NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:492
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 32 — “Kebenaran yang Salah”

Angin pagi bergerak pelan di jalur utara. Daun-daun kering bergeser, menutup jejak malam. Diganti pagi hari yang damai. Tidak ada perubahan dari kelompok.

Salah satu dari rombongan mendekat ke Raka ”Hari yang cerah ya Nak”, ”Kita berpisah ditempat ini, sebaiknya cepat pulang”, dan rombongan kecil itu kemudian bergerak dan hilang dibalik sudut jalan.

Di tempat lain, jauh dari langkah Raka, kebenaran sedang dipotong-potong.

Di sebuah pendapa batu, seorang telik sandi berlutut rendah.

Suaranya tegas, tapi ragu di ujung kalimat.

“Target bergerak ke jalur utara. Pengawalnya telah berkurang. Diduga hanya satu orang tua, tetapi tidak pasti karena terkadang jumlah bertambah, jadi tetap waspada lihat dengan teliti pergerakan disekitarnya.”

Tidak ada yang bertanya lebih jauh.

Tidak ada yang memeriksa ulang.

Perintah turun cepat, dingin, seperti besi yang sudah terbiasa digunakan unuk memutus leher.

Di sisi lain, di sebuah rumah singgah yang tak bernama, kabar bergerak lebih liar. Seorang pembawa pesan melemparkan berita seperti tulang ke anjing lapar.

“Bener-bener beruntung anak ini, dia masih hidup. Pelindungnya telah melemah. Kesempatan terbuka.”

Mereka tidak tahu kabar itu datang dari mana.

Mereka juga tidak peduli.

Dua pihak menerima potongan yang sama—dan menyusunnya menjadi gambaran yang berbeda. Sama-sama merasa benar. Sama-sama siap membunuh.

Sementara itu, Raka berjalan.

Langkahnya ringan, tapi perasaannya berat. Mereka telah mengambil jalur secara acak tapi setiap jalur yang mereka ambil terasa… aneh. Terlalu lengang. Terlalu selamat. Meski mereka mengambil jalan secara acak tetapi arah jalan seolah telah ditetapkan. Seolah hutan membuka jalan tanpa diminta.

Ia menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Tapi ada perasaan ditinggalkan oleh sesuatu yang besar—seperti gelombang yang sudah lewat, menyisakan bau asin di udara.

Nenek berjalan di depannya. Tongkatnya menjejak tanah dengan irama yang konsisten. Tidak tergesa, tidak ragu.

“Kenapa jalur ini selalu sepi?” tanya Raka akhirnya, suaranya pelan.

“Karena orang takut mati,” jawab nenek singkat.

“Itu jawaban untuk semua jalan.”

Raka terdiam. Jawaban itu tidak salah, tapi tidak juga terasa utuh.

Tak lama setelah mereka melewati sebuah tikungan batu, sesuatu terjadi—tanpa mereka lihat.

Di balik rumpun bambu, dua kelompok bertemu bukan karena ingin, tapi karena sama-sama mengejar bayangan. Tidak ada teriakan perang. Tidak ada tantangan. Hanya gerak cepat, napas tertahan, dan besi yang menemukan daging.

Satu orang jatuh lebih dulu.

Yang lain menyusul.

Tidak ada yang tahu siapa membunuh siapa.

Darah meresap ke tanah, menjadi penanda palsu bagi pemburu berikutnya.

Raka tidak mendengar apa pun. Tapi ia merasakan getaran halus di dadanya, seperti sesuatu yang runtuh jauh di dalam tanah.

Langkah mereka berlanjut.

Menjelang siang, Raka mulai menyadari pola yang mengganggu. Setiap kali mereka berhenti, tempat itu aman. Setiap kali mereka bergerak, selalu ada bekas keributan yang mereka tinggalkan—patah ranting, jejak tergesa, bau besi.

“Seperti ada orang yang membersihkan jalan untuk kita,” gumam Raka, lebih pada dirinya sendiri.

Nenek berhenti sejenak. Tongkatnya menancap. Ia tidak menoleh.

“Atau sebaliknya,” katanya pelan. “Kita yang sedang membersihkan jalan bagi orang lain.”

Kalimat itu membuat tengkuk Raka dingin.

Ia memberanikan diri bertanya, “Nek… apakah kita sedang dibantu… atau diarahkan?”

Nenek menarik napas dalam-dalam. Lama. Seolah memilih kata yang tidak akan membocorkan terlalu banyak.

“Kadang,” katanya akhirnya, “yang menuntunmu bukan orang. Tapi kepentingan.”

Jawaban itu tidak menenangkan. Justru menambah beban di kepala Raka.

Sore menjelang, dan dunia mulai terasa menyempit. Raka merasa setiap langkahnya diperhatikan, bukan oleh mata, tapi oleh niat. Niat yang belum menampakkan wujud.

Ia mulai memperhatikan nenek lebih saksama.

Cara ia membaca tanah—sekilas, tapi tepat.

Cara ia berhenti sebelum tikungan berbahaya.

Cara ia tahu kapan harus berjalan cepat, dan kapan harus lambat.

Bukan kebiasaan orang tua biasa.

Bukan pula kebetulan.

Belum ada tuduhan. Hanya rasa tidak nyaman, seperti duduk terlalu dekat dengan api yang belum menyala.

Menjelang malam, mereka berhenti di dataran tinggi. Dari sana, Raka bisa melihat jauh. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat gambaran yang utuh—meski belum mengerti artinya.

Di kejauhan, di tiga arah berbeda, ada pergerakan kembali.

Kelompok kecil dari barat—rapih, teratur.

Gerak cepat dari selatan—liar, terpecah.

Dan bayangan samar dari timur—diam, nyaris tak terlihat.

Mereka tidak saling mengenal.

Mereka tidak saling menyapa.

Tapi semuanya… bergerak ke arah yang sama.

Ke arah Raka. Dan Raka tidak menyadarinya, tidak juga dengan Nenek. Pergerakan yang rapi. Terlalu rapi.

Napas Raka tertahan.

Bukan aku yang mengejar jalan, pikirnya dengan ngeri.

Jalannya… yang mengejarku.

Ia menoleh ke nenek, ingin bertanya, ingin menuntut penjelasan. Tapi perempuan itu hanya berdiri, wajahnya tenang, seolah sudah lama tahu pemandangan ini akan datang.

Api unggun belum dinyalakan. Malam turun tanpa cahaya.

Dan di kejauhan, besi kembali menemukan daging—sekali lagi, bukan karena Raka berniat, tapi karena dunia telah memutuskan ia layak diperebutkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!