Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Siang itu Tita baru pulang dari Bandung setelah liburan selama beberapa hari disana. Tita datang ke rumah Gibran dengan senyum lebar dan dua kantong besar di tangannya.
“Assalamu’alaikum~!” serunya begitu pintu rumah Gibran terbuka.
Gibran yang baru saja keluar dari dapur langsung mengernyit melihat bawaan Tita. “Wa’alaikum salam. Itu… kamu pindahan atau mau buka cabang toko oleh-oleh?”
Tita nyengir bangga. “Ini namanya bukti cinta seorang sahabat yang habis liburan ke Bandung.”
Belum sempat Gibran menjawab, Rangga yang sejak tadi selonjoran di sofa langsung bangkit seperti dapat panggilan takdir. “Bandung?” Matanya berbinar. “Sebutin dulu, ada apa aja?”
Tita masuk tanpa permisi lebih lanjut, menaruh kantong-kantong itu di meja. “Tenang. Lengkap. Ada peuyeum, brownies kukus, batagor frozen, cireng bumbu rujak, sama keripik tempe satu kardus.”
“Satu kardus?” Rangga nyaris terharu. “Tita, gue siap nikah sama lo.”
Gibran melirik tajam. “Ini rumah gue.”
“Tenang, nikahnya simbolis,” balas Rangga santai sambil mulai mengobrak-abrik kantong. “Ini yang mana dulu?”
Tita tertawa, lalu menatap Gibran yang berdiri sambil menyilangkan tangan. “Kok mukanya datar banget? Kurang bahagia gue pulang?”
“Bahagia,” jawab Gibran singkat. “Cuma takut rumah gue berubah jadi gudang makanan.”
“Santai, Bran. Makanan itu menyatukan kita,” kata Rangga sambil membuka plastik peuyeum dan langsung mencium aromanya. “Wah… Bandung emang nggak pernah gagal.”
Tita duduk di sofa, menatap dua laki-laki di depannya dengan puas. “Liburan gue capek loh. Macet, dingin, hujan, tapi semua terbayar pas inget kalian.”
Gibran mengambil brownies kukus, membukanya pelan. “Sendirian ke Bandung?”
Tita mengangguk. “Sendirian. Healing.”
Rangga mendengus. “Healing apaan? belanja sama makan itu namanya.”
Tita menyenggol bahu Rangga dengan kesal. “Biarin. Emang cowok nggak paham.”
Mereka bertiga tertawa kecil. Suasana rumah Gibran yang biasanya sunyi mendadak hangat oleh suara bercanda dan aroma makanan.
Gibran menatap Tita sejenak, lalu berkata pelan, “Makasih ya. Udah repot-repot.”
Tita tersenyum, kali ini lebih lembut. “Sama-sama. Kan rumah ini juga rumah kedua gue.”
Rangga mengangkat peuyeum tinggi-tinggi. “Kalau gitu, gue resmi jadi penghuni tetap!”
“Keluar,” ucap Gibran dan Tita bersamaan.
Tita menyandarkan punggungnya di kursi sambil mencomot beberapa keripik tempe. "By the way. Gimana kabarnya Nadia?" tanya Tita. "Terakhir gue ketemu dia waktu nganterin dia selepas dari rumah sakit. Gue sampe lupa mau pamit ke Bandung."
Rangga yang sedang sibuk membuka cireng berhenti mendadak. Tangannya menggantung di udara, matanya melirik cepat ke arah Gibran.
“Wih,” celetuknya pelan tapi sengaja terdengar, “nama itu disebut.”
Gibran mengambil napas dalam sebelum menjawab. Ekspresinya tetap datar, tapi rahangnya sedikit menegang. “Dia baik. Sudah balik kerja.”
Tita mengernyit. “Cepat juga. Kirain masih disuruh istirahat.”
“Tipikal Nadia,” sambung Rangga sambil duduk lagi. “Masuk rumah sakit sebentar, keluar langsung mikir kerja. Kayak cuti itu dosa.”
Tita tertawa kecil, lalu wajahnya berubah sedikit serius. “Tapi… dia beneran nggak apa-apa, kan? Terakhir gue liat dia pucat banget.”
Gibran menatap brownies di tangannya, seolah jawabannya ada di sana. “Secara fisik, dokter bilang aman. Cuma—” Ia berhenti sebentar. “Dia keliatan capek.”
Tita mengangguk pelan. “Nadia itu keras kepala, tapi bukan tipe yang manja. Kalau udah capek, dia simpan sendiri.”
Rangga mengunyah cireng sambil mengangguk setuju. “Setuju. Dia lebih milih pingsan daripada ngerepotin orang.”
Gibran melirik Rangga tajam. “Jangan gitu ngomongnya.”
“Heh, fakta, Bran.”
Tita menatap Gibran lebih lama, ada sesuatu di sorot matanya. “kamu masih kontak sama dia?”
Pertanyaan itu melayang ringan, tapi jatuhnya berat.
Gibran terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Kadang.”
“Kadang itu seberapa kadang?” Rangga menyela cepat.
Gibran mendesah. “Rangga.”
Tita tersenyum tipis. “Gue cuma nanya. Soalnya gue ngerasa bersalah belum pamit. Besok atau lusa gue mau samperin dia.”
Gibran mengangguk singkat. “Dia pasti seneng.”
Rangga menaikkan alisnya. “Lah, kok lo yang jawab? Kayak juru bicara resmi.”
“Gue—” Gibran terhenti, lalu menggeleng. “Udah, makan aja.”
Tita memandangi Gibran dengan ekspresi penuh arti, lalu tersenyum kecil. “Bran… kamu masih peduli, ya.”
Gibran langsung menatapnya. “Dia temen.”
“Hmm,” gumam Tita, tak sepenuhnya percaya. “Temen yang kamu anter dari rumah sakit, pastiin makan, dan masih kamu pikirin.”
Rangga terkekeh. “Temen level premium.”
Gibran berdiri, mengambil minum. “Kalian kebanyakan nonton drama.”
Namun saat ia membelakangi mereka, ekspresinya berubah. Nama Nadia kembali berputar di kepalanya—cara gadis itu tersenyum lemah di rumah sakit, suaranya yang pelan saat bilang terima kasih, dan tatapan mata yang seolah selalu menyimpan lebih banyak hal dari yang diucapkan.
Sementara itu, Tita menatap punggung Gibran dan berkata pelan pada Rangga, “Kalau dia bilang ‘temen’ sambil mikir sejauh itu, bahaya.”
Rangga mengangguk mantap. “Bahaya banget.”
Rangga mencomot keripik tempe terakhir di meja, lalu bersandar santai. Nada suaranya dibuat seolah sedang membahas cuaca.
“Oh iya, Ta. Ngomong-ngomong soal Nadia… sekarang dia kerja di Pradikta Group.”
Tita yang sedang menyesap minum langsung tersedak. “HAH?!”
Ia menepuk dadanya sendiri. “Tunggu. Pradikta Group yang itu?”
Rangga mengangguk mantap. “Cabang satu.”
Hening sepersekian detik.
“Cabang satu?!” Tita menoleh cepat ke Gibran. “Bukannya—”
“Zane,” potong Rangga ringan, seolah nama itu tak punya beban apa pun. “Iya. Bos besarnya.”
Tita membeku. Matanya membulat sempurna. “ZANE PRADIKTA?”
Gibran menatap lurus ke depan, ekspresinya mengeras. Ia sudah tahu reaksi itu akan muncul. “Iya.”
“Ya ampun,” Tita menutup mulutnya. “Sejak kapan dia pulang dari luar negeri? Kok gue nggak dengar apa-apa?”
“Beberapa minggu lalu,” jawab Rangga. “Diam-diam. Kayaknya nggak niat bikin pengumuman.”
Rangga menggaruk tengkuknya, lalu kembali duduk. Nada santainya mulai luntur, digantikan ekspresi yang lebih serius.“Ta, Nadia itu nggak masuk Pradikta Group karena lamaran kerja biasa,” katanya akhirnya.
Tita langsung menoleh. “Maksud lo?”
Rangga mencomot remah keripik di jarinya, lalu berkata pelan, “Dia masuk karena… kecelakaan.”
“Kecelakaan?” alis Tita terangkat.
“Iya. Dua minggu sebelum dia resmi kerja,” lanjut Rangga, “Nadia nggak sengaja nabrak mobil Zane.”
Ruangan seketika terasa lebih sempit.
“Nabrak… mobil Zane?” ulang Tita, pelan tapi tajam.
Rangga mengangguk. “Mobil mewahnya. Lecet parah. Lampu retak. Bemper penyok.”
Tita menghela napas panjang. “Ya ampun… Nadia pasti panik.”
“Panik, nangis, hampir pingsan,” sahut Rangga. “Zane minta ganti rugi. Nominalnya—” Rangga berhenti sebentar. “—nggak masuk akal buat ukuran gaji Nadia.”
Gibran mengepalkan rahangnya. “Dan Nadia nggak sanggup.”
“Jelas,” jawab Rangga. “Dia bahkan nawar cicilan, tapi Zane cuma senyum.”
Tita mengernyit. “Senyum yang mana?”
“Yang bikin orang nggak enak,” ujar Rangga. “Senyum orang yang lagi nemu celah.”
Gibran menegakkan tubuh. “Terus?”
“Terus Zane nawarin ‘jalan keluar’,” lanjut Rangga. “Katanya, nggak usah ganti rugi. Anggap lunas… asal Nadia mau kerja di perusahaannya.”
Tita terperangah. “Astaga….”
“Dan bukan posisi yang layak,” tambah Rangga cepat. “Asisten pesuruh. Bukan asisten eksekutif, bukan staf administrasi. Tapi tipe yang disuruh apa aja.”
Tita membanting telapak tangannya ke sofa. “Itu pemerasan!”
“Secara halus,” sahut Rangga. “Dan Nadia nggak punya banyak pilihan.”
Gibran menunduk, napasnya berat. “Makanya dia sering pulang malem….”
“Makanya dia sering capek, gampang sakit,” lanjut Rangga. “Zane nggak pernah nyebut soal utang itu di depan orang lain. Tapi setiap kali Nadia protes, dia cuma bilang—” Rangga menirukan nada dingin, “‘Kamu masih ingat mobil saya, kan?’”
Tita memejamkan mata. “Keparat.”
Hening kembali jatuh.
“Yang bikin gue kesel,” Rangga melanjutkan, “Zane kayak sengaja. Dia tahu Nadia nggak bisa kabur. Kontraknya ngikat, alasan kerjanya ‘pengganti kerugian’.”
Gibran berdiri lagi, lebih cepat dari sebelumnya. “Ini nggak bener.”
Tita menatapnya. “Bran, jangan gegabah.”
“Dia bukan karyawan,” suara Gibran bergetar, “dia sandera.”
Rangga mengangguk setuju. “Dan Zane… makin lama makin aneh.”
“Dalam artian?” tanya Tita.
“Kadang Zane galak setengah mati. Kadang dia diem, ngeliatin Nadia lama banget. Kayak lupa mereka lagi di kantor,” jelas Rangga. “Bos lain mikir dia cuma perfeksionis. Tapi gue tahu tatapan itu.”
Gibran mengangkat wajahnya. “Tatapan apa?”
“Tatapan orang yang lagi perang sama perasaannya sendiri.”
Tita mendengus. “Dan Nadia jadi medan tempurnya.”
Sore di luar semakin gelap. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu.
Gibran menarik napas dalam-dalam. “Gue harus ngomong sama Nadia.”
Rangga menatapnya tajam. “Pastikan dulu satu hal.”
“Apa?”
“Kalau lo masuk ke situ,” kata Rangga pelan, “lo bukan cuma lawan Zane. Tapi juga harus berhadapan sama Arya.”
Tita menatap Gibran lama. “Dan lo siap?”
Gibran tak langsung menjawab. Namun sorot matanya sudah cukup jelas.
#maaf kosakata baku di ganti jadi lebih santai pakai lo/gue😁