NovelToon NovelToon
Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Status: tamat
Genre:Berondong / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:597k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kirana harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya meninggalkannya dua minggu sebelum pernikahan dan memilih menikah dengan adik tirinya.

Kalut dengan semua rencana pernikahan yang telah rampung, Kirana nekat menjadikan, Samudera, pembalap jalanan yang ternyata mahasiswanya sebagai suami pengganti.

Pernikahan dilakukan dengan syarat tak ada kontak fisik dan berpisah setelah enam bulan pernikahan. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya mereka memiliki perasaan, apakah akan tetap berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Empat

Samudera akhirnya berhenti tepat di depan sebuah hotel kecil yang terlihat bersih dan cukup sepi. Bukan hotel mewah, tapi jelas bukan tempat murahan juga. Lampunya hangat, pintunya otomatis, dan resepsionisnya tampak mengantuk sambil memainkan pulpen.

Kirana menatap bangunan itu dengan dahi berkerut. “Hotel?” tanyanya pelan.

Sam mendengus sambil melepas helm. “Masa mau tidur di lapangan parkir? Tadi bilangnya ikut aja terserah aku.”

Kirana menelan ludah. Oke, dia memang bilang begitu. Tapi dia tidak benar-benar berpikir sejauh ini.

“Ya udah,” gumam Kirana akhirnya.

Di dalam lobi, Sam langsung berjalan ke resepsionis. “Satu kamar, Mbak.”

Resepsionis itu langsung mengangkat alis saat matanya berpindah ke Kirana. Mungkin sedang menebak-nebak drama apa yang terjadi di antara mereka.

Kirana memelototi Sam. “Satu kamar?”

“Lah, mau dua? Sayang buang-buang uang aja, Mbak,” ucap Samudera ketus. “Udah ikut, jangan banyak protes.”

“Sam ....”

“Terserah! Mau ikut atau tidur di lobi?" tanya Sam sambil menerima kunci kamar.

Lift menuju lantai tiga terasa terlalu sunyi. Hanya suara mesin lift dan napas keduanya yang terdengar.

Saat pintu kamar terbuka, Kirana berjalan masuk duluan. Ruangannya tidak besar, tapi bersih. Satu ranjang queen bed, satu sofa panjang di samping jendela, TV, meja kecil, dan aroma lemon dari pengharum ruangan.

Kirana berbalik. “Sam ...."

Tapi Sam malah melempar jaketnya ke kursi dan langsung menjatuhkan diri ke ranjang, menguap panjang.

Wajah Kirana langsung memerah. “Hei! Kenapa kamu duluan yang tidur di situ?!”

Sam membuka satu mata. “Lah, mau lomba siapa yang naik kasur duluan?”

“Sam!”

“Astaga, Mbak … tenang. Aku cuma rebahan. Belum mati kok.”

Kirana mendecak, tapi pipinya panas karena kesal campur malu. Ia menatap ranjang itu, lalu menatap sofa. Sofa itu panjang, tapi bukan yang nyaman-nyaman banget. Yang kalau ditiduri semalaman bisa bangun dengan punggung patah lima titik.

Sam menatapnya sebentar. “Tidur aja di kasur. Aku di sofa.”

“Kenapa nggak dari tadi ngomong gitu?”

“Soalnya seru liat Mbak panik.”

Kirana langsung mengambil bantal dan melemparkannya ke wajah Sam. “Kamu tuh ya ....”

Sam menangkap bantal itu dengan mudah dan tersenyum lebar. “Akhirnya marah. Kirana balik ke mode normal.”

“Aku nggak marah, Samudera!”

“Ya, ya .…” Sam duduk dan menepuk bantal. “Udah, tidur. Malem makin larut.”

Kirana berdiri kaku. “Tapi sebelum itu… aku kasih tau dulu.”

Sam menatapnya santai. “Apa?”

“Awás,” kata Kirana sambil menunjuk dirinya sendiri, “kalau kamu berani sentuh tubuh aku. Aku teriak satu lantai.”

Sam mengerjapkan mata. Lalu dia menunjuk Kirana balik. “Mbak … nggak akan.”

Nada itu sangat santai. Sangat percaya diri. Dan agak menjengkelkan.

“Aku nggak tertarik sama cewek kurus dan dada rata kayak kamu.”

Kirana terpaku. Mulutnya sampai terbuka.

Lalu menutup. Lalu terbuka lagi.

“A… APA?!” suaranya meninggi satu oktaf.

Sam menghela napas dramatis, seolah masalah dunia ini sangat berat. “Ya mau gimana, Mbak. Kalo disuruh nyentuh juga … duh. Males. Kayak megang papan triplek.”

“Samudera GENTAAA!”

Kirana langsung melempar bantal kedua. Kali ini bantalnya menghantam muka Sam tepat sasaran.

Sam tertawa sampai condong ke belakang. “Ya ampun, lucu banget.”

“Kamu itu ya ....”

“Udah, udah. Sini bantalnya. aku mau tidur?"

Dengan santai Sam mengambil bantalnya, berjalan ke sofa, dan meletakkan bantal itu.

Namun sebelum dia merebahkan tubuh, dia menunjuk ke Kirana lagi.

“Sama ya. Jangan sentuh aku juga.”

“HEH?!”

Sam mengelus dadanya sendiri. “Takut kenapa-napa. Aku kan brondong menggoda. Mbak yang minta dikawinin tadi juga kan? Takutnya kesengsem.”

Kirana berdiri sambil menunjuk dirinya sendiri dengan wajah syok. “Maksa minta dikawinin? Itu karena ....”

“Alasan, alasan,” Sam memotong sambil rebahan. “Semua cewek yang jatuh cinta sama aku juga pake alasan.”

“Hei! Aku nggak jatuh cinta sama kamu!”

Sam memejamkan mata. “Iya, iya. Makanya jangan curi-curi peluk aku pas aku tidur nanti.”

“Sam! Aku sumpah ....”

Tapi, Sam sudah pura-pura mendengkur keras-keras.Kirana rasanya ingin melempar sandal. Atau remote TV. Atau dirinya sendiri.

Namun menyerah juga akhirnya. Ia naik ke kasur, menarik selimut, dan menghela napas panjang. Kamar menjadi hening. Hanya suara AC yang berdengung.

“Sam?” panggil Kirana pelan.

“Hm?” jawab Sam tanpa membuka mata.

“Makasih.”

Sam terdiam sesaat. Lalu, masih dengan mata tertutup, dia menjawab lirih, “Iya, Mbak.” Dan ia rasa itu cukup.

Pagi harinya Samudera bangun duluan. Entah jam berapa, tapi sinar matahari sudah masuk dari celah tirai. Kirana masih tidur, tubuhnya meringkuk seperti kucing, rambutnya acak-acakan tapi terlihat damai.

Samudera tidak sengaja tersenyum kecil. “Nggak keliatan menyebalkan kalau lagi tidur,” gumamnya.

Setelah mandi cepat dan berpakaian, ia memesan sarapan hotel. Kirana baru bangun ketika suara pintu diketuk.

“Sam?” Kirana mengucek mata, napasnya masih berat. “Itu makanan?”

“Iya. Bangun. Sarapan dulu baru pulang.”

Kirana duduk sambil merapikan rambutnya yang super kusut. “Kamu pesen dua ya?”

“Iyalah. Satu buat aku, satu buat Mbak. Aku nggak mau makan bekas orang.”

“Hei!” Kirana memukul bahunya pelan. “Bisa nggak omongan kamu tuh sekali aja nggak nyebelin?”

“Nanti aku coba kalo aku udah mati.”

Kirana mendengus. Tapi dia memaka sarapan itu hingga ludes. Samudera ikut makan sambil menonton Kirana dengan cara yang membuat gadis itu risih.

“Apa?” tanya Kirana akhirnya.

“Tumben nggak bawel.”

“Kamu yang bawel.”

“Setidaknya aku cute kalau bawel.”

Kirana spontan hampir tersedak roti. Setelah sarapan selesai, Samudera merapikan barang-barang dan memakai helm.

“Ayo, pulang,” ajak Samudera.

Dan perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Bukan canggung, tapi lebih ringan daripada sebelumnya.

Beberapa saat kemudian mereka sampai. Motor berhenti di halaman rumah cukup besar bergaya modern. Rumah itu tampak tenang, tapi Kirana merasakan dadanya langsung sesak hanya dengan memandang pintunya.

Samudera melepas helm dan menyerahkannya pada Kirana. “aku cuma antar sampai sini. Masuknya urusan lo.”

Kirana mengangguk pelan. “Makasih ya, Sam.”

“Hm.”

Ia turun dari motor. Kakinya baru menyentuh lantai garasi ketika pintu rumah terbuka keras.

Seorang pria paruh baya dengan wajah dingin berdiri di sana. Papanya Kirana. Napas gadis itu langsung tercekat.

Papanya menatap Kirana dari ujung kepala sampai kaki. Matanya tajam, penuh penilaian, penuh sesuatu yang membuat dadanya merasa sesak.

“Dari mana kamu,” suara Papa terdengar berat dan menggema, “Semalaman nggak pulang?”

Kirana menelan ludah. “Pa … aku ....”

“Apa yang kamu lakukan di luar sana? Mau jadi apa kamu ini?!” bentaknya lantang. “Lihat Tissa! Adikmu itu nggak kayak kamu!”

Kirana membeku. Jantungnya berdegup terlalu keras. Tenggorokannya kering. Badannya gemetar.

Samudera yang masih di motor perlahan menoleh, mendengar suara bentakan itu. Ekspresinya berubah. Tidak lagi santai. Tidak lagi cuek. Matanya mengeras.

Kirana hanya berdiri, tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata papanya menusuk terlalu dalam.

Dan tepat saat ia menarik napas yang terasa seperti batu di dada, menghimpit hingga membuat sesak, Papanya melangkah mendekat.

“Kamu jawab, Kirana!”

Udara terasa semakin tipis. Samudera masih di motor. Tidak bergerak. Tapi tatapannya tajam menembus. Rasanya ingin membela gadis itu. Entah mengapa dia tak bisa terima melihat Kirana diperlakukan begitu, padahal mereka baru saja kenal.

1
echa purin
👍🏻
syh 03
rata2 novel selalu bayi kembar
syh 03
cuma di dunia novel org jahat dpt karma...klo real mh yg jahat makin bahagia dan panjang umur
syh 03
knpa nama nya Mika kya nama cewe 😆
syh 03
aku wkt ngidam anak pertama sukanya mkn sayur g suka mkn lauk..sampai hamil besar cuma mkn sayur..mkn lauk itu pun cuma telur dan harus di campur sayur klo di dadar...dan pas lahiran anakku cewe dan dia g suka sayur ampe dewasa g suka sayur...anak kedua ngidam bakso jd g bs makan klo ga mkn bakso..itu pun harus di makan di tempatnya..jd tiap hari mkn bakso ampe abang yg jual hapal wajahku..dan anak kedua cowok..dan dia ga suka makan bakso..lika liku ibu ngidam mmng kadang aneh2 😅
Mama Reni: Lah 😭😭🤣🤣
total 3 replies
Irma Windiarti
/Good//Good/
Rahma Inayah
akhirnya yg bahagia
Rahma Inayah
semoga dilncrkn lahirannya aamiin
Rahma Inayah
tisa GK takut cerai dr km Krn SDH GK ada ank LG diantara kalian
Rahma Inayah
stlh ank meninggal br nyesel dan nangis GK guna
Rahma Inayah
krm mmg Irfan pantas mendptkn tamapran dr papa Kirana
Rahma Inayah
suami GK punya rasa tanggung jwb jgn2 Irfan punya wanita simpenan lgi ..
Rahma Inayah
ank yg km pilihnkasih ternyata JD dewa penolong mu ..papa.kirana baru sadr stlh usia yg hampir sepuh..atas apa yg dia lakukan PD Kiran di masa lalu
Rahma Inayah
gula lo Irfan satu juta 1 bulan ..GK mirk otak nya SDH konslet ckp apa uang segitu
Rahma Inayah
setlh. GK punya br sadr papa nya Kirana ank yg dia Anggo beban skrg membantu nya dlm kesusuhan
Rahma Inayah
orng yg km hina GK guna GK PNY kerjaan berandalan skrg JD dewa penolong BG ank mu .kira saya mama Kirana Mash hidup tau nya Mak trii nya .LP klu mama Kirana meninggal 🤭🤭.gengsi Irfan digedein tp nyata nya GK mampu byr biaya operasi ank nya lbh tepat nya syg uang nya dr pada nyawa ank nya
Rahma Inayah
kirain mama Kirana meninggal tau nya cerai hidup dr papa nya
Rahma Inayah
bnr Kirana utg Irfan GK JD nikah SM km dia nikah SM tisa yg mn utk ngidam aja GK BS penuhi perhitungan padhl dia katanya manager
Rahma Inayah
mami lbh syg SM mantu ketimbang ank sendri 🤭🤭yg
Rahma Inayah
nah Sam saat nya km nuriti ngidam bumil yg random SPT kata papi mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!