NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: PERSIMPANGAN DI BALIK TERALI

BAB 34: PERSIMPANGAN DI BALIK TERALI

Pagi di Delhi terasa begitu menyesakkan. Langit tertutup kabut tipis yang menyembunyikan sinar matahari, seolah alam semesta pun enggan menyaksikan kehancuran sebuah keluarga besar yang selama puluhan tahun diagung-agungkan. Di depan gedung pengadilan militer pusat, barisan tentara berdiri kaku dengan senjata lengkap. Hari ini bukan sekadar persidangan kasus kriminal biasa; hari ini adalah penghakiman bagi sebuah konspirasi yang melibatkan nama besar Vashishth.

Arlan turun dari mobil dengan langkah yang tenang namun berwibawa. Dia tidak lagi mengenakan pakaian lusuh. Kali ini, dia mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya yang tegap, memberikan kesan seorang pria yang telah merebut kembali harga dirinya. Di sampingnya, Ibu Sujati berjalan dengan kepala tegak, meskipun matanya berkaca-kaca. Setelah dua puluh tahun hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan penghinaan, hari ini dia akan melihat wanita yang telah menghancurkan hidupnya duduk di kursi pesakitan.

Di dalam ruang tunggu yang dingin, Rayhan sedang menyesuaikan baretnya di depan cermin. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Dia akan menjadi saksi kunci sekaligus orang yang menyerahkan bukti-bukti kejahatan ibunya sendiri. Vanya berdiri di sudut ruangan, memperhatikan suaminya dengan perasaan yang hancur. Vanya tahu, bagi pria seperti Rayhan, integritas adalah segalanya, namun mengkhianati ibu kandung demi integritas adalah sebuah luka yang tidak akan pernah sembuh.

"Rayhan," panggil Vanya lirih.

Rayhan berbalik, menatap istrinya dengan tatapan yang kosong. "Vanya, setelah hari ini, namaku tidak akan lagi dipandang dengan rasa hormat. Aku akan dikenal sebagai pria yang memenjarakan ibunya sendiri. Mungkin ini saatnya kau benar-benar menjauh dariku. Kau tidak pantas menanggung rasa malu ini."

Vanya menggelengkan kepalanya, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku tidak pernah peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang namamu, Rayhan. Aku hanya peduli pada pria yang berdiri di depanku sekarang. Pria yang memilih untuk melakukan hal yang benar meskipun itu menyakitinya."

Lonceng pengadilan berbunyi, menandakan sidang dimulai. Ruangan itu penuh sesak dengan perwira tinggi dan wartawan yang haus akan skandal. Suman masuk dengan tangan terborgol, dikawal oleh dua polwan. Wajahnya tampak kusam, namun sorot matanya masih memancarkan kebencian saat melihat Arlan duduk di bangku penggugat. Di sebelahnya, Hendra duduk di kursi roda karena luka tembak di kakinya belum sembuh benar. Hendra tampak seperti singa tua yang kehilangan taringnya, namun tetap memiliki tatapan licik.

Hakim Ketua memulai persidangan dengan membacakan tuntutan: konspirasi pembunuhan, pemalsuan dokumen negara, dan penyalahgunaan wewenang militer. Saat dokumen wasiat asli yang dibawa Arlan ditunjukkan sebagai bukti, gumaman kaget memenuhi ruangan.

"Saudara saksi, Mayor Rayhan Vashishth, silakan maju," perintah Hakim.

Rayhan melangkah ke podium saksi. Suaranya tidak bergetar sedikit pun saat dia mulai menjelaskan kronologi bagaimana dia menemukan bukti-bukti tersebut dan bagaimana ibunya, Suman, telah menekan semua pihak untuk membungkam kebenaran selama bertahun-tahun.

"Setiap kata yang saya ucapkan adalah benar," tegas Rayhan di akhir kesaksiannya. "Saya berdiri di sini bukan sebagai putra dari Nyonya Suman, tapi sebagai seorang perwira yang bersumpah pada kebenaran. Keadilan harus ditegakkan, siapapun pelakunya."

Suman tiba-tiba berdiri dan berteriak histeris. "Kau anak durhaka, Rayhan! Aku melakukan ini untukmu! Aku melakukannya agar kau bisa menjadi Jenderal seperti ayahmu! Anak haram itu tidak pantas mendapatkan apa pun dari keluarga ini!"

Suasana menjadi kacau. Hakim mengetuk palu berulang kali, memerintahkan Suman untuk tenang. Arlan berdiri perlahan. Dia tidak berteriak. Dia hanya berjalan menuju tengah ruangan, menatap Suman dengan pandangan yang penuh rasa kasihan, bukan amarah.

"Nyonya Suman," suara Arlan bergema di seluruh ruangan. "Kau bicara soal pantas atau tidak pantas. Kau merasa aku tidak pantas karena aku lahir dari wanita yang kau benci. Tapi lihatlah dirimu sekarang. Di kursi pesakitan ini, siapa yang sebenarnya tidak pantas menyandang nama Vashishth? Kau menghabiskan dua puluh tahun untuk menghancurkanku, tapi pada akhirnya, kau justru menghancurkan putramu sendiri. Itulah hukuman yang paling berat bagimu."

Sidang ditunda untuk keputusan akhir sore nanti. Di koridor gedung yang sepi, Arlan dan Vanya tanpa sengaja bertemu. Mereka berdiri di sana, hanya berjarak beberapa meter, sementara orang-orang berlalu lalang di sekitar mereka.

"Kau tampak sangat kuat tadi, Arlan," ucap Vanya pelan.

Arlan tersenyum pahit. "Kekuatan yang dibangun di atas penderitaan orang lain tidak ada gunanya, Vanya. Melihat Rayhan hancur seperti itu... itu bukan kemenangan bagiku. Aku hanya ingin kebenaran, bukan ingin melihat saudaraku menderita."

Vanya menunduk, memainkan ujung sarinya. "Rayhan menawarkan perceraian padaku tadi pagi. Dia bilang aku bebas untuk kembali padamu."

Jantung Arlan berdegup kencang mendengar itu. Inilah kesempatan yang selama ini dia impikan. Kembali pada Vanya, memulai hidup baru di Simla dengan harta yang kini sudah menjadi miliknya secara hukum. Namun, Arlan melihat ke arah pintu ruang tunggu di mana Rayhan sedang duduk sendirian dengan kepala tertunduk.

Arlan teringat bagaimana Rayhan melindunginya dari Hendra. Dia teringat bagaimana Rayhan membela kehormatan Ibu Sujati di depan semua orang. Arlan menyadari satu hal: dia tidak bisa membangun kebahagiaannya di atas puing-puing pengorbanan Rayhan.

"Vanya, dengarkan aku," ucap Arlan, melangkah lebih dekat. "Dulu di Simla, aku adalah dunia bagimu, dan kau adalah duniaku. Tapi sekarang, dunia kita sudah berubah. Rayhan telah memberikan segalanya untukmu, bahkan kehormatannya sendiri. Jika kau meninggalkannya sekarang, di saat dia paling hancur, maka kau akan membunuhnya lebih cepat daripada peluru mana pun."

Vanya menatap Arlan dengan mata yang penuh ketidakpercayaan. "Kau memintaku untuk tetap bersamanya? Setelah semua yang kita lalui?"

"Aku memintamu untuk memilih dengan hatimu, bukan dengan rasa bersalah," jawab Arlan. "Tapi ketahuilah, pria yang berdiri di dalam sana adalah pria yang jauh lebih hebat dariku. Dia adalah pahlawan yang sesungguhnya. Aku mencintaimu, Vanya. Aku akan selalu mencintaimu. Tapi cinta tidak harus selalu memiliki. Terkadang cinta adalah tentang memastikan orang yang kita cintai berada di tempat yang paling tepat untuknya."

Keputusan hakim akhirnya dibacakan. Suman dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara, sementara Hendra mendapatkan hukuman seumur hidup atas berbagai kasus kriminal yang akhirnya terkuak satu per satu. Harta perkebunan di Simla dikembalikan sepenuhnya kepada Arlan dan Ibu Sujati.

Saat pengadilan berakhir, Rayhan berjalan keluar dengan gontai. Dia merasa seperti mayat hidup. Namun, di pintu keluar, dia menemukan Vanya sedang menunggunya. Bukan dengan tatapan kasihan, tapi dengan tatapan penuh dukungan.

"Kau tidak pergi bersama Arlan?" tanya Rayhan dengan suara serak.

Vanya meraih tangan Rayhan dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Arlan adalah masa laluku yang sangat indah, Rayhan. Tapi kau adalah masa depanku yang nyata. Kau membutuhkanku sekarang lebih dari siapa pun, dan aku memutuskan untuk tidak akan pernah melepaskan tanganmu."

Rayhan menarik Vanya ke dalam pelukannya, menangis di bahu istrinya tanpa malu lagi pada orang-orang di sekitar mereka.

Di kejauhan, Arlan berdiri bersama Ibu Sujati, menyaksikan pemandangan itu. Hatinya terasa perih, sangat perih, namun di saat yang sama, dia merasakan kedamaian yang luar biasa. Dia telah memberikan hadiah terbesar bagi saudaranya: kebahagiaan bersama wanita yang mereka berdua cintai.

"Ayo, Bu," ajak Arlan sambil merangkul pundak ibunya. "Simla sudah menunggu kita. Kita punya banyak pekerjaan untuk membangun kembali rumah kita."

1
falea sezi
moga arlan dpet cewek lah males liat vanya yg plin plan abis ne arlan dpet jodoh lu pasti cmburu vanya
falea sezi
moga cpet dpet jodoh wanita g toxic kayak. vanya ya
falea sezi
bkin lah arkan pergi jauh males liat muka vanya q ngapain nikah ma Reyhan gatel amat
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!