Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk yang Nyata
Aku tidak tahu kapan aku tertidur, atau apakah aku benar-benar tertidur. Yang aku tahu, tiba-tiba aku ada di tempat lain. Tempat yang gelap, dingin, berbau asap dan darah.
Rumah yang terbakar.
Aku berdiri di tengah ruangan yang diselimuti api. Tapi api itu tidak membakarku, hanya mengelilingiku, seperti tengah menari.
Dan di tengah api itu, aku melihat mereka.
Ayah. Berdiri dengan pakaian yang basah oleh darah. Wajahnya terlihat berbeda. Lebih muda. Tapi matanya kosong, dan begutu gelap. Di tangannya ada pisau besar yang meneteskan darah.
"Ayah?" bisikku.
Dia menoleh, menatapku, lalu tersenyum. Senyum yang membuat darahku membeku.
"Sayang," katanya, suaranya menggema. Seperti datang dari jauh. "Ayah melakukan ini untukmu, untuk masa depanmu."
"A-apa yang ayah lakukan?"
Dia melangkah ke samping, dan aku melihatnya. Wanita hamil, tengah tergeletak di lantai. Perutnya terbuka, darah di mana-mana, dan di sampingnya...
Bayi kecil, yang belum sempurna. Masih berdarah dan tidak bergerak.
"TIDAK!" aku berteriak. Menutup mata.
Tapi ketika kubuka lagi, pemandangan berubah. Sekarang ayah yang tergeletak di lantai. Dengan lubang di kepala. Darah menggenang. Dan Damian berdiri di atasnya. Dengan pistol masih berasap di tangan.
"Ini adil, bukan?" tanya Damian. Menatapku. "Dia membunuh keluargaku, dan aku membunuh dia."
"Tidak!" aku menggeleng. "Ini tidak adil, sama sekali tidak ada yang adil."
"Lalu apa yang adil, Alexa?!" suaranya semakin keras. "Membiarkan pembunuh bebas? Membiarkan mereka hidup bahagia, sementara keluargaku mati dengan cara yang paling mengerikan?"
Dia berjalan mendekat dengan pistol yang teracung ke arahku.
"Atau kau pikir aku yang salah? Aku yang jahat? Karena aku membalaskan dendamku?"
"A-aku tidak tahu. Aku tidak tahu lagi mana yang benar."
DUAR!
Aku terbangun dengan jeritan di tenggorokan. Tubuhku basah oleh keringat. Jantungku berdetak sangat kencang sampai terasa sakit.
Semuanya hanya mimpi buruk, tapi mimpi buruk yang terasa sangat nyata. Kamar yang gelap, hanya ada cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Aku menatap sekeliling dengan napas terengah-engah.
Damian tidak ada di sofa. Kemana dia?
Pintu kamar mandi terbuka, cahaya dari dalam menerangi sebagian kamar. Aku mendengar suara air mengalir. Dia sedang mandi, aku duduk dan memeluk lututku. Mencoba menenangkan detak jantung yang masih kencang.
Tapi bayangan mimpi itu tidak hilang, tetap di sana. Wanita hamil dengan perut yang terbuka, bayi yang mati, dan ayah dengan pisau berdarah.
Benarkah itu yang terjadi?
Benarkah ayah melakukan hal seburuk itu?
Air berhenti mengalir, beberapa menit kemudian, Damian keluar dari kamar mandi. Mengenakan celana tidur hitam. Dada telanjang dengan bekas luka memenuhi kulitnya, rambut basah dengan air yang masih menetes. Dia berhenti ketika melihatku duduk.
"Kau terbangun," katanya. Bukan pertanyaan tapi sebuah pernyataan.
Aku mengangguk kecil. Dia berjalan ke tempat tidur, lalu duduk di tepi. Cukup dekat untuk aku merasakan wangi sabun dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang selalu melekat pada Damian, bau berbahaya.
"Apa kau mengalami mimpi buruk?" tanyanya.
Aku mengangguk lagi. Suaraku seakan tidak mau keluar. Damian diam sebentar, menatap tangannya sendiri. Tangan yang membunuh begitu banyak orang.
"Aku juga sering mengalami mimpi buruk," katanya tiba-tiba. Suaranya pelan. Lelah. "Bahkan setiap malam, selama dua puluh tahun."
Aku menatapnya, ini pertama kalinya dia terdengar lebih manusiawi dan terlihat rapuh.
"Aku bermimpi tentang malam itu," lanjutnya. Matanya masih menatap tangannya. "Malam ketika ayahmu datang, dan ketika semuanya berubah."
Dia menarik napas dalam.
"Kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya. Kali ini menatapku. Mata gelapnya penuh dengan luka lama yang tidak pernah sembuh.
Aku ingin bilang tidak. Ingin menutup telinga. Ingin lari dari kebenaran. Tapi aku harus tahu. Aku harus tahu kenapa semua ini terjadi.
"Ya," bisikku. "Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Damian berbalik. Menatap jendela. Cahaya bulan menerangi separuh wajahnya. Separuh lagi tertutup bayangan.
"Ayahku dan ayahmu adalah partner bisnis," ucapnya yang mulai bercerita. "Mereka membangun kerajaan Vincenzo bersama-sama dari nol. Ayahmu mengurus keuangan, sedangkan ayahku, dia mengurus operasional."
Dia berhenti sebentar.
"Mereka seperti saudara, karena terlihat sangat dekat. Bahkan ibuku menganggap ayahmu seperti kakaknya sendiri."
Suaranya mulai berubah, lebih dingin.
"Tapi uang mengubah seseorang," lanjutnya. "Lima puluh triliun mengubah orang menjadi monster."
"Ayahmu mulai mencuri," katanya. Tangan mengepal di pangkuan. "Sedikit demi sedikit. Lalu memindahkan uang ke rekening rahasia. Ayahku tidak sadar, karena dia sudah percaya."
Dia menatapku.
"Sampai suatu hari, ayahku menemukan sebuah bukti, bukti penggelapan uang. Bukti pengkhianatan, dan dia menghadapkan ayahmu."
Aku merasakan dadaku sesak, tidak mau mendengar tapi tidak bisa berhenti.
"Ayahmu bilang dia akan kembalikan uangnya," lanjut Damian. "Ayahmu meminta maaf, meminta ampun, dan ayahku yang bodoh itu, malah memaafkannya."
Suaranya bergetar penuh amarah.
"Tapi malam itu juga, ayahmu datang lagi. Dengan orang-orangnya, datang dengan membawa senjata. Dan dia..."
Damian menutup mata, seperti melihat sesuatu yang sangat menyakitkan.
"Dia mulai membunuh semua orang yang ada di rumah. Satu per satu, kakakku Carlos yang mencoba melawan, ditembak di kepala. Paman, bibi, sepupu, semuanya dibantai seperti binatang."
Tangannya bergetar sekarang. Seluruh tubuhnya bergetar.
"Dan ibuku..." suaranya pecah. "Ibuku yang sedang hamil enam bulan dengan adikku, dia mencoba melarikan diri. Mencoba melindungi aku yang saat itu tengah bersembunyi di dalam lemari."
Dia membuka mata. Air mata mengalir di pipinya. Ini pertama kalinya aku melihat Damian menangis.
"Tapi ayahmu menangkapnya," bisiknya. "Dan dia, dia bilang ibuku harus membayarnya, karena melahirkan anak-anak Vincenzo."
Aku merasakan mual di perutku.
"Dia mengikatnya, tepat di depan perapian. Lalu dia mengambil sebuah pisau."
"Jangan," bisikku. "Kumohon jangan lanjutkan."
Tapi Damian tidak berhenti.
"Dia memotong perut ibuku," katanya. Setiap kata keluar dengan sangat jelas walau suaranya bergetar. "Perlahan, sangat perlahan. Membiarkan ibuku berteriak kesakitan, membiarkan aku mendengar dari dalam lemari."
Air mata mengalir di pipiku sekarang. Aku tidak bisa menahannya.
"Dan ketika dia mengeluarkan adikku, bayi kecil yang belum sempurna. Dia membuangnya ke dalam perapian."
"TIDAK!" aku berteriak. Menutup telinga. "BOHONG! AYAHKU TIDAK MUNGKIN..."
Tapi Damian meraih tanganku. Menariknya dari telinga, dan memaksaku untuk mendengarnya.
"Ibuku mati dengan mata terbuka," lanjutnya. "Menatap ke arah lemari di mana aku sembunyi. Seperti mencoba melindungiku sampai detik terakhir."
Dia menatapku dengan mata yang penuh air mata dan kebencian.
"Dan aku mendengar semuanya. Aku berusia delapan tahun, dan aku mendengar ibu dan adikku mati dengan cara yang paling mengerikan."
Tubuhnya bergetar hebat sekarang. Aku merasakan getarannya karena dia memegang tanganku sangat erat.
"Setelah ayahmu pergi," bisiknya, "Aku keluar dari lemari. Dan aku melihat mereka, semua tubuh, darah, dan ibu dengan perut yang terbuka. Carlos dengan kepala yang berdarah, bahkan rumah yang mulai terbakar."
Dia menarikku ke pelukannya. Pelukan yang sangat erat. Seperti mencoba menahan sesuatu yang akan hancur.
"Jadi, ya..." katanya di telingaku. "Aku membunuh ayahmu, dan aku akan membunuh siapa pun yang terlibat dalam pembantaian itu. Karena mereka telah mengambil segalanya dariku."
Aku menangis di pelukannya. Menangis untuk ibu yang tidak pernah kukenal. Untuk bayi yang tidak sempat lahir, untuk anak berusia delapan tahun yang harus mendengar ibunya disiksa sampai mati.
Dan aku menangis untuk diriku sendiri. Karena aku putri dari monster yang melakukan semua itu.
"Maafkan aku," bisikku di antara tangisan. "Maafkan aku, tolong maafkan ayahku."
"Aku tidak bisa memaafkannya," kata Damian. Tangannya mengelus rambutku. "Tidak akan pernah bisa. Tapi kau..."
Dia menarik wajahku, lalu mulai menatapku.
"Kau bukan dia," bisiknya. "Kau bukan ayahmu, dan di sanalah aku mulai terjebak."
Bibirnya menyentuh dahiku.
"Karena aku seharusnya membencimu, menyiksamu, bahkan aku seharusnya membunuhmu. Tapi aku tidak bisa melakukan itu semua."
Dia menciumku lembut. Tidak seperti ciuman sebelumnya yang kasar dan posesif. Ini lembut, dan penuh dengan sesuatu yang aku takut untuk menyebutnya.
"Aku jatuh cinta padamu," bisiknya ketika melepaskan bibirku. "Dan karena itu, aku membenci diriku sendiri."
Jantungku berhenti berdetak.
Cinta.
Dia bilang cinta.
"Ta-tapi, kau bilang aku hanya alat." suaraku gemetar.
"Aku bohong," katanya. "Aku bilang itu untuk melindungi diriku sendiri. Karena aku takut merasakan sesuatu untuk putri musuhku. Takut menjadi lemah."
Tangannya menyentuh pipiku, lalu mengusap air mata di sana.
"Tapi aku gagal," bisiknya. "Aku sudah jatuh sejak pertama kali melihatmu tiga tahun lalu. Ketika aku mengawasi ayahmu, ketika aku merencanakan balas dendam ini."
Tiga tahun lalu?
"Aku melihatmu di taman sedang membaca buku. Tertawa dengan temanmu, dan aku tahu, aku sedang dalam masalah besar."
Dia tersenyum pahit.
"Jadi aku membuat rencana untuk menikahimu. Bukan hanya untuk membalaskan dendam. Tapi karena aku ingin kau menjadi milikku, untuk selamanya."
Aku tidak tahu harus merasakan apa. Senang? Takut? Marah? Semuanya bercampur jadi satu, kacau, dan sangat membingungkan.
"Tapi cara kau memperlakukan aku..."
"Aku tahu," potongnya. "Aku seorang monster. Aku menyakitimu, membuatmu menyaksikan hal-hal yang mengerikan. Karena aku tidak tahu cara lain, aku dibesarkan dalam kekerasan, kebencian, dan aku tidak tahu caranya mencintai dengan benar."
Dia memelukku lagi. Sangat erat.
"Tapi aku mencintaimu," bisiknya. "Dengan caraku yang rusak, dengan hatiku yang sudah mati, kini aku telah mencintaimu."
Dan aku menangis lagi. Karena aku percaya. Entah kenapa aku percaya. Dan yang lebih menakutkan, aku merasakan sesuatu juga. Sesuatu yang tidak seharusnya aku rasakan untuk pembunuh ayahku.
Sesuatu yang berbahaya. Yang salah. Yang akan menghancurkanku. Tapi aku merasakannya, dan aku tidak bisa menghentikannya.
Kami berbaring di tempat tidur. Dia memelukku. Aku membiarkannya. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini, aku benar-benar membiarkan diri dipeluk tanpa melawan.
"Apakah pembalasan dendam ini adil?" tanyaku pelan di kegelapan.
Damian diam lama. Tangannya terus mengelus rambutku.
"Tidak ada yang adil di dunia ini," jawabnya akhirnya. "Hanya ada yang menang dan yang kalah. Yang hidup dan yang mati."
Dia mencium puncak kepalaku.
"Dan aku memilih untuk tetap hidup. Apapun caranya."
Kami diam dalam pelukan itu. Dua jiwa rusak yang mencoba menemukan kehangatan di tengah kegelapan.
Dan untuk sesaat, hanya sesaat, aku merasakan sesuatu yang menyerupai kedamaian. Walau aku tahu itu hanya ilusi, karena di dunia Damian, tidak ada kedamaian.
Hanya ada darah dan api. Dan cinta yang terdistorsi sampai tidak bisa dibedakan lagi dari kebencian.
Tapi satu pertanyaan terus menghantui bahkan ketika aku mulai tertidur di pelukannya: jika cerita Damian benar, jika ayahku benar-benar monster yang membunuh ibu hamilnya dengan cara sebrutal itu, apakah aku masih berhak membenci Damian atas pembalasannya?
Atau justru aku yang harus meminta maaf, atas dosa yang ayahku lakukan?
Dan yang paling menakutkan, apakah aku mulai membenarkan semua kekejaman Damian, karena aku mulai jatuh cinta padanya, atau karena aku benar-benar memahami sakitnya?