Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 ~ Mari Bercerai
Raina kembali membersihkan tubuh Marvin, kali ini membawanya ke kamar mandi dan membantunya mandi. Beberapa kali dia berdehem untuk menghindari gugup saat melihat tubuh Marvin yang polos. Wajah dan telinganya sudah memerah, menunjukan rasa malu. Raina menggosok punggung Marvin dan mengguyurnya dengan shower. Pria itu juga hanya diam, anehnya Marvin sama sekali tidak berkomentar apapun.
Setelah selesai, Raina membawanya keluar dari kamar mandi dengan memapahnya dan bantuan tongkat juga. Mendudukan Marvin di sofa dan memakaikan baju untuknya. Saat mengelap tumbuhnya, Raina benar-benar merasakan gugup, padahal dia sudah pernah tidur dengan Marvin, bahkan sudah melakukannya. Tapi semuanya tetap membuatnya malu, karena mungkin tidak ada cinta diantara keduanya.
"Kenapa kau mau merawatku? Padahal aku bisa menyewa perawat saja"
Ketika sudah selesai memakaikan pakaian pada suaminya, Raina mendongak dan menatap Marvin. Menghembuskan napas pelan sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya barusan.
"Satu hal yang masih aku ingat, Kak Marvin tetap menjadi pria yang paling dibanggakan Kak Amira, bahkan Kakak sangat mencintai Kak Marvin sepenuh hati. Jadi, jika aku tidak merawat Kak Marvin dengan baik, maka aku hanya akan membuat Kak Amira kecewa di atas sana"
Saat Raina tidak diberikan pilihan bahkan untuk menolak, maka dia harus siap menjadi pengganti Amira. Meski kehadirannya tidak pernah dianggap ada, tapi Raina sudah terbiasa dengan hal itu. Jadi dia bisa tetap menjalani kehidupan ini, meski Marvin membencinya dan tidak menginginkan kehadirannya, bahkan di keluarganya saja Raina sudah terbiasa untuk tidak di inginkan.
"Raina"
Panggilan rendah itu, membuat Raina merasakan jika pembicaraan ini akan lebih serius. Dan entah kenapa hatinya berdebar hanya mendengar Marvin memanggilnya seperti itu.
"Mari bercerai"
Deg... Ucapan yang bahkan tidak pernah Raina sangka akan dengar dari suaminya. Bahkan pernikahannya belum genap satu bulan, dan dia harus mendapatkan kata cerai dari suaminya. Haruskah sesingkat ini?
"Aku akan melepaskanmu dari penjara pernikahan ini. Jika kau terus bersama denganku, maka aku tidak bisa menjamin untuk tidak melukaimu lagi. Sebaiknya kita jalani kehidupan masing-masing saja"
Tangan Raina bergetar, mencengkram celana panjang yang dia pakai. Sudut matanya mulai berembun, menggenang cairan di pelupuk mata. Kenapa hatinya harus merasa sakit dan dadanya begitu sesak sekarang.
"Ta-tapi Kak-"
"Aku tidak bisa terus bersama dengan orang yang menjadi penyebab wanita yang aku cintai pergi untuk selamanya. Aku juga tidak mau terus menyiksamu, jadi sebaiknya kita bercerai saja"
Bahkan tidak ada kata-kata yang siap dilontarkan Raina. Dadanya sudah sesak, pikirannya blank dan semua kata tercekat di tenggorokan. Air mata luruh begitu saja, Raina bingung harus bagaimana? Apa dia harus senang? Tapi hatinya seolah tidak rela.
"Setelah kita berpisah, mari jalani hidup masing-masing dan tidak perlu saling menyapa lagi"
Hiks.. Bahkan isak tangis mulai tidak bisa tertahan. Dadanya begitu sesak, seperti Tuhan sedang mengujinya dengan segala hal yang menyakitkan. Tangannya benar-benar bergetar, ini seperti sebuah mimpi buruk. Diceraikan bahkan sebelum satu bulan pernikahan, apakah ada pernikahan sesingkat ini?
Dengan suara bergetar, akhirnya Raina berani menjawab. "Baiklah Kak, jika itu memang sudah menjadi keputusan. Mari kita akhiri saja pernikahan penuh luka ini. Aku tahu, Kak Marvin juga pasti terluka karena harus bersama denganku yang menjadi penyebab perginya Kak Amira. Dan sebaiknya memang kita akhiri saja pernikahan ini"
"Aku akan melepaskanmu, dan mari untuk saling melupakan setelah ini"
Tidak! Ada sebuah sesak dan getaran menyakitkan dalam dadanya. Ini seperti bukan dirinya, tangannya bahkan mencengkram pegangan sofa hanya untuk menghentikan gemetarnya. Marvin bukan gugup, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Tapi dadanya semakin sesak, bahkan pelupuk matanya mulai berair. Sejak mengatakan kata cerai, kenapa seperti ada bagian yang tidak rela.
Raina mengangguk, air mata ikut mengalir di pipinya. Jatuh ke atas lantai yang dingin, memberikan rasa sunyi diantara dua orang ini. Tangannya saling bertaut dengan gemetar, isakan tertahan tetap lolos juga.
"Tapi Kak, izinkan aku merawatmu dulu sampai sembuh. Setelah itu, mari urus perceraian kita"
Marvin memalingkan wajahnya, mengusap sudut matanya yang berair. Tidak biasanya dia seperti ini. Hanya karena seorang perempuan yang selalu mengingatkannya pada sosok Amira.
"Ya, terserah padamu"
Raina mengangguk dengan menahan air matanya agar tidak terus mengalir. "Aku permisi dulu, Kak"
Raina berlari ke kamar mandi, menutup pintu dengan sedikit kasar dan bersandar di pintu itu. Menepuk dadanya yang sesak dan tangisan tanpa suara yang pecah. Raina menutup mulutnya sendiri agar isak tangisnya tidak terdengar oleh Marvin diluar. Tubuhnya luruh ke atas lantai dingin kamar mandi.
Ya Tuhan, apa ini akhirnya? Raina tidak pernah membayangkan jika dia akan mengalami pernikahan sesingkat ini. Setelah berpisah dari Marvin nanti, maka dia akan pergi kemana? Orang tuanya sudah pasti tidak akan pernah menerimanya lagi. Mereka saja sudah senang karena Raina keluar dari rumah itu.
Raina berdiri dengan susah payah, berjalan gontai ke arah bak mandi dan masuk ke dalamnya. Menyalakan air dingin untuk memenuhi bak mandi itu. Membiarkan keran tetap menyala, hanya untuk meredam tangisannya.
Satu minggu terakhir bahkan sikap Marvin mulai berubah, meski lebih pada tidak peduli lagi pada Raina. Tapi setidaknya dia tidak pernah bermain fisik lagi padanya. Membuat Raina sempat berpikir jika pernikahan ini mungkin saja bisa diperbaiki. Namun ternyata, semuanya harus berakhir lebih cepat.
Sebuah harapan kecil yang sempat Raina punya, harus hancur dalam sekejap hanya dengan satu kata 'cerai' yang keluar dari mulut suaminya. Seketika dunianya semakin gelap, bingung dan bimbang, apa yang akan dirinya lakukan setelah ini. Dan pergi kemana dia setelah ini?
"Kenapa sakit sekali Ya Tuhan, kenapa aku? Kenapa aku yang harus menjalani kehidupan seperti ini? Tuhan, kenapa yakin sekali jika aku akan selalu kuat menjalani kehidupan yang seperti ini?"
Tangisan yang pecah teredam oleh suara keran air. Raina menangis sejadi-jadinya dengan menepuk dadanya yang benar-benar sesak. Kapan dia akan menjemput bahagia itu? Bahkan sebuah pernikahan saja tidak membuatnya bahagia.
"Kak Amira, aku rindu. Kenapa Kakak harus pergi meninggalkan aku sendirian disini? Hiks..."
Bahkan masih berandai jika Amira selamat dalam kecelakaan itu, mungkin kehidupannya tidak akan seperti ini. Seperti lebih baik Raina yang pergi, daripada Amira. Karena semua orang menyayangi Amira, sementara semua orang tidak menginginkan kehadirannya.
"Rain, kamu harus jadi perempuan yang kuat. Kakak tidak mau membawa kamu ikut bersama Kakak, karena Kakak yakin kamu akan kuat. Kamu bahkan lebih kuat dari siapapun, bertahanlah"
Ucapan Kak Amira dalam mimpinya malam tadi, membuat Raina semakin menangis. Masih terngiang jelas ucapan Amira dan senyumannya yang selalu penuh kelembutan.
"Kak, aku tidak yakin bisa sekuat itu. Aku lelah Kak, bahkan aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisimu"
Bersambung
Nah loh, ini belum pas satu bulan nikah udah di ajak cerai.. Tapi kayaknya agak sulit ya mereka setelah cerai.. wkwk
👍
pergi dari rumah Marvin,,