Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Hinaan di Balai Sekte
Balai Utama Sekte Awan Biru berdiri megah di puncak tangga batu putih. Pilar-pilar tinggi menopang atap berukir naga dan awan, sementara dupa tipis mengepul di sudut ruangan, menciptakan suasana sakral yang menekan.
Hari itu, seluruh murid luar dipanggil untuk menghadiri pengumuman penting.
Qiu Liong berdiri di barisan paling belakang.
Ia sudah terbiasa berada di posisi itu.
Di depan, para tetua duduk di kursi kayu besar. Wajah mereka serius, jubah panjang mereka menyapu lantai marmer yang mengilap. Di sisi kanan berdiri murid-murid inti, termasuk Zhao Wuchen dan Mei Lanyue.
Jarak di antara mereka bukan hanya beberapa langkah.
Itu adalah jurang.
Tetua Agung, pria tua dengan janggut putih panjang, berdiri dan memandang seluruh ruangan.
“Beberapa bulan lagi, Sekte Awan Biru akan mengirim perwakilan ke Turnamen Sembilan Sekte,” suaranya dalam dan menggema. “Hanya murid dengan potensi dan dedikasi terbaik yang akan dipilih.”
Murid-murid saling berbisik dengan semangat.
Turnamen Sembilan Sekte adalah kesempatan emas. Bukan hanya tentang kehormatan, tetapi juga sumber daya, teknik rahasia, dan pengakuan dunia kultivasi.
Tetua Agung melanjutkan, “Karena itu, kami akan mengevaluasi kembali seluruh murid luar. Mereka yang dinilai tidak memiliki potensi akan… dipertimbangkan untuk dikeluarkan.”
Suasana mendadak sunyi.
Kata “dikeluarkan” menggantung di udara seperti pisau tak terlihat.
Qiu Liong merasakan dadanya mengencang.
Beberapa pasang mata mulai melirik ke arahnya.
Seolah keputusan itu sudah jelas bahkan sebelum diumumkan.
Salah satu tetua lain, dengan wajah kurus dan sorot mata tajam, membuka gulungan bambu di tangannya.
“Beberapa nama telah menjadi perhatian khusus,” katanya. “Terutama mereka yang selama bertahun-tahun tidak menunjukkan kemajuan berarti.”
Ia menyebut beberapa nama.
Lalu
“Qiu Liong.”
Suara itu terdengar lebih keras di telinga Qiu Liong daripada seharusnya.
Seluruh ruangan seakan menoleh serempak.
Ia melangkah maju perlahan, berdiri di tengah balai luas itu sendirian.
“Empat tahun di Sekte Awan Biru,” lanjut tetua itu. “Namun kultivasi tetap di tingkat awal Pemurnian Qi. Akar spiritual retak. Aliran energi tidak stabil.”
Setiap kalimat terasa seperti penghakiman.
“Apakah kau memiliki sesuatu untuk disampaikan?” tanya Tetua Agung.
Ratusan mata tertuju padanya.
Qiu Liong menunduk memberi hormat. “Murid ini… akan terus berusaha.”
Beberapa murid tak mampu menahan tawa kecil.
Tetua kurus itu mendengus. “Berusaha? Dunia kultivasi bukan tempat bagi mereka yang hanya mengandalkan usaha tanpa bakat.”
Darah Qiu Liong terasa panas di wajahnya.
Namun ia tidak mengangkat kepala.
“Jika setiap murid tanpa bakat diberi kesempatan tanpa batas,” lanjut tetua itu, “sekte ini akan dipenuhi beban.”
Beban.
Kata itu lebih menyakitkan daripada “pecundang”.
Karena pecundang masih manusia.
Beban adalah sesuatu yang ingin dibuang.
Zhao Wuchen berdiri diam di sisi kanan, ekspresinya tak terbaca. Mei Lanyue pun tak menunjukkan reaksi.
Tetua Agung menatap Qiu Liong lama.
“Kau telah diberi waktu lebih dari cukup,” katanya pelan. “Mengapa kau begitu keras kepala?”
Qiu Liong mengangkat wajahnya perlahan.
Matanya tidak lagi gemetar.
“Karena murid ini percaya… selama belum mati, masih ada kemungkinan.”
Ruangan hening.
Jawaban itu tidak luar biasa. Tidak bijak. Namun ada ketegasan di dalamnya.
Tetua kurus itu mencibir. “Kata-kata tak akan memperbaiki meridianmu.”
“Tidak,” jawab Qiu Liong. “Tapi menyerah juga tidak.”
Beberapa murid terdiam.
Tetua Agung akhirnya menghela napas.
“Kau diberi waktu hingga evaluasi berikutnya,” katanya. “Jika tak ada kemajuan berarti, kau akan dikeluarkan.”
Keputusan itu bukan kemenangan.
Itu hanya penundaan hukuman.
Qiu Liong memberi hormat dalam-dalam. “Terima kasih, Tetua.”
Saat ia berbalik untuk kembali ke barisan, bisikan kembali terdengar.
“Dia benar-benar tak tahu diri.”
“Mengulur waktu saja.”
Namun di tengah semua itu, langkah Qiu Liong terasa lebih kokoh dari sebelumnya.
Hari ini, ia dipanggil beban.
Di depan seluruh sekte, harga dirinya diinjak tanpa belas kasihan.
Namun anehnya…
di balik rasa malu dan amarah yang membakar dadanya, ada sesuatu yang semakin jelas.
Jika sekte ini adalah panggung…
maka suatu hari nanti, ia tidak akan berdiri di tengah sebagai terdakwa.
Ia akan berdiri di sana sebagai seseorang yang tak bisa lagi diremehkan.
Dan ketika hari itu tiba…
tidak akan ada lagi yang berani menyebutnya beban.
jangan bikin kecewa ya🙏💪