NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Senin siang yang terik menyelimuti SMA Nusantara. Di kelas 11 IPS 2, suasana sedang riuh rendah. Guru Sejarah mereka, Pak Danu, masuk dengan setumpuk kertas ulangan di tangannya. Namun, bukannya membagikan hasil ulangan kelas mereka sendiri, Pak Danu justru memberikan instruksi yang membuat kelas mendadak heboh.

"Anak-anak, karena Bapak ada rapat mendadak setelah ini, kita akan melakukan koreksi silang. Bapak membawa hasil ulangan kelas 10 IPS 1. Silakan kalian cocokkan jawaban mereka dengan kunci jawaban yang akan Bapak tulis di papan tulis. Jangan ada yang curang!"

Alano, yang tadinya sedang asyik memutar-mutar pulpen di jarinya sambil melamunkan kejadian upacara tadi pagi, mendadak tegak. Matanya berbinar. 10 IPS 1? Itu kan kelas Ayra!

Pak Danu mulai membagikan lembaran kertas secara acak. Jantung Alano berdegup kencang saat tumpukan kertas itu mendekati mejanya. Semoga dapet punya Ayra, semoga dapet punya Ayra, doanya dalam hati.

Dan seolah semesta sedang berpihak padanya, saat kertas itu mendarat di mejanya, nama yang tertulis di pojok kanan atas dengan tulisan tangan yang rapi dan bersih adalah: Ayrania Johan.

Alano tersenyum lebar, hampir saja ia bersorak kalau tidak ingat sedang berada di dalam kelas. Ia mengelus pelan nama itu dengan ibu jarinya. "Dapet juga akhirnya," bisiknya sangat pelan.

Pak Danu mulai menuliskan kunci jawaban di papan tulis. Alano bekerja dengan sangat teliti. Ia tidak ingin ada satu pun kesalahan dalam mengoreksi kertas milik gadis pujaannya itu. Ayra memang pintar; hampir semua jawaban pilihan ganda dan esainya benar. Alano memberikan tanda centang dengan penuh rasa bangga, seolah-olah dia sendiri yang mendapatkan nilai bagus.

"Gila, pinter banget emang Ayang gue," gumamnya sambil menggelengkan kepala melihat jawaban esai Ayra yang sangat mendalam tentang sejarah pergerakan nasional.

Setelah selesai memberikan nilai—angka 98 besar terpampang di sana—Alano tidak langsung mengumpulkan kertas itu. Ia menatap kertas tersebut cukup lama. Ada dorongan aneh di dalam hatinya. Ia ingin meninggalkan "jejak", sesuatu yang menunjukkan kehadirannya di sana, meskipun Ayra mungkin tidak akan pernah menyadarinya.

Ia membalik lembaran kertas buram itu. Bagian belakangnya kosong putih bersih. Alano melirik ke depan, Pak Danu sedang sibuk membereskan tasnya. Teman-temannya yang lain juga sibuk mengobrol setelah selesai mengoreksi.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alano menempelkan mata pulpennya di pojok paling bawah kertas tersebut. Ia menuliskan sebuah kalimat dengan huruf yang sangat kecil, hampir samar jika tidak dilihat dengan teliti:

i love you

Setelah menulis itu, jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Ia merasa seperti baru saja melakukan sebuah tindak kriminal yang manis. Kalimat itu adalah pengakuan pertamanya secara tertulis, meskipun ia yakin Ayra tidak akan membalik kertasnya sampai ke pojok bawah hanya untuk melihat coretan kecil. Bagi Alano, itu adalah cara ia melepaskan sedikit beban yang menyesakkan dadanya selama bertahun-tahun.

"Woi, Lan! Ngumpulin kertasnya lama amat, sini gue bawa ke depan!" seru Bima, ketua kelas mereka.

Alano tersentak, cepat-cepat ia membalik kembali kertas itu dan memberikannya pada Bima. "Eh, iya. Nih, pinter banget tuh anaknya, kasih nilai bagus."

Jam istirahat berbunyi. Di kelas 10 IPS 1, suasana tidak kalah ramai. Ketua kelas mereka masuk membawa tumpukan kertas ulangan yang sudah dikoreksi oleh kakak kelas.

"Gays! Ini hasil ulangan Sejarah kemarin! Udah dapet nilai semua, ambil satu-satu ya!" teriak sang ketua kelas.

Ayra berjalan maju dengan santai. Ia sudah tahu hasilnya pasti tidak mengecewakan karena ia belajar keras malam sebelumnya. Begitu menerima kertasnya, ia tersenyum melihat angka 98.

"Wah, Ay! Gila, hampir sempurna!" puji salah satu temannya.

"Makasih ya, ini juga gara-gara kemarin baca bukunya sampe ngantuk-ngantuk," balas Ayra ramah.

Ia kembali ke mejanya dan bersiap-siap untuk pergi ke kantin. Ayra melipat kertas ulangan itu menjadi dua bagian, berniat memasukkannya ke dalam saku samping tasnya. Namun, saat ia melipat kertas itu, pandangannya menangkap sesuatu.

Ada goresan tinta di bagian belakang kertas yang seharusnya bersih.

Ayra mengerutkan kening. Ia membuka kembali lipatan kertas itu sepenuhnya dan membaliknya. Awalnya ia tidak melihat apa-apa, tapi kemudian ia mendekatkan kertas itu ke matanya. Di pojok paling bawah, ada tulisan kecil—sangat kecil namun tegas.

i love you

Ayra mematung. Napasnya tertahan sejenak. Ia mengenal jenis tinta ini, warna biru gelap yang khas. Dan entah kenapa, gaya tulisannya terasa familiar, meski dibuat sangat kecil.

"Ini siapa yang nulis?" bisiknya pada diri sendiri.

Pikirannya langsung melayang ke kejadian upacara tadi pagi. Alano yang tiba-tiba muncul, Alano yang mengaku sakit, dan Alano yang memperingatkan Rendy. Apakah mungkin? Tapi Alano kelas 11 IPS 2. Apakah kelasnya yang mengoreksi ulangan ini?

Ayra merasakan desiran aneh di perutnya. Bukan rasa marah, tapi rasa bingung yang bercampur dengan sesuatu yang ia sendiri belum mengerti. Ia buru-buru memasukkan kertas itu ke dalam tas, menyembunyikannya dari pandangan siapapun.

"Ay! Jadi ke kantin nggak?" panggil temannya dari pintu kelas.

"Eh, iya! Jadi! Tunggu bentar!" sahut Ayra, mencoba menetralkan raut wajahnya yang mulai memerah.

Di koridor menuju kantin, pikiran Ayra tidak bisa lepas dari tulisan itu. I love you. Tiga kata sederhana yang bisa menghancurkan atau membangun segalanya. Jika benar itu dari Alano, apa maksudnya? Bukankah mereka sepupu? Bukankah Alano itu playboy yang hanya suka menggodanya dengan panggilan "Ayang"?

Ayra tidak sadar, di ujung koridor, Alano sedang berdiri bersandar di pilar, memperhatikannya dengan senyum tipis yang penuh rahasia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!