NovelToon NovelToon
The Units : Bright Sides

The Units : Bright Sides

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:669
Nilai: 5
Nama Author: Nonira Kagendra

Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).

Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.

Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.

---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taktik

## SELAMAT MEMBACA ##

Suasana di kediaman mewah keluarga Satya malam ini benar-benar riuh. Arindi dan Ankara memutuskan untuk mengadakan jamuan makan malam santai, mengundang orang-orang terdekat yang telah melewati badai bersama mereka. Di ruang makan yang luas itu, aroma *wagyu steak* dan pasta *truffle* buatan koki pribadi beradu dengan tawa renyah yang mengisi udara.

Arsen, sang bintang utama malam itu, mengenakan setelan jas kecil lengkap dengan dasi kupu-kupu merah. Ia merasa seperti seorang "bos besar" yang sedang mengawasi anak buahnya. Matanya yang tajam...warisan insting detektif ibunya, sedang memindai meja makan dengan serius.

Di sudut meja, Alan sibuk menyuapi Reyna sepotong brokoli karena istrinya itu sedang sibuk menggendong Aira yang mulai mengantuk. Sementara itu, Galih dan Dania duduk berdampingan, namun terlihat kikuk. Galih terus-menerus membenarkan kerah kemejanya, sementara Dania berpura-pura sangat sibuk memeriksa notifikasi di jam pintarnya.

Arsen mendekati Ankara dan berbisik cukup keras hingga terdengar satu meja. "Papa, Om Polisi yang kumisnya lucu itu (Galih) kenapa tidak memegang tangan Tante Cantik yang pintar komputer itu (Dania)? Padahal di film yang Arsen tonton, kalau duduk dekat-dekat harusnya pegangan."

Ankara nyaris tersedak anggurnya, sementara Galih mendadak batuk-batuk kecil. Dania hanya tertawa kecil, pipinya memerah.

"Arsen, jangan tidak sopan," tegur Arindi lembut, meski ia sendiri menahan senyum.

Namun, Arsen tidak bisa dihentikan. Ia menarik kursi kecilnya dan sengaja duduk di antara Galih dan Dania. "Om Galih, kalau Om lama sekali, nanti Tante Dania diambil orang, lho. Mami bilang, kalau ada penjahat harus langsung ditangkap. Tante Dania kan pencuri hati Om, kok tidak ditangkap-tangkap?"

Meja makan seketika meledak oleh tawa. Alan hampir menyemburkan air minumnya. "Wah, Ankara, anakmu ini benar-benar bibit detektif siber sejati. Dia tahu saja siapa yang sedang diincar!"

Dania, yang biasanya sangat berani, kini menunduk malu. Galih, yang merasa harga diri kepolisiannya tertantang oleh bocah empat tahun, akhirnya memberanikan diri. Di bawah meja, ia perlahan meraih tangan Dania dan menggenggamnya erat.

"Sudah Arsen, Om sudah 'tangkap' tangannya. Puas?" jawab Galih dengan wajah merah padam namun mencoba terlihat berwibawa.

"Nah! Begitu dong! Jadi nanti kalau sudah menikah, Arsen bisa punya teman main lagi," Arsen bertepuk tangan girang. Lalu ia menoleh ke arah Alan dan Reyna. "Om Alan, Adik Aira kapan bisa jalan? Arsen mau ajari dia cara melumpuhkan musuh pakai teknik kuncian leher."

"Jangan!" teriak Alan dan Reyna bersamaan.

"Anakku sayang," Arindi mengusap rambut Arsen, "Aira itu perempuan. Ajari dia yang lembut-lembut saja."

Arsen mengerutkan kening, tampak berpikir keras. "Kalau begitu... Mama saja yang buatkan Arsen adik perempuan yang lucu. Arsen janji tidak akan ajari dia kuncian leher, Arsen cuma akan ajari dia cara menembak... pakai pistol air!"

Ankara tertawa terbahak-bahak, lalu merangkul Arindi di depan tamu-tamunya. "Dengar itu semuanya? Sepertinya setelah acara makan malam ini selesai, tuan rumah harus segera 'lembur' untuk mengabulkan permintaan Jenderal kecil kita."

Malam itu ditutup dengan kebahagiaan yang sempurna. Alan dan Reyna yang saling melempar pandangan penuh cinta, Galih dan Dania yang akhirnya mulai terbuka dengan perasaan mereka, serta Ankara dan Arindi yang menyadari bahwa kehidupan "normal" yang mereka perjuangkan ternyata jauh lebih indah dan lucu daripada adegan aksi mana pun yang pernah mereka jalani.

*

*

*

Acara di kediaman Satya yang penuh aksi absurb Arsen telah usai tadi malam. Hari ini ada drama kecil di kediaman Alan dan Reyna.

Kehidupan tenang di keluarga Rumi mendadak berubah menjadi zona siaga satu.

Reyna baru saja dinyatakan hamil anak kedua, dan berbeda dengan saat mengandung Aira, kali ini hormonnya benar-benar meledak. Alan yang biasanya tenang dan bisa menangani apa pun, kini tampak seperti orang yang baru saja selamat dari badai besar. Rambutnya berantakan, dan matanya menunjukkan kurang tidur yang kronis.

Pagi itu, di rumah keluarga Satya, ponsel Arindi berdering.

"Halo, Arindi? Tolong aku..." suara Alan terdengar gemetar di seberang sana. "Reyna... dia ngidam sesuatu yang tidak masuk akal. Dia bilang ingin makan mangga muda, tapi mangganya harus dipetik langsung dari pohon yang ada di halaman markas kepolisian pusat. Katanya mangga di sana punya 'aroma keadilan'. Apa kau bisa membantuku? Aku ingin bilang langsung ke Galih, rasanya takut menyulitkanya. Makanya aku minta tolong kepadamu."

Arimbi menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar, lalu menoleh ke arah Ankara yang sedang asyik bermain robot-robotan dengan Arsen di lantai. "Ankara, Apa kau dengar yang Alan katakan. Reyna ngidam mangga di kantor polisi."

Ankara tertawa sampai tersedak mendengar penuturan dari Alan karena ponsel itu di loud speaker oleh Arindi. "Aroma keadilan? Sepertinya keponakan baruku nanti bakal jadi jaksa atau hakim."

*

*

*

Arindi akhirnya memutuskan untuk membantu. Dia langsung menghubungi Galih untuk meminta bantuan atau akses masuk kesana namun tidak memberitahu secara detail, anggapannya mungkin nanti saja kalau sudah tiba di lokasi karena tidak mau terlalu penjelasan panjang melalui telepon. Dia membawa Alan menuju markas besar kepolisian dan tentunya sudah izin ke suami posesifnya. Di dalam mobil, Alan terus mengoceh.

"Tadi malam dia menangis karena aku membelikan mangga di supermarket. Dia bilang mangga supermarket itu 'mangga sipil' yang tidak punya wibawa. Aku hampir gila, Arindi!"

Sesampainya di markas, mereka bertemu dengan Galih yang sedang bertugas. Galih menatap Alan dan Arimbi dengan bingung. "Kalian mau melaporkan kasus apa pagi-pagi begini?"

"Kasus darurat, Galih," Arindi menahan tawa. "Istri Alan ingin mangga dari pohon di depan ruanganmu."

Galih terdiam, lalu menatap pohon mangga besar yang memang sedang berbuah lebat di halaman tengah. "Kau bercanda? Itu pohon milik negara, Alan. Prosedurnya rumit," goda Galih dengan wajah serius khas polisinya.

"Galih, kumohon! Jika aku pulang tanpa mangga ini, Reyna akan mengurungku di kamar mandi!" rintih Alan.

Akhirnya, dengan bantuan Galih (dan sedikit suap berupa kopi mahal dari Ankara yang menyusul kemudian), Alan diizinkan memanjat pohon tersebut. Pemandangan itu sangat absurd: Seorang mantan pria bermasalah yang kini menjadi pengusaha sukses, memanjat pohon mangga di markas polisi sambil diawasi oleh dua detektif dan seorang CEO.

Sementara itu, di rumah, Dania sedang menemani Reyna. Perlu diketahui bahwa Dania dan Reyna dulu adalah teman semasa SMA. Dania mencoba menghibur Reyna dengan menunjukkan berbagai gadget terbaru, tapi Reyna hanya merengut.

"Dania, kenapa Alan lama sekali? Apa dia ditangkap karena mencuri mangga?" tanya Reyna dengan mata berkaca-kaca.

"Tenang, Rey, Alan sedang berjuang demi 'mangga keadilan' itu. Lagipula ada Arindi di sana. Tidak ada yang berani menangkap Alan kalau ada 'Singanya Ankara' itu," hibur Dania sambil mengusap bahu Reyna.

Tak lama kemudian, rombongan pria-pria itu datang. Alan masuk ke rumah dengan wajah penuh kemenangan, membawa sebuah kantong plastik berisi mangga muda.

"Ini dia! Mangga paling berwibawa se-Indonesia!" seru Alan.

Reyna langsung mengambil mangga itu, mencium aromanya, dan seketika wajahnya berubah cerah. Dia menggigit mangga asam itu tanpa ekspresi meringis sedikit pun. "Nah, ini baru benar. Rasanya seperti... kepastian hukum."

Ankara, Arindi, Galih, dan Dania hanya bisa saling berpandangan dan tertawa terbahak-bahak.

Malam harinya, saat suasana sudah tenang, Ankara memeluk Arindi di balkon. "Ngomong-ngomong soal ngidam... Arsen tadi tanya lagi. Katanya, kalau Mama belum hamil adik perempuan, dia mau pesan ke Tuhan lewat jalur VIP saja."

Arindi menyandarkan kepalanya di bahu Ankara. "Jalur VIP? Maksudnya?"

"Dia bilang, dia mau berdoa sambil berdiri di atas meja makan supaya lebih dekat dengan langit," Ankara terkekeh. "Sepertinya, kita memang tidak bisa menunda lebih lama lagi, Sayang. Semua orang sedang sibuk dengan bayi, hanya kita yang masih bergelut dengan satu jenderal kecil."

Arindi tersenyum manis, menarik kerah baju Ankara untuk mendekat. "Baiklah, CEO. Mari kita lihat apakah 'jalur VIP' Arsen benar-benar manjur."

Malam itu mereka berdua memadu kasih untuk mewujudkan keinginan putranya. Mereka berharap semoga dapat menyenangkan si jenderal kecil, terutama bapaknya jenderal juga sih.

(untuk adegan HS, bayangkan sendiri ya guys...hehehe. Atau jangan dibayangin, intinya seperti 'itulah')

---

Bersambung...

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Nonira Seine: Hallo....
Selamat membaca, ya.....🤗🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!