NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Sungguh aku tidak bisa mendengarkan jawaban Mas Bram… tapi aku juga tahu, aku harus menerimanya. Apa pun jawabannya.

Ruangan itu terasa sempit. Udara seakan berhenti bergerak. Hanya suara detak jantungku yang terdengar begitu keras di telingaku sendiri.

“Mon, apa kamu tidak mau dimadu?” tanya Mas Bram akhirnya, suaranya berat namun tegas.

Monika tertawa getir. Tawanya bukan tawa bahagia—itu tawa seorang perempuan yang sedang menahan kehancuran.

“Perempuan mana yang mau dimadu, Bram?” ucapnya, matanya menatap lurus pada suamiku. “Aku bukan salah satu perempuan yang mau dimadu!”

Aku menunduk. Kata-katanya seperti pisau yang menggores perlahan. Karena jauh di dalam hati… aku tahu dia benar.

“Jadi?” tanya Mas Bram pelan.

“Jadi kamu harus memilih di antara kami!”

Kalimat itu menggantung di udara. Menjadi vonis. Menjadi keputusan yang tak bisa lagi ditunda.

Jantungku berdegup begitu kencang. Aku ingin pergi. Ingin lari dari situasi ini. Tapi kakiku terasa terpaku.

“Oke,” ujar Mas Bram akhirnya, tanpa ragu. “Kalau itu maumu, Monika… aku memilih Rania.”

Dunia seakan berhenti.

Aku membelalak. Monika membeku.

Dan dalam hitungan detik—

Plak!

Tamparan itu mendarat keras di pipi Mas Bram.

Sunyi.

Monika menatapnya dengan mata yang sudah dipenuhi air mata, tapi sorotnya masih menyala oleh harga diri.

“Kamu memilih dia?” suaranya bergetar, namun masih menyimpan ketegasan. “Setelah semua yang kita lalui? Setelah aku sabar menunggu? Setelah aku menelan semua kepahitan ini?”

Mas Bram mengusap pipinya. “Aku tidak pernah berniat menyakitimu, Mon. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku.”

Aku ingin berteriak. Ingin mengatakan bahwa aku tidak pernah meminta ini. Bahwa semuanya terjadi di luar rencanaku.

Tapi lidahku kelu.

Monika menoleh padaku.

“Dan kamu, Rania…” suaranya melembut, tapi justru lebih menyakitkan. “Kita sama-sama perempuan. Kamu tahu rasanya dikhianati. Tapi hari ini kamu berdiri di posisi yang sama dengan perempuan yang pernah menyakitimu.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

“Aku… aku tidak pernah ingin menyakitimu, Mon,” lirihku.

“Tidak ada perempuan yang mengaku ingin menyakiti perempuan lain,” jawabnya pahit. “Tapi nyatanya… luka itu tetap ada.”

Mas Bram berdiri di antara kami, seolah menjadi tembok sekaligus sumber perpecahan.

“Cukup! Ini keputusanku. Jangan salahkan Rania sepenuhnya.”

Monika tersenyum hambar. Senyum terakhir yang mungkin tidak akan pernah kulupakan.

“Tidak, Bram. Justru hari ini aku berterima kasih. Karena kamu akhirnya jujur. Kamu sudah memilih.”

Ia menghapus air matanya sendiri.

“Kita selesai.”

Kata itu terasa seperti palu yang menghantam keras.

Mas Bram tampak terkejut meski tadi ia sudah menentukan pilihan. “Kamu serius?”

“Lebih dari serius,” jawab Monika mantap. “Aku tidak akan berbagi suami. Kalau kamu memilih Rania… maka lepaskan aku.”

Sunyi kembali menggantung. Kali ini lebih dingin. Lebih menyesakkan.

Aku tidak merasa menang.

Aku tidak merasa bahagia.

Aku hanya merasa menjadi sebab runtuhnya sebuah rumah tangga.

Mas Bram menoleh padaku. Tatapannya mantap. Penuh keyakinan.

Tapi di dalam dadaku… bukan rasa bangga yang muncul.

Melainkan ketakutan.

Karena aku tahu, cinta yang dia pilih hari ini… mungkin akan menjadi ujian terberat dalam hidupku.

Monika menatapku tajam. Tatapan yang tak lagi sekadar marah—tapi penuh kebencian yang lahir dari luka paling dalam.

“Aku benci kamu, Rania.”

Kalimat itu diucapkannya tanpa ragu.

Dadaku langsung sesak.

“Aku tidak akan pernah memaafkan kamu. Sampai kapan pun,” lanjutnya, suaranya bergetar namun tegas. “Kamu sudah mengambil semuanya dariku.”

Air mataku mengalir deras. Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak pernah bermaksud merebut. Aku tidak pernah ingin menjadi orang ketiga dalam kehidupan siapa pun. Tapi kenyataan tetaplah kenyataan.

Di matanya… aku adalah perempuan yang menghancurkan rumah tangganya.

“Mon, cukup…” Mas Bram mencoba menenangkan.

“Jangan bela dia lagi!” potong Monika keras. “Kamu sudah memilihnya, kan? Jadi berdirilah di sisinya. Jangan lagi pura-pura adil.”

Ia kembali menatapku. Kali ini lebih dalam. Lebih menusuk.

“Semoga suatu hari nanti kamu merasakan apa yang aku rasakan hari ini, Rania. Supaya kamu tahu rasanya kehilangan, rasanya dikhianati, rasanya tidak dianggap.”

Kata-katanya seperti doa yang berubah menjadi kutukan.

Aku menggeleng pelan. “Aku tidak pernah ingin ini terjadi, Mon…”

“Tapi ini tetap terjadi!” serunya. “Dan kamu tetap ada di sini. Di posisi yang aku pertahankan selama ini.”

Sunyi kembali menyelimuti ruangan.

Monika menarik napas panjang, mencoba menahan tangisnya yang hampir pecah lagi.

“Mulai hari ini, kita bukan siapa-siapa. Jangan pernah berharap aku akan menerimamu. Bagiku… kamu tidak pernah ada.”

Setelah itu, ia berbalik. Langkahnya terdengar tegas meski pundaknya bergetar.

Pintu terbuka.

Dan saat pintu itu tertutup kembali, aku merasa seperti ada sesuatu dalam hidupku yang ikut tertutup bersamanya.

Aku berdiri diam.

Bukan sebagai pemenang.

Tapi sebagai perempuan yang harus hidup dengan kebencian perempuan lain… mungkin seumur hidupku.

Air mataku terus jatuh.

“Aku sekarang jadi perempuan yang dibenci. Perempuan yang dianggap perusak rumah tangga. Tapi kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” Aku menatapnya lurus. “Aku bahkan tidak tahu dari awal kalau aku sedang menghancurkan rumah tangga orang lain.”

Mas Bram terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tak punya jawaban.

“Aku merasa kotor, Mas,” lirihku. “Seolah-olah aku merebut sesuatu yang bukan hakku… padahal aku datang tanpa tahu apa-apa.”

Ia mendekat lagi, kali ini lebih hati-hati.

“Ini salahku. Aku akui itu. Tapi sekarang aku sudah memilih kamu. Aku ingin memperbaiki semuanya.”

“Memperbaiki?” aku tertawa kecil, hambar. “Apa yang bisa diperbaiki dari hati perempuan yang sudah hancur? Apa yang bisa diperbaiki dari kebencian yang sudah tertanam?”

Aku memalingkan wajah.

“Aku tidak tahu harus merasa bahagia atau menyesal karena kamu memilihku.”

Sunyi kembali menggantung.

Di dalam hatiku, rasa cinta itu masih ada. Tapi kini bercampur dengan kecewa, dengan rasa bersalah, dan dengan luka yang belum sempat sembuh.

Mas Bram tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya.

Hangat. Kuat. Seolah ia takut aku benar-benar pergi.

“Maafkan aku, Ran… maaf,” bisiknya di rambutku.

Aku kaku. Tubuhku ada di dalam pelukannya, tapi hatiku terasa jauh.

“Aku salah. Aku egois. Aku takut kehilangan kamu sampai aku memilih untuk diam tentang semuanya. Aku pikir aku bisa mengatur semuanya tanpa ada yang terluka… tapi aku salah besar.”

Air mataku kembali jatuh, membasahi kemejanya.

“Kamu bukan hanya salah, Mas,” suaraku lirih di dadanya. “Kamu menghancurkan banyak hati.”

Pelukannya semakin erat.

“Aku akan tanggung semuanya. Kebencian Monika. Omongan orang. Semua akibatnya. Tapi jangan pergi dari aku, Ran. Jangan ikut menghukum aku dengan menjauh.”

Aku perlahan mendorong tubuhnya agar kami bisa saling menatap.

“Mas… kamu sadar tidak?” kataku pelan. “Kalau sejak awal kamu jujur, mungkin semua ini tidak akan serumit ini. Mungkin aku bisa memilih pergi sebelum aku jatuh terlalu dalam.”

Tatapan Mas Bram melembut, penuh penyesalan.

“Aku tidak sanggup kehilanganmu,” ucapnya jujur. “Dan hari ini aku sudah mengambil keputusan. Aku memilih kamu bukan karena paksaan, bukan karena kondisi… tapi karena memang kamu yang aku inginkan.”

Kata-katanya seharusnya membuatku tenang.

Tapi yang kurasakan justru ketakutan.

“Kalau suatu hari nanti kamu bertemu perempuan lain dan takut kehilangannya… apa kamu akan berbohong lagi?” tanyaku pelan.

Ia terdiam.

Pertanyaan itu mungkin sederhana. Tapi jawabannya menentukan masa depanku.

Mas Bram menggeleng tegas.

“Tidak. Aku belajar dari kesalahanku. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Aku menatapnya lama. Mencoba membaca ketulusan di matanya.

Pelan-pelan, aku menyandarkan kepalaku di dadanya lagi. Bukan karena semua lukaku hilang… tapi karena aku masih mencintainya.

“Jangan sakiti aku lagi, Mas,” bisikku lemah.

“Tidak akan,” jawabnya cepat. “Aku janji.”

Janji.

Kata yang sederhana.

Tapi bagiku… janji kini bukan lagi sesuatu yang mudah dipercaya.

Dan di dalam pelukannya malam itu, aku sadar satu hal—

Aku memilih bertahan.

Tapi hatiku tidak lagi utuh seperti dulu.

****

1
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!