***++++++++
" Brengsek, benar benar Bajingan kalian ." teriak seorang gadis cantik saat memergoki suaminya sedang bergulat panas dengan pelayan di rumah nya.
Mari nantikan kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harta Bisa Di Cari
Dean masih menatap Rea yang sibuk memasukan barang barang pribadi nya ke dalam tas ransel nya.
Hatinya terasa hangat sekaligus tak percaya, bagaimana mungkin dia bisa menikahi gadis muda yang begitu cantik, sopan, pendiam dan di kenal lemah lembut.
Kini pikirannya melayang membayangkan malam pertama nya nanti bersama Rea, ada debaran yang sulit di jelaskan, dia ingin segera membawa istri nya itu pindah ke rumahnya sendiri, memulai kehidupan baru berdua.
Tanpa berfikir panjang, Dean melangkah mendekat, dia meraih Rea dan memeluknya dari belakang, pelukan lembut yang menyampaikan sejuta rasa yang belum sempat terucap.
Tubuh Rea seketika membeku ketika merasakan pelukan hangat dari sang suami, ada debaran yang sulit di jelaskan, campuran antara gugup dan canggung, seandainya bisa Rea ingin menolak karena jujur dia tidak menikmati momen itu, perasaannya pada Dean masih ragu ragu.
Mereka belum pernah benar benar dekat sebelumnya, bahkan Rea tak pernah merasakan sentuhan dari pria mana pun, semua terasa baru bagi nya begitu asing namun menenangkan.
" Mas Dean, sebentar lagi aku selesai ya." ucap Rea pelan suaranya bergetar karena gugup.
Dean tersenyum lembut, bibir nya mendekat ke telinga sang istri.
" Iya sayang, mas sudah tidak sabar menunggu malam ini." bisiknya dengan nada hangat dan penuh kasih.
Mendengar ucapan Dean tentang malam pertama Mereka, seketika membuat Rea sedikit terkejut dia belum berfikir ke arah sana bahkan membayangkan nya saja dia tidak berani.
Dean membalik tubu Rea, dia menatap wajah cantik istri nya itu, sangat sempurna dan itu sukses membuat jantungnya berdebar debar.
Tanpa Rea sangka, Dean mendekatkan wajah nya, langsung meraup bibir Rea dan melumatnya dengan lembut.
Rea hanya diam saja, dia pasrah bahkan untuk membalas pun dia tak berani, selain canggung dan malu, ini juga ciuman pertama nya jadi dia tidak tau harus gimana balas ciuman suaminya.
" Kenapa tidak membalas sayang." saat Dean saat tautan bibir mereka terlepas, Dean merasakan kalo Rea hanya pasrah tanpa menggerakkan bibirnya, bahkan mata gadis itu terus saja terpejam.
" Maaf mas, aku GK ngerti caranya ini ciuman pertama ku." jawab Rea yang membuat mata Dean melebar. Dia tidak menyangka gadis seusia Rea dan tinggal di kota besar seperti itu tidak pernah pacaran dan tidak pernah melakukan sentuhan sama pria, itu sukses membuat bibir Dean langsung mereka kegirangan.
" Benarkan sayang, alangkah beruntungnya mas, dapat istri sesempurna kamu." ujar Dean yang kembali ingin menyatukan bibir nya dengan bibir Rea. Seperti nya pria tampan itu mulai candu, namun ketukan di pintu membuat mereka kaget.
Momen mesra antara Dean dan Rea seketika buyar mendengar ketukan pelan di pintu kamar
Tok... Tok .... Tok
Dari luar ,suara lembut namun tegas milik Bu Dea terdengar.
" Ini ibu nak, sebelum kalian pindah ke rumah kalian sendiri, ibu pengen bicara dengan Rea sebentar saja, ibu tunggu di kamar ya." ujar Bu Dea yang masih berdiri di balik pintu, menunggu jawaban dari dalam.
Rea refleks menjawab sedikit gugup " iya Bu, Rea akan ke sana sebentar lagi ."
Namun saat iya hendak melangkah menjauh, Dean tiba tiba kembali mendekat, tatapannya dalam seolah enggan melepas istri nya sedetik saja, tangan hangat nya sempat menahan jemari Rea, membuat gadis itu menunduk dengan wajah merah.
" Cepat kembali ya, Mas belum puas melihat wajah cantik kamu sayang."
Rea tersenyum kecil, lalu dengan langkah pelan dia menuju kamar Bu Dea, sementara Dean hanya bisa memandangi punggung istrinya dengan perasaan yang masih menggantung.
Rea sedikit lega, karena Bu Dea segera datang seperti pahlawan bagi nya, buka nya dia tidak suka saat sang suami bersikap lembut dan manis pada nya, hanya saja dia merasa belum siap.
" Sini nak, ibu mau bicara sama kamu sebentar." ucap Bu Dea dengan lembut, mempersilahkan Rea duduk di hadapannya.
Tatapan Bu Dea penuh kasih sayang namun juga tegas, seperti seorang ibu yang ingin memastikan kebahagiaan anak gadis nya.
" Nanti kalo kamu sudah hidup berdua sama Dean, jangan sungkan sungkan untuk menyampaikan apa pun pada ibu, kalau ada unek unek, masalah, atau hal yang membuat kamu gelisah, bicarakan baik baik ya jangan mengambil keputusan gegabah, rumah tangga itu harus di jaga dengan sabar dan komunikasi yang jujur ."
Bu Dea kemudian mengambil sebuah map di atas meja dan menyerah kannya kepada Rea.
" Ini surat rumah yang nanti kalian tinggalin, semuanya sudah ibu alih kan atas nama mu." ucap nya dengan senyum lembut.
Lalu beliau mengeluarkan ATM, buku tabungan dan BPKB mobil.
" Ini uang tabungan, untuk kamu gunakan pribadi, mungkin nanti uang bulanan akan di berikan oleh suamimu, karena Dean sudah bekerja dan mapan, BPKB mobil yang Dean pakai sehari hari juga sudah atas nama kamu."
Tanpa Rea ketahui tabungan, rumah dan mobil itu memang milik Rea sendiri.
Bu Dea menatap Rea dengan penuh makna sebelum melanjutkan.
" Ibu serahkan semua nya pada mu nak, tapi ingat jangan biarkan Dean memegang uang nya sendiri, kamu yang harus mengatur keuangan keluarga, biar dia fokus bekerja dan gunakan penghasilan sebaik mungkin, Dean hanya perlu megang uang seperlunya saja untuk bensin dan keperluan kecil."
Rea terdiam, memandangi semua yang kini berada di tangannya , akta rumah, buku tabungan BPKB mobil. Hati nya terasa hangat namun berat , di tau, kepercayaan sebesar ini adalah tanda cinta, seorang ibu yang tulus ingin melihat anak dan menantunya hidup bahagia.
" Terimakasih Bu,." ucap Rea pelan matanya menatap semua dokumen yang berada di tangan nya.
" Tapi kenapa ibu percaya sama Rea, ini terlalu besar Bu, Rea takut Rea mungkin belum bisa menanggung tanggung jawab sebesar ini." suaranya bergetar antara haru dan sungkan, dia benar benar tidak menyangka, baru beberapa jam jadi istri Dean, sudah di percaya begitu besar oleh ibu mertua nya.
Bu Dea tersenyum lembut kemudian menggenggam tangan Rea
" Ibu percaya karna ibu bisa melihat ketulusan di mata kamu, Nak, kamu lembut, sabar, dan tau bagaiman menghormati suami, itu sudah cukup untuk ibu." dia menatap menantunya dengan penuh kasih sayang.
" Harta bisa di cari tapi menemukan wanita yang bisa menjaga dan menenangkan hati suami nya, itu yang paling sulit, karena itu ibu percayakan keluarga kecil kalian padamu, jaga lah Dean baik baik ya nak."
Air mata Rea nyaris jatuh, dia menggenggam tangan Bu Dea dengan kuat.
" Insyallah ya Bu, Rea akan berusaha sebaik mungkin." dengan suara pelan tapi penuh keyakinan.
Setelah berbicara panjang lebar dengan ibu mertua nya, Rea kembali menuju ke kamar, Namun begitu dia membuka pintu, dia tidak menemukan sosok Dean di dalam, kamar itu tampak rapi dan sunyi, hanya koper terbuka di atas tempat tidur yang menunggu untuk di tutup.
Rea meletakkan surat surat penting pemberian Bu Dea ke dalam koper dengan hati hati, setalah itu dia menuju jendela dan menyikap tirai, dari sana pandangan nya langsung tertuju pada halaman depan rumah.
Di sana dean tampak menerima telepon, dari raut wajahnya terlihat jelas guratan menegang, rahangnya mengeras, mata nya menatap tajam dan tangan kiri nya sesekali mengepal, menandakan dia sedang menahan emosi.