Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Pertarungan Dua Dunia
Kabut lembayung berputar pelan di sekitar gerbang batu raksasa. Simbol merah di permukaannya berdenyut seperti jantung yang hidup, memancarkan cahaya redup yang memantul di wajah Kiara dan Sky. Udara terasa berat… Panas… Seolah dunia itu sedang menahan napas menunggu sesuatu yang buruk terjadi.
Kiara dan Sky memasang kuda-kuda.Keduanya berdiri berdampingan. Bahu hampir bersentuhan. Mata fokus pada sosok tinggi di depan mereka.
Bara menyeringai. Tatapan netra merahnya memancarkan ejekan yang dingin.
“Lucu sekali,” katanya santai. “Manusia… Dan arwah kecil… Berdiri berdampingan seolah kalian bisa mengalahkan ku.”
Sky menggeser langkah sedikit ke depan. “Kita cuma perlu cukup kuat buat lewat.”
“Lewat?” Bara tertawa pelan. “Kalian bahkan belum paham… Di wilayah siapa kalian berdiri.”
Kiara menggenggam kerisnya lebih erat. “Banyak omong.”
Bara mengangkat satu tangan.
Hanya satu gerakan kecil, seperti orang mengusir debu dari bahunya.
Kabut di sekitar mereka langsung berputar cepat. Membentuk dinding melengkung yang menyambar di antara Kiara dan Sky.
“Sky!” teriak Kiara saat tubuh mereka terpisah paksa.
Dinding kabut itu memadat… Warnanya berubah lebih gelap… Hampir hitam. Kiara langsung memukulnya dengan tangan… Lalu dengan gagang keris… Tapi tidak ada retakan sedikit pun.
Di sisi lain… Sky melakukan hal yang sama. “Kiara! Jangan panik!”
“Apa yang kau lakukan?!” bentak Kiara pada Bara.
Bara menatapnya malas. “Aku terlalu hebat untuk membuang waktu melawan arwah kecil sepertinya. Kau saja… Manusia… Sudah cukup menghibur.”
Kiara menggeram. “Jangan meremehkan dia.”
“Kenapa?” Bara mengangkat alis. “Karena dia temanmu? Atau karena kau butuh dia untuk berani berdiri di sini?”
Sebelum Kiara sempat menjawab… Dari sisi kabut terdengar suara benturan keras.
Kiara menoleh cepat.
Sky terpental jauh… Tubuhnya menghantam dinding goa sebelum akhirnya terjatuh ke atas tanah. Beberapa penjaga ghaib muncul dari kabut, sosok berjubah gelap tanpa wajah… Menyerang tanpa suara.
“Sky!” teriak Kiara panik.
Ia mencoba menembus dinding kabut lagi. Memukul. Menendang. Bahkan menusukkan keris. Tapi tembok itu semakin pekat.
Kabut berubah hitam, menutup pandangan mereka sepenuhnya.
Kini hanya ada Kiara… Dan Bara di dalam dinding kabut itu.
Kesunyian yang menekan memenuhi ruang itu.
Bara melangkah santai mengelilinginya. “Kau seharusnya fokus pada keselamatanmu sendiri, anak manusia. Arwah kecil seperti dia tidak akan mati… Karena dia memang sudah mati. Mungkin… Hanya akan merasakan sedikit sakit.”
Dada Kiara naik turun cepat. Kemarahan, ketakutan dan rasa bersalah bercampur menjadi satu.
Tanpa aba-aba… Bara menghilang dari pandangannya.
Dalam sekejap… Tubuhnya sudah berada tepat di depan Kiara.
Serangan datang begitu cepat… Seperti kilatan api.
Kiara tidak sempat menghindar. Bara menghantamkan pukulan ke arah perutnya.
Tubuhnya terpental… Menghantam dinding kabut dengan suara keras.
Di dunia nyata…
Tubuh Kiara yang duduk bersila di depan pendopo tiba-tiba tersentak keras. Darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.
“Kiara!” Aditya langsung maju.
Pak Arman bangkit panik. “Apa yang terjadi?!”
Om Hardi ikut mendekat… Wajahnya pucat.
Mbah Kromo segera mengangkat tangan. “Tetap tenang… Bantu doa saja!”
Lampu teplok bergoyang… Bayangan menari liar di dinding kayu.
Aditya menggenggam tangan Kiara yang mulai terasa dingin. Satu tangannya menyeka darah yang sempat mengalir di sudut bibir adik sepupunya itu. “Ayo… Bertahan ya…”
Pak Arman memejamkan mata. Tangannya gemetar saat mulai berdoa lirih.
Hening pendopo berubah menjadi suara doa yang bergetar… Penuh harap.
Di alam ghaib…
Kiara terbatuk keras… Darah memercik ke kebaya putihnya.Rasa sakit menjalar dari punggung sampai ke tulang rusuk.
Ia meringis… Tapi memaksa diri bangkit.
Bara berdiri beberapa langkah di depannya. Tersenyum puas.
“Bagaimana?” katanya pelan. “Sekarang kau tahu… Manusia tidak ada apa-apanya dibanding makhluk abadi seperti kami.”
Kiara menyeka darah di bibirnya… Wajahnya tetap datar. Meski adrenalin sempat membuat tubuhnya bergetar… Tapi matanya tetap tajam.
“Benarkah?” balasnya dingin. “Tapi yang ku rasakan… Kau tidak sekuat yang terlihat.”
Mata Bara menyala. “Kau!”
Aura panas meledak dari tubuhnya.
Serangan energi hitam meluncur cepat, mencoba menghantam Kiara.
Namun, Kiara sudah bersiap. Bilah keris kecil itu terangkat ke depan. Cahaya samar muncul dari ukirannya sebelum akhirnya Kiara mengayunkannya ke arah energi hitam itu.
Energi Bara terpental… Meledak di udara.
Kabut di sekitar mereka bergetar hebat.
Bara terdiam… Kaget. “Bagaimana bisa… Manusia sepertimu menangkis seranganku?”
Kiara memutar keris di tangannya, napasnya masih berat.
“Kalau soal fisik seperti ini… Aku ahlinya,” ujarnya santai. “Dan juga… Aku cepat belajar.”
Ia menarik ujung kain jarik yang membatasi langkahnya… Merobeknya sampai lututnya bisa bebas bergerak.
Kain itu jatuh perlahan ke tanah lembayung.
Bara menyeringai miring. “Heh…Apa kau berniat menggodaku dengan cara itu? Kau pikir aku akan tertarik pada gadis manusia sepertimu?”
Kiara mendengus. “Ck… Ternyata kau bukan cuma banyak omong… Tapi juga mesum. Begini-begini seleraku lebih tinggi darimu”
Setelah mengatakannya, ia langsung berlari ke arah Bara.Tangannya terangkat seperti hendak memukul.
Bara menyeringai , jelas meremehkan. Ia mengangkat tangannya untuk menangkis pukulan Kiara.
Namun di detik terakhir… Kiara memutar tubuhnya lalu mengayunkan kakinya.
Tendangan keras menghantam perut Bara.
Tubuh pangeran itu mundur setengah langkah, cukup untuk membuat kabut di sekitarnya bergetar.
Mata merahnya melebar… Kaget.
Kiara tidak memberi jeda.
Ia melanjutkan dengan pukulan ke bahu… Sapuan kaki… Lalu mundur cepat sebelum Bara membalas.
“Gerakanmu… Aneh,” kata Bara pelan.
Kiara tersenyum tipis. “Bela diri campur improvisasi.”
Bara tertawa kecil… Tapi kali ini tidak meremehkan sepenuhnya. “Menarik… Manusia yang berani melawanku.”
Ia mengangkat tangan… Tanah lembayung retak… Rantai hitam muncul dari bawah… Mencoba mengikat kaki Kiara.
Kiara melompat… Memutar tubuh di udara… Lalu dengan gerakan lincah memotong rantai dengan keris.
Setiap potongan rantai berubah menjadi asap hitam.
Napasnya mulai berat… tapi matanya tetap fokus.
“Kenapa kau segigih ini?” tanya Bara sambil berjalan pelan. “Hanya demi satu manusia biasa?”
Kiara berdiri tegak. “Dia bukan ‘manusia biasa’ buatku.”
Bara berhenti… Menatapnya lama.
“Ah…” gumamnya. “Ikatan emosional manusia… Selalu membuat kalian lemah.”
Ia menyerang lagi.
Kali ini… Lebih cepat… Lebih brutal.
Kiara menangkis. Tapi beberapa pukulan tetap lolos. Menghantam bahunya,lengannya hingga membuatnya terhuyung.
Di balik dinding kabut… Terdengar samar suara benturan lain.
“Sky…” bisiknya.
Bara menyeringai. “Kau masih memikirkan dia? Fokuslah padaku.”
Ia mengirim gelombang energi besar.
Kiara menusukkan keris ke tanah, menggunakan dorongannya untuk melompat menghindar.
Energi itu menghantam dinding kabut, membuatnya bergetar. Sekejap… Kiara melihat bayangan Sky di balik sana, masih bertarung, masih berdiri.
Dadanya menghangat.
“Aku nggak sendirian,” gumamnya.
Ia bangkit lagi.
“Masih bisa berdiri?” ejek Bara.
Kiara menatapnya tajam. “Aku belum selesai.”
Ia memejamkan mata sejenak… Merasakan denyut hangat di balik gerbang… Aura Bima… Rasa sakitnya… Tapi juga keberaniannya.
Kiara membuka mata.
Langkahnya berubah… Lebih ringan… Lebih fokus.
Ia tidak lagi menyerang langsung.
Ia bergerak memutar… Menghindar… Memancing Bara menyerang dulu.
Bara semakin kesal.
“Kau hanya berlari!”
“Ini namanya strategi,” balas Kiara.
Saat Bara menyerang lagi… Kiara menunduk. Memutar tubuh dan menusukkan keris ke lengan Bara saat pria itu lengah karena terlalu emosi.
Cahaya putih kecil muncul.
Bara mundur cepat, Menatap lukanya, ekspresinya berubah dingin.
“Senjata itu…” gumamnya. “Bukan sembarang keris.”
Kiara tersenyum tipis. “Akhirnya kau sadar.”
Kabut di sekitar mereka mulai bergetar… Gerbang di belakang Bara berdenyut lebih cepat… Seolah merespon energi yang bertabrakan.
Jauh di baliknya… Terdengar suara rantai berderit.
Bima…
Kiara merasakan sesuatu...
Di dunia nyata… Tubuh Bima kembali bergerak kecil… Bibirnya berbisik tanpa sadar.
“Jangan… Kalah…”
Di pendopo… Semua orang terdiam… Harapan kecil muncul di wajah mereka.
Sementara di alam ghaib…
Kiara berdiri dengan napas berat… Tubuhnya penuh luka… Tapi matanya tetap menyala karena tekad.
Bara menatapnya dengan ekspresi berbeda, bukan lagi meremehkan… Tapi tertarik… Dan sedikit marah.
“Kau… Lebih keras kepala dari yang kukira.”
Kiara mengangkat kerisnya lagi. “Semua orang bilang begitu”
Kabut di sekitar mereka berputar semakin cepat.
Pertarungan belum berakhir.
Dan di balik gerbang batu… Jiwa yang mereka cari… Semakin dekat… Sekaligus semakin terancam.