NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 33 Persinggungan

Pagi datang kembali menyapa pohon dan rumput dengan tanpa suara. Kabut masih melayang rendah, seperti sengaja menahan pandangan siapa pun yang ingin melihat jauh. Pandangan menjadi terbatas.

Raka terbangun dengan perasaan yang sama seperti malam-malam sebelumnya—tidak ada rasa aman, setiap waktu dihantui bayangan-bayangan orang yang bergerak cepat yang selalu mengancam, tapi Raka juga tidak tahu dari mana ancamannya datang. Seperti api unggun yang belum dinyalakan. Gelap dalam kelam. Nenek sudah duduk di pinggir dataran, menajamkan tongkatnya dengan batu kecil, gerakannya pelan dan terukur.

Tidak ada sapaan pagi hari. Tidak ada yang bertanya kabar. Membisu dalam keheningan. Seolah mereka sepakat, hari ini bukan waktunya untuk omong kosong, berbibcang-bincang yang tidak ada perlunya.

Di tempat lain, dunia bergerak lebih cepat.

Di dalam kota raja, laporan demi laporan telah masuk. Rapi dan efisien. Peta-peta dibentangkan ditembok. Garis-garis yang menunjukkan arah perjalanan ditarik. Titik-titik pemberhentian diberi tanda merah. Lokasi-lokasi pertemupran dilingkari.

“Terjadi beberapa pergerakan tidak jelas di jalur utara, pergerakan semakin meningkat,” kata seorang prajurit.

“Diduga sisa-sisa dari kelompok pembunuh bayaran,” timpal yang lain. ”Apa ada pergerakan dari kelompok lain?, tetap pantau lebih cermat bisa jadi kelompok itu berafiliasi dengan pembunuh bayaran”.

Perintah itu turun dengan keyakinan penuh. Berharap merasa sedang membersihkan sisa kotoran yang menjadi target utama. Tidak ada yang menyebut nama Raka. Tidak ada yang merasa telah dikecoh.

Sementara itu, di sisi gelap yang lain, perjanjian untuk membunuh target dibaca ulang.

“Target yang ulet, sudah beberapa dari anggota kita yang turun untuk membunuh sekarang hanya tinggal nama, dan dia belum mati, kerugian besar bagi kelompok kita, tapi pekerjaan harus tuntas” kata seorang pria dengan suara serak.

“Tingkatkan kewaspadaan, jalurnya makin ramai saja. Ada yang telah bermain di belakang.”

Mereka mengira ini hanya soal waktu. Soal siapa yang lebih cepat menghabisi siapa. Tidak ada yang menyangka mereka sedang diarahkan untuk saling beradu.

Dan di tengah semua itu, Raka berjalan tanpa tujuan, tanpa arah dan dia juga belum faham apa sebetulnya yang telah terjadi. Terlalu rumit bagi Raka yang masih belia, yang baru beberapa lalu tahunya hanya bermain dan bermain dan dia tidak punya pilihan.

Mereka turun dari dataran tinggi, menyusuri jalur sempit yang diapit semak berduri. Raka beberapa kali merasa seperti ada mata di balik daun, tapi setiap kali menoleh, yang ada hanya hutan.

“Nek,” katanya pelan, “kalau nanti kita ketemu seseorang… kita harus bagaimana?”

Nenek tidak langsung menjawab. Ia melangkah lebih dulu, lalu berhenti.

“Jangan gegabah bertindak,” katanya singkat. “kita amati dulu. Jangan merasa bisa mengendalikan keadaan padahal kita tidak tahu apa-apa.”

“Kalau mereka bertindak duluan?”

“Berarti tujuan mereka sudah jelas..habisi saja.”

Jawaban itu terdengar kejam, tapi Raka hal tersebut masih membuat Raka tidak merasa lebih tenang.

Menjelang siang, tidak terdengar pertempuran tetapi bau tumbukan pedang pertempuran telah tercium. Tidak tajam, samar, tapi cukup untuk membuat perut Raka mual. Tidak terlihat mayat. Hanya tanah yang rusak, rumput yang rebah, dan satu bilah pisau patah tertinggal.

"Kejadiannya belum lama ya Nek," gumam Raka.

Nenek mengangguk tipis. "Bener, belum lama."

Raka menelan ludah. "Dan… kita belum bertemu siapa pun dari tadi."

"Itulah yang membuatnya berbahaya," jawab nenek.

Ia mulai paham sekarang. Dunia di sekitarnya bergerak lebih cepat dari langkahnya. Orang-orang saling membunuh, bukan karena dendam pribadi, tapi karena informasi yang setengah matang.

Dan entah bagaimana… semua itu berputar di sekelilingnya.

Sore hari, mereka bersembunyi di balik tebing kecil. Dari sana, Raka melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak.

Dua kelompok sedang mengarah pada titik yang sama. Terlalu rapi seoalah ada tangan-tangan tersembunyi yang mengatur perajlanan ini.

Yang satu bergerak rapi, senyap, seperti prajurit terlatih.

Yang lain lebih kasar, lebih cepat, seperti pemburu bayaran.

Tidak ada pembicaraan. Tidak ada salah paham yang diluruskan.

Mereka saling serang.

Raka memalingkan wajahnya saat orang pertama jatuh. Ia tidak tahu siapa yang benar, siapa yang salah. Yang ia tahu hanya satu: mereka semua datang karena satu hal yang sama.

Dirinya.

"Nek…" suaranya bergetar, "kalau mereka semua salah paham… kenapa tidak ada yang menghentikan?"

Nenek menatap jauh ke medan itu. Wajahnya tetap datar.

"Karena ada orang-orang yang hidup dari kesalahpahaman," katanya pelan. "Dan mereka tidak pernah berada di garis depan."

Kalimat itu menancap di kepala Raka lebih dalam dari teriakan mana pun.

Malam turun cepat. Mereka berpindah tempat lagi. Raka sudah lelah bertanya. Setiap jawaban hanya membuka pertanyaan baru.

Di kejauhan, api kecil menyala-lalu padam. Tanda seseorang sudah tidak bernapas.

Raka duduk memeluk lutut. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kecil. Bukan karena takut mati, tapi karena sadar: hidupnya sedang dijadikan alat.

Ia menoleh ke nenek. "Nek… kalau aku berhenti jalan, apa yang terjadi?"

Nenek menatapnya lama. Kali ini terlalu lama.

“Kalau kau berhenti,” katanya akhirnya, “orang-orang di belakangmu akan saling bunuh dengan lebih cepat.”

Jawaban itu membuat Raka terdiam total.

Ia tidak tahu apakah nenek sedang menakut-nakutinya, atau mengatakan kebenaran yang paling kejam.

Di malam itu, Raka tidak tidur.

Ia hanya menatap langit, mendengar suara langkah-langkah jauh, dan mulai memahami satu hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun padanya:

Kadang, kau tidak dikejar karena salah.

Tapi karena terlalu banyak orang butuh kau tetap hidup… atau mati.

Dan di balik hutan yang gelap, ada tangan-tangan tak terlihat yang terus menarik benang—membuat kerajaan merasa benar, pembunuh bayaran merasa dibenarkan, dan Raka tetap berjalan ke arah yang mereka tentukan.

Tanpa tahu kapan topeng itu akan benar-benar jatuh.

Dan orang-orangpun semakin mendekat ke lokasi Raka.

Pergerakan yang rapi, terlatih dan efisien tanpa meninggalkan jejak suara.

1
Bocil
kasih suara audio thor biar enak tinggal dengerin.
Mas Bagus: hehehe... maturnuwun masukannya...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!