Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Jebakan di Ruang Direksi
Clarissa tidak bisa tinggal diam melihat posisinya terancam oleh seorang mahasiswi yang dianggapnya hanya "anak kemarin sore". Dengan dalih ingin membantu, keesokan harinya Clarissa menghampiri meja Airin di dalam ruangan Jordan saat sang CEO sedang turun ke lantai bawah untuk meninjau proyek.
"Airin, ini ada tambahan data terbaru untuk presentasimu di depan dewan direksi nanti siang. Pak Jordan yang memintaku memberikannya padamu," ucap Clarissa dengan senyum manis yang dipaksakan. Ia menyodorkan sebuah map biru berisi grafik-grafik rumit.
Airin, dengan sifat polosnya, menerima map itu tanpa curiga sedikit pun. "Terima kasih, Mbak Clarissa. Saya akan segera memasukkannya ke dalam draf."
"Sama-sama. Oh ya, Pak Jordan bilang datanya harus dimasukkan semua tanpa kecuali, ya," tambah Clarissa sebelum melangkah keluar dengan kilat kemenangan di matanya. Padahal, data di dalam map itu adalah laporan kerugian dari anak perusahaan yang sudah ditutup lima tahun lalu data sampah yang jika dipresentasikan akan membuat Airin terlihat sangat tidak kompeten.
Siang harinya, ruang rapat besar Abraham Corp sudah penuh dengan para direktur senior yang berwajah kaku. Jordan duduk di kursi utama, tampak bangga dan siap mendukung Airin.
"Silakan, Airin. Tunjukkan hasil risetmu," ucap Jordan dengan nada menyemangati.
Airin maju dengan tenang, meski jantungnya berdebar. Ia mulai memaparkan datanya. Namun, saat sampai pada bagian yang diberikan Clarissa, suasana ruangan mendadak berubah. Para direktur mulai saling berbisik, beberapa bahkan menggelengkan kepala dengan raut wajah kecewa.
"Tunggu dulu," potong salah satu direktur senior dengan nada ketus. "Data apa ini? Kenapa kamu memasukkan angka kerugian dari tahun 2021 untuk proyek tahun 2026? Ini penghinaan bagi kecerdasan kami!"
Wajah Airin seketika memucat. Ia menatap layar proyektor dengan bingung. "Tapi... saya diberitahu bahwa ini data terbaru..."
Jordan yang melihat Airin dipojokkan langsung berdiri. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah layar. Sebagai ahli keuangan, ia tahu seketika bahwa itu adalah sabotase. Ia menoleh ke arah Clarissa yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah yang pura-pura terkejut.
"Airin, siapa yang memberikan data itu padamu?" tanya Jordan. Suaranya rendah namun mengandung badai yang siap meledak.
Airin melirik Clarissa yang kini menatapnya dengan pandangan mengancam. "Mbak Clarissa yang memberikannya tadi pagi, katanya atas perintahmu, Jordan."
Seluruh ruangan mendadak sunyi. Jordan berjalan perlahan mendekati Clarissa. Tekanan udara di ruangan itu seolah merosot drastis.
"Atas perintahku?" tanya Jordan tepat di depan wajah Clarissa. "Sejak kapan aku memberikan perintah untuk menghancurkan riset yang aku awasi sendiri setiap malam?"
"Maaf, Pak... saya... saya mungkin salah ambil map," gagap Clarissa, kakinya mulai gemetar.
"Kesalahan seperti ini tidak ada di kamus Abraham Corp. Kamu sengaja ingin mempermalukan Airin di depanku?" Jordan berbalik ke arah dewan direksi. "Rapat ditunda sepuluh menit. Keluar semuanya, kecuali Airin dan Clarissa."
Begitu ruangan kosong, Jordan menarik Airin ke sisinya, melingkarkan lengannya di pinggang Airin dengan sangat posesif sebagai bentuk perlindungan. Ia menatap Clarissa dengan pandangan yang sangat mematikan.
"Kamu dipecat, Clarissa. Sekarang juga. Dan jangan harap kamu bisa bekerja di perusahaan mana pun di bawah naungan Abraham Corp atau keluarga Rodriguez," ucap Jordan mutlak.
"Pak! Tolong... saya sudah bekerja lama"
"Pergi sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar," potong Jordan dingin.
Setelah Clarissa lari keluar sambil menangis, Jordan segera beralih pada Airin. Ia melihat mata Airin yang mulai berkaca-kaca karena kaget dan malu. Jordan tidak tahan, ia menarik Airin ke dalam pelukannya yang hangat, mengusap punggungnya dengan lembut, dan mengecup keningnya berkali-kali.
"Maafkan aku, sayang. Aku yang lalai membiarkan ular itu mendekatimu," bisik Jordan menyesal.
Airin mengerucutkan bibirnya sambil mengusap air mata kecil di sudut matanya. "Aku merasa bodoh karena langsung percaya saja."
"Kamu tidak bodoh, kamu terlalu tulus. Dan itulah kenapa aku mencintaimu," Jordan mengangkat dagu Airin, lalu mengecup bibirnya dengan lembut untuk menenangkan hatinya yang masih kesal. "Sekarang, lupakan data sampah itu. Gunakan data aslimu. Aku tahu kamu sudah mengerjakannya dengan sempurna."
Airin mengangguk, merasa keberaniannya kembali berkat dukungan Jordan. Di sisi lain, ia belajar satu hal penting: berada di sisi Jordan berarti ia harus siap menghadapi badai, namun ia juga tahu bahwa Jordan akan selalu menjadi perisai terkuatnya.