegang sebuah jam saku tua yang rusak. Di tangan Naya, jam yang tadinya hancur itu perlahan-lahan merakit dirinya sendiri. Logam yang berkarat kembali berkilau, jarum yang patah tersambung lagi tanpa api atau alat las.

"Ayah," panggil Naya pelan. Suaranya terdengar lebih dewasa dari usianya. "Aku bisa mendengar suara mereka."

"Suara siapa, Nak?" tanya Arumi cemas.

"Suara detik yang ketakutan," bisik Naya. "Mereka ingin berhenti berputar, tapi ada mesin besar yang memaksa mereka maju."

Kala berlutut di depan Naya. Ia menyadari bahwa putrinya bukan lagi sekadar manusia biasa. Naya adalah perwujudan dari waktu yang meronta ingin bebas.

Tiba-tiba, tablet medis yang dibawa Darma bergetar hebat. Proyeksi hologram Vera muncul, namun wujudnya sangat tidak stabil. Wajahnya terus berganti antara kode biner dan fitur manusia.

"Kala... mereka... datang..." suara Vera tertutup statis. "Kurator Utama telah mengaktifkan Penghapus Garis Depan. Mereka tidak akan menangkap kalian lagi. Mereka akan menghapus seluruh koordinat Zona Luar ini dari peta keberadaan!"

Suara gemuruh terdengar dari langit. Awan jingga di atas mereka terbelah, menyingkapkan monolit-monolit hitam raksasa yang turun perlahan. Monolit itu adalah pembersih dimensi. Apa pun yang disentuh oleh bayangan monolit itu akan lenyap seolah-olah tidak pernah diciptakan.

"Kita harus bergerak sekarang!" teriak Darma sambil menarik kokang senjatanya. "Kala, satu-satunya cara menghentikan monolit itu adalah dengan menembakkan energi Naya ke arah sensor pusat mereka di langit!"

"Tidak! Naya tidak akan bisa menanggung bebannya!" protes Arumi.

"Aku bisa, Ibu," Naya berdiri. Matanya kini sepenuhnya berwarna emas. "Ayah, pegang tanganku. Kita harus melakukannya bersama. Seperti saat kita menghancurkan simulasi itu."

Kala menatap Arumi, mencari persetujuan di matanya. Arumi mengangguk dengan air mata yang mengalir. Ia tahu bahwa lari bukan lagi pilihan. Jika mereka tidak melawan sekarang, tidak akan ada tempat lagi untuk bersembunyi di seluruh semesta.

Kala menggenggam tangan kecil Naya. Seketika, ia merasakan aliran energi yang begitu masif hingga tulang-tulangnya terasa seperti akan mencair. Itu bukan energi yang menghancurkan, tapi energi yang membangun.

"Fokuskan pada satu titik, Naya," bisik Kala. "Bayangkan detik di mana kita pertama kali bertemu di kafe itu. Bayangkan rasa sayangnya, bukan amarahnya."

Naya memejamkan mata. Sebuah pilar cahaya emas melesat dari tubuh mereka berdua, menembus langit jingga, dan menghantam monolit hitam yang paling besar.

BOOOOOOOOOOMMMM!

Ledakan itu tidak menghasilkan api. Ia menghasilkan gelombang warna yang mengembalikan bentuk asli Zona Luar selama beberapa detik—menampilkan padang rumput hijau dan laut biru yang dulu pernah ada di sana ribuan tahun lalu—sebelum akhirnya monolit itu pecah menjadi debu digital.

Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Naya jatuh pingsan di pelukan Kala, dan tanda lahir di bahunya mulai berdarah.

Di langit yang kini terbuka, sebuah bayangan raksasa muncul. Bukan lagi robot atau Kurator, melainkan sebuah jam pasir raksasa yang menyelimuti seluruh atmosfer.

"Kalian telah menarik perhatian Sang Arsitek," bisik Darma dengan wajah pucat pasi. "Pemimpin tertinggi Dewan. Dia yang menciptakan konsep waktu itu sendiri."

Sebuah suara berat yang sanggup meretakkan jiwa bergema dari langit:

"KREATUR KECIL... KALIAN INGIN BEBAS DARI WAKTU? MAKA AKAN AKU BERIKAN KEABADIAN DALAM KEHAMPAAN."

1
Marina Bunga
masyaallah, baru baca bagian depan udah kerennnnn😍
Samuel sifatori: Hiii kakk, makasih banget lohh😁☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!