NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Ikatan Paksa

Tatapan Mahesa lalu menangkap kotak yang Addam simpan di bawah meja. ”Kotaknya yang itu, bukan?”

“Iya, Sa,” Addam spontan meraih kotak itu dan menyerahkannya pada Mahesa.

Setiap sisi kotak paket itu lalu dilihat dengan seksama oleh Mahesa. “Gak ada nomor resinya juga, ya?” Tanyanya sambil terus menatap kotak itu.

Addam dan Naya saling melempar tatapan. Lagi-lagi mereka baru menyadari detail itu ketika Mahesa telah mengatakannya.

“Jadi...” Mahesa meletakkan kotak itu di atas meja. “Voice note nya dikirim beberapa hari lalu tapi paket fotonya baru diterima tadi siang…”

“Bener, Sa. Gue terpaksa banget minta bantuan lo soalnya laporan kita bener-bener gak ada progress,” balas Addam sendu.

“Oke. Gue gak janji ngasih hasil yang sesuai harapan kalian tapi gue bakal lakuin semampu gue buat cari Astrid.” Mahesa menatap Addam dan Naya bergantian.

“Thank you banget, Sa. Gue bener-bener bingung, gak tahu mesti gimana caranya nyari adek gue…” Suara Addam terdengar gemetar. Sangat jelas bagaimana campur aduknya perasaan Addam saat itu.

“It’s okay, Dam. Udah sewajarnya, apalagi ini nyangkut urusan keluarga. Kita semua ngerti perasaan lo, Dam…” Balas Mahesa dengan suara yang terdengar halus.

Tanpa terasa justru bulir air mata Naya yang malah jatuh dan meluncur menuju pipinya. Segera saja Naya menyeka wajahnya dan kembali fokus dengan tujuan pertemuan mereka.

Sebisa mungkin Addam menahan air matanya untuk tidak jatuh di depan Mahesa dan Naya. Sambil menyeka kedua matanya yang mulai berlinang, Addam teringat hal lain yang cukup penting.

“Sa, ada satu lagi yang mau gua kasih tahu,” ucap Addam seraya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.

Jemarinya lincah menggulir layar ponsel dan tak lama kemudian Addam menyerahkan ponselnya pada Mahesa.

Tanpa banyak bicara, Mahesa menerima uluran ponsel dari Addam lalu dilihatnya apa yang Addam tunjukkan padanya.

Kedua mata Mahesa seketika melebar menatap layar ponsel Addam.

“Dam?!” Mahesa masih menatap layar ponsel Addam ketika isi kepalanya tengah bersiap menyusun kalimat panjang.

Melihat raut wajah Mahesa yang tampak sangat terkejut jelas menimbulkan pertanyaan besar dalam benak Naya. Meski dirinya sangat penasaran, Naya memilih untuk menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan apa hal mengejutkan yang ada di dalam ponsel milik Addam.

“Dam? Ini apaan?!” Mahesa menyerahkan kembali ponsel itu pada Addam dengan raut wajah yang terlihat masih sangat terkejut.

“Gue juga dapet kiriman paket misterius itu, Sa. Dia ngirim flash disk dan isinya video-video itu,” kata Addam sambil menatap Mahesa kemudian ia menatap Naya. “Kamu tahu, Nay? Paket yang aku terima itu mirip sama yang dikirim ke kamu, pengirimnya dari si A itu,” ungkap Addam.

“Dikirim ke kontrakan juga?” Sahut Naya dengan kedua mata yang tampak membulat.

Addam mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan Naya. Ponsel miliknya lalu disodorkan ke arah Naya. Addam mempersilakan Naya untuk melihat apa yang barusan Mahesa lihat.

“Ya ampun, Dam! Udah jelas kalau orang ini emang ada maksud tertentu ke lo…!” Mahesa memijat keningnya.

“Yang gue gak ngerti, kenapa Astrid sama Naya juga dilibatin?” ucap Addam frustrasi.

Saat itu isi kepala Addam benar-benar berantakan tak tentu arah. Perasaannya menjadi kacau hingga untuk beberapa saat Addam hanya terus meremas jemarinya. Baru ketika Mahesa mencoba membuka kembali obrolan mereka, Addam tampak mulai kembali dengan fokusnya.

Di sisi lain ada Naya yang begitu tercengang dengan tayangan yang dilihatnya dalam layar ponsel Addam. Gadis itu tampak terdiam sambil mencerna semua yang dilihatnya barusan.

“Dam. Menurut gue, berdasar cerita lo yang bilang laporan kalian gak ada progress, dengan lo ngasih tahu gue semua kejadian ini emang langkah yang paling aman. Gak apa-apa sesekali kita manfaatin kekuatan relasi kita kalau memang cuma itu yang bisa dilakuin,” Mahesa mencoba semampunya membantu Addam mengatur isi kepalanya.

“Sekali lagi, thank you, Sa,” kalimat singkat yang Addam ucapkan barusan jelas mengandung banyak sekali makna.

Pertemuan perdana mereka akhirnya berakhir setelah Addam merasa cukup mengatakan hal yang harus ia katakan. Tentang pesan dari akun anonim itu, Addam merasa sebaiknya ia menyimpannya dulu untuk dirinya sendiri. Jika nanti waktunya sudah tepat, kelak ia akan mengatakan semuanya.

Sebelum mereka berpisah, Mahesa sempat bertukar kontak dengan Naya. Hal itu dilakukannya karena Mahesa mengatakan; dengan memiliki kontak satu sama lain, masalah yang mereka hadapi akan lebih mudah didiskusikan.

#

Di depan pintu kontrakan mereka, Addam sempat meminta maaf dan berterima kasih pada Naya sebelum mereka akhirnya memasuki hunian mereka masing-masing.

Malam itu, baik Naya maupun Addam sama-sama menghabiskan sisa waktu mereka dengan suasana hati yang sangat pelik.

Sebab kesimpulan yang bisa didapat setelah pertemuan mereka dengan Mahesa adalah; kemungkinan besar saat ini Naya, Addam, dan Astrid tengah dihadapkan dengan sebuah bahaya, khususnya Astrid yang sampai sekarang belum mereka ketahui kabarnya.

#

Hal terakhir yang Astrid ingat sebelum dirinya jatuh terlelap adalah ketika pria itu menyuntikkan zat asing ke dalam tubuhnya. Astrid berpikir bahwa zat itu mungkin sejenis obat tidur. Karena beberapa lama setelahnya, dirinya mendadak diserang kantuk yang tak tertahankan.

Setelah sepanjang malam Astrid terkurung dalam gelapnya keputus asaan, cahaya matahari yang perlahan muncul pun kini tak lagi terasa menyenangkan.

Setiap waktu yang ia habiskan di tempat asing itu terasa semakin menyiksanya. Semakin lama, ketakutan dan dan kecemasan yang dirasakannya seperti membuatnya semakin kehilangan akal sehatnya.

Sorot mata yang dulu hangat dan selalu penuh sukacita itu kini terlihat lain. Tatapannya nyaris kosong, seperti menggambarkan bagaimana hatinya merasakan kehampaan yang entah ada dimana ujungnya.

Ditengah keheningan yang terasa mencekam itu, sebuah suara yang telah Astrid kenali muncul memecah kesunyian. Dentuman kecil dari sepatu yang beradu dengan lantai itu menggema halus di ruangan yang lengang itu. Sayangnya, ritme langkah kaki itu merupakan pertanda kehadiran sosok yang sangat tidak diharapkan Astrid.

“Morning, honey…!” suara pria itu menggema dari kejauhan.

Mendengar kembali suaranya membuat Astrid merinding seketika.

Pria berjaket hitam dengan tudung itu lalu berjalan mendekati Astrid. Ia datang dengan sebuah wadah di tangan kanannya.

“Sarapan dulu, sayang. Hari ini kita bakal bikin pesta yang seru!” Kata pria itu.

Wadah itu lalu diletakkannya di depan Astrid yang terduduk dengan tubuh masih yang terikat. Saat itu Astrid terdengar menggeram seperti tengah mengutuk pria yang berada di hadapannya.

Amarah Astrid mendidih sampai naik ke ubun-ubun, nafasnya memburu dengan tatapan tajam seperti ingin mengoyak sosok yang tengah beradu tatap dengannya. Wajah dibalik tudung itu bagai api kebencian yang menyalakan kemarahan Astrid.

Lalu ketika pria itu membuka kain yang menyumpal mulut Astrid, dirinya cukup dikejutkan dengan sikap Astrid yang mendadak ‘menyerangnya’.

Saat itu amarah Astrid meledak dalam bentuk yang lebih liar dan kasar. Gadis itu melontarkan lu*dahnya pada wajah pria di hadapannya. Sebuah bentuk penghinaan paling nyata yang sangat menjijikan, penuh dengan rasa muak yang kental.

Astrid memang tak mengucapkan apapun. Namun tindakannya barusan jelas sekali mengatakan bagaimana ia menganggap orang itu telah lebih rendah dari sampah.

Pria itu mengangkat tangannya perlahan dan menyeka ludah yang mendarat pada wajahnya.

Dadanya mendadak merasa terbakar dan sempat terbersit keinginan untuk melayangkan tamparan di wajah gadis yang terus menatapnya dengan penuh emosi itu. Namun sekarang ini, menurutnya sebuah tamparan atau pukulan hanyalah pembalasan yang remeh.

“Wah…” Senyuman tipis muncul meski jelas dipaksakan. Namun jelas sekali senyuman itu bukanlah tanda kekalahan.

Pria itu menatap Astrid sekilas, kedua matanya berkilat. Sorot matanya sempat berubah tajam namun beberapa saat kemudian terlihat meredup, seperti berganti dengan kelembutan semu yang jauh lebih menakutkan dari amarah yang menyala.

Keheningan yang ia ciptakan justru membuat suasana semakin menegangkan. Lalu tanpa mengatakan apapun, pria itu kembali meraih kain yang tadi menyumpal mulut Astrid.

Astrid yang sudah bisa menebak langkah pria itu lalu berusaha untuk melawan dengan berteriak semampu yang ia bisa. Namun karena tenaganya kalah telak dari pria itu, usaha yang dilakukan Astrid itu menjadi sia-sia saja. Pria itu bahkan semakin mengencangkan ikatannya.

“Diam kau, jalang!” Kata pria itu ketika dirinya selesai membungkam kembali mulut Astrid.

Sebuah jarum suntik berukuran kecil lalu diraihnya dari dalam kantong jaket. Tanpa ragu pria itu menyuntikkan jarum itu pada lengan Astrid.

Pria itu lantas berdiri dan menatap Astrid sebentar. Kemudian ia berbalik dan meninggalkan Astrid tanpa mengatakan satu kalimat apapun.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!