NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan yang tak direncanakan

Pagi itu, hujan turun tanpa aba-aba.

Langit yang semalam begitu cerah tiba-tiba berubah kelabu, dan butiran air jatuh perlahan di jendela ruang tamu.

Aku berdiri di dapur, menatap panci sup yang belum sempat kumasak, sementara radio kecil di meja memutar lagu lama yang membuatku ingin menangis tanpa alasan.

Raka berangkat pagi-pagi sekali hari ini.

Ia sempat mengecup keningku sebelum pergi, tapi ciumannya terasa cepat, seperti rutinitas — bukan lagi kehangatan.

“Jaga diri, ya, Ly,” katanya sebelum menutup pintu.

Aku hanya mengangguk, menatap punggungnya yang menghilang di balik hujan.

Kini, suara langkahnya di pagi hari hanya menyisakan gema di rumah yang mulai terasa terlalu besar untuk dua orang.

Aku duduk di meja makan, menatap kursi di seberangku yang kosong, lalu menghela napas panjang.

Kadang aku merasa, mungkin cinta memang tidak hilang… ia hanya berubah bentuk — dari pelukan hangat menjadi keheningan, dari obrolan panjang menjadi senyum lelah.

Dan aku masih di sini, memunguti serpihan kecil kebersamaan yang tersisa.

Sekolah hari itu lebih ramai dari biasanya.

Anak-anak berlarian sambil tertawa, membawa jas hujan warna-warni.

Aku berjalan di koridor dengan map di tangan, ketika suara seseorang memanggil dari belakang.

“Bu Alya!”

Aku menoleh, dan melihat Revan berlari kecil ke arahku sambil membawa payung. “Hujan makin deres, biar saya anter sampai mobil.”

Aku tersenyum kecil. “Wah, nggak usah repot, Pak Revan. Saya bisa kok.”

“Udah, nggak apa-apa,” katanya dengan nada ringan. “Saya sekalian kok. Lagian, kalau Ibu kehujanan nanti murid-murid marah ke saya.”

Aku tertawa pelan. “Kenapa harus marah ke kamu?”

“Soalnya katanya Ibu Alya guru favorit. Kalau sakit, satu sekolah bisa heboh,” jawabnya sambil tersenyum.

Kami berjalan di bawah satu payung besar, melewati halaman sekolah yang becek dan harum tanah basah.

Hujan turun makin deras, tapi di antara tetes air dan langkah pelan kami, ada suasana aneh — tenang tapi tidak hampa.

“Bu Alya,” Revan tiba-tiba berkata pelan, “kadang saya iri sama orang yang bisa punya rumah sehangat yang Ibu ceritain waktu itu.”

Aku menoleh cepat. “Maksudnya?”

“Ibu pernah bilang, kan, rumah itu bukan cuma dinding dan atap, tapi tempat seseorang pulang.”

Ia tersenyum lembut. “Saya harap, Ibu masih ngerasa rumah Ibu tetap sehangat itu.”

Aku menatap tanah basah di bawah kaki kami. Butiran air menetes dari ujung payung.

Ada sesuatu di suaranya yang membuat dadaku bergetar — bukan karena Revan, tapi karena pertanyaannya membuatku sadar… mungkin, rumahku mulai kehilangan hangatnya.

Sore itu aku pulang dengan pikiran penuh.

Hujan masih belum berhenti, tapi entah kenapa aku tidak langsung masuk rumah.

Aku berdiri di halaman belakang, menatap flamboyan kami yang basah kuyup. Daunnya bergetar ditiup angin, dan beberapa kelopaknya jatuh ke tanah, menempel di lumpur.

Aku berjongkok, menyentuh batang pohon itu dengan jemari dingin.

“Kenapa kamu masih bisa berdiri tegak, ya, padahal tiap hari diterpa hujan?” gumamku pelan.

Angin menjawab dengan embusan lembut.

Aku menatap langit yang kelabu dan tersenyum samar. “Mungkin kamu tahu caranya bertahan lebih baik dari aku.”

Suara pintu depan terbuka.

Raka sudah pulang, suaranya menggema di ruang tamu. “Ly?”

Aku berdiri, menyeka air di pipi — aku tidak yakin itu hujan atau air mata.

“Di sini, Rak!” seruku.

Dia muncul di pintu belakang, basah kuyup karena hujan. “Kamu kenapa nggak di dalam?”

Aku menggeleng. “Cuma… liat pohon.”

Dia menatapku beberapa detik, lalu berkata pelan, “Jangan sering hujan-hujanan, nanti sakit.”

Nada suaranya lembut, tapi ada jarak di sana.

Aku mengangguk pelan. “Kamu udah makan?”

“Udah di kantor.”

Kami diam beberapa saat.

Suara hujan memecah keheningan, tapi di antara kami, ada dinding tipis yang tidak terlihat.

“Aku tadi diingatkan murid,” katanya tiba-tiba. “Katanya aku harus sering bilang ‘makasih’ sama orang rumah.”

Dia menatapku dengan senyum kecil. “Jadi… makasih, ya, Ly. Udah terus sabar.”

Aku tersenyum samar. “Sama-sama.”

Tapi setelah dia masuk kamar, aku tetap berdiri di teras, menatap pohon flamboyan yang kini meneteskan air dari setiap ujung daunnya — seolah ia pun ikut menangis malam itu.

Beberapa hari kemudian, suasana di rumah makin dingin.

Raka sibuk, aku pun mulai menghindari percakapan yang tak perlu.

Kami saling mencintai, tapi seolah tidak tahu lagi bagaimana caranya menunjukkan cinta itu.

Sampai satu malam, semuanya pecah begitu saja.

Aku baru selesai mengoreksi tugas murid ketika Raka masuk rumah dengan wajah lelah.

“Maaf, aku pulang telat lagi,” katanya cepat.

Aku hanya menjawab singkat. “Aku udah biasa.”

Dia berhenti di tempat. “Maksud kamu apa?”

Aku meletakkan pena di meja. “Nggak apa-apa, cuma ngomong biasa.”

“Ly,” suaranya mulai tegang, “kalau ada yang kamu pengen omongin, tolong bilang langsung. Jangan sindir.”

Aku menatapnya lama. “Oke. Aku cuma pengen tahu — kamu masih inget nggak gimana rasanya pulang?”

Raka terdiam.

Aku melanjutkan, suaraku bergetar tapi tegas, “Rumah ini masih sama, Rak. Tapi kamu nggak benar-benar di sini. Kamu cuma lewat, tinggalin jas hujan, makan, tidur. Aku nggak minta apa-apa, cuma minta kamu hadir.”

Dia menatapku, napasnya berat. “Aku kerja buat kita, Ly. Semua ini buat masa depan.”

Aku mengangguk pelan. “Tapi kalau kamu terus sibuk ngatur masa depan, kita bisa kehilangan sekarang.”

Keheningan panjang.

Di luar, hujan turun makin deras, petir menyambar sekali.

Raka akhirnya duduk di kursi, menunduk. “Aku nggak tahu gimana caranya berhenti. Klien, proyek, semuanya datang terus. Aku takut kalau nolak, kita balik ke awal — ke masa di mana kita nggak punya apa-apa.”

Aku berjalan mendekat, berdiri di depannya. “Aku nggak butuh semua itu, Rak. Aku cuma butuh kamu — yang dulu mau duduk di taman sambil liat langit, yang dulu inget setiap janji yang kita tanam.”

Dia menatapku. Matanya merah, mungkin lelah, mungkin juga terharu.

“Ly…” katanya pelan. “Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku liat langit bareng kamu.”

Aku tersenyum pahit. “Aku juga.”

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kami berdua menangis — tanpa kata, hanya menatap satu sama lain sambil mendengar suara hujan di luar.

Keesokan harinya, aku bangun pagi dan mendapati Raka sudah tidak di rumah.

Tapi di meja makan, ada sepiring roti, secangkir teh, dan secarik kertas.

“Aku ambil cuti. Tunggu aku sore ini. — R.”

Hatiku berdebar. Aku tidak tahu harus merasa apa — lega, canggung, atau takut.

Tapi aku mengikuti pesannya: aku menunggu.

Sore datang perlahan, bersama langit kelabu yang lagi-lagi membawa hujan.

Raka tiba tepat pukul lima, tanpa jas kerja, tanpa wajah lelah.

“Siap?” tanyanya.

“Siap ke mana?”

Dia tersenyum. “Ke taman.”

Kami mengendarai mobil menuju Taman Langit, tempat semua kisah kami dimulai.

Hujan masih turun, tapi kali ini Raka tidak menutup payung sepenuhnya.

“Biar kena dikit nggak apa-apa,” katanya. “Biar berasa kayak dulu.”

Taman itu masih sama — basah, hijau, dan sunyi.

Kami duduk di bangku kayu di bawah flamboyan besar, menatap kolam kecil di tengah.

“Ly,” katanya pelan, “aku sadar satu hal. Aku sibuk nyari masa depan yang sempurna, padahal masa depan itu cuma ada kalau kamu masih di sebelahku.”

Aku terdiam, menatap wajahnya yang kini mulai basah oleh hujan.

Dia melanjutkan, “Aku lupa bahwa kita nggak janji buat jadi pasangan paling sukses. Kita cuma janji buat tetap tumbuh bareng.”

Air mata bercampur air hujan di pipiku. “Kamu tahu, Rak, aku nggak pernah berhenti nunggu kamu. Tapi aku juga takut — takut kamu udah nggak mau pulang.”

Dia menggenggam tanganku erat. “Aku selalu pulang, Ly. Cuma kadang jalannya salah arah. Tapi sekarang aku nemu jalannya lagi — kamu.”

Kami berdua tertawa di tengah hujan.

Tawa yang pelan, tapi nyata.

Raka lalu berdiri, mengulurkan tangan padaku. “Ayo.”

“Ke mana?”

“Menari di bawah hujan, kayak waktu SMA dulu.”

Aku tertawa. “Kita udah tua, Rak.”

“Cinta kita nggak.”

Aku berdiri, menggenggam tangannya. Kami melangkah ke tengah taman, membiarkan hujan membasahi seluruh tubuh kami.

Langit menggelap, tapi di antara gemuruh dan air, aku merasa ringan — seolah semua beban ikut larut bersama hujan.

Raka memelukku erat. “Maaf, Ly. Buat semua waktu yang aku lewatkan.”

Aku menenggelamkan wajah di dadanya. “Aku juga minta maaf. Kadang aku terlalu diam padahal hatiku berisik.”

Dia tersenyum, mencium ubun-ubunku. “Kita mulai lagi dari sini?”

Aku mengangguk. “Dari hujan, dari taman, dari langit.”

Dan di tengah hujan yang tak direncanakan, kami menemukan cinta kami lagi — tidak seperti dulu, tapi lebih tenang, lebih dalam, lebih matang.

Malam itu kami pulang ke rumah dengan pakaian basah dan hati yang hangat.

Raka menatapku sambil tersenyum. “Kamu tahu, Ly? Langit hari ini nggak cerah, tapi aku rasa ini hari paling indah yang pernah kita punya.”

Aku tersenyum, memandang ke luar jendela di mana hujan masih menetes pelan. “Langit nggak harus cerah buat jadi indah, Rak. Kadang, langit yang mendung justru ngajarin kita gimana cara tetap saling menggenggam.”

Dan malam itu, aku tahu — cinta kami tidak hilang, hanya bersembunyi di balik awan.

Sekarang, ia kembali, menetes perlahan bersama hujan yang turun tanpa rencana.

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!