Buat yang gak suka gerah, harap melipir!
Bukan bacaan untuk anak yang belum cukup umur.
Ketika Aishe didorong ke laut oleh Farhan tunangan tercintanya, semua rasa cinta berubah menjadi tekad untuk membunuhnya.
Aishe tidak pernah berpikir bahwa Farhan hanya mencintai uangnya, dan tega berselingkuh bahkan mendorongnya ke laut.
Ketika ombak menelan tubuh Aishe, dirinya berpikir akan mati, namun keberuntungan berpihak padanya. Aishe terdampar di sebuah pulau kosong selama 59 hari hingga suatu hari dia diselamatkan oleh Diego, seorang pengusaha yang tampan namun lumpuh.
Dengan kekuatan dan kekayaan Diego, Aishe memiliki identitas baru dan wajah baru, dia bahkan menjadi sekretaris pribadi Diego. Diego, pria yang kaya dan berkuasalah yang dapat membantunya membalas dendam pada Farhan.
Setelah balas dendam selesai, senyuman menyeramkan muncul di wajah Diego, yang membuat jantung Aishe berdegup kencang menunggu kalimat selanjutnya.
"Sekarang giliranmu untuk membalas budi padaku."
Aishe menatap pria yang mendekat di depannya, dalam hati dia berkata, "Lolos dari mulut buaya, malah masuk ke mulut singa."
Ini bukan novel garis lurus yang bisa diambil banyak pelajarannya. Jadi kalian bisa berhenti jika alir terasa berputar-putar, membosankan, jelek dan yang lain.
Silakan kembali tanpa meninggalkan kesan buru di komentar.
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KAY_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Tiga wanita cantik, berjalan mendekati Aishe yang masih berdiri. "Nona ini siapa?"
Sayup-sayup suara wanita, membuat Aishe menoleh.
"Ishe," jawabnya singkat.
Mereka saling memandang untuk beberapa saat, sebelum akhirnya salah satu dari mereka mengambil napas panjang dan tersenyum.
"Nona Aishe, mohon maaf, Nona Zoe membatalkan janjinya."
"Apa?" Aishe cukup terkejut mendengar perkataan mereka. Tidak habis pikir, bahwa seorang stylish terkenal seperti Zoe bisa seenaknya membatalkan janji dengan seseorang.
"Maaf, Nona. Kami menyesal tidak memberitau Anda lebih awal. Nona Zoe terbang ke Millan pagi ini."
Aishe mengepalkan kedua tangannya erat-erat, dadanya sedikit melambung, bersamaan dengan hela napas penuh amarah.
"Oke, kalau begitu kembalikan uangku!" Aishe mencoba meredam amarahnya. "Pada kesepakatan, pihak yang membatalkan janji tanpa pemberitauan akan mendapatkan pengembalian penuh. Bukankah begitu?" lanjutnya.
"Anda benar, Nona. Kalau begitu, berikan nomer rekening Anda, kami akan mengembalikan biayanya."
Salah seorang dari mereka merogoh saku, mengambil ponsel dan memberikannya ke teman yang lain. Mengingat Aishe tidak ada rekening, bakan saat mendaftar saja, dia memakai nama samaran. Dia pun menolak pengembalian secara transfer dan memilih tunai.
"Lima belas ribu Lira, aku mau cash!" ucap Aishe tenang, tetapi mampu membuat mereka bertiga terbengong.
"Li-lima belas? Nona, Anda mungkin salah. Kami memang mengembalikan uang Anda, tetapi tidak memberi kompensasi."
"Kompensasi? Apa asisten Nona Zoe tidak memberitau kalian? Aku bayar 3 kali lipat untuk sekali pertemuan dengannya."
Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aishe. Sejauh yang mereka tau, Zoe tidak akan menerima pembayaran double untuk jasanya. Akan tetapi kenyataan yang terjadi, justru diluar dugaan.
Aishe mengeluarkan bukti pembayaran dari asisten Zoe tiga minggu lalu. Membuat ketiga orang itu kembali bengong dan tidak tahu harus berbuat apa.
Pada awalnya, mereka hanya berniat mengerjai Aishe. Entah karena pada saat Aishe terlihat norak, jelek, dan tidak modis, atau justru karena dia terlihat miskin. Berniat mengambil alih nomor antrian Aishe dan memberikannya pada orang lain dengan harga dobel. Namun yang terjadi, justru membuat mereka menelan pil pahit.
Ketika mereka masih saling melihat dan memberi kode. Ashan datang memasuki butik.
"Kenapa, Nona? Saya melihat Anda berdiri sejak tadi."
"Zoe pergi mendadak dan jadwalku di batalkan. Aku meminta uangku kembali sesuai perjanjian."
Ashan mengangguk perlahan, kemudian menatap wajah mereka bertiga. "Saya sempat berpikir, seorang stylist terkenal pasti akan profesional. Ternyata, yang tidak profesional itu stafnya."
"Apa maksud Anda, Tuan?" sahut salah seorang dari staf yang tidak terima dengan perkataan Ashan.
"Maksud saya? Bukannya kamu lebih tahu?"
Ahsan berbalik, mengajak Aishe pergi dari sana. "Ayo, Nona. Saya bisa memperkenalkan salah satu stylish terbaik."
"Anda tidak akan menemukan stylish terbaik selain Zoe di kota ini, Tuan!" teriak staf dengan jengkel.
Ashan sempat menghela napasnya, lalu merogoh ponsel dan hendak menghubungi seseorang. "Batalkan kontrak kerja sama dengan Zoe!" ucap Ashen singkat lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Tangan salah seorang staf terlihat mengepal dengan gigi yang mengerat, dan wajah yang merah padam. Sedangkan dua staf yang lain terlihat gemetar ketakutan.
"Anda membuat saya rugi, Tuan Ashen," ucap Aishe saat berjalan pergi meninggalkan toko.
"Saya akan mengganti kerugian Anda."
"Tapi Anda melanggar hukum jual beli. Jual beli tidak boleh ada salah satu yang rugi. Saya rugi dan mereka untung banyak!"
Ashan tertawa sembari membuka pintu mobil untuk Aishe. Pada saat itu, ia ingin sekali memberi tahu Aishe, berapa banyak kerugian yang akan mereka alami. Namun, Ashan memilih membungkam mulutnya dan kembali fokus menyetir.
Setelah gagal bertemu Zoe, harapan Aishe padam seketika. Wajah murungnya bahkan terlihat jelas, ketika dia menyandarkan kepalanya di kaca dengan pasrah.
Mobil yang dikendarai Ashen tiba di sebuah gang sempit di daerah Fatih. Ashan menepikan mobilnya tepat di depan gang kecil, lalu membuka pintu Aishe dan mengajaknya untuk turun.
"Mau kemana?" tanya Aishe.
"Anda akan segera tahu, Nona."
...||...
...☆TBC☆...