Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 207
Arena Pertempuran Babak Pertama: Hutan Besi Berduri.
Cahaya teleportasi memudar.
Tim Asura mendarat di tengah lingkungan yang asing dan mematikan. Tidak ada tanah atau rumput di sini. Lantainya adalah lempengan logam dingin yang tidak rata. Pohon-pohon yang menjulang tinggi terbuat dari baja hitam, dengan dahan-dahan tajam menyerupai pedang dan daun-daun silet yang bergemerincing saat angin bertiup.
Di langit, sebuah angka raksasa yang terbuat dari api Qi menyala: 1000 / 1000. Angka ini akan terus berkurang setiap kali ada peserta yang mati atau menyerah, hingga tersisa 100 orang.
"Waktunya pesta," gumam Shi Hao.
Namun, alih-alih mengeluarkan pedangnya, Shi Hao justru melompat ringan.
TAP.
Dia mendarat di dahan tertinggi sebuah Pohon Besi raksasa, sekitar tiga puluh tombak di atas tanah. Dia duduk santai di sana, kaki berayun-ayun, sambil memetik buah besi (yang ternyata keras, jadi dia membuangnya).
"Tuan Feng?" Tie Shan (Raksasa Batu) mendongak bingung. "Tuan tidak ikut bertarung?"
Shi Hao menatap ke bawah dengan dingin.
"Kalian pikir aku pengasuh bayi?"
"Aku sudah melatih kalian di neraka selama 48 jam. Jika kalian masih butuh aku untuk mengelap ingus kalian saat melawan kroco-kroco ini... lebih baik kalian mati di sini saja."
Shi Hao menyilangkan tangan.
"Aku tidak akan turun. Kecuali jika lawannya setingkat Dewa Sejati. Sisanya... itu jatah makan kalian."
"Formasi Pertahanan Segitiga! Sekarang!"
Tie Shan, Shu Ling, dan Luo Tian tersentak. Insting latihan mereka mengambil alih.
Tie Shan berdiri di depan, tubuh batunya memancarkan cahaya kuning berat.
Luo Tian melayang di tengah, mata ketiganya terbuka waspada.
Shu Ling menghilang ke dalam bayangan pohon besi, menyatu dengan lingkungan.
Baru saja formasi terbentuk, semak-semak besi di depan mereka meledak.
DUAR! DUAR!
Puluhan sosok muncul mengepung mereka.
Ada 30 prajurit dari Klan Titan Bintang yang berbadan besar membawa palu godam, dan 20 murid Sekte Pedang Angin yang bergerak lincah di atas dahan pohon.
Total 50 musuh. Semuanya di ranah (Core Formation) hingga Jiwa Baru Lahir (Nancent Soul).
"Hahaha! Ketemu!" teriak pemimpin Klan Titan. "Perintah Pangeran Jin! Habisi Tim Asura! Jangan sisakan tulang!"
"Serang!"
Para Titan menerjang maju seperti kawanan badak, sementara murid Sekte Pedang melancarkan Qi Pedang jarak jauh dari atas pohon.
Tie Shan melihat gelombang musuh itu. Lututnya gemetar sedikit, tapi dia ingat tatapan Shi Hao di atas sana. Tatapan yang lebih menakutkan daripada kematian.
"Aku... Aku bukan batu kali!"
Tie Shan menghentakkan kakinya.
"Seni Gunung: Benteng Ribuan Lapis!"
Tie Shan tidak menyerang. Dia membesarkan tubuhnya, memadatkan Qi Tanah menjadi dinding energi semi-transparan yang melengkung menutupi dirinya dan Luo Tian di belakangnya.
BAM! BAM! BAM! TRANG!
Palu godam para Titan menghantam dinding energi itu. Qi Pedang menghujani mereka.
Tanah logam di bawah kaki Tie Shan penyok dalam. Tie Shan mengerang, darah magma menetes dari sudut bibirnya, tapi kakinya tidak mundur satu inci pun.
"Mata Tiga! Sekarang!" teriak Tie Shan.
Di belakang punggung lebar Tie Shan, Luo Tian (Si Mata Tiga) memiliki ruang aman yang sempurna. Dia tidak perlu khawatir diserang, jadi dia bisa memfokuskan seluruh jiwanya untuk menyerang.
Mata ketiga di dahi Luo Tian bersinar ungu pekat, berdenyut seperti jantung iblis.
"Domain Jiwa: Hutan Kebingungan!"
Gelombang mental tak terlihat menyebar keluar, menembus dinding pertahanan Tie Shan, langsung menghantam otak para penyerang.
Para murid Sekte Pedang di atas pohon tiba-tiba berhenti. Pandangan mereka kabur. Di mata mereka, dahan pohon tempat mereka berpijak berubah menjadi ular berbisa, dan teman di samping mereka terlihat seperti musuh.
"Hah?! Kenapa kau menyerangku?!"
"Awas! Ada monster di belakangmu!"
Kekacauan terjadi. Murid Sekte Pedang mulai saling serang karena halusinasi.
Sementara itu, para Titan di darat yang memiliki pertahanan mental rendah langsung terkena dampaknya. Gerakan mereka melambat, seolah bertarung di dalam lumpur.
"Kenapa... tubuhku... berat..." racau pemimpin Titan.
Di atas dahan pohon tertinggi, Shi Hao mengangguk pelan. "Bagus. Pengendalian medan perang."
Dan saat itulah, pembantaian yang sesungguhnya dimulai.
Dari bayang-bayang di antara kaki para Titan yang bingung, sesosok kecil melesat.
Shu Ling (Si Tikus).
Dia tidak mengeluarkan suara. Dia tidak mengeluarkan aura pembunuh. Dia seperti hantu.
SRET.
Belati Shu Ling memotong urat lutut Titan pertama. Titan itu jatuh berlutut.
JLEB.
Tusukan kedua menembus tenggorokan.
Shu Ling tidak berhenti. Dia melompat ke bahu Titan berikutnya, menggunakan kepala musuh sebagai pijakan untuk melompat ke arah murid Sekte Pedang yang sedang linglung di dahan rendah.
ZING.
Satu kepala murid pedang terpenggal.
Shu Ling adalah kematian kecil yang tak terlihat. Di tengah kekacauan yang diciptakan Luo Tian dan perhatian yang tersedot ke arah Tie Shan, Shu Ling bebas memanen nyawa.
"AAARGH! Ada hantu!"
"Kakiku! Siapa yang memotong kakiku?!"
Formasi musuh hancur berantakan. 50 orang itu kini hanyalah domba yang panik di dalam kandang serigala.
Tie Shan, melihat musuh mulai goyah, menyeringai lebar. Dia menarik perisainya.
"Giliranku memukul!"
Tie Shan menerjang maju, menggunakan teknik yang dia pakai untuk menghancurkan pilar.
"Tubuh Gunung Menabrak Bintang!"
BUK!
Satu tabrakan bahu Tie Shan mengirim tiga prajurit Titan terbang melintasi hutan, tulang dada mereka hancur seketika.
Di atas pohon, Shi Hao melihat semuanya dengan wajah datar, meski ada kilatan bangga di matanya.
Hanya dalam waktu sebatang dupa terbakar, 50 musuh itu telah rata dengan tanah.
Lantai logam itu kini merah oleh darah.
Tie Shan terengah-engah, tubuh batunya retak di sana-sini. Luo Tian mimisan, matanya merah karena penggunaan energi mental berlebih. Shu Ling berdiri di atas tumpukan mayat, membersihkan belatinya yang berlumuran darah.
Mereka mendongak ke arah Shi Hao, menunggu penilaian.
Shi Hao melompat turun. Dia mendarat tanpa suara di antara mayat-mayat itu.
Dia berjalan mendekati Tie Shan, lalu menepuk bahu batunya yang retak.
"Pertahananmu bocor di sisi kiri," kritik Shi Hao.
Tie Shan menunduk kecewa. "Maaf, Tuan..."
"Tapi," lanjut Shi Hao, "Kau tidak mundur. Itu yang penting."
Shi Hao kemudian menoleh ke Luo Tian dan Shu Ling.
"Ilusimu kasar, tapi efektif. Dan kau, Tikus... kau mulai menikmati membunuh, ya?"
Shu Ling menyengir malu, menyembunyikan belatinya.
"Kerja bagus," kata Shi Hao akhirnya.
Tiga anggota Tim Asura itu tersenyum lebar. Pujian "Kerja Bagus" dari Shi Hao bernilai lebih dari seribu keping emas bagi mereka.
Di langit, angka peserta berubah drastis.
Peserta Tersisa: 850.
"Ini baru pemanasan," kata Shi Hao sambil melihat ke arah kamera pengawas berbentuk bola mata terbang yang merekam pertempuran itu. Dia tahu Pangeran Jin sedang menonton.
"Ayo jalan. Kita cari korban berikutnya sampai kuota 100 orang terpenuhi."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛